Bel pulang sekolah berbunyi nyaring.
Koridor SMA Bintang Utama yang tadinya ramai mulai sepi.
Satu per satu siswa meninggalkan kelas mereka, hanya menyisakan suara langkah kaki yang bergema.
Akira Azzura masih duduk di bangkunya.
Rambut hitam panjang menutupi sebagian wajahnya.
Mata merahnya menatap kosong ke arah jendela, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Akira, kamu nggak pulang?" tanya seorang teman.
"Aku masih ada urusan."
Jawabannya singkat.
Temannya hanya mengangguk sebelum pergi.
Tak lama kemudian, sekolah benar-benar sunyi.
Akira berjalan menuju perpustakaan untuk mengembalikan sebuah buku. Saat melewati lorong gedung lama, langkahnya berhenti.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara langkah kaki lain terdengar di belakangnya.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa pun.
"Mungkin cuma kucing..."
Akira kembali berjalan.
Namun suara itu muncul lagi.
Tok...
Tok...
Tok...
Kali ini lebih dekat.
Bulu kuduknya meremang.
Ketika menoleh untuk kedua kalinya, ia melihat seorang laki-laki berdiri beberapa meter di belakangnya.
Seragam sekolahnya lusuh.
Tubuhnya dipenuhi noda darah yang telah mengering.
Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Tatapan matanya kosong, tetapi terasa begitu dingin.
Akira membeku.
"Si... siapa kamu?"
Laki-laki itu tidak menjawab.
Ia hanya terus menatap Akira.
Dalam sekejap...
Sosok itu menghilang.
Akira mengucek matanya
.
"Aku... berhalusinasi?"
Baru saja ia ingin melanjutkan langkah, suara dingin terdengar tepat di samping telinganya.
"...Kau bisa melihatku."
Akira menoleh dengan cepat.
Sosok itu kini berdiri tepat di sampingnya.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter
Akira refleks mundur hingga tubuhnya menabrak dinding.
"K-kamu..."
Laki-laki itu tetap memasang wajah datar.
"Sudah lama... tidak ada manusia yang bisa melihatku."
Akira menelan ludah.
"Ka... kamu manusia?"
"Tidak."
Jawaban itu membuat jantung Akira serasa berhenti berdetak.
"Aku hantu."
Suasana koridor mendadak menjadi sangat dingin.
Lampu-lampu mulai berkedip.
Angin berembus tanpa arah.
Laki-laki itu melangkah mendekat.
"Aku belum bisa pergi..."
"...karena dendamku belum selesai."
Akira menggenggam tasnya erat.
Ia ingin berlari.
Namun kedua kakinya terasa berat.
Hantu itu mengangkat tangan perlahan.
"Namaku..."
"...Ren."
Tatapan mata abu-abunya tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
"Aku ingin kau membantuku."
"Apa?"
"Mencari orang yang telah membunuhku."
Seketika, terdengar suara kaca pecah dari lantai dua.
Akira menoleh.
Saat ia kembali melihat ke depan...
Ren telah menghilang.
Yang tersisa hanyalah bisikan pelan yang terbawa angin.
"Aku akan terus mengikutimu... sampai dendamku terbalaskan."
Akira berdiri membeku di koridor yang gelap.
Ia belum sadar...
Pertemuannya dengan hantu itu akan mengubah hidupnya selamanya.