"Ma-mayattt... tolonggg..... tolonggg" teriak salah satu warga yang panik.
"eh pak Kokom, ada apa?" tanya Marto teman nya Kokom.
"To!! a-ada ma-mayattt.. ada mayat To!" ucap Kokom terbata-bata.
"hah! mayat opo? Kom!" tanya Marto dengan wajah biasa.
"Ya mayat To!!..Marto!!!!!" Kokom mulai kesal dengan tingkah lemot kawannya si Marto.
"Kalau begitu! tunggu di sini aku panggil warga yang lain" Kokom kembali berlari menuju perkampungan, yang di sana banyak para warga sedang gotong royong sekitar kampung.
"ibu-ibu! bapak-bapak!... tolooong... huhh..huh..." Kokom mengatur nafasnya yang ngos-ngosan sebab berlari dengan panik.
"Tolong apa Kom?" tanya Pak RT.
"Anu pak! di sana ada mayat.." jawab Kokom yang berhasil mengatur nafasnya.
"innalilahi... ayok kita ke sana, mayat siapa gerangan, di mana kamu menemukan mayat itu?" tanya pak RT lagi.
"Di kebun juragan Darko, pak RT." jawab Kokom.
"Ayok kita kesana, untuk sementara, gotong royong kita tunda" pak RT dan warga lainnya pergi menuju kebun juragan Darko.
"di mana? mayatnya! Kom.." sahut warga.
"iya mana?"
"itu loh! tertutup daun" Kokom bicara sambil menutup matanya, ia merasa trauma melihat mayat mengerikan tersebut.
"Astaghfirullah hal'azim... ini mah Sumarni, anaknya pak Joko dan bude Nah.." sahut pak RT yang mengenali mayat tersebut.
"innalilahi... iya pak, betul ini Sumarni" ucap istrinya pak RT, Bu Ratmi namanya.
"Sebaiknya kabari pak Joko dan bude Nah!" ucap pak RT pada Marto yang ada di samping nya.
"Ibu tidak tega pak.. jika mbok Nah dan suaminya tahu,," ucap bu Ratmi.
Marto pun mengayuh sepeda nya menuju gubuk Joko dan Nah.. ia tidak tega membayangkan reaksi kedua nya, saat tahu, anak kesayangan nya telah tiada. meskipun Sumarni adalah anak angkat nya, namun Nah dan Joko sangat menyayangi Sumarni.
"Assalamu'alaikum... mbok! pak Joko!" Marto berlari cepat memanggil keduanya.
"walaikum'salam.." sahut mbok Nah dari dalam.
"Eh, Marto.. ada apa? cari bapaknya Marni yo, sek tak cari dulu di belakang" Marto membiarkan mbok Nah pergi kebelakang mencari suaminya, agar sekalian dia beri tahu kabar buruk itu.
"Iki loh pak! ada Marto" Marto kembali berdiri di depan pintu melihat pasangan sepuh tersebut.
"Ada apa? To! tumben sekali kesini" ucap Joko.
"Saya kesini ingin menyampaikan kabar kurang menyenangkan"
"Kabar opo Marto! kok perasaan mbok jadi gak enak" sahut mbok Nah yang tidak sabar menanti kabar dari Marto.
"Sumarni mbok! Sumarni di temukan meninggal di kebun juragan Darko"
"haahh!!! ya Allah gusti!! Sumarni.... anakku!!!!" mbok Nah menangis sejadi-jadinya begitu pun pak Joko yang langsung mengikuti Marto untuk melihat anaknya.
saat tiba di tempat kejadian mbok Nah berteriak histeris melihat, jasad anaknya yang begitu tragis.
"Sumarniiii..... ya Allah anakku!! siapa yang tega melakukan ini padamu nduk!!"
"Paaak... lihat anak kita pak, anak kita Sumarni telah tiada... huhu... Sumarniiii....." mbok Nah tidak bisa mengendalikan dirinya, ia meraung-raung sembari memeluk jasad anaknya. para ibu-ibu mencoba menenangkan nya, namun mbok Nah tetap meraung, para warga merasa kasihan pada pasangan itu, sekian lama ia menantikan seorang anak, jadi mereka memaklumi kesedihan mbok Nah dan pak Joko.
****
Jasad Sumarni telah di makamkan, kini malam terasa sunyi di rumah mbok Nah dan pak Joko, tidak ada canda tawa Sumarni seperti biasa. di gubuk itupun tidak melakukan tahlilan, mereka masih berlarut dalam duka yang mendalam.
beberapa warga datang ke gubuk mereka karena, mengira akan adanya tahlilan, namun pak Joko memberi tahu, jika tidak ada tahlilan di malam itu dan seterusnya, ia memutuskan melakukan kirim doa sendiri, para warga pun enghormati keputusan pak Joko, dan mereka pun, kembali pulang.
Dalam keheningan malam mbok Nah terdiam di kamarnya, meski suaminya terus mengajak bicara, namun mbok Nah tetap tak bergeming.
"Bu.. sudahlah, jangan terlalu berlarut-larut seperti ini, bapak tahu ini sangat menyakitkan buat kita, tapi tolong ibu jangan seperti ini, ayok makanlah bapak tadi merebus ubi untuk kita makan" Joko terus membujuk istrinya.
"Bapak saja yang makan,, ibu kenyang!"
"Hah!! kalau ibu tidak mau makan bapak juga tidak mau"
Joko bangkit dari kamar ia menuju keluar gubuk, di sana ia melamun dan tiba-tiba sebuah pikiran muncul di benaknya, tanpa pikir panjang ia pun melangkah semakin jauh dari gubuk.
Di tengah malam seseorang telah menggali kuburan dan mengambil jasad yang baru saja di makamkan, ia membawa jasad tersebut ke sebuah tempat, ia memutuskan untuk melakukan ritual pembangkitan, tanpa rasa takut ia mengetuk pintu gubuk seseorang.
"Permisi.."
"Masuklah!" ucap suara berat di dalam.
Ia masuk, dan terlihat seseorang duduk di tengah-tengah gubuk dengan mata terpejam.
"Aku tahu niat mu Joko"
"Tolong di bantu ki Ageng" ucap Joko yang ternyata dialah yang menggali kuburan anaknya untuk di bangkitkan pada Ki Ageng.
"Hem.. apa kau yakin Joko!! kau tahu kan apa resikonya, jika jasad anakmu di bangkitkan, akan banyak pembunuhan yang terjadi, dan kampung mu akan hancur karena aku merasa auranya sangat kuat, dendam yang membara di hatinya sebelum ia tiada" ki Ageng menjelaskan konsekuensi dari keinginan Joko.
"Aku siap apapun itu ki" ucap Joko tanpa pikir panjang.
"Jika ia bangkit, maka dia bukan lagi anakmu, melainkan iblis yang bersarang di tubuhnya, membawa dendam anakmu" sebenarnya Joko merasa takut, namun demi melihat istrinya ceria kembali, ia pun menerima keputusan tanpa pikir panjang.
"Baiklah jika itu mau mu! malam ini juga kita lakukan ritual pembangkitan"
"Letakkan tangan mu di atas bara ini"
ki Ageng menggores tangan Joko, kemudian dar*h mengalir menetes di bara api, kemudian ki Ageng membawa jari Joko untuk di usapkan pada kening Sumarni, lau ia membaca mantra dan menyemburkan air ke wajah Sumarni.
Tiba-tiba saja, mata Sumarni terbuka, ia melihat ke atas terdapat warna kemerahan di matanya, mata yang memancarkan dendam. ia bangkit melayang, kemudian menatap Joko dan ki Ageng dengan wajah penuh amarah.
"Sumarni... anakku!!.." Joko bahagia melihat anaknya kembali, namun saat Joko ingin menyentuh anaknya, tiba-tiba Sumarni melayang jauh lalu menghilang.
"Loh ki, kemana? Sumarni" tanya Joko panik melihat Sumarni menghilang.
"Dia telah pulang" ucapan ki Ageng membuat Joko lega.
"Tapi ingat!!! dia bukan lagi anakmu, dia iblis.. ingat dia iblisss! yang sangat jahat!!!"
peringatan ki Ageng terngiang-ngiang di benak Joko, saat ia melakukan perjalanan pulang, namun Joko tidak peduli.
sesampainya di gubuk, Joko melihat pintu terbuka, dan istrinya menunggu di depan pintu.
"Bapak, coba lihat pak Sumarni masih hidup"
Deg!!