Kabut di Lembah Sunyaruri tidak seperti kabut di tempat lain. Ia tidak naik dari tanah dan tidak turun dari langit. Ia hanya ada, menggantung di antara batang-batang pinus seperti napas yang ditahan terlalu lama, dan Yoga merasakannya merayap masuk ke kaca mobil yang sebenarnya sudah ia tutup rapat.
Ia melirik ponselnya untuk kesekian kali. Tidak ada sinyal. Garis kecil di pojok layar sudah menyilang sejak satu jam yang lalu, sejak ia meninggalkan jalan beraspal terakhir dan masuk ke jalur tanah yang menanjak ke perbukitan. Yoga menghela napas dan meletakkan ponsel itu di dasbor.
Dua puluh enam tahun, jurnalis lepas, dan ini liputan pertamanya yang benar-benar terasa seperti petualangan. Atau kebodohan. Tergantung bagaimana akhirnya nanti.
Semua bermula dari sepucuk surat. Bukan surel, bukan pesan singkat—sepucuk surat sungguhan, ditulis tangan dengan tinta yang sudah memudar, dikirim ke kantor redaksi tempat ia kadang-kadang menyetor tulisan. Isinya pendek dan ganjil: *Datanglah ke Sunyaruri. Tulislah tentang kami. Tapi jangan banyak bicara.* Tanpa nama pengirim. Hanya alamat sebuah desa yang bahkan tidak muncul di peta digital mana pun yang ia coba.
Editornya menertawakannya. "Itu cuma orang iseng, Yoga. Atau desa yang mau cari sensasi biar dapat bantuan pemerintah."
Tapi Yoga tidak bisa melupakannya. Ada sesuatu dalam tulisan tangan itu—gemetar di ujung-ujung huruf, seolah ditulis oleh tangan yang takut—yang membuatnya terus terbangun memikirkannya. Maka di sinilah ia sekarang, menyetir mobil tua sewaan menembus kabut yang tak masuk akal, menuju desa yang katanya tidak ada.
Ban mobil tergelincir di tanah basah. Yoga mengerem, dan saat itulah ia melihatnya.
Sebuah gapura kayu, sederhana, dengan tulisan yang nyaris terhapus: SUNYARURI. Di bawahnya, papan kayu lain yang jauh lebih baru, catnya masih jelas, dengan huruf-huruf yang ditulis hati-hati seolah oleh tangan yang sangat berhati-hati.
HARAP TENANG. JANGAN BERSUARA.
Yoga mengernyit. Aturan desa wisata, pikirnya. Mungkin ada tempat ibadah, atau objek yang harus dihormati. Ia memarkir mobil di tepi gapura dan turun, menjinjing tasnya berisi kamera, buku catatan, dan perekam suara kecil.
Begitu pintu mobil ia tutup—suara *klik* logam itu terdengar begitu keras di tengah keheningan—seekor burung entah dari mana berhambur terbang dari semak, dan Yoga tersentak. Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri, suara tawanya menggema aneh di lembah yang sunyi.
Lalu ia menyadari sesuatu.
Tidak ada suara apa pun. Bukan sekadar sepi—tetapi hening dalam arti yang paling harfiah. Tidak ada kicau burung lain. Tidak ada gemericik air, padahal pasti ada sungai di lembah seperti ini. Tidak ada suara angin menggesek daun, meski kabut bergerak. Telinga Yoga berdenging, mencari sesuatu untuk didengar dan tidak menemukan apa-apa.
Ia berdeham, hanya untuk memastikan ia belum tuli. Suaranya sendiri terdengar asing.
Jalan setapak menurun dari gapura menuju kumpulan rumah panggung yang berdiri di kaki bukit, atapnya yang dari ijuk muncul setengah dari kabut seperti punggung-punggung binatang yang berbaring. Yoga mengangkat kameranya dan memotret. *Klik.* Suara rana itu, sekecil apa pun, terasa seperti pelanggaran.
Ia mulai menuruni jalan setapak. Tanah lembap di bawah sepatunya, dan setiap langkahnya menimbulkan suara becek yang membuatnya semakin sadar betapa sunyinya tempat ini.
Rumah pertama yang ia lewati tampak dihuni—ada asap tipis dari tungku, ada jemuran kain di kolong rumah panggung. Tapi tidak ada orang yang terlihat.
"Permisi?" panggil Yoga, suaranya memecah keheningan seperti batu yang dilempar ke kaca.
Hening.
Lalu, perlahan, sebuah wajah muncul di jendela rumah panggung itu. Seorang perempuan tua, kulitnya keriput, matanya cekung. Ia menatap Yoga, dan wajahnya—Yoga tidak akan pernah melupakan ini—wajahnya berubah menjadi teror murni begitu mendengar suara Yoga. Perempuan itu mengangkat satu jari ke bibirnya. *Ssst.* Tapi tidak ada suara yang keluar bahkan dari isyarat itu. Lalu ia menggeleng cepat, panik, dan menarik kepalanya masuk, menutup jendela tanpa suara.
Yoga berdiri terpaku. "Bu? Maaf, saya—saya jurnalis. Saya—"
Sesuatu menyentuh bahunya, dan Yoga nyaris menjerit.
Ia berbalik. Seorang lelaki berdiri di belakangnya, entah datang dari mana. Usianya barangkali empat puluhan, wajahnya keras dan terbakar matahari, mata cokelatnya menatap Yoga dengan campuran antara waspada dan—Yoga yakin—belas kasihan. Lelaki itu menempelkan telunjuk ke bibirnya. *Diam.*
Lalu, dengan gerakan tangan yang tegas, ia menunjuk ke mulut Yoga, lalu menggeleng keras. Jangan bicara.
"Saya tidak mengerti," kata Yoga, dan ia melihat lelaki itu meringis seakan setiap kata yang Yoga ucapkan adalah pisau.
Lelaki itu mencengkeram pergelangan tangan Yoga, kuat, dan menariknya. Bukan dengan kasar—lebih seperti seseorang yang menyeret kawan keluar dari rel kereta. Ia membawa Yoga menjauh dari rumah itu, ke arah sebuah rumah panggung yang lebih besar di tengah desa, sambil sesekali menengok ke atas, ke arah perbukitan yang tertutup kabut, seolah ada sesuatu di sana yang ia takuti.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba, Yoga merasakannya juga. Sebuah firasat dingin yang merayap di tengkuknya. Perasaan bahwa di balik kabut itu, sesuatu sedang mendengarkan.