Seminggu setelah kepergian bapaknya, Ainun terlihat sering melamun. Bi Asih pun masih tinggal dirumah Ainun untuk menemaninya. Dikarenakan rumah mereka bersebelahan membuat bi Asih lebih mudah untuk sekedar melihat rumahnya. Bi Asih sudah berkeluarga, ia dan suaminya telah dikaruniai seorang anak laki laki yang kini tengah menempuh pendidikan SMP disebuah pesantren dikota. Sedang sang suami bekerja dipelayaran, hingga sulit untuk pulang sebelum tugasnya selesai. Sehingga saat kakak iparnya berpulang ia tak bisa melihat untuk yang terakhir kalinya.
"Nun, makan dulu yuk !" Bi Asih menepuk bahu Ainun yang tengah duduk terpekur dikursi kesayangan bapaknya.
"Eh, iya bi, nanti Ainun belum lapar,"tolak Ainun. Memang setelah kepergian bapaknya nafsu makan Ainun turun drastis. Biasanya bapaknyalah yang menjadi koki dirumah, sehingga saat Ainun pulang sekolah sudah tersaji makanan sederhana yang menggugah selera.
"Heemm.. Nun, sudah seminggu ini kamu hanya makan sedikit. Bibi tahu apa yang kamu rasakan Nun, tapi kamu jangan seperti ini. Bapak kamu akan sedih melihat kamu seperti ini, yuk makan dulu ! Bibi udah masakin makanan kesukaan kamu," akhirnya Ainun mengangguk lalu beranjak dari kursi rotan tersebut.
Ainun pun akhirnya makan meski dengan susah payah untuk menelan. Tenggorokannya seperti terasa sakit saat ada makanan yang masuk hingga ia mendorongnya dengan air minum. Bi Asih yang menemaninya makan pun tersenyum lantas mengusap pucuk kepala Ainun.
"Makanannya enak pak, bapak memang jago masak," puji Ainun pada bapaknya saat mereka menyantap hidangan sederhana berdua.
"Memang Nun gak tahu ? Bapak kan chef profesional," kelakarnya dengan menepuk d**a membuat Ainun tertawa.
"Hahaha, siaplah chef nanti buatin Ainun makanan tereeenak seduniaaa !" tangannya merentang lebar.
"Wani piro ?" lagi mereka kembali tertawa bersama sama.
Ainun sekidit tersentak saat mengingat kenangan itu. Meski hanya masakan ala kadarnya dan kadang kala keasinan. Namun Ainun selalu menyebut bahwa masakan bapaknya adalah masakan paling enak. Karena Ainun tahu, bapaknya harus bekerja keras meski hanya untuk menyuguhkan hidangan sederhana itu.
"Pak makanan ini terasa hambar tanpa bapak," batin Ainun dengan mata berkaca.
"Nun nanti malam bibi tidak menginap disini tidak apa apa ? Bibi ada pekerjaan dirumah, kalau tidak kamu nginep dirumah bibi ya ?" tanya bi Asih memecah keheningan.
"Emm.. tidak bi, Ainun disini saja. Tidak apa apa Ainun disini sendiri, kan dekat juga, kalau ada apa apa nanti Ainun kerumah bibi," ucap Ainun dengan tersenyum.
"Yasudah bibi mau beresin ini dulu, kamu kalau mau makan nanti masih ada kok lauknya, tinggal angetin aja ya. Bibi mau langsung pulang setelah ini,"
"Iya bi," Ainun lantas mengangguk pelan.
Setelah kepergian sang bibi kini Ainun benar benar sendiri. Ia memutuskan ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudlu lantas sembahyang Asar karena sudah masuk waktu Asar.
✩✩
Suara Adzan subuh membangunkan Ainun yang masih terlelap. Ia mengerjapkan mata bulatnya lantas membaca do'a. Setelahnya ia beranjak dari pembaringan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.
Setelah melangitkan do'a untuk kedua orang tuanya iapun mengambil mushaf lalu membacanya dengan suara merdu. Selesai membaca Al-Qur'an gadis itu beranjak untuk melakukan aktifitas pagi ini. Ia merajang air untuk isian teko karena tak pernah menggunakan air galon. Menanak nasi, lanjut beberes rumah. Setelah selesai iapun kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bersiap kesekolah.
Saat tengah merapikan jilbab lebarnya, suara ketukan pintu terdengar.
"Tok.. tok.. tok.. Assalamu'alaikum !" Ainun gegas berjalan kearah pintu, lalu membukanya.
"Wa'alaikumsalam, eh bu Hanifa, masuk bu !" ternyata bu Hanifah, tetangga yang berjarak tiga rumah itu datang membawa rantang berisi makanan yang masih hangat.
"Gak papa Nun, ibu cuma mau kasih ini untuk kamu sarapan. Ini tolong diterima!" Bu Hanifah mengangsurkan rantang tersebut kepada Ainun, Ainun menerimanya dengan senyum hangat.
"Jazakillah bu, terimakasih banyak sudah repot repot bawain makanan. Pasti saya makan bu," ucap Ainun sedikit sungkan.
"Tidak repot kok Nun, tadi sengaja masak agak banyak jadi bisa bawain kesini. Yasudah ibu pamit ya Nun, mau kesawah dulu," pamit bu Hanifah kepada Ainun.
"Iya bu, sekali lagi terimakasih. Hati hati ya bu," Ainun lantas menyalami takdzim sebelum bu Hanifah benar benar pergi.
Ainun masuk dengan membawa rantang berisi makanan, iapun sarapan dengan lauk pemberian tetangganya itu. Tak lupa menyisikan beberapa lauk untuk diberikan kepada sang bibi. Setelahnya ia bersiap untuk berangkat kesekolah. Sebelum berangkat Ainun berpamitan kepada bibinya tak lupa membawa lauk pemberian bu Hanifah.
✩✩
Sampai disekolah banyak temannya mengerubuninya. Mereka bergantian memeluk Ainun mengucapkan bela sungkawa. Mereka tidak bebas keluar masuk karena sambil mondok, sedang Ainun pulang pergi karena tak mau meninggalkan bapaknya seorang diri juga jarak sekolah yang cukup dekat dari rumahnya.
Sebenarnya angakatan Ainun sudah dinyatakan lulus semua, namun karena masih ada hal hal yang belum selesai sehingga mereka masih diharuskan masuk sekolah. Meski tidak belajar, mereka tetap wajib hadir berkenaan dengan data data kelulusan.
"Ainun dipanggil sama ustadzah Hafsari !" seru Naura teman satu kelasnya. Ainun lantas mengangguk dan mengucapkan terimakasih.
Ainun pergi ditemani Salma sang sahabat. Mereka berjalan menuju ruangan Ustadzah Hafsari yang tadi memanggil Ainun. Setelah tiba didepan ruangan Salma mengentikan langkahnya dan memilih menunggu diluar.
"Aku tunggu disini saja ya Nun!" ucap Salma.
"Yaudah Sal, tapi tungguin ya jangan ninggalin aku," ada nada kecemasan dari suara Ainun. Ia sedikit was was tetang apa yang akan disampaikan wali kelasnya itu.
"Iya, kamu tenang aja. Udah sana, aku duduk disini sambil baca buku," gadis berkaca mata itu akhirnya duduk dikursi panjang dekat taman. Ia membuka buku yang dari tadi ia pegang, memang Salma adalah si kutu buku yang baik dan pintar. Setelah nya Ainun masuk keruangan bu Hafsari setelah mengucapkan salam.
✩✩
Ainun menatap lembaran surat dan sebuah brosur. Ternyata ia mendapat tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Ya kuliah adalah cita citanya bersama bapaknya. Bapaknya sangat menginginkan Ainun melanjutkan pendidikannya hingga Ainun mencapai cita citanya menjadi seorang dokter.
"Pak, apa yang harus Ainun lakukan. Apa Ainun harus melanjutkan cita cita Ainun ? Tapi apa bisa Ainun tanpa bapak ?" Ainun bermonolog didepan pusara bapaknya. Sepulang sekolah Ainun langsung berziarah kemakam bapak dan ibunya.
"Tapi, Ainun tak mau mengecewakan bapak. Ainun akan berusaha pak, Ainun akan berjuang menjadi seorang dokter," lanjutnya dengan semangat.
"Do'ain Ainun ya pak, bu. Ainun akan bekerja keras," setelahnya Ainun pun beranjak karena sudah masuk waktu solat.
Setelah solat, Ainun lanjut dengan bercengkrama dengan Tuhannya. Ia tumpahkan semua keresahan dalam hatinya. Sampai hatinya merasa lebih tenang.
Sore harinya Ainun berkunjung kerumah sang bibi untuk berdiskusi perihal beasiswa yang ia dapatkan. Ini adalah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan, namun ia juga tak mau membebani sang bibi jika ia melanjutkan.
"Assalamu'alaikum bi ?" Ainun mengetuk pintu yang sedikit terbuka. Meski itu rumah bibinya sendiri, namun bapaknya selalu mengajarkan tentang tatak rama dan sopan santun. Hingga ia tak sembarangan memasuki rumah orang lain tanpa seizin siempunya rumah.
"Wa'alaikumsalam, masuk Nun bibi dibelakang!" terdengar teriakan bi Asih sedikit lantang.
Ainun pun bergegas masuk, ia langsung menuju ke belakang dimana bibinya berada.
Nampaklah bi Asih tengah mengupas singkong dan membersihkannya untuk bahan membuat keripik. Ya bi Asih sering membuat keripik singkong yang ia jual kewarung warung dengan kemasan kecil. Meski gaji suaminya bisa dikatakan cukup besar, namun dengan alasan mengisi waktu luang bi Asih membuat camilan dari singkong tersebut untuk kemudian ia jual, lagian singkong nya tumbuh subur di pekarangan juga di sawah, jadi tak harus membeli bahan pokoknya. Tinggal mengolahnya lalu menjualnya, lumayan hasilnya untuk ia tabung, katanya.
"Bibi lagi sibuk ya ?" Ainun mendekat, lalu tangannya ikut mengambil potongan singkong yang akan di bersihkan.
"Biasa aja Nun, ada apa ?" bi Asih bicara namun tangannya masih sibuk membersihkan singkong.
"Emm.. itu, anu bi. Emm.. " Ainun kebingungan harus mulai dari mana.
"Bicara saja Nun, kamu tahu kan sekarang bibi adalah wali kamu. Jadi bicara saja, jangan sungkan," ucapnya dengan senyum tulus.
"Ini bi !" Ainun akhirnya mengasurkan surat dan brosur yang ia bawa dari sekolah. Bi Asih lantas mengambilnya lalu membaca secara seksama.
"Alhamdulillah, jadi kamu dapat beasiswa Nun ?" tanya bi Asih dengan sorot bahagia.
"Iya bi, alhamdulillah. Hemm.. tapi, apa Ainun gak usah terima saja ya bi ?" lirih Ainun kemudian.
"Maksud kamu apa Nun ? Bukankah kamu ingin sekali melanjutkan pendidikan kamu ? Ini kesempatan emas Nun, kenapa bicara seperti itu ?" Bi Asih menyerkit heran. Pasalnya ia tahu bagaimana bapaknya Ainun ingin sekali melihat anaknya meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Ainun tahu bi, tapi darimana Ainun punya bekal untuk kuliah. Meski itu beasiswa full tapi itu hanya biaya pendidikannya, untuk biaya hidup Ainun bagaimana ? Sedang bibi tahu sendiri kalau dikota tidak seperti disini. Semua harus dibeli," ucap Ainun takut takut.
"Nun, kamu dengar. Bibi adalah wali kamu sekarang. Jadi bibi yang akan tanggung jawab. Kamu fokus saja sama cita cita kamu. Buktikan sama bapak kamu bahwa kamu bisa mewujudkan keinginan beliau. Bibi yang akan meneruskan perjuangan bapak kamu. Bibi yang akan menanggung semua kebutuhan kamu. Jadi kamu harus terima beasiswa ini," bi Asih berkata dengan sungguh sungguh. Ia akan membalas jasa sang kakak melalui keponakannya itu. Ia akan berjuang keras seperti yang kakaknya lakukan dulu untuk dirinya.
"Bi-" Ainun tidak bisa berkata kata lagi. Ia menghambur memeluk wanita hebat satu satunya kini yang ada dalam hidupnya. Ia berjanji suatu saat nanti akan membalas jasa bibi nya itu.
"Kamu gak usah khawatir Nun ada bibi," dua wanita beda generasi itu kini saling berpelukan dengan berurai air mata. Ainun merasa beruntung karena mempunyai saudara yang teramat baik. Bi Asih pun merasa beruntung karena kakaknya dianugerahi anak yang pintar dan solehah.