Pukul sembilan malam, dan IGD Rumah Sakit Umum Kota Pradana sudah menyerupai medan perang yang lupa cara berhenti. dr. Galih berdiri di ambang pintu putih bertuliskan "INSTALASI GAWAT DARURAT", menarik napas seperti orang yang akan menyelam ke air dingin. Stetoskop melingkar di lehernya masih terlalu mengilap, terlalu baru, terlalu jelas menandai bahwa ia anak kemarin sore di tempat ini.
Bau IGD menghantamnya lebih dulu daripada suaranya. Antiseptik, keringat, darah yang sudah mengering, dan sesuatu yang manis-amis yang tidak pernah ia temukan namanya selama enam tahun kuliah. Di dalam, monitor berbunyi tumpang tindih. Bip, bip, bip dari satu bilik. Alarm panjang dari bilik lain. Seseorang batuk. Seseorang menangis. Seorang ibu memanggil-manggil nama anaknya dengan suara yang sudah serak.
"Dokter baru, ya?" Seorang perawat berkerudung rapi menghampirinya, name tag-nya tertulis Yuni. Senyumnya lelah tapi hangat. "Sister Yuni. Saya yang pegang shift malam ini. Saran saya yang pertama, Dok: jangan berdiri di pintu. Di sini orang yang berdiri diam itu langsung dianggap nganggur."
Galih buru-buru mengangguk dan masuk. Belum tiga langkah, sebuah brankar didorong masuk dengan kecepatan yang membuat jantungnya melonjak. "Laki-laki, empat puluh dua, kecelakaan motor, kesadaran menurun!" teriak petugas ambulans. Darah merembes dari perban di kepala pasien, menetes ke lantai membentuk titik-titik gelap.
"Bilik dua!" Yuni sudah berlari. "Dok, ikut!"
Tangan Galih dingin. Ia tahu apa yang harus dilakukan, tahu betul, sudah hafal di luar kepala. Airway, breathing, circulation. Tapi mengetahui dan melakukan ternyata dipisahkan oleh jurang selebar malam ini. Ia memeriksa jalan napas, memasang oksigen, menyebut angka tekanan darah dengan suara yang ia paksa terdengar tenang. Pasien mengerang. Bagus, mengerang berarti masih merespons.
"Tensi sembilan puluh per enam puluh, Dok," kata Yuni. "Nadi seratus dua puluh, cepat."
"Pasang infus dua jalur, RL guyur," Galih memerintah. Suaranya hampir tidak ia kenali sendiri. "Siapkan untuk CT kepala."
Di tengah ia menahan perdarahan, seorang anak kecil di bilik sebelah muntah-muntah. Di ujung lorong, seorang bapak tua kejang. Di meja registrasi, dua keluarga berdebat soal antrian. IGD ini tidak peduli bahwa ini malam pertamanya. IGD ini tidak akan pernah peduli.
Galih bekerja dengan tangan yang lama-lama berhenti gemetar, bukan karena ia berani, tapi karena tidak ada waktu untuk gemetar. Setiap kali ia mengangkat kepala, ada pasien baru. Setiap kali ia merasa satu masalah selesai, dua masalah lahir menggantikannya. Keringat membasahi punggungnya di balik jas putih.
"Tarik napas, Dok." Yuni menyodorkan segelas air entah dari mana di sela-sela. "Malam masih panjang. Kalau Dokter habis tenaga di jam pertama, jam tiga pagi nanti Dokter tinggal nama."
Galih menerima gelas itu dengan tangan yang baru ia sadari belum sempat ia cuci sejak masuk. Ia tertawa kecil, tawa yang lebih mirip helaan. "Saya kira IGD malam itu sepi, Sister."
Yuni ikut tertawa, getir. "Yang sepi itu di sinetron, Dok."
Pukul sebelas, pasien kecelakaan tadi sudah naik ke ruang operasi. Galih bersandar sebentar di dinding koridor, dadanya naik turun. Untuk pertama kalinya sejak masuk, ia mendengar detak jantungnya sendiri—keras, cepat, hidup. Ia menengadah ke lampu neon yang berkedip samar di langit-langit. Lampu triase di atas pintu menyala merah, lalu kuning, lalu merah lagi, tak pernah benar-benar padam.
Ia belum tahu, malam itu, bahwa ini baru permulaan dari sesuatu yang akan mengubahnya. Ia hanya tahu satu hal: ia berada di tempat yang tepat, di waktu yang paling tidak nyaman, dan ia tidak akan kabur.
Dari ujung lorong, suara seseorang memanggil tajam. "Dokter baru! Bilik empat, sekarang." Suara perempuan, dingin, tanpa basa-basi. Galih belum tahu siapa pemiliknya. Ia akan segera tahu.