"Kau harus datang ke hotel Gold nanti malam. Awas saja kau tidak datang. Aku tidak peduli lagi denganmu" ucap Mom sambil menata bajunya ke dalam koper.
Hari ini Mom akan pindah ke rumah kekasihnya itu. Hal ini bukanlah pertama kalinya Mom seperti ini. Sudah sering kali Mom pulang pergi setelah diputuskan kekasihnya.
Namun saat ini pikiran Zira sedang bercabang. Jika biasanya Zira akan masa bodoh dengan semua ini karena Mom tau tempat kembali.
Tetapi sekarang tidak lagi. Rumah ini sudah beralih tangan dan bagaimana jika Mom membutuhkan tempat berpulang. Zira tidak pernah menganggap Mom seperti Ibunya.
Melainkan Zira menganggap Ibunya seperti teman satu rumah. Ibunya itu juga tidak mau dianggap seperti seorang Ibu-ibu. Begitu berbeda kehidupan Zira dengan orang lainnya.
"Jaga diri baik-baik, Mom" ucap Zira ketika Mom menurunkan kopernya yang sudah rapih ke lantai.
Perempuan itu menatap Zira dengan tatapan yang bagi Zira terlihat berbeda. Zira memaksakan senyuman kecil untuk Ibunya itu. Rasa sesak di d**a seakan terasa saat ini.
Mengingat segala tingkah laku Ibunya itu Zira sama sekali tidak menyangka jika mereka akan terpisah seperti ini.
Zira merasa saja jika ini bukanlah rasa perpisahan seperti sebelum-sebelumnya. Ibunya ini akan benar-benar meninggalkannya.
"Untuk pertama kalinya aku merasa kau itu anakku" Gumam Mom yang membuat Zira mau tidak mau tertawa.
Zira mengambil koper Mom dan membantu membawakan koper tersebut hingga ke lantai bawah. Ternyata seorang pria dengan setelah formalnya sudah berdiri memenuhi ruang tamu rumah kecilnya.
Mom terlihat tersenyum manis dan sedikit berlari mendekati pria itu. Tidak hanya itu mereka berdua berciuman satu sama lain yang membuat Zira mengalihkan pandangan matanya.
Zira tidak tau bagaimana percintaan orang tua, pikirnya
Setelah mereka berdua selesai. Mom melepaskan pelukannya dan membalikkan badan menghadap Zira.
Pria itu menatap Zira sebelum ikut mengalihkan pandangan matanya. Jika tidak salah mengartikan Zira merasa jika pria itu merasa canggung ?
Entahlah mungkin itu hanya karena pertemuan pertama mereka. Lagian Zira juga tidak peduli tentang hal itu. Pria itu adalah kekasih Mom bukan kekasihnya jadi masa bodoh saja.
"Jika sangat penting hubungi nomerku" ucap Mom yang membuat Zira menganggukkan kepalanya kikuk.
"Mari kita berangkat" suara pria itu akhirnya terdengar.
Pria itu berjalan mendekat untuk mengambil koper Mom yang masih di pegang Zira sejak tadi tanpa sadar.
Ketika pria itu mengambil koper tersebut Zira melihat jika pria itu memberikan anggukan kecil kepada Zira.
Hal itu membuat Zira ikut menganggukkan kepalanya dengan kaku.
Mom berjalan mendekat dan memeluk Zira. Dengan refleks Zira membalas pelukan Mom dan memejamkan matanya menikmati momen yang jarang sekali terjadi.
"Kami pergi" ucap Mom yang dibalas angukkan Zira dan mengantarkan kedua orang itu menghilang dari halaman rumah
Zira tetap berdiri walaupun mobil kekasih Mom sudah menghilang dan tak terlihat lagi.
Entah kenapa Zira merasa jika Kekasih Mom bukanlah orang biasa. Darimana Mom bisa mengenal pria itu.
Zira bukan orang bodoh yang tidak perbedaan orang penting dan orang biasa seperti dirinya.
Tetapi Zira menggelengkan kepalanya. Zira hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Mom.
Yeah itu benar...
Sekarang Zira juga sedang berusaha mencari kerja dan mempersiapkan diri ditendang dari rumah ini.
Kehidupannya pun dimulai
*-*-*
Zira menuangkan saus yang dibuatnya ke atas daging yang baru saja di masaknya.
Malam ini Zira memasak steak untuk makan malamnya. Di kulkas hanya tersisa 2 potong daging dan beberapa sayuran.
Besok Zira akan mencari beberapa bahan masakan dan mungkin rumah sewaan.
Mau tidak mau uang tabungannya harus terpakai dalam jumlah banyak. Setidaknya uang tabungannya cukup menanggung hidupnya selama 3 bulan.
Walau terkesan cewek grasakan pada semua orang. Zira adalah tipikal perempuan yang memikirkan masa depan.
Dengan keadaan sifat Mom yang cenderung boros. Zira berusaha sekuat tenaga menyisihkan uangnya dari uang belanja Mom
Setidaknya itu sangat bermanfaat ketika keadaannya sedang terhimpit seperti ini.
Jika tidak memungkinkan untuk mendapat pekerjaan. Zira akan membuka pekerjaan Freelance lagi.
Dulu ketika masih di bangku sekolah Zira membuka bisnis kecil-kecilan. Melukis dan mengerjakan tugas mata kuliah teman-temannya.
Mungkin Zira akan membuka pekerjaan seperti itu saja. Zira menghela nafas dan menaruh tempat saus yang baru saja dituangnya.
Zira membawa piring itu ke Meja makan dan hendak mengambil sendok. Tetapi Zira teringat sesuatu jika dirinya sepertinya belum mengunci pagar.
Untuk menenangkan hatinya dari kebimbangan antara sudah mengunci pagar atau tidak.
Zira memutuskan keluar dan melihat pagar rumahnya. Dilihat dari jauh sepertinya sudah terkunci karena gembok sudah menggantung.
Tetapi Zira memutuskan untuk mendekati pagar dan melihat gembok itu. Ternyata benar Zira sudah menguncinya.
Tenang sudah.
Zira membalikkan badannya dan melihat d**a bidang yang dapat dipastikan seberapa keras d**a itu.
Dada liat yang dibalut oleh kemeja putih yang membungkus dengan indah. Tak hanya itu tetapi Zira dapat mencium aroma harum.
Karena kaget dengan kehadiran sosok tak dikenalnya itu. Zira sampai melangkah ke belakang dan menabrak pagar dengan keras.
Rasa sakit langsung terasa di punggung mungilnya. Hingga sebuah tangan mengusap punggungnya dan aroma harum itu semakin tercium.
Zira mendongak dan menemukan mata elang yang begitu indah. Mata pekat yang membius siapapun yang menatapnya.
"Sakit ?" suara Bariton masuk ke gendang telinga Zira melalui jarak dekat.
Jantung Zira langsung berdetak begitu cepat. Seperti genderang perang yang sedang ditabuh kuat-kuat.
Tidak apa yang terjadi. Oh tidak situasi macam apa ini ? Kesadaran Zira kembali dan melangkah mundur dengan cepat.
Tetapi tangan itu masih menahannya dan membuat tubuh Zira masuk ke dalam pelukan pria itu.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Zira sambil berusaha melepaskan diri.
Akal sehatnya kembali dengan cepat.
"Punggung kecilmu itu bisa sakit. Jika kau terus menabrakkan diri" ucap pria itu yang membuat Zira menggelengkan kepalanya.
"Sebentar! Kau siapa ? Bagaimana bisa kau masuk"
Zira memutar matanya dan menatap gembok yang sejak tadi sudah terkunci. Kemudian menatap pria itu lagi.
Zira pikir dia hanya halusinasi tetapi tidak. Pria itu masih berdiri dengan tegap di depannya.
Dengan aroma yang sama
Bukannya menjawab pria itu hanya menatap Zira dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tetapi Zira tau arti tatapan itu. Tubuh Zira meremang ketika tatapan pria itu semakin intens.
Beberapa pria pertama melayangkan tatapan seperti itu pada Zira. Oh kepada semua perempuan.
Tatapan primitif seorang pria. Itulah adalah nametag dari tatapan Pria itu.
Mengerikan.
"Siapa kau?" Ucap Zira dengan perasaan takutnya.
Ucapan Zira membuat tatapan pria itu langsung membalas tatapan mata Zira. Mata pria itu menatapnya tepat di mata.
"Aro, calon suamimu"