~Setidaknya dalam stiap hembusan nafas kita sudah melakukan yang terbaik~
Maya, gadis cantik itu kini duduk di salah satu bangku depan ruang Dosen, earphone masih setia bertengger di telinganya menunggu seseorang yang kini sangat penting bagi kelangsungan masa depannya.
Ya, dia sedang menunggu dosen pembimbingnya..
"menunggu" memang hal klise bagi mahasiswa tingkat akhir dan tentunya sudah akrab juga dengan hal itu.
"May" seseorang menepuk pundak Maya dari belakang, Maya pun menoleh.
"Ey, apa? udah kelar bimbingannya? Kenapa mewek gitu?"
"Lihat nih May" tunjuk wanita yang berdiri di samping Maya sambil menyodorkan tumpukan kertas yang penuh dengan coretan.
"Ikut prihatin ya say, wkwkwk kasian banget nih anak dari kemarin Bab 3 belom kelar-kelar, coba ntar aku bantu deh, jangan nangis, Its ok.."
"Lo enak udah tinggal draf lengkap, dosen pembimbing lo juga sat set banget, nah gue? racun boleh nggak sih? ah, jadi mikir kriminal kan? asem." ucap Rena dengan sewotnya
"Udah, nggak usah gitu, rezeki orang beda2 sayang, gue bantuin, janji deh."
===
"Iya Bu, doain aja ya semoga nanti sidangnya lancar, biar Maya cepet lulu, dapet kerja juga. Ini Maya lagi keluar buat makan, jangan khawatir ya Bu, Maya tutup dulu telfonnya, d**a Ibu..."
Maya mematikan video call dengan Ibunya dan berlari kembali ke dapur sebuah cafe.
"Udah video callnya?" ucap Kinan, teman kerja Maya di cafe.
"Udah kok, nggaknada bos kan?"
"Nggak ada May, santai, lagian kamu kalau ditelfon Ibu kamu selalu aja bilang lagi makan di luar, bohong mulu, padahal kamu kerja di sini"
"Wkwkwk aku nggak mau Ibuku tahu aja Nan, kasian nanti kepikiran. Mending dia tahu aku lagi seneng-seneng sama temen aja"
"Gila kamu wkwk, sampai kapan mau bohong!"
"Sampai nggak kerja di sini lagi wkwk"
=====
Jam menunjukkan pukul 00.30, Maya baru saja pulang dari cafe tempatnya bekerja, dia mandi dan membersihkan baju-baju kotornya.
Badannya terasa remuk, tetapi bukannya langsung merebahkan diri di kasur, justru Maya membuka laptopnya dan mengerjakan pesanan joki tugas untuk deadline besok pagi.
Mungkin tubuhnya yang terasa remuk bisa ditahan, namun matanya tidak bisa berbohong dan mengisyaratkan sirat kelelahan....
Sebuah perjuangan untuk menuju garis finis, mengakhiri sebuah pendidikan demi mendapat sebuah gelar
====
Bersambung...