Bab 2 – Mata yang Mengupas Luka
Tiga hari setelah menerima permintaan dari Arga, Ray masih belum menjawab. Ia terus menatap layar laptop, jari-jari menggantung di atas keyboard, tapi pikirannya tak berada di sana.
Suara batuk Mbah Darmi makin sering terdengar di malam hari. Ia sudah membawa neneknya ke puskesmas, hasilnya menunjukkan tanda-tanda flek di paru-paru. Obat generik diberikan, tapi Ray tahu—kalau ingin pengobatan yang benar, ia butuh lebih dari sekadar niat baik.
Tiga puluh lima juta. Itu biaya awal untuk pengobatan dan rawat inap. Jumlah yang tidak bisa didapat dari kerja lepas dan niat suci. Tapi bisa didapat... dari pekerjaan kotor itu.
Ray mulai menulis kode.
Tidak sepenuhnya sadar, tidak sepenuhnya setuju. Tapi pikirannya kosong, tubuhnya seperti bergerak otomatis. Setiap baris kode seperti doa yang dikhianati, tapi Ray menuliskannya juga. Ia menamai proyek itu "Samhita"—nama dari bahasa Sansekerta, artinya keterikatan.
---
Senin malam, Ray datang ke sebuah warung kopi kecil di daerah Glodok untuk bertemu dengan perantara lokal—hanya disebut “Y.” Ray sudah biasa berkomunikasi lewat VPN dan alamat palsu, tapi malam itu, “Y” ingin pertemuan langsung.
Warung itu tampak biasa. Tua, lampunya kuning redup, meja-mejanya kayu bergores. Tapi Ray langsung tahu, orang-orang di dalamnya bukan pelanggan biasa. Tatapan mereka kosong, posisi duduknya strategis.
Dan di sudut, duduk seorang perempuan. Rambut hitam panjangnya terikat rapi. Ia mengenakan hoodie abu-abu dan celana jins hitam. Tidak mencolok, tapi tajam. Ia sedang menatap layar ponsel—dan saat Ray masuk, tatapan mereka bertemu.
Perempuan itu tersenyum samar, lalu mengangkat cangkir kopinya. “Rayendra Mahesa?”
Ray langsung berhenti. Matanya menyipit. “Lo... siapa?”
“Aku ‘Y’,” jawabnya santai. “Tapi lo boleh panggil aku Citra.”
Ray langsung curiga. “Selama ini gue kerja sama lo lewat email. Lo cowok.”
“Gue nggak bilang gue cowok,” katanya ringan, menyandarkan punggungnya. “Lo aja yang berasumsi.”
Ray menatap sekeliling. “Mana Arga?”
“Gak usah panik,” Citra meletakkan ponselnya. “Kita cuma ngobrol. Bukan jebakan. Belum.”
Ray ingin pergi. Instingnya berteriak bahwa ada yang tidak beres. Tapi rasa penasaran menahannya. “Apa maksud lo ‘belum’?”
Citra menatap langsung ke matanya. Tatapan itu bukan tatapan seorang kriminal. Bukan pula tatapan musuh. Itu tatapan seseorang yang tahu—lebih dari seharusnya.
“Aku tahu lo cuma programmer. Aku tahu kenapa lo ngelakuin ini semua. Gue tahu soal Mbah Darmi juga,” katanya perlahan.
Ray pucat. “Lo... lo mata-matain gue?”
“Gue jurnalis,” jawabnya jujur. “Lagi ngumpulin bukti soal jaringan pasar gelap. Lo ada di tengahnya.”
Ray berdiri. “Lo mau laporin gue?”
“Kalau gue mau, lo udah ditangkap dari kemarin,” balasnya cepat. “Gue gak nyari tumbal. Gue nyari kebenaran.”
Ray terdiam. Matanya gelisah. Ia tak tahu harus marah atau bersyukur.
Citra melanjutkan, “Gue tahu lo jenius. Sistem yang lo bangun terlalu rapih untuk kelas mafia jalanan. Tapi gue juga tahu lo takut. Setiap kode yang lo tulis kelihatan kayak lo lagi berdoa sambil bunuh diri.”
Hening.
Ray menunduk. Entah kenapa, kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk titik paling rapuh dalam dirinya.
“Kenapa lo bilang semua itu ke gue?” bisiknya.
“Karena gue pengen lo bantu gue dari dalam,” jawab Citra tegas. “Lo punya akses. Lo bisa ngelindungin orang-orang kayak nenek lo. Tapi lo juga bisa jatuhin banyak nyawa kalau terus nulis sistem buat mereka.”
Ray menghela napas. “Gue bukan pahlawan.”
“Gue juga bukan,” kata Citra pelan. “Tapi kadang kita cuma perlu... satu alasan buat gak diem aja.”
Ia mengeluarkan sebuah amplop dan meletakkannya di meja.
“Bukti pengiriman dari pelabuhan yang bakal pake sistem lo minggu depan. Gue tahu semuanya. Kalau lo tetep bikin sistem itu... artinya lo tahu dan lo biarin.”
Ray menggenggam tangannya kuat-kuat.
“Apa lo gak takut?” tanyanya lirih.
“Takut,” jawab Citra sambil tersenyum kecil. “Tapi gue lebih takut liat orang kayak lo ngebunuh diri pelan-pelan.”
---
Malam itu, Ray tidak tidur. Ia membuka ulang semua data proyek yang sudah ia bangun, dan melihatnya dengan mata berbeda. Setiap jalur pengiriman, enkripsi, sistem backdoor—semuanya bisa jadi alat untuk menyelamatkan, atau menghancurkan.
Di luar, Mbah Darmi terbatuk lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Ray bertanya bukan pada kode, bukan pada uang, tapi pada dirinya sendiri:
"Apa yang tersisa kalau semua ini selesai? Dosa... atau doa?"
---