Tidak ada yang pernah benar-benar tahu kapan sebuah perasaan dimulai.
Kadang ia datang dari sebuah percakapan sederhana.
Kadang dari tatapan yang bahkan tidak sengaja.
Dan kadang, dari seseorang yang sejak awal seharusnya tidak kita cintai.
Namanya Alea.
Seorang gadis yang sejak SMA dikenal pendiam, tetapi memiliki senyum yang selalu berhasil membuat orang di sekitarnya merasa nyaman.
Di bangku sekolah itulah Alea mengenal Raka.
Mereka berbeda dalam banyak hal.
Cara mereka dibesarkan berbeda.
Kebiasaan mereka berbeda.
Bahkan keyakinan yang mereka pegang pun berbeda.
Tetapi ada satu hal yang membuat mereka sama:
Mereka sama-sama merasa nyaman ketika berada di dekat satu sama lain.
Awalnya hanya teman sebangku saat sebuah kegiatan sekolah.
Kemudian menjadi teman bercerita.
Lalu teman pulang bersama.
Sampai akhirnya, tanpa pernah ada kata "kita pacaran", semua orang sudah tahu bahwa mereka adalah dua orang yang saling memiliki.
"Alea..."
"Ya?"
"Kalau nanti kita kuliah, kamu mau kuliah di mana?"
Alea tersenyum.
"Entahlah. Kenapa?"
"Takut kita jauh."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi bagi Alea, kalimat tersebut seperti sebuah janji yang tidak pernah mereka ucapkan secara resmi.
Mereka kemudian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Kota yang sama.
Kampus yang berbeda.
Kesibukan yang berbeda.
Namun hubungan mereka tetap berjalan.
Mereka belajar tumbuh bersama.
Raka menjadi orang pertama yang Alea cari ketika ia gagal dalam sebuah ujian.
Alea menjadi orang pertama yang Raka hubungi ketika ia mendapatkan kabar baik.
Mereka pernah bertengkar hanya karena pesan yang terlambat dibalas.
Pernah saling diam berhari-hari.
Pernah mengatakan, "Sudahlah, kita selesai saja."
Namun beberapa jam kemudian salah satu dari mereka kembali berkata,
"Aku sebenarnya nggak mau kehilangan kamu."
Begitulah hubungan mereka berjalan.
Tidak sempurna.
Tetapi selalu menemukan jalan untuk kembali.
Sampai akhirnya mereka lulus.
Dan kehidupan membawa mereka pada pintu yang berbeda.
Alea mendapatkan pekerjaan di sebuah kota yang cukup jauh.
Raka juga mendapatkan pekerjaan di kota lain.
Hari keberangkatan Alea menjadi hari yang paling mereka takutkan.
Di terminal, Raka menggenggam tangan Alea erat.
"Kita bisa, kan?"
Alea menatapnya.
"Apanya?"
"Jalanin ini."
Alea tersenyum, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
"Kita sudah sampai sejauh ini."
Raka mengangguk.
"LDR cuma jarak."
Alea menjawab pelan,
"Jangan sampai jarak membuat kita jadi orang asing."
Raka memeluknya.
"Enggak akan."
Saat itu mereka percaya bahwa cinta yang telah bertahan bertahun-tahun pasti cukup kuat untuk menghadapi apa pun.
Mereka belum tahu...
Bahwa terkadang bukan jarak yang menghancurkan sebuah hubungan.
Melainkan kesempatan yang datang ketika seseorang sedang merasa sendirian.