Satu jam berlalu sangat cepat. Kirana bekerja secepat dan sehati-hati mungkin, takut sekali kalau sampai salah sedikit saja dan langsung dipecat. Berkas yang diberikan Arga itu isinya cukup rumit, tapi Kirana berusaha menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya.
Tepat di menit ke-59, Arga muncul lagi di ambang pintu. Wajahnya masih sama dingin dan datar, seolah tak ada satu pun hal di dunia ini yang menarik minatnya. Ia berjalan mendekat, mengulurkan tangan meminta berkas itu tanpa bicara sepatah kata pun.
Dengan tangan sedikit gemetar, Kirana menyerahkannya. "Sudah selesai, Pak. Saya cek ulang sampai dua kali, tidak ada kesalahan," katanya pelan, berusaha berani.
Arga mengambil berkas itu, lalu membacanya sekilas dengan mata tajamnya. Kirana menahan napas, jantungnya berdegup kencang sekali. Ia siap dimarahi kapan saja. Tapi anehnya, tak ada teriakan, tak ada makian. Arga hanya menutup berkas itu perlahan, lalu menatap Kirana lekat-lekat.
"Cukup rapi," ucapnya singkat, lalu berbalik hendak pergi. Namun sebelum melangkah keluar, ia berhenti sebentar tanpa menoleh. "Besok masuk jam 6 pagi. Jangan telat sedetik pun."
"J-jam 6 pagi?!" seru Kirana tak sengaja, matanya terbelalak kaget.
Arga menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat sedikit—entah itu senyum sinis atau apa. "Kenapa keberatan? Kalau tidak mau, silakan keluar sekarang juga."
"Tidak, Pak! Siap, Pak!" jawab Kirana cepat, takut kehilangan kesempatan ini. Arga pun pergi, meninggalkan Kirana yang mengelus d**a lega tapi juga bingung berat.
Siang harinya saat jam istirahat, semua karyawan berkumpul di kantin, membahas Kirana yang dianggap beruntung bisa lolos dari kemarahan Arga.
"Kamu hebat deh, Ra! Biasanya siapa saja yang dipanggil dia pasti nangis atau langsung dipecat. Kamu malah dibilang 'cukup rapi', itu pujian tertinggi lho dari dia!" kata salah satu staf wanita dengan kagum.
Kirana hanya tersenyum tipis. "Dia itu benar-benar manusia ya? Dingin banget, kayak punya es di dalam d**a. Padahal tampang cakep, tapi kelakuannya bikin emosi."
Sore hari, saat semua orang sudah pulang, Kirana lupa membawa buku catatannya di ruang kerja. Ia kembali masuk ke gedung yang sudah sepi dan hening. Saat melewati lorong lantai atas, ia mendengar suara pelan dari arah ruangan besar milik Arga. Bukan suara marah, tapi suara napas berat dan tersendat.
Karena penasaran, Kirana mengintip sedikit lewat celah pintu yang tak tertutup rapat.
Pemandangan di dalam sana membuat mata Kirana terbelalak tak percaya.
Arga yang biasanya selalu rapi, gagah, dan angkuh, kini sedang duduk bersandar di kursi besarnya dengan kepala tertunduk di atas meja. Bahunya berguncang pelan, dan tangan kanannya menekan kuat d**a kirinya seolah menahan rasa sakit yang luar biasa. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak pucat, penuh penderitaan dan kesepian yang mendalam.
Laki-laki yang sama yang tadi pagi galak dan kejam itu... sekarang terlihat begitu rapuh, sendirian, dan menyedihkan.
Tuhan... apa yang sebenarnya terjadi padanya? batin Kirana terkejut campur iba.
Belum sempat Kirana bergerak, Arga tiba-tiba mengangkat kepalanya, menyeka kasar sudut matanya, lalu kembali memasang wajah dingin dan kaku seperti biasa secepat kilat. Seolah semua kelembutan dan rasa sakit tadi hanyalah ilusi semata.
Kirana buru-buru menjauh, jantungnya berpacu kencang. Dia baru sadar satu hal besar: Semua sikap dingin dan kejam Pak Arga itu hanyalah topeng. Di baliknya, ada luka besar yang ia sembunyikan rapat-rapat dari seluruh dunia.
Dan entah kenapa, melihat sisi tersembunyi itu, rasa penasaran Kirana berubah jadi rasa ingin tahu yang lebih dalam, dan sedikit rasa iba yang mulai merayap di hatinya.