Vera Adinata duduk di meja kerjanya, memandangi layar laptop yang menampilkan berkas-berkas laporan yang harus ia selesaikan hari itu. Namun pikirannya melayang ke tempat lain. Tangannya menopang dagu, sementara matanya menatap kosong pada angka-angka di layar.
Sudah beberapa bulan sejak ayahnya meninggal, tetapi rasanya seperti baru kemarin. Kepergian ayahnya membawa duka yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, sesuatu yang dulu selalu menjadi pijakan yang kokoh—sebuah rasa aman yang kini lenyap begitu saja.
Dan sekarang, setelah semua itu, ia kembali ke kota ini. Kota yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
"Ver?"
Suara seorang wanita mengagetkannya dari lamunan. Tika, sahabat sekaligus rekan kerjanya, berdiri di ambang pintu kantor kecil mereka dengan alis terangkat.
"Lo bengong lagi, ya?" Tika masuk tanpa menunggu jawaban, lalu duduk di kursi seberang meja Vera.
Vera menghela napas. "Enggak, cuma… banyak yang dipikirin."
Tika melipat tangannya di d**a. "Lo udah kepikiran kayak gini terus dari kapan, sih? Udah saatnya move on, Ver."
"Gue bukan gak mau move on, Tik. Cuma rasanya…" Vera berhenti, mencari kata-kata yang tepat. "Gue kembali ke kota ini dengan harapan bisa memulai sesuatu yang baru. Tapi kenyataannya, semua yang ada di sini malah bikin gue ingat masa lalu."
Tika terdiam sebentar, lalu berkata dengan suara lebih lembut. "Gue ngerti. Tapi lo gak harus ngejalanin semua ini sendirian, Ver. Gue ada di sini. Kalau lo butuh tempat buat cerita, buat ngeluarin isi hati lo, lo tahu gue selalu siap dengerin."
Vera tersenyum kecil. "Gue tahu, Tik. Makasih."
Mereka terdiam sejenak sebelum Tika kembali berbicara. "Ngomong-ngomong, lo yakin masih mau ke sekolah itu besok?"
Sekolah itu.
Vera mengangguk, meskipun ada sesuatu di dalam dirinya yang ragu.
Sekolah itu adalah tempat yang dulu sering ia datangi bersama ayahnya. Tempat di mana ia memiliki kenangan indah… sekaligus menyakitkan.
Tapi sekarang, ia harus kembali ke sana.
Karena di sanalah semuanya akan dimulai kembali.
***
Di sebuah bangku halaman sekolah swasta terkenal di ibu kota, Vera duduk dengan tatapan kosong. Matanya sembab, sisa air mata masih terlihat di sudutnya. Sesekali ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun, hatinya tetap terasa berat.
Bangunan lima lantai di depannya berdiri kokoh, tapi bagi Vera, itu bukan sekadar gedung sekolah. Itu adalah saksi bisu dari masa kecilnya—masa yang dulu penuh kebahagiaan, namun kini hanya menyisakan kenangan pahit yang tak bisa ia ulang.
"Ah Tuhan… andai waktu bisa diulang," bisiknya dengan suara serak. "Aku ingin kembali ke masa itu... masa di mana aku bisa tersenyum bebas, bisa tertawa lepas, bisa merasakan pelukan hangatnya."
Air matanya jatuh lagi. Ia segera menghapusnya dengan kasar, merasa frustrasi pada dirinya sendiri.
Namun, tiba-tiba, suara ringan dan ceria memecah keheningan.
"Yah, udah gede masih nangis, cengeng banget! Are you okay?"
Vera terkejut. Ia menoleh dan mendapati seorang anak perempuan kecil berdiri di sampingnya, memegang dua es krim. Anak itu mengenakan seragam sekolah dan menatapnya dengan ekspresi polos, namun juga sedikit penasaran.
"Eh, kamu di sini sama siapa?" tanya Vera, matanya menyapu sekeliling. Tidak ada orang dewasa di dekat anak itu.
"Sendiri..!!" jawab anak itu santai, lalu menggigit es krim di tangannya.
Vera mengerutkan kening. "Kok sendiri? Mana orang tuamu?"
Anak itu tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia malah menyodorkan es krim yang masih utuh ke arah Vera. "Tante, ini buat tante! Biar gak sedih lagi."
Vera terdiam, menatap es krim itu.
"Enggak kok! Siapa bilang tante lagi nangis?" kilahnya, berusaha tersenyum.
Anak itu menyipitkan mata, menatapnya dengan penuh selidik. "Tante, kata guru ngaji aku, gak boleh bohong. Bohong itu dosa."
Vera nyaris tersedak mendengar itu.
"Udah jelas-jelas aku lihat tante nangis, tapi tante malah bilang enggak." Anak itu berkacak pinggang, masih menatap Vera dengan tatapan serius. "Udah ngaku aja, tante!"
Vera terkekeh kecil, tidak menyangka akan dihakimi oleh seorang anak kecil. "Iya, iya, tante emang lagi sedih. Puas?"
Anak itu mengangguk puas. "Gitu dong! Kata papah, menangis itu cuma cara kita ngeluarin perasaan, jadi jangan malu buat nangis."
Vera terdiam. Kata-kata itu menamparnya lebih keras dari yang ia duga.
"Ini anak siapa sih? Kok kecil-kecil nyeramahin gue?" pikirnya.
Ia menatap anak kecil itu dengan lebih saksama. "Kamu pintar banget sih? Sekolahnya kelas berapa?"
Anak itu mengunyah es krimnya sebentar sebelum menjawab. "Papah bilang aku harusnya udah kelas tiga SMA. Tapi karena aku baru enam tahun, jadi sekarang aku kelas nol besar!"
Vera nyaris tertawa mendengar jawabannya. "Kamu ada-ada aja."
"Terus, kenapa kamu ada di sini? Bukannya belum waktunya istirahat?" lanjut Vera.
Anak itu menatapnya dengan wajah bosan. "Habisnya, aku bosen di dalam, Tante. Setiap hari cuma gambar-gambar terus."
Tiba-tiba, anak itu memotong pembicaraan. "Tante stop! Dari tadi tante nanya terus, tapi pertanyaan aku belum dijawab!"
Vera terkejut. "Pertanyaan? Pertanyaan apa?"
"Tante nangis kenapa?" tanya anak itu dengan polos.
Vera terdiam. Ia menatap anak itu yang menunggunya dengan sabar. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia menjawab, "Oh… itu. Tante cuma lagi rindu sama papah tante."
Anak itu mengangguk, mencerna jawaban itu. "Papah tante lagi keluar kota?"
Vera menunduk. "Tante sih berharap begitu, dek. Tapi sayangnya papah tante pergi jauh… ke tempat yang tak bisa kembali."
Anak itu terdiam sejenak, lalu bertanya polos, "Oh, jadi papah tante pergi ke surga?"
Vera mengangguk.
Anak itu tersenyum lembut. "Kalau gitu, tante harusnya senang, bukan sedih. Kata ustazah aku, kalau kita sedih terus, orang yang kita sayang di surga juga ikut sedih."
Vera terpaku. Lagi-lagi, kata-kata anak kecil ini berhasil menusuk hatinya.
Ia tersenyum kecut. "Ih kamu tuh masih kecil, tapi udah pinter banget. Gemes deh."
Anak itu tertawa kecil. "Kata papah aku juga gitu."
Vera menatapnya. "Ngomong-ngomong, nama kamu siapa?"
Anak itu membuka mulut, hendak menjawab, namun tiba-tiba…
"Vera!!!"
Suara nyaring membuat keduanya menoleh. Seorang wanita berlari ke arah mereka dengan wajah cemas.
"Astaga, lo kemana aja sih, Ver? Gue sampai muter-muter masuk ke tiap kelas nyariin lo!" seru Tika.
Vera tersenyum tipis. "Lo ngapain masuk ke kelas? Mau belajar lagi?" godanya.
"Gue nyariin elo lah, dodol!" keluh Tika sambil menepuk dahi Vera.
Saat Vera berbalik, anak kecil itu sudah tak ada di sampingnya. Ia menoleh ke sekeliling, tapi yang tersisa hanya bangku kosong dan es krim yang sudah mulai mencair di tangannya.
"Anak kecil tadi mana?" tanya Vera, masih mencari sosoknya.
Tika mengerutkan kening. "Anak kecil? Siapa?"
Vera terdiam, menatap halaman sekolah yang kini mulai sepi.
Vera masih berdiri mematung di depan bangku taman sekolah. Pikirannya melayang, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Tika menyentuh bahunya dengan cemas. "Ver, lo kenapa? Dari tadi diem aja. Lo sakit?"
Vera menggeleng. "Enggak… tapi tadi beneran ada anak kecil yang ngobrol sama gue, Tik. Dia bahkan ngasih gue es krim ini." Ia mengangkat es krim yang mulai mencair di tangannya.
Tika mengernyit. "Anak kecil? Lo yakin? Di sini gak ada anak kecil yang main sendirian."
Vera menatap bangku kosong di sampingnya. Tadi Alana ada di sana. Ia yakin. Tapi sekarang anak itu menghilang begitu saja.
"Tapi gue tadi lihat dia beneran. Dia ngomongin soal papah gue, bahkan sempat ‘nyeramahin’ gue." Vera berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Tika menepuk dahinya. "Aduh Vera… jangan-jangan ini efek lo kurang tidur dan kebanyakan overthinking. Jangan-jangan lo berhalusinasi?"
Vera menghela napas panjang. "Enggak mungkin, Tik. Dia nyata. Dia bahkan punya logika yang lebih tajam dari anak kecil kebanyakan. Dan, anehnya… ada sesuatu di matanya yang bikin gue ngerasa… akrab."
Tika masih terlihat ragu. Namun, sebelum ia bisa menjawab, seorang guru mendekati mereka.
"Maaf, apakah kalian tamu di sini?" tanya guru itu dengan sopan.
Vera dan Tika mengangguk. "Iya, Bu. Saya alumni sekolah ini. Kebetulan lagi nostalgia."
Guru itu tersenyum. "Oh begitu. Saya kira kalian wali murid yang datang menjemput."
Vera terdiam sejenak. "Wali murid?"
Guru itu mengangguk. "Ya. Tadi saya melihat kalian duduk di sini dan berpikir mungkin kalian sedang menunggu anak kalian keluar dari kelas."
Tika tertawa kecil. "Bu, kami masih terlalu muda buat punya anak sekolah di sini."
Guru itu ikut tertawa. "Maaf, maaf. Saya tidak bermaksud begitu." Ia kemudian menambahkan, "Ngomong-ngomong, tadi saya sempat melihat seorang anak perempuan berdiri di dekat sini, sebelum saya menghampiri kalian. Apakah dia teman atau keponakan kalian?"
Vera langsung menoleh. "Ibu lihat dia?"
Guru itu mengangguk. "Ya, tapi dia langsung pergi ke arah lapangan sebelum saya sempat melihatnya lebih jelas."
Tika melipat tangan. "Hah, berarti anak itu memang ada, Ver. Tapi kenapa dia tiba-tiba pergi?"
Vera tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah lapangan dengan perasaan campur aduk.
Siapa sebenarnya anak itu? Kenapa dia terlihat begitu familiar?