"Kamu serius kita mau disini seminggu?" Sasti yang hendak mengganti bajunya dengan baju tidur menatap Satria yang tengah duduk bersender di kasur.
"He'em..." Satria menganggukkan kepalanya begitu mantap. Sedangkan matanya fokus dengan iPad yang ia pegang.
"Sat, pulang aja deh. Besok kan aku harus ngantor, kamu juga kan?" Sasti membawa baju tidurnya ke dalam kamar mandi.
"Kamu yang maksa mau ngantor, aku mah maunya libur!" ujar Satria sedikit berteriak agar Sasti yang di dalam kamar mandi bisa mendengar suaranya.
"Engga usah teriak-teriak!" seru Sasti dari dalam kamar mandi.
"Kan biar kamu denger sayang." balas Satria tetap dengan volume suara lumayan tinggi.
Tak lama Sasti keluar dari kamar mandi, mengenakan kamisol berwarna kulit yang begitu jatuh membentuk tubuhnya. Membuat Satria yang melihatnya menelan ludah, iPadnya pun tersingkir diletakkan begitu saja di atas nakas. Padahal iPadnya itu sedang menampilkan laporan penting yang baru saja dikirim oleh Yoga.
"Rahadhi Satria, istrimu ini engga budek." ujar Sasti dengan tatapan tajam.
"Tentu saja, istrinya Rahadhi Satria ini nggak budek tapi sexy. Sangat sexy." ucap Satria dengan tatapan laparnya.
"Mukanya biasa aja sih Sat! Kenapa jadi m***m banget gini sih." hardik Sasti yang menyadari tatapan penuh hasrat milik Satria.
"Kamu yang bikin aku jadi m***m kayak gini sayang." balas Satria yang langsung menarik tangan Sasti hingga perempuan itu jatuh ke pelukan Satria, membuatnya memekik kecil.
Satria menghirup dalam-dalam wangi tubuh Sasti yang begitu manis.
"I love you..." bisik Satria yang kemudian mengecup leher Sasti.
"Bisa engga malam ini kita hanya tidur? Tidur yang beneran tidur?" tanya Sasti dengan kening berkerut.
"Sayaaang.. kamu mah ngerusak suasana. Bales i love you too kek i love you more kek." ujar Satria yang mempererat pelukannya.
"No love love lagi lah! Besok aku kerja, besok kamu juga harus kerja. Jadi malam ini kita tidur dengan tenang." ucap Sasti yang kemudian menggigit bahu Satria membuat lelaki itu teriak kesakitan dan melepas pelukannya.
"Kamu ihh! Karnivora ya! Dikasih makan orok ya sama ibu Rukmini." keluh Satria sambil mengelus bahunya. Ia pun menarik leher kaosnya hingga menunjukkan bahunya yang tercetak jelas bekas gigitan Sasti.
Mendengar Satria menyebut nama ibunya membuat Sasti mendelik, "Di kasih makan buaya idup sama ibu!"
"Whoaaah, engga buaya darat sekalian??" tanya Satria dengan ekspresi wajah dibuat-buat.
"Cih, buaya daratnya udah jadi suami!" balas Sasti yang kemudian mengambil guling ke dalam pelukannya.
"Kamu itu udah nikah, punya suami. Ngapain sih melukin guling??" Satria langsung menarik guling yang Sasti peluk, melemparnya jauh ke arah kamar mandi.
Lalu ia mendekatkan tubuhnya ke arah Sasti, menarik Sasti ke dalam pelukannya.
"Selamat bobo istriku, i love you." ucap Satria sebelum mengecup kening Sasti.
"I love you more." balas Sasti sambil menggerakkan kepalanya, mencari posisi nyaman di d**a bidang milik Satria. Suaminya.
Baik Satria maupun Sasti, keduanya terpejam dengan perasaan yang begitu bahagia. Pelukan keduanya memberikan ketenangan, membuat tidur mereka menjadi begitu nyenyak. Menghilangkan segala pikiran yang menjadi beban, meringankan setiap tarikan nafas.
--
Sinar matahari pagi yang masuk dengan mudahnya karena lagi-lagi Sasti lupa menutup horden kamar, membuat Sasti terbangun. Nyawanya yang belum terkumpul membuatnya hanya terdiam di kasur, menikmati pelukan hangat tubuh Satria.
Hingga tiba-tiba dirinya tersentak, membuat matanya menjadi begitu segar. Sasti menatap Satria yang masih terpejam, dengkuran halus milik Satria menimbulkan seulas senyum di wajahnya. Dikecupnya dengan cepat kening Satria, lalu ia melepaskan diri dari pelukan lelaki tersebut.
Sasti melangkah keluar dari kamar, niatnya untuk membuat sarapan pupus tatkala dirinya tersadar kalau sekarang dia dan Satria masih berada di hotel. Dengan langkah gontai Sasti medekati telepon yang ada di dekat Televisi. Ia menghubungi restaurant, sambil melihat-lihat buku menu yang dia ambil dari laci meja telepon.
Begitu sambungannya terangkat, bibir mungil Sastipun dengan cepat menyebutkan berbagai macam menu untuk sarapannya berdua dengan Satria.
"Makasih ya." ucap Sasti sebelum menutup telepon.
Setelah menaruh kembali gagang telepon pada tempatnya, Sasti bergerak maju mendekati jendela kamar. Pemandangan bundaran Hotel Indonesia di Senin pagi membuatnya mendengus pelan.
Cukup lama Sasti terdiam, hingga dirinya mengingat sesuatu. Ponsel! Tiba-tiba saja hatinya menjerit.
Terkahir dirinya memegang ponsel itu hari Jum'at. Sasti memutuskan untuk masuk kembali ke kamar, mencari ponsel diantara barang-barangnya. Ini adalah rekor terbesarnya, lebih dari dua hari tangannya tidak menyentuh ponsel.
Sasti membuka kopernya, dan matanya bersinar saat benda tipis berukuran 5,5" berwarna hitam. Namun sedetik kemudian Sasti mengerucutkan bibirnya karena ponselnya itu mati, low batt.
Tangan Sasti kembali mengacak isi kopernya berharap ada kabel charger yang turut serta. Ternyata tidak ada, Sasti memutuskan mengacak tas suaminya. Namun dia membatalkan niatnya, teringat merk ponsel Satria yang berbeda dengan miliknya.
Sebuah ide terlintas di kepalanya, menginap di Presidential Suite dengan harga yang tidak murah tentu saja dia bisa meminta kabel charger kan?
Dengan cepat Sasti keluar dari kamar, lalu mengangkat gagamg telepon. Menghubungi room service.
Tak sampai sepuluh menit, bel di pintu Presidential Suite-nya berbunyi. Sasti berlari menuju pintu, ia mengintip melalui lubang kecil untuk memastikan siapa yang datang. Senyum mengembang di wajahnya tatkala matanya melihat lelaki berseragam room service sedang berdiri di depan pintunya sambil memegang kabel berwarna putih.
"Selamat pagi ibu." sapa petugas dengan name tag bertuliskan Surya.
"Selamat pagi." balas Sasti.
"Ini kabel charger yang ibu minta, untuk Samsung Galaxy A7 ya ibu." Surya menyerahkan kabel berwarna putih tersebut kepada Sasti.
"Terima kasih ya." ucap Sasti saat menerima kabel tersebut.
"Ada yang diperlukan lagi bu?" tanya petugas tersebut begitu ramah.
"Tidak, makasih banyak ya." jawab Sasti.
"Kalau begitu saya permisi ya bu." petugas tersebut pun undur diri, sedangkan Sasti langsung menutup pintu.
"Ya ampun! Satria! Kamu ngagetin aja sih!!" seru Sasti sambil memegangi d**a kirinya.
Satria telah berdiri di belakangnya, dengan kedua tangan yang terlipat di d**a.
"Kamu ngapain?" tanya Satria dengan mata yang tak lepas menatap Sasti.
"Ini aku minta chargeran, engga ada soalnya di koper." jawab Sasti yang kemudian berjalan hendak menuju sofa.
Namun tangan Satria menarik lengan Sasti, merengkuh Sasti ke dalam pelukannya.
"Kamu inget engga sama baju yang kamu pakai sekarang, hem??" Satria berbisik di telinga Sasti. Suaranya begitu berat dan terasa tajam.
"Petugas tadi laki-laki sayang, dia pasti liat kamu." Satria mempererat pelukannya membuat d**a Sasti semakin menekan dadanya.
"Ma..maaf. Aku lupa." ucap Sasti terbata-bata.
Satria menghela nafasnya, dia kesal namun dia tidak bisa marah begitu saja. Bukan salah Sasti juga, memang dirinya yang begitu cemburu. Satria berubah menjadi sangat protektif. Dia tidak mau ada yang melihat Sasti dengan tatapan mengagumi. Tidak, hanya dia yang boleh melihat Sasti. Sasti itu miliknya.
"Ayo kita mandi, biar ke kantornya engga semakin siang." Satria menggendong Sasti ala bride lalu membawanya ke dalam kamar.
Dia membutuhkan peralihan agar rasa kesalnya menguap dengan segera.
"Sebentar Sat, aku ngecharge hape ku dulu." Sasti meronta agar Satria menurunkannya.
Satria memutar kedua bola matanya, lalu mengambil kabel putih yang ada ditangan Sasti dan melemparnya begitu saja ke kasur.
"Mandi lebih penting sayang." ucap Satria kemudian melumat bibir Sasti, membuat Sasti menelan suaranya yang hendak mengajukan protes.
--
Satria tengah duduk di sofa saat Sasti keluar dari kamar membawa sepasang kaos kaki dan juga sepasang sepatu, dan sebuah dasi yang tersampir di bahunya.
"Deketan sini Sat." ucap Sasti setelah meletakkan sepatu dan kaos kaki tersebut ke lantai.
Satria pun menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan istrinya.
Sasti mengangkat kerah kemeja Satria, lalu melampirkan dasi yang ia bawa ke leher Satria. Dengan cekatan tangannya bergerak lincah memakaian dasi untuk Satria.
Satria menatap lekat Sasti yang tampak begitu serius, ada rasa aneh yang menggerogoti hatinya.
Aku bukan lelaki pertama yang kamu pakaikan dasi batin Satria.
Satria sadar itu konyol, namun tetap saja apabila membayangkan Sasti yang pernah memakaikan dasi ke lelaki lain alias Vito. Rasa cemburu dan kesal membuncah di dadanya.
Sasti tersenyum begitu puas saat dasi yang ia pakaikan sudah jadi, kedua tangannya mengusap pelan d**a Satria. Hal selanjutnya benar-benar membuat Satria terkejut, Sasti telah duduk di lantai. Lalu tangan kanannya mengangkat kaki kanan Satria ke atas pahanya.
"Sayang, kamu mau ngapain?" tanya Satria yang begitu terkejut dengan tindakan Sasti.
"Makein kamu kaos kaki." jawab Sasti dengan senyum yang begitu lembut.
"Engga usah, engga usah. Aku bisa sendiri." Satria menarik kakinya dari atas paha Sasti.
"Sat..." Sasti menatap Satria begitu dalam. Mata teduhnya yang begitu besar menyiratkan cintanya kepada Satria.
"Ini mimpi aku, bisa makein kaos kaki dan sepatu untuk suami aku setiap pagi." ujar Sasti kembali mengangkat kaki kanan Satria ke atas pahanya.
"Suami? Berarti aku doang dong?" tanya Satria dengan jantungnya yang berdegup kencang.
Sasti tersenyum, senyuman yang begitu menenangkan.
"Kamu mikirnya aku kayak gini juga ke Vito? Sat sat, aku hidup udah sekian tahun dan suami aku cuma satu, Rahadhi Satria seorang." ujar Sasti sambil menurunkan kaki kanan Satria yang sudah memakai kaos kaki dari atas pahanya, lalu mengambil kaki kiri Satria dan meletakkannya kembali ke atas pahanya.
Mungkin kalimat Sasti tidak berarti apa-apa bagi orang lain yang mendengarnya, namun tidak bagi Satria. Lelaki itu merinding, hatinya berdesir. Rasa hangat menyelimuti jiwanya, perlakuan Sasti kepadanya benar-benar membuat cintanya kepada Sasti semakin membara.
"Ehh iya, emang semalem aku ambil kaos kakinya warna ini ya Sat pas di Seibu?" tanya Sasti dengan kening berkerut.
"Aku engga ngeh." jawab Satria sambil terkekeh.
Sasti mencebikkan bibirnya, "Kamu sibuk sendiri sih, padahal kan aku beli kaos kaki buat kamu yang pake."
"Aku percaya sama istri aku, kamu engga mungkin bikin penampilan aku jadi acakadut." Satria tertawa kecil, lalu mengepaskan kakinya yang baru saja dipasangkan sepatu oleh Sasti.
Satria pun berdiri, ia mengambil tangan Sasti membantu perempuan yang ia cintai itu untuk berdiri. Begitu Sasti sudah berdiri didepannya, dipegangnya wajah Sasti, lalu ciuman lembut mendarat di kening Sasti.
--
Range Rover dengan nomor polisi B 547 RIA tengah berhenti tepat di depan lobi Gedung Utama salah satu Kementerian. Di dalam mobil tersebut, terdapat sepasang suami istri yang duduk bersebelahan. Sasti mencium tangan kanan Satria sesaat sebelum keluar dari mobil. Baru saja tangan kirinya menarik handle pintu, Satria kembali memegang tangannya.
"Aku harus turun Satria." ucap Sasti yang sedikit kesal.
"Engga cium aku?" tanya Satria dengan tatapan sok-sok sedih.
"Ck!!" Sasti berdecak lalu mencium bibir Satria dengan cepat, membuat lelaki itu terkekeh. Sasti segera membuka pintu mobil, lalu turun.
"Nanti jam makan siang aku ke sini ya." ucap Satria dengan cengiran di wajah tampannya.
Mendengar ucapan Satria, spontan Sasti mendelikkan matanya. Bahkan tangannya batal menutup pintu mobil.
"Engga! Ini aja udah mau jam sebelas Sat. Kamu makan siang di kantor aja." tolak Sasti dengan tegas.
Dia tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya itu, kalau jam makan siang Satria mau ke sini ya mending itu orang engga usah ke kantor. Masa iya baru sampai kantor terus langsung keluar lagi untuk datang ke sini?
Satria sih enak bos besar di perusahaannya bisa bertingkah seenak jidat, lah kalau Sasti? Dia kan sekretarisnya Pak Dirjen, ini aja datengnya udah siang banget masa mau ngilang lagi buat makan siang bareng suami. Ohh itu tidak mungkin!
"Yah, kamu mah. Masa kita engga makan siang bareng." Satria mulai merengek seperti anak kecil.
"Ssshhh!! Jangan mulai deh Sat. Udah sana kamu ngantor yang bener. Kamu itu bos! Kasih contoh yang baik sama pegawai kamu dong. Jangan ngandelin Yoga terus." Sasti pun mulai menceramahi Satria yang akhir-akhir ini mulai kelewatan, sering meninggalkan pekerjaannya lalu melimpahkannya kepada Yoga.
Mendengar ocehan istrinya, Satria hanya bisa terdiam.
"Iya..iya...aku kerja yang bener." balas Satria dengan wajah cemberut.
"Maaf bu, sudah bisa jalan?" suara Satpam mengagetkan Sasti yang memang sudah turun dari mobil namun belum beranjak.
"Ehh iya pak, maaf ya." ucap Sasti yang tak enak hati, lalu menutup pintu mobil.
Begitu pintu tertutup, kaca mobil langsung terbuka setengah.
"Dadah sayang, i love you." Satria melambaikan tangannya, sambil memberikan kecup jauh. Tak perduli ada satpam yang sedang berdiri di samping Sasti.
--