Satria mengerjapkan matanya beberapa kali, suara lagu yang menggunakan bahasa Korea terdengar begitu kencang dan sayup-sayup ia mendengar suara perempuan yang ikut bernyanyi. Diliriknya kasur disebelahnya yang kosong, istrinya sudah tidak ada disisinya. Tidak ada morning kiss keluh Satria dalam hati.
Sambil menggaruk kepalanya Satria pun turun dari kasur lalu berjalan dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya keluar dari kamar. Satria terpaku saat ia melihat Sasti yang tengah asik meliuk-liukkan badannya begitu lincah mengikuti irama lagu, lalu saat matanya melihat ke layar televisi tanpa sadar ia menganga. Ya Tuhan! Apa sih bagusnya mereka? Kenapa Sasti bisa suka sama mereka?? Batin Satria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mata Satria bergerak liar mencari remote televisi. Dan saat dia melihat remote televisi yang ada di atas meja, dengan cepat tangannya mengambil remote tersebut lalu menekan tombol bulat berwarna merah yang berada di paling ujung sebelah kanan remote.
Tap!
Layar televisi sebesar 58" yang sedang menampilkan Boy Band Korea Big Bang itu padam, disusul jerit histeris Sasti yang memekakkan telinga.
"Satriaaaaaa!!!!"
Satria yang sadar sepenuhnya kalau dia dalam masalah terlihat santai, ia malah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Maksudnya sih ngumpetin remote.
Sasti berjalan sambil menghentakkan kaki ke arah Satria, "Nyalain lagi engga?"
"Engga!" Dengan cueknya Satria berjalan ke mini bar lalu mengambil gelas kaca yang menggantung dan mengisinya dengan air putih dari dispenser.
"Kamu jahat banget sih Sat, nanggung itu tadi" Sasti merengek.
"Kamu yang jahat, suami ditinggalin di kasur berduaan sama guling. Kamunya malah enak-enakkan ngeliatin cowo cowo kemayu itu." Ujar Satria sambil menaruh gelas kosong ke meja bar. Lalu bersender pada meja bar tersebut.
Sasti tertawa sinis lalu mendekati Satria dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya itu lalu mengecup singkat bibirnya.
"Jangan ngegodain deh yang, nanti kalau aku minta kamu nolak alesannya mau ngantor."
Sasti terkekeh pelan, "Aku mandi duluan ya, engga enak keringetan banget."
Sasti pun berlari kecil masuk ke dalam kamar. Sedangkan Satria masih terdiam bersender pada meja bar lalu menghela nafas pelan. Hari ke empat pernikahan itu harusnya lagi seru-serunya pikir Satria. Bukannya setiap pagi bangun terus berangkat kantor, pulangnya malem kan percuma bayar hotel sampai seminggu kalau engga dipergunakan setiap sudutnya dengan baik.
Satria pun menyusul masuk ke dalam kamar, terdengar bunyi shower yang menyala. 20 menit Satria menunggu sambil kembali merebahkan dirinya di kasur. Saat melihat kaki Sasti yang melangkah keluar dari dalam kamar mandi, Satria segera merubah posisinya tetap tiduran di kasur hanya aja dengan tubuh miring lalu tangannya dilipat menjadi tumpuan untuk kepala.
"Kamu engga siap-siap?" Tanya Sasti yang tengah mengeringkan rambutnya.
"Ntar..." Jawab Satria yang asik memperhatikan setiap pergerakan tangan Sasti, mulai dari menyisir rambutnya menggunakan jemari lalu saat tangannya menggerakkan hair dryer.
"Sat, kamu kan ke kantor aku juga hari ini. Bareng aja berangkatnya."
"Males deh, maunya boboan aja di kamar" Balas Satria dengan wajah mesumnya.
"Yaudah boboan aja sana, masa nanti pas dipanggil direktur utama PT. Dendan Lestari, tapi yang naik ke podium si Yoga."
Satria mendengus lalu bangun dari kasur, ia berjalan mendekati Sasti. "Kiss dong yang, biar semangat aku."
Pergerakan tangan Sasti terhenti, ia menengok ke arah Satria. Lalu mencebikkan bibirnya.
"Ya ampun sayang, kita nikah baru empat hari loh! Wajarlah aku maunya di kiss terus" Keluh Satria lalu memonyongkan bibirnya.
Sasti berdecak lalu mencium bibir Satria, ia pikir hanya akan menjadi kecupan singkat tapi ternyata salah. Satria langsung memeluk pinggangnya dengan erat, dan menggigit bibir Sasti membuat Sasti membuka mulutnya. Cukup lama mereka saling memagut, hingga akhirnya Sasti menggigit lidah Satria.
"Awww!!!" Seru Satria yang terkejut lalu kemudian meringis sambil menjulurkan lidahnya.
"Jahat banget sih yang! Ini lidah penting ini, kalau kenapa-napa aku engga bisa ngomong, engga bisa makan, engga bisa ciuman sama kamu."
"Buruan mandi! Kita harus berangkat sebelum jam 8" Seru Sasti dengan galaknya, seperti berbicara dengan anaknya yang malas berangkat ke sekolah.
"Iya..iya..." Satria pun menurut masuk ke dalam kamar mandi.
--
Acara penyampaian laporan mengenai tahap pertama pelaksanaan proyek yang baru saja diselesaikan pemaparan mengenai rencana kerja tahap kedua dari proyek tersebut telah selesai.
Sasti dan juga Satria sekarang sedang berada di dalam ruangan Pak Dirjen, bercengkrama sembari menunggu makan siang yang sedang dalam perjalanan untuk mereka bertiga. Pak Dirjen meminta agar Satria menemaninya makan siang di kantor.
"Jadi kalian kapan punya anaknya? Udah empat hari nikah pasti udah dimulai dong prosesnya?"
Pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Dirjen membuat Sasti terbatuk-batuk padahal dia tidak minum atau makan sesuatu.
Pak Dirjen tertawa begitu renyahnya. "Saya suka sekali dengan kalian berdua, nanti anak kalian harus manggil saya opa ya."
Satria tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya pak."
Tak lama, Kiki membuka pintu dan memberitahukan kalau makan siang sudah sampai. Sastipun keluar dari ruangan Pak Dirjen untuk merapihkan makanan tersebut ke ruang rapat kecil yang sebenarnya diperuntukkan khusus untuk Pak Dirjen menerima tamu.
Selesai Sasti menata piring dan juga makanan, Sasti kembali ke ruangan Pak Dirjen.
"Permisi bapak, makanan sudah siap" Ucap Sasti yang disusul anggukan Pak Dirjen.
"Ayo Sat!" Pak Dirjen berdiri dari sofa lalu berjalan keluar dari rungannya diikuti Satria dari belakang.
Pak Dirjen duduk di kursi yang berada di ujung meja, sedangkan Satria disisi kirinya dan Sasti disisi kanannya. Membuat Sasti dan Satria duduk saling berhadapan.
"Kalian jadi berangkat ke Ora sabtu ini?" Tanya Pak Dirjen disela makan.
Sasti menganggukkan kepalanya, "Iya pak kita berangkat sabtu pagi."
"Sampai kapan?"
"Satu minggu aja kok pak" Balas Sasti.
"Iya, jangan lama-lama. Saya bingung kalau engga ada kamu."
Sasti tersenyum menanggapi ucapan Pak Dirjen.
"Saya udah bilang orang sana untuk jemput kalian ke bandara, kalian mau langsung nyebrang atau mau jalan keliling kota Ambon dulu?" Tanya Pak Dirjen lagi.
"Masih belum tau pak, tapi bapak engga usah repot-repot. Biar orangnya Satria aja yang urus semuanya" Jawab Sasti.
"Ohh begitu ya?" Tanya Pak Dirjen lagi.
"Iya pak, biar nanti orang saya aja yang nyiapin semuanya" Gantian Satria yang berbicara. Kemana harga dirinya sebagai direktur utama kalau untuk bulan madu saja mendapat pertolongan dari bos istrinya.
"Tapi besok masih masuk kan Sas?" Tanya Pak Dirjen.
"Iya pak, besok saya masih masuk."
Pak Dirjen mengangguk pelan lalu kembali melanjutkan makannya. Begitupun dengan Sasti dan Satria yang kembali asik menikmati makan siang mereka yang dipesankan dari rumah makan Manado langganan Pak Dirjen.
--
Sabtu....
Setelah check in dan menaruh koper ke bagasi, Sasti dan Satria mampir sebentar ke Starbucks yang berada di dekat konter check-in penerbangan domestik untuk membeli sarapan. Berulang kali Satria terus mengoceh perihal keadaan Terminal 3 Ultimate yang belum rampung sepenuhnya. Mulai dari ruangan yang tidak dingin, hingga kios kios makanan yang masih menggunakan tempat sementara yang begitu kecil.
"Kamu mau apa Sat?"
"Smoked beef Quiche sama Frappuccino aja."
Sasti berjalan menuju etalase yang berisi pastries dan sandwiches sedangkan Satria memilih untuk menunggu di kursi yang memang disediakan oleh pihak Starbucks, "Mba, Smoked beef Quiche-nya 1, chicken spinach-nya juga satu, sama verry berry cheesecake satu."
"Untuk minumnya?"
"Frappuccino blended satu sama Green tea creme Frappuccino satu."
"Atas nama?"
"Sastika."
Setelah membayar sesuai total yang disebutkan oleh petugas kasir, Sasti berjalan hendak ke meja Satria namun karena matanya mengarah ke ponsel Sasti tak menyadari kalau ada orang yang berdiri di depannya.
"Haduh!!" Seru Sasti saat tubuhnya berbenturan dengan perempuan yang ada didepannya.
"Maaf ya mbak." Perempuan itu meminta maaf lalu mengambilkan ponsel Sasti yang jatuh.
"Saya yang minta maaf, jalannya engga liat-liat." Balas Sasti saat menerima ponselnya.
"Iya sama-sama mba."
"Kamu makanya kalau jalan jangan sambil mainan hape." Ucap Satria begitu Sasti duduk di kursi kosong yang ada di meja bulat tersebut.
Sasti mengerucutkan bibirnya, lalu kembali asik dengan ponselnya. Hingga saat nama Sasti dipanggil, Satria lah yang berdiri untuk mengambil pesanan mereka.
"Kamu laper banget?" Tanya Satria saat mereka berdua sudah jalan menuju ruang boarding.
Sasti mengangguk lalu tersenyum.
"Kan di pesawat dapet maka.n" Ujar Satria.
"Ya terus kenapa? Aku kan lapernya sekarang."
Satria tersenyum miring, "Engga takut gendut?"
Sasti memandang tajam ke arah Satria. "Diem!"
Satria tertawa geli, lalu merengkuh Sasti ke dalam pelukannya.
"Kamu gendut kayak Atun juga aku tetep cinta kok." Satria mengakhiri ucapannya dengan kecupan singkat dipelipis Sasti.
--
Sudah dua jam burung besi berlambang burung garuda berwarna biru itu terbang di angkasa, memasuki lautan awan-awan tebal yang sesekali membuat pesawat itu berguncang pelan.
Penerbangan ke Kota Ambon dari Jakarta itu membutuhkan waktu tiga setengah jam. Cukup panjang dan membosankan. Sasti begitu asik menonton film Korea dari fasilitas yang memang disediakan oleh penerbangan tersebut. Sedangkan Satria sudah tertidur sejak setengah jam yang lalu.
--