Bertemu ataupun tidak semuanya akan tetap sama. Keduanya hanyalah orang asing yang mendadak disatukan dalam hubungan yang tidak diharapkan. Ara benar-benar menyesali perasaannya sendiri, mengapa ia begitu lemah hanya dengan pesona Arga yang dinginnya bak gunung es.
Meskipun tak pernah kasar atau melukainya seujung kuku pun. Tetapi Arga tetaplah Arga yang hanya akan bersikap manis dengan orang yang diinginkannya. Tentu saja Ara bukan salah satunya.
Disekolah ia hanya butiran debu, yang tidak ada apa-apanya dibandingkan murid lainnya yang lebih hits darinya. Meskipun cantik, di sekolah elit itu tidak akan ada nilainya jika bukan anak orang berduit. Berangkat sekolah dengan mobil mewah, menenteng tas branded, sepatu bermerk, smartphone dengan harga fantastis, dan uang saku yang bisa menjadi jatah Ara selama sebulan.
Hanya ada satu alasan mengapa gadis sederhana itu bisa masuk kedalam lingkungan elite itu. Semuanya bermula ketika ia mendapatkan beasiswa karena berhasil lolos mengikuti tes akselerasi yang sepenuhnya akan dibiayai hingga lulus.
Itu juga yang menjadi alasan mengapa Ara memanggil Arga dengan sebutan ‘kak’. Karena secara teori Arga itu harusnya menjadi kakak kelasnya, dan jalur akselerasi itu yang membuat mereka seakan sepantaran.
“Mau dibantu?.”
“Emang nggak ngrepotin?.”
Devian tersenyum kecil lalu meraih beberapa buku yang tadinya berada dipelukan Ara. “Kalau ngrepotin mana mungkin gue nawarin bantuan.”
Ara meringis menggaruk pipinya yang tiba-tiba terasa panas karena perlakuan Devian yang selalu saja nampak manis dan bersahabat.
“Gercep amat tuh sih Dev.”
“Kayaknya beneran serius dah tuh anak.”
“Gimana menurut Lo Ar?.” Arga hanya mengedikkan bahunya kembali fokus dengan game free fire di tabletnya.
“Ye Lu mah nggak asih bener Ga.”
Maisya yang berada disebelah Arga terkekeh, pacarnya itu memang terlalu cuek menyangkut dunia disekitarnya termasuk mengenai sahabat-sahabatnya.
“Menurut gue cocok kog, Ara cantik Cuma butuh dipoles dikit aja sih.”
Yang lainnya mengangguk membenarkan perkataan Maisya. Tidak ada yang seakan ditutupi dari wajah manis gadis itu dengan make up sehingga nampak natural, walaupun terkesan sangat sederhana dibandingkan dengan murid lain yang skin care-nya jutaan.
“Loh Arga mau kemana?.” Teriak Maisya menyadari Arga tiba-tiba pergi begitu saja.
...............................
Rumah sederhana itu nampak begitu tenang dan tentram. Bagimana tidak, dirumah berlantai satu itu hanya dihuni oleh Ara dan Kakaknya yang kerap kali lembur demi mendapatkan gaji tambahan demi bisa menabung untuk kebutuhan dadakan.
“Abang lembur lagi ya?.” Tanya Ara membawa secangkir teh jahe hangat untuk kakaknya yang baru saja tiba.
Rafa mengangguk lalu meneguk sekilas teh pemberian sang adik. “Lumayan dek, bisa ditabung tambahannya.”
Terlihat Ara menghembuskan nafasnya. “Tapi jangan keseringan. Bang Rafa kan juga butuh istirahat.”
Rafa tersenyum lembut mengusap kepala adiknya. “Nggak papa Dek, InsyaAllah nanti Allah tukar lelahnya.”
Mau tak mau Ara hanya mengangguk lalu memeluk sang kakak.
“Pokoknya nanti kalau Ara udah lulus, aku mau bantuin abang aja cari uang.”
“Nggak ada, Abang kan udah bilang tugas kamu itu belajar.” Ara cemberut memprotes.
“Tapi Ara nggak mau nyusahin Abang terus.”
“Siapa yang bilang nyusahin hem?.” Rafa memegang pundak sang adik, menatapnya penuh kasih sayang. “Waktu Abang buat kamu itu nggak banyak Dek, jadi biarin kakak manfaatin waktu yang tersisa buat urusin kamu.”
“Abang kenapa selalu bilang gitu sih?.” Protes Ara tidak suka.
“Tinggal tiga bulan lagi, kamu akan bahagia hidup disana.”
“Tapi Ara nggak mau pisah sama Abang.” Ujar Ara membendung air matanya.
“Abang juga Dek. Tapi ini yang terbaik. Jalankan amanah ibu dan ayah ya.”
Rafa mengusap air mata sang adik lalu memeluknya sangat erat seakan tidak ada lagi hari untuk melakukannya.
....................................
Malam harinya Arga harus berhadapan dengan sang ayah di ruang kerjanya. Suasana semakin mencekam ketika Surya melemparkan beberapa lembar foto diatas meja.
“Kamu nggak pernah dengar kata Papa?.” Ucap Surya tanpa membentak. Terlihat tenang walaupun menyimpan banyak kekecewaan.
“Sudah berapa kali Papa bilang, jangan ikut balapan liar itu lagi. Tapi ternyata kamu tetap melanggar perintah Papa.”
Arga tersenyum sinis mengalihkan pandangannya dari sang ayah. “Kenapa Arga harus ikutin perintah Papa, kalau Papa sendiri juga nggak mau turutin permintaan Arga.”
“Permintaan apa maksud kamu?.”
“Batalin perjodohan aku sama Ara. Sesimple itu Pah, tapi nggak pernah Papap turutin.” Kata Arga kesal sendiri.
Terlihat Surya mengusap wajahnya kasar, menyenderkan tubuhnya dikursi kebesarannya.
“Sekarang Papa tanya sama kamu apa masalahnya dengan Ara? Dia gadis baik, pintar, juga sopan.”
“Masalahnya Arga nggak cinta sama dia Pah.”
“Berapa kali harus Papa katakan, cinta itu bisa datang kapanpun Arga. Tetapi dengan satu kunci, kamu harus mau memulainya.”
“Arga udah coba Pah, tapi Arga nggak bisa.” Arga meremas rambutnya frustasi.
“Tiga bulan. Bisa atau tidak bisa tanggal itu sudah kami tetapkan Arga.”
Mendengar kalimat terakhir dari sang ayah membuat emosi Arga benar-benar memuncak. Cowok itu menendang tanpa permisi kursi disampinya lalu melangkah keluar meninggalkan Surya yang menatapnya nanar.
......................................
Hari kembali berganti, tanpa membawa kisah baru antara Arga dan dirinya. Semuanya masih tetap sama, Arga yang acuh dan dirinya yang tak berani berbuat apa-apa.
Suasana kantin begitu ramai ketika jam istirahat seperti biasanya. Namun, kali ini ada yang sedikit berbeda, kantin betambah riuh karena bisa dipastikan semua murid sekarang berpusat disana.
Hari rabu menjadi hari yang spesial untuk SMA PANCAWARNA, karena pada hari itu anak ekskul Band akan menggelar konser dadakan di kantin, seperti yang terjadi sekarang.
Jika bisa memilih Ara ingin sekali menghindar dari keramaian itu, tapi bunyi cacing konser duperutnya sungguh mengganggu. Salahnya bangun kesiangan hingga tak sempat sarapan padahal sang abang sudah membelikannya nasi uduk.
“Ups sorry.” Ara meringis merasakan bagian pundaknya terasa panas. Ingin sekali Ara memaki cewek berpenampilan modis yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan merendahkan itu. Namun segala niatnya harus ia urungkan tatkala menyadari dirinya tengah menjadi pusat perhatian.
Akan menjadi masalah besar jika ia berani melawan Yasmin dkk yang suka membully siapapun yang ia mau. Termasuk Ara sekarang. Entah apa masalahnya seringkali Yasmin membullynya dengan tindakan-tindakan seperti ini.
Tak mau mengambil masalah tanpa berbuat apa-apa Ara memilih pergi menerobos kerumuman murid-murid yang sudah mulai berbisik-bisik membicarakan dirinya.
Ditempatnya Arga membanting gitar ditangannya, melangkah turun dari panggung.
“Ada urusan apa yang membuat ‘Ratu Bully’ Pancawarna tertarik buat ngerjain cewek introvet kayak dia?.”
Tangan Yasmin yang tengah bersedekap mendadak diturunkan ketika mendengar perkataan mengintimindasi dari sosok dihadapannya.
“Nggak ada sih, lagi pengen aja. Kenapa mendadak perhatian gitu hem?.” Arga menepis tangan Yasmin yang baru saja menyentuh pipinya bermaksud menggoda.
“Iya, perhatian banget kan gue?.” Senyum menang tersunggung dari bibir Arga ketika Yasmin mengepalkan tangannya merasakan cairan lengket beraroma buah segar menyentuh puncak kepalanya.
Semua orang terbelalak melihat hal itu, ada beberapa yang segera mengambil ponsel mengabadikan moment langka itu.
“ARGA LO!! AKH!!.”