Hari-hari berlalu dengan ritme yang sama. Naya dan Dika tetap saling sapa, tetap berjalan beriringan, tetap tertawa bersama. Namun di antara tawa itu, ada rasa sakit yang diam-diam merayap di d**a Naya setiap kali Dika membicarakan hal yang sama: wanita lain.
Siang itu, mereka duduk di kantin kampus, tempat favorit mereka sejak masa sekolah dulu. Suasana ramai, tapi bagi Naya, dunia rasanya hanya ada dia dan Dika saja. Namun dunia Dika seolah punya ruang lain yang tak bisa Naya masuki.
"Nay..." panggil Dika sambil mengaduk minumannya, wajahnya terlihat agak berbeda — ada senyum malu-malu yang jarang sekali Naya lihat. "Ada sesuatu yang mau aku ceritain."
Jantung Naya seketika berdebar kencang. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyeruak. Dia kenal betul ekspresi wajah itu. Ekspresi di mana Dika terlihat bahagia, bersinar, dan... jatuh cinta.
"Apaan sih? Serius banget mukanya," jawab Naya berusaha santai, meski tangannya di bawah meja sudah saling mencengkeram erat karena gugup.
Dika menatap ke arah lain, tersenyum sendiri. "Kamu ingat kan sama Rina? Teman sekelas kita waktu SMA dulu? Dia pindah ke sini, kuliah di fakultas sebelah."
Naya mengangguk pelan, rasa dingin perlahan menjalar di sekujur tubuhnya. Dia ingat betul siapa Rina. Gadis yang cantik, ceria, dan dulu sempat sering dikait-kaitkan dengan Dika.
"Iya... ingat. Terus kenapa?" tanya Naya dengan suara yang hampir tak terdengar.
Dika menoleh, matanya berbinar. "Kemarin kita ketemu lagi, Nay. Dan... aku ngerasa ada yang beda. Aku rasa... aku suka sama dia. Bahkan mungkin aku udah jatuh cinta."
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Dika, ringan, sederhana, tapi bagi Naya, rasanya seperti pukulan keras yang menghantam dadanya sampai sesak. Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar. Suara hiruk-pikuk di kantin itu lenyap, yang tersisa hanya suara detak jantungnya sendiri yang berpacu kencang karena rasa sakit yang luar biasa.
Dia suka Rina... Dia cinta sama Rina...
Kata-kata itu berputar terus di kepala Naya, menusuk setiap sudut hatinya. Air mata rasanya ingin sekali meluncur jatuh, tapi dia tahan mati-matian. Dia tidak boleh menangis di sini. Dia tidak boleh menunjukkan rasa sakitnya. Karena baginya, dia hanya sahabat. Sahabat harusnya ikut bahagia kalau orang yang dia sayangi bahagia.
"Nah lho... kok diem aja? Kamu nggak seneng denger kabar baik gini?" tanya Dika sedikit cemas melihat wajah Naya yang mendadak pucat.
Naya mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menarik sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah senyum yang terasa paling menyakitkan seumur hidupnya. Dia menatap Dika, berusaha terlihat ceria dan ikut bahagia, padahal hatinya sedang hancur lebur.
"Seneng dong, Dik... Aku seneng banget kok. Akhirnya ada juga cewek yang bikin kamu senyum-senyum sendiri gitu," jawab Naya, suaranya bergetar namun dia berusaha menutupinya dengan tawa kecil. "Terus... kamu mau ngapain? Mau nembak dia?"
Dika mengangguk antusias, sama sekali tak menyadari badai besar yang sedang terjadi di dalam hati sahabatnya itu. "Iya, Nay. Aku berencana ngajak dia jalan minggu depan. Kamu bantuin aku ya? Bantuin pilih kado atau tempat yang enak."
"Pasti..." jawab Naya lirih. "Aku bakal bantuin semuanya. Aku bakal pastiin kamu bahagia, Dik."
Meski hatinya berteriak keras meminta agar Dika melihatnya, agar Dika sadar bahwa ada dia di sini yang sudah mencintainya jauh lebih lama dan lebih dalam daripada siapa pun, Naya tetap diam. Dia menelan segala rasa sakit, cemburu, dan kecewanya sendirian.
Sore itu setelah berpisah dengan Dika, Naya berjalan menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Langkahnya berat, dadanya sesak tak tertahankan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga, mengalir deras di pipinya.
Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku? batin Naya berteriak dalam kesendiriannya. Aku ada di sini sejak dulu. Aku selalu ada buat kamu. Aku rela ngelakuin apa aja buat kamu. Tapi kenapa matamu selalu liat orang lain? Kenapa aku cuma boleh jadi sahabat?
Di sisi lain, Dika yang sudah sampai di rumah, duduk diam di kamarnya. Senyum bahagia tadi perlahan hilang berganti raut wajah yang sedih dan gelisah. Dia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
Maafin aku, Nay... batin Dika bergumam pilu. Maafin aku harus bohong sama kamu. Maafin aku harus sebut nama orang lain. Aku ngomongin Rina cuma karena aku pengen liat reaksi kamu. Aku pengen tau... kamu cemburu nggak? Kamu peduli nggak? Tapi kamu cuma senyum, Nay... kamu cuma senyum dan dukung aku. Itu artinya... kamu emang cuma anggep aku teman aja ya?
Rasa sakit yang dirasakan Dika ternyata tak kalah besarnya. Dia membohongi Naya, dia membicarakan wanita lain, dia berpura-pura suka, semua hanya karena satu alasan: rasa takut. Dia takut kalau dia jujur, Naya akan menjauh. Dia ingin tahu apakah ada rasa sedikit saja di hati Naya untuknya. Tapi jawaban yang dia dapatkan hanya senyum dukungan yang menyakitkan.
Aku coba bikin kamu cemburu, Nay... tapi malah aku sendiri yang sakit hati.
Malam itu, dua orang yang saling mencintai, sama-sama menangis dalam kesendirian. Sama-sama merasa sakit, sama-sama merasa kecewa, sama-sama takut kehilangan, dan sama-sama memilih diam karena mengira perasaannya tak terbalas.
Mereka tidak sadar, bahwa rasa sakit yang mereka rasakan adalah sama persis. Bahwa kebohongan dan kebisuan itu justru menjadi tembok tebal yang memisahkan dua hati yang sebenarnya saling mencari.
Dan di dalam hati masing-masing, mereka kembali menguatkan diri: Biarin aku sakit sendiri. Asal kamu tetap ada di sampingku sebagai sahabat, aku rela menanggung rasa sakit ini selamanya.