Usai kenyang menyantap makan siang, Diandra mengajak kedua anaknya untuk segera kembali ke mobil dan bersiap pulang kerumah.
Saat melintasi sebuah pendopo kecil sederhana dengan beberapa gazebo di kanan kirinya, Diandra tertarik untuk mampir sejenak. Di depan pendopo itu ada papan nama bertuliskan "Sanggar Glagah".
Terlihat beberapa anak tengah membaca buku di gazebo, ada pula yang berlarian di halaman pendopo yang tidak terlalu luas namun nampak asri.
Diandra berjalan memasuki sanggar diikuti oleh Rania dan Rayan. Seorang laki- laki sekitar usia 40tahunan tengah mengajari beberapa anak melukis di dalam pendopo yang terbuka itu.
"Selamat siang, Tuan?" sapa Diandra pada lelaki itu.
"Selamat siang." jawab si lelaki sambil berbalik menghadap pada Diandra.
Diandra kemudian memperkenalkan diri pada laki- laki yang diketahui bernama Adnan Suhendra, pendiri dan pengelola Sanggar Glagah tersebut.
Sambil menunggui Rania dan Rayan yang tampak asyik bergabung dengan anak- anak yang sedang melukis tadi, Kang Adnan mempersilakan Diandra mampir ke saung utama dan lanjut berbincang di tempat itu.
"Kang Adnan mengurus sendiri tempat ini?" Tanya Diandra penasaran,
Kang Adnan tertawa,
"Tentu tidak, Nyonya. Ada beberapa relawan lain yang membantu saya disini." jelasnya,
Saat mereka tengah asyik berbincang, tetiba seseorang datang dengan mengendarai sepeda motor matic dan langsung memarkirkannya tepat di samping saung.
Kang Adnan melambai pada orang tersebut. Seorang gadis muda dengan wajah cantik, kulit putih, serta tubuh mungil segera menghampiri keduanya. Rambutnya kira- kira sebahu dan dikuncir ekor kuda. Megenakan kaos oblong putih dipadu 0uter kemeja kotak- kotak yang dibiarkan terbuka kancingnya. Celana jeans dan sepatu kets melengkapi tampilanya yang kasual.
Dari penampilanya, Diandra dapat menerka gadis itu adalah sorang jurnalis.
Keduanya berbalas senyum lalu berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.
"Arini,"
"Diandra."
Setelah bergabung dalam obrolan itu, Kang Adnan menjelaskan bahwa Diandra tertarik pada program Sanggar Glagah dan berkenan untuk bergabung menjadi salah satu relawan disana.
Mendapat tambahan personil baru, Arini dan Kang Adnan tampak senang dan menyambut hangat Diandra dalam komunitas mereka.
Terlebih saat mengetahui latar belakang Diandra yang seorang guru, sangat menguntungkan Sanggar yang berfokus pada peningkatan pendidikan anak di sekitar pabrik Gula Sumber Gendis itu.
Hal ini juga menguntungkan bagi Diandra, dia jadi lebih tahu permasalahan masyarakat yang mayoritas adalah buruh di pabrik yang kini di pimpin oleh suaminya. Dengan begitu Ia berharap bisa memberi masukan ide pada Rangga dikemudian hari.
Tak butuh waktu lama, Diandra dan Arini terlihat sudah begitu akrab. Sepertinya mereka bisa menjadi sangat dekat kedepannya.
******
Setelah memastikan kedua buah hatinya tertidur di kamar mereka masing- masing. Diandra menyusul Rangga yang berada di ruang kerjanya.
Klekk!
Dia membuka pintu ruang kerja lalu melangkah berlahan mendekati Rangga yang tengah memperhatikannya. Gaun tidur satin warna peach yang Ia kenakan, melambai tertiup angin malam yang menerobos dari jendela kerja Rangga yang terbuka.
Dibalik gaun tipis itu terlihat siluet tubuh sexy Diandra yang menggoda, membuat jakun Rangga bergerak naik turun menelan saliva karena menahan gejolak yang membuat aliran darah ditubuhnya tiba- tiba menghangat.
Sesaat kemudian Diandara telah duduk bersandar di tepi meja kerja Rangga dengan pose menggoda. Rangga memperhatikan istri cantiknya itu dari ujung rambut hingga pandangannya turun tepat di bagian d**a.
Aset kembar Diandra yang padat menggoda nampak menyembul di balik gaun berpotongan leher rendah itu, membuatnya tak kuat lagi menahan diri.
Rangga menarik tubuh Diandra hingga terduduk di pangkuanya. Tangannya mengangkat pinggul istrinya itu hingga membuat mereka kini duduk saling berhadapan.
Tak bisa berlama- lama kemudian Ia memagut bibir Diandra dengan lembut, sedang kedua tanganya menelusup di balik gaun tidur bermain- main dipaha Diandra yang melingkar di pinggangnya.
Diandra melenguh nikmat, kedua pipinya nampak bersemu merah, matanya kian terpejam menikmati permainan tangan dan lidah Rangga yang menekan semakin dalam.
Bibir Rangga bermain semakin turun melumat setiap inci tubuh molek Diandra yang kini mencengkram rambutnya acak tersulut gairah.
"Aaarggghhhh, Mas." Desah Diandra saat bibir Rangga melumat puncak bukit kembarnya dan mulai menghisapnya pelan.
Geli.
Nikmat.
Ingin.
"Aaarrggghhhh, la -- ku -- kan se --ka --rang, Mas!!!" Desahnya lagi meminta, tak bisa menahan lebih lama lagi dan ingin segera dituntaskan.
Melihat tubuh Diandra mengelinjang menahan nikmat, Rangga tersenyum puas.
Dan seiring permainan yang semakin jauh, kehangatan tubuh keduanya berubah menjadi hawa panas terbakar gairah yang makin memuncak.
Rangga mengangkat tubuh Diandra yang masih diatas pangkuanya itu, mendorongnya ke atas meja kerja lalu menindihnya untuk memulai penyatuan.
Krreeet ... krreett ... krreett ...
Terdengar suara meja berderit- derit, seiring gerakan berirama yang Rangga ciptakan. Semakin lama semakin kencang, tangan Diandra mencengkeram erat punggung Rangga yang mulai berpeluh di atas tubuhnya, nafas keduanya semakin memburu hingga berakhir dengan lengkingan suara Diandra mengisyaratkan tanda kepuasan.
"AAHHHH!!!!"
Bersamaan dengan itu berlahan tubuh Rangga mulai terkulai diatas tubuhnya yang masih terbaring di atas meja.
Setelah beberapa saat, Rangga melepas penyatuan mereka. Dia mengaitkan kembali resleting celananya dan merapikan gaun Diandra.
Diandra masih nampak lemas saat tangan kekar Rangga meraih tubuhnya dan membopongnya ke sofa. Kini mereka berbaring miring saling berhadapan. Kepala Rangga bersandar di tangan sofa, sedang satu tanganya Ia jadikan sandaran bagi Diandra.
"Kau lelah?" Tanya Rangga lembut, sambil mengusap wajah istrinya yang masih terpejam.
Diandra menggeleng sambil tersenyum seraya mengeratkan pelukanya. Dia lalu menggeser kepalanya ke atas d**a bidang Rangga.
Rangga mengubah posisi tidurnya menghadap ke atas agar Diandra semakin nyaman tidur dalam pelukannya.
Sesaat ikut terlelap, Rangga terjaga mendengar suara HPnya berdering. Berlahan Ia menggeser tubuh Diandra agar tak terbangun. Setelah menyelimuti tubuh Diandra, Rangga berjalan menuju meja kerjanya dan mengangkat panggilan telepon yang masih menyala.
"Halo Aryo, ada masalah apa?" Tanya Rangga kemudian,
Tak mau mengganggu tidur Istrinya, Ia berlahan berjalan keluar dari ruang kerja menuju teras samping rumah.
Rangga tampak mengerutkan kening, dari raut wajahnya sepertinya ada sesuatu yang genting yang sedang di sampaikan oleh Aryo.
"Kau masih disana?" Tanya Rangga lagi,
"Baik, aku akan segera datang. Cepat hubungi pihak kepolisian!!" Perintahnya mengakhiri panggilan.
Bergegas Rangga masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama Ia telah berganti pakaian, Dia kembali keluar dengan mengenakan jaket kulit menuju garasi mobil.
Drruuummm ... drruummm ... druummm ...
Sesaat setelahnya terdengar suara mobil menyala, Rangga segera melajukan mobilnya menuju pabrik malam itu.