PLAK!!! PLAK!!!
Tamparan bertubi- tubi mendarat di wajah dua lelaki yang tengah tertunduk duduk di lantai semen itu. tubuhnya gemetar dengan keringat dingin yang bercucuran.
"DASAR g****k!!! URUSAN BEGITU SAJA TAK BECUSS!!!"
Sebuah suara kembali menggelegar penuh amarah. Matanya berkilat memandang ke arah dua laki- laki dengan wajah pucat pasi di depannya.
"Kalian tau akibat dari kecerobohan ini?! Hahh??!!!!" Bentaknya lagi,
"Mmm ...ma -- af Tuan, ka--mi akan membereska--nya se-gera." Salah satu dari laki- laki itu memberanikan diri membuka suara.
"Harus!!! Cepat temukan, atau kamu yang aku habisi!!" Ancamnya penuh penekanan.
Sorot matanya kembali memandang jauh ke depan, menyaksikan cahaya merah saga yang membelah gelapnya malam disertai kepulan asap yang membumbung tinggi ke angkasa.
*****
Tak terasa sebulan sudah sejak kedatangan Rangga dan keluarganya di tempat tersebut.
Setelah peristiwa kebakaran gudang malam itu, berlahan keadaan mulai kembali normal.
Diandra mulai menikmati rutinitas barunya, antar jemput anak- anaknya ke sekolah dan mengajar di sanggar.
Dia senang karena kini mendapatkan teman baru yang bisa dia ajak bertukar pikiran. Arini, gadis jurnalis itu kini menjadi teman dekatnya. Meski usianya terpaut cukup jauh- yaitu sepuluh tahunan-Diandra sudah menganggap Arini seperti adiknya sendiri.
Seperti siang itu, mereka berdua terlihat akrab sedang beraktifitas bersama di sanggar.
"Kak Di, Kakak ga ada rencana untuk mudik?" tanya Arini saat mereka sedang membungkus kado untuk doorprize kegiatan amal sanggar mereka.
"Memang kenapa? kamu sendiri sepertinya terlalu jatuh cinta dengan tempat ini hingga tak mau pulang?!" jawab Diandra berkelakar,
" Atau... ? jangan - jangan ada yang menahan hatimu hingga ga bisa move on dari sini?" kembali Diandra menggoda adik angkatnya itu.
Arini hanya menanggapi candaan itu dengan senyum yang mengembang.
Ada yang menahan hatinya?! Ah... mungkinkah demikian?
Arini membatin,
"Ayolah Arini, Aku yakin pasti ada seseorang yang tengah dekat denganmu bukan? gadis cantik dan smart sepertimu, pasti banyak yang melirik." Diandra tetiba menjadi kepo dengan kehidupan pribadi Arini.
Mereka memang dekat dan memiliki banyak kecocokan, tapi belum sampai saling terbuka dalam hal kehidupan pribadi.
Yang Diandra tau sebatas Arini adalah gadis berpendidikan, dari keluarga yang berada, namun memiliki jiwa sosial tinggi hingga memilih menjadi relawan di daerah kecil tersebut.
Diandra melirik ke arah Arini, melihat gadis cantik itu tersenyum malu- malu, dia menjadi yakin kalau Arini tengah mempunyai hubungan spesial dengan seseorang.
"Tuh kan benar, senyum- senyum sendiri." ledeknya lagi membuat Arini jadi salah tingkah.
"Ayo kenalin! Kakak jadi penasaran. Cowok beruntung mana yang berhasil merebut hati gadis sepertimu?"
"Ehmm... entahlah Kak! Aku tak yakin. Aku baru pertama kali melihatnya. Bahkan namanya pun Aku tak tahu." Arini tersenyum kecut.
Diandra menautkan kedua alisnya,
"Oh ya? Cinta pandangan pertama critanya?!" seloroh Diandra,mencoba mencairkan suasan karena melihat mimik muka Arini berubah murung.
"Kakak doain deh, kamu ketemu lagi sama cinta pandangan pertamamu itu." Diandra mencoba menyemangati. Kini keduanya kembali tertawa.
Tepat tengah hari, Diandra izin pulang mendahului. Rania dan Rayan sudah jam pulang sekolah, Ia tak mau kedua anaknya itu terlalu lama menunggunya.
Tak berapa lama setelah Diandra pergi dari sanggar, Kang Adnan tiba ditempat itu dengan tiga orang relawan yang lain.
Kang Adnan segera menemui Arini yang masih sibuk membereskan sisa- sisa kertas pembungkus kado yang berserakan di lantai.
"Arini ayo buruan! Kamu ga lupa kan siang ini kita ada janji rapat?" ucap Kang Adnan tepat di depan pendopo tempat Arini berada.
"Iya Kang, bentar lagi beres kok." Ia mulai mempercepat gerakan tanganya membereskan kertas- kertas tersebut.
Setelah semua beres, Arini berjalan mengekor dibelakang Kang Adnan menuju sebuah mobil yang terparkir di halaman, tepatnya di depan saung utama.
"Kita berangkat barengan saja,Ok?!" terang Kang Adnan.
Setelah kelima orang masuk ke dalam mobil, Kang Adnan segera menjalanankan mobilnya menuju kantor pabrik Sumber gendis yang mengundang mereka siang itu.
*****
Sementara itu Aryo tengah berbincang serius dengan Rangga diruang Rapat kantor. Setelah sempat tertunda beberapa saat, siang itu Aryo berhasil menjadwalkan meeting bersama salah satu ormas yang cukup berpengaruh di lingkungan pabrik.
Mereka sepakat akan merangkul ormas tersebut agar dapat meraih kembali loyalitas para pekerja perkebunan dan buruh pabrik gula mereka.
"Gimana yok? proposal yang kamu ajukan apakah bisa disepakati oleh mereka?" Rangga mencoba memastikan keberhasilan pertemuan mereka siang itu.
"Tenang saja Tuan, sudah saya pastikan mereka akan menyetujui program yang akan kita tawarkan." Aryo menjawab penuh keyakinan,
Sebelum menjadwalkan meeting siang itu, Aryo memang telah beberapa kali bertemu langsung dengan pimpinan ormas yang Ia maksud.
Ia sudah memastikan keberhasilan kerjasama mereka sebelum berani mengundang secara resmi bertemu dengan Rangga di kantor.
Tepat pukul satu siang, resepsionis mengabarkan bahwa tamu yang mereka tunggu telah sampai di lobi kantor.
Aryo meminta agar tamu- tamu tersebut segera diantar ke ruang rapat di lantai dua.
Pada saat yang sama, Handphone Rangga bergetar menandakan ada telepon masuk.
Mama
melihat nama Soraya dilayar gawainya, Rangga bergegas keluar ruang rapat dan kembali ke ruangannya.
Sebelumnya Ia memberi isyarat pada Aryo untuk menyambut dan mempersilakan tamu- tamu mereka terlebih dahulu sementara Ia sedang menerima telephone. Aryo menggangguk paham.
Tok!! Tok!!!
Terdengar pintu ruang rapat diketuk dari luar,
"Masuk." Aryo segera bangkit dan menyambut tamu- tamu itu. Ia menyalami satu persatu tamu yang mulai masuk ke ruang rapat.
"Mohon maaf, Pak Rangga masih ada urusan sebentar. Beliau akan segera bergabung bersama kita disini."
Aryo menyampaikan permohonan maaf Rangga yang belum bisa menyambut secara langsung kedatangan mereka.
Kang Adnan selaku ketua rombongan tamu, menerima permohonan maaf tersebut dan memaklumi kesibukan pimpinan perusahan yang harus membagi waktu dengan banyaknya urusan kantor yang harus segera diselesaikan.
Setelahnya Aryo dan para tamu mulai beramah- tamah dan membahas terkait usulan program yang ditawarkan PT. Sumber Gendis untuk dikelola bersama Sanggar Glagah.
Saat semua tengah asyik dalam obrolan rapat yang memang diseting dengan suasana Sersan (Serius tapi Santai) tiba- tiba pintu ruangan terbuka.
"Selamat Siang semua?" Sapa seseorang dari balik pintu ruangan yang terbuka.
Semua orang diruangan tersebut sontak menatap ke arah suara, tak terkecuali Arini.
Deg!
Melihat siapa yang baru datang keruangan itu, membuat Arini melonggo tak percaya dengan apa yang sedang Ia saksikan.
Ya Tuhan? Apa ini mimpi?
Matanya membulat sempurna, jantungnya serasa memompa darah lebih cepat dari sebelumnya.
Sebecanda ini Kau padaku Tuhan?! Baru juga diomongin. Sekarang sudah Kau hadirkan tepat di depan mataku!
Ia membekap mulutnya sendiri, masih tak percaya dengan pemandangan di depan matanya.
Ambil nafas Arini, kuasai diri.... Santai!!!
Jangan kelihatan songong.
Ayo ... Bisa!!! ... Kamu bisa!!!
Batin Arini, mencoba menguasai kesadarannya kembali, sesaat Ia tersihir pesona BOS muda yang baru hadir itu.
Beruntung tak ada yang menyadari kegugupan dan perubahan sikapnya. Kini Ia mulai mengatur nafas kembali, berusaha bersikap senormal mungkin seraya berdoa, semoga Tuan itu tak mengingatnya.