**********
Mentari pagi yang cerah. Menyoroti kisi jendela kamar apartemen seorang pria. Pria yang begitu tampan dan juga berwibawa. Mas Dimas Prayoga namanya. Dia adalah seorang direktur marketing di sebuah perusahaan ternama di ibu kota. Diusianya yang sudah tidak lagi muda yang sudah menginjak kepala empat tahun ini, dia masih memilih hidup melajang. Entah karena apa, tapi belum ada satupun wanita yang mendekatinya, mampu meluluhkan hati seorang Mas Dimas Prayoga tersebut. Justru dia sangat risih dengan keberadaan wanita yang selalu mengintilinya.
“Huuuamph....”. Dimas menggeliat, matanya masih ingin merem, tapi tanggung jawab tetaplah tanggung jawab.
Tangannya meraih hanphone yang berada di atas nakas kamar tidurnya.
“kok udah pagi aja sih, hemph...padahal masih capek”, ucapnya seraya melihat layar handphonenya.
Dimas langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian menjalani rutinitas seperti biasa. Berangkat ke kantor tentunya.
Dia selalu berangkat ke kantor lebih pagi, karena dia selalu menikmati sarapan di kantin kantor atau di warung dekat kantornya. Mengingat tidak ada yang membuatkan sarapan untuk dirinya.
Saat hendak masuk ke lobby kantor, ada suara yang sangat familiar memanggilnya.
“Woyyy.....Dim...tunggu” panggil Radit.
Dimas menoleh sejenak dan kemudian melanjutkan langkahnya, dengan pelan seolah menunggu sahabatnya tersebut. Saat Radit sudah berada di sampingnya, Dimas memulai pembicaraan
“Eh, tumben bisa berangkat pagi?...”. celetuk Dimas yang membuat sahabatnya tersenyum cengengesan.
“Iya nih, habis dapat hidayah.”..
“oh....mau sarapan di kantin dulu?
“Yukk,,laper gue. tadi ga makan, istri gue gak masak”..
“Lah tumben amat....?”, tanya Dimas seraya mengrutkan kening
“Biasa....lagi marah...lagi sensi, jadi gitu, dikit dikit salah paham.”..
Jawaban itu sontak membuat orang yang di sampingnya tertawa terbahak bahak.
Mereka sampai di kantin, dan mulai memilih makanan untuk mereka jadikan pengganjal perut. Tapi ketika sedang asyik melihat dan memilih, tetiba....
Bruukkkk...
Ada seorang yang tidak sengaja menabrak Dimas.
“Aw, saya mohon maaf sekali pak, saya tidak sengaja. Mohon maaf, saya tadi tidak memperhatikan jalan”, ucap wanita itu, sambil berulang kali membungkukkan badan hormat ke Dimas.
“Kalau jalan maka..ny.......” belum selesai dia berbicara, Dimas tertegun.
"Sungguh mata yang indah, hidung mungil, mancung ala kadarnya, bibir pink dan manis, meskipun pipinya sedikit tembem dan merona, tapi bodynya langsing bahkan pinggangnya kecil seolah tak ada lemak di sana, rambutnya lurus hitam sepinggang, di kuncirnya sebagian untuk memberikan kesan rapi untuknya.
Sungguh wanita yang cantik." batin Dimas
Seolah tersadar, sahabatnya sedang ngelag, Radit segera mendekatkan diri ke Dimas.
“Woy..dia minta maaf itu...jawab dong, pagi pagi jangan ngajak ribut”, bisik Radit yang menyadarkan lamunan Dimas.
Dimas yang tersadar langsung bilang “Iya gak papa, lain kali kalau jalan hati-hati.” Ucapan Dimas itu sontak membuat Radit ternganga. Sedetik sebelumnya dia seolah ingin membunuh orang yang menabraknya, tapi sedetik kemudian dia menjadi sangat adem dan kalem.
Dimas adalah orang yang paling benci di usik. Bahkan dia biasanya akan membentak orang yang mengganggunya, apalagi menabraknya. Tapi yang kini dia lihat berbeda. Nadanya melembut seolah bukan Dimas yang sedang berbicara.
“Terimakasih pak sudah memaafkan saya. Saya mohon maaf sekali lagi atas keteledoran saya” ucap wanita itu, sekali lagi seraya membungkukkan badannya.
Wanita itu berjalan menjauh meninggalkan mereka berdua,, menuju salah satu meja yang berada di pojok kantin. Dia duduk sendirian, menunggu jus jambu pesanannya seraya menatap lalu lalang kendaraan yang lewat di depan kantin tersebut.
"Wiih, pulang dinas kesambet apa Dim..??" Tanya Radit santai sembari terus memilih makanan.
"Kesambet? maksudnya?" tanya Dimas yang kinerja otaknya sudah mulai stabil.
"Haha, iya. Coba sejak kapan kamu habis di tabrak orang gak marah marah...?", Ucap Radit santai.
"Woy...sejak dulu kali gue gak marah kalau di tabrak orang..?" jawab Dimas sedikit keras. Tanpa dia sadari hal itu membuat beberapa orang yang berada di kantin menoleh ke arahnya. Termasuk wanita yang baru saja menabrak dirinya tadi
"Iya ya .." Radit segera memgiyakan, takutnya Dimas semakin marah. "ini ni reaksi lo sebenarnya kalau pas gak suka sama orang, begini niiii", dumel Radit dalam hati. Dia sangat kenal bagaimana Dimas, jika hal itu tidak segera di akhiri akan menajdi urusan panjang.
Dimas dan Radit yang membawa nampan sarapan duduk agak jauh dari wanita tersebut.
“Ehm. Siapa dia?” tanya Dimas memulai pembicaraan, sambil menunjuk wanita yang menabrakya tadi dengan dagu. Sebenarnya dia juga agak merasa bersalah sehabis maikan nada bicaranya tadi, tapi mau bagaimana lagi, keceplosan.
Radit yang menyadari temannya sedang bertanya pun segera menoleh.
“Mana? Oh....dia? receptionis baru...temennya Sinta”
“Lah... kok gue gak pernah lihat?”
“Ya gimana mo lihat, orang dia baru masuk beberapa hari, dan lu kan baru aja balik dari luar kota", jawab Radit menjelaskan.
"Kenapa?, lanjutnya santai
“Cantik..” jawabnya santai sambil melahap makanannya seolah tidak ada yang aneh.
Berbeda dengan Radit, mendengar jawaban itu dia ternganga. Banyak wanita cantik yang selalu mencari perhatian kepada Dimas, tapi tidak satupun diliriknya. Bahkan Sinta juga selalu over caper di depan Dimas.
“Heh, kemana aja lu? Selama ini cewek yang ngintilin elu juga cantik cantik kali”, timpal Radit seolah ingin menyadarkan sahabatnya itu.
"Iya, gue juga tau mereka semua cantik. Cuma gue ilfeel banget. Dan dia itu beda, di pandang aja rasanya ademmm...."
"Hilihhh.... Adem apaan? Lu pikir dia es gitu?" celetuk Radit menimpali Dimas.
"Syirik amat sih jadi orang. Dah punya istri padahal, kaya gak pernah terkagum kagum sama istri lo aja dulu.." ucap Dimas yang mulai kesal. Hal itu hanya dibalas cengiran oleh Radit.
Dia jadi ingat, bagaimana bucinnya dia dengan Lia. Lia dulu juga karyawan perusahaan itu, tapi dia resign karena ingin fokus mengurus anak. meskipun sebenarnya, dia juga rindu dengan teman kantor kantornya. Tapi dia tidak ingin mengorbankan anaknya, demi keegoisan dirinya sendiri.
Selain itu memang Radit juga melarang Lia bekerja. Radit yakin bisa mencukupi kebutuhan keluarga mereka.
“Loh, dia kemana?” tanya Dimas. Radit yang sedang menyendok makanan di depannya, menengok kearah gadis tadi, “Ya kerja lah. Kau kira dia mau di kantin terus gitu?” jawab Radit enteng yang di sambut dengan pelototan kesal dari Dimas. Setelah menyelesaikan sarapan, mereka meninggalkan kantin dan menuju ruang kerja mereka masing-masing.