Sidang peninjauan kembali itu menjadi panggung yang tidak pernah dibayangkan Laksmi Sjarifudin: ia, yang seumur hidup duduk di kursi penilai, kini duduk di kursi yang dinilai.
Putusan pengadilan mengabulkan gugatan Amara. Putusan perceraian lama dibatalkan karena dibuktikan dibangun di atas bukti yang direkayasa; fitnah 'perselingkuhan' dinyatakan tidak terbukti dan dinyatakan pula — dalam bahasa hukum yang dingin — bahwa foto-foto itu adalah hasil pengaturan. Nama Amara dipulihkan resmi, tercatat, tidak bisa dibantah oleh bisikan mana pun.
Tetapi pukulan sesungguhnya datang dari dalam keluarga itu sendiri.
Bimo menepati kata-katanya dengan cara yang tidak disangka siapa pun: ia memanggil rapat keluarga besar — kerabat yang sama yang dulu duduk di meja makan saat Amara dihukum — dan di ruangan yang sama, di meja yang sama, ia membuka semuanya. Salinan pembayaran, frame yang dihapus, catatan operasional Cempaka. Satu per satu.
'Kalian semua ada di sini malam itu,' kata Bimo kepada dua puluh kerabat yang membisu. 'Kalian menonton istriku dihukum dengan bukti palsu, dan tidak satu pun dari kalian bertanya. Hari ini kalian melihat bukti yang sebenarnya — dan aku minta kalian menontonnya sama diamnya.'
Cempaka mencoba melawan. 'Kamu menghancurkan keluarga ini demi—'
'Keluarga ini menghancurkan dirinya sendiri,' potong Bimo, 'pada hari ketika kalian memutuskan bahwa mengendalikan hidup orang adalah bentuk cinta.'
Dan Laksmi — sang matriark — menjalani kejatuhan yang paling sunyi dari semuanya. Tidak ada vonis untuknya; kejahatannya adalah jenis yang tidak tertulis di kitab hukum. Kejatuhan Laksmi Sjarifudin adalah ini: kerabat-kerabat yang dulu mengantre restunya mulai tidak mengangkat teleponnya. Acara-acara keluarga tidak lagi meminta restunya. Anak laki-lakinya pindah, membawa perusahaan, nama, dan masa depan — dan hanya pulang sebulan sekali, duduk dua puluh menit, sopan, jauh.
Kursi singgasana di ruang tengah itu tetap ada. Tetapi tidak ada lagi yang datang untuk didudukinya.
Di hari terakhir sidang itu, di tangga pengadilan, Laksmi menunggu Amara — dua perempuan, satu kemenangan yang tidak simetris, dan satu percakapan terakhir.
'Kamu menang,' kata Laksmi. Suaranya tua. Rumah besar yang ditinggalkan anaknya membuatnya menua lebih cepat dari tahun-tahun.
'Aku tidak menang, Bu Laksmi.' Amara menatap mantan mertuanya dengan tenang yang sudah tidak berisi dendam. 'Ibu kalah. Itu dua hal yang berbeda. Aku tidak pernah menginginkan kejatuhan Ibu — aku hanya menolak jatuh oleh Ibu. Sisanya, Ibu yang pilih sendiri.'
'Anak itu...' Laksmi menelan sesuatu di tenggorokannya. 'Cucuku.'
'Namanya Naraya.' Amara menatapnya lama. 'Dan suatu hari nanti, kalau Ibu sudah belajar menjadi nenek tanpa menjadi dalang — pintuku akan mempertimbangkan untuk terbuka. Sampai hari itu, jawabannya belum.'
Amara berjalan menuruni tangga pengadilan, meninggalkan matriark itu berdiri sendirian di atas — di tempat yang sama di mana dulu ia menonton menantunya diusir dengan dua koper.
Roda berputar bukan karena dendam.
Roda berputar karena memang begitu caranya roda bekerja.