Taman kota pagi itu dipenuhi orang yang sibuk menyehatkan diri dengan berbagai cara. Ada bapak-bapak berkaos partai yang berjalan mundur, ibu-ibu bersenam dengan musik dangdut dari pengeras suara kecil, dan sepasang kakek-nenek yang bergandengan tangan sambil membahas harga cabai.
Tari datang dengan Arif di boncengan, memakai kerudung olahraga warna abu-abu dan cardigan panjang yang menutupi pinggul. Begitu mereka memarkir motor, Arif langsung mengedarkan pandang dengan wajah detektif.
"Mana Danu? Katanya di dekat tugu."
"Rif, ini bukan operasi rahasia."
"Kakak yang gak ngerti. Ini tugas mulia. Mama bilang aku pengawal."
"Mama bilang kamu pengawal biar kamu gak makan siomay terus."
"Itu juga."
Di dekat tugu kecil di tengah taman, Radit berdiri dengan kaos hitam dan celana training abu-abu, jauh lebih santai dari yang biasa Tari lihat. Di sampingnya, Danu melakukan peregangan dengan gerakan heboh, seakan bersiap untuk lomba lari nasional.
"Assalamualaikum," sapa Radit begitu mereka mendekat. Ia mengatupkan tangan sebentar di depan dada kepada Tari, lalu berjabat tangan dengan Arif. "Terima kasih sudah datang pagi-pagi."
"Mbak Tari! Arif!" Danu melambai. "Kita balapan, yuk? Yang kalah traktir lontong sayur!"
"Danu, Mbak Tari tidak berlari," tegur Radit.
"Siapa bilang?" Tari menatap Danu sambil menyipit. "Aku terima. Tapi aku yang pilih rute."
"Mas Radit sendiri gak ikut lari?" tanya Arif polos.
"Saya jalan saja. Lari bisa bikin saya lupa menjaga jarak yang pantas," jawab Radit serius. Danu langsung terbahak sampai tersedak, dan Tari berpura-pura mengikat tali sepatu supaya tawanya tidak terlihat.
Dalam sepuluh menit, rute yang dipilih Tari sudah membuat Danu terengah-engah di tikungan kedua dan Arif menyerah di dekat kolam ikan. Tari sendiri berlari kecil dengan tawa lepas. Ia lupa sejenak pada bank, pada Akbar, pada janji yang belum ia penuhi. Di belakang mereka, Radit berjalan tenang dengan langkah yang sengaja diperlambat, menjaga jarak yang tepat dari Tari. Kedua pemuda itu bertindak sebagai komentator, saling mengomentari dengan suara cukup keras agar didengar siapa pun.
"Lihat itu, Rif. Mas Radit jalan kayak bodyguard presiden."
"Bodyguard yang kasihan. Gak boleh deket."
"Aku dengar kalian," ucap Radit tanpa menoleh.
"Maaf, Mas!" sahut keduanya serempak, lalu cekikikan.
°°°°
Mereka akhirnya duduk di bangku panjang di tepi kolam, empat orang dalam dua pasang yang saling berjarak. Danu dan Arif memilih bangku sebelah, cukup dekat untuk mengawasi tapi cukup jauh untuk pura-pura tidak mendengar, sambil memegang cup lontong sayur yang akhirnya dibayar Radit.
Radit meluruskan kaki, memandang air kolam yang bergelombang tertiup angin. "Saya sering ke sini waktu kecil. Ayah yang mengajak. Naik sepeda, saya di boncengan depan. Ia selalu membeli es krim yang sama, rasa cokelat, dan selalu bilang jangan bilang Ibu."
"Kalau aku, Mas, tempat favoritnya lapangan bola di dekat rumah," ujar Tari. "Papa suka bawa aku nonton pertandingan kampung. Tugasku megang kantong kacang. Kalau tim jagoan Papa kalah, kacangnya habis duluan."
Radit tertawa. "Jadi Om Rosidi yang menurunkan hobi bola ke Arif."
"Ke Arif, ke tetangga, ke anjing tetangga juga kayaknya."
Mereka tertawa bersama sebentar, sebelum Tari bertanya, lebih pelan, "Mas masih ingat wajah Ayah?"
"Samar. Tapi saya ingat bau sabun di bajunya." Radit tersenyum tipis. "Waktu Ayah wafat, saya baru tujuh tahun. Danu bayi. Saya belum mengerti apa-apa, tapi saya tahu satu hal, bahwa sejak hari itu ada yang harus saya jaga."
Tari menahan napas. Ia tidak menyela.
"Itu sebabnya saya membeli rumah sebelum menikah," lanjut Radit. "Banyak orang bilang itu terlalu cepat. Tapi saya ingin ketika saya mengajak seseorang, saya tidak menjanjikan rumah yang belum ada. Janji itu sudah punya alamat." Ia terkekeh kecil. "Meskipun dapurnya kosong sekali. Kamu sudah lihat fotonya."
"Meja jati enam kursi," kata Tari.
"Kalau kamu setuju, akan saya beli."
"Aku kan cuma pilih, Mas. Yang beli Mas."
"Tapi yang memakai, nanti, mungkin bukan hanya saya." Radit lalu berdeham, mengusap leher, dan pembicaraan itu terhenti sebentar karena ia sendiri kaget dengan kalimatnya.
Ia menarik napas. "Tari. Ada satu hal yang ingin saya bicarakan. Soal di festival."
"Soal apa?"
"Lengan kamu. Saat saya refleks memegang." Radit menatap tangannya sendiri. "Saya sudah minta maaf, tapi saya merasa itu belum cukup. Saya salah. Dan sejujurnya, saya juga takut."
"Takut?" Tari menoleh. "Takut kenapa, Mas?"
"Takut kamu tidak nyaman, tapi tidak berani bilang." Radit memandang kolam, bukan Tari. "Kamu menjawab 'gak apa-apa' dengan senyum. Tapi saya tidak tahu apakah itu benar atau hanya sungkan. Saya tidak mau kamu harus sungkan kepada saya. Kamu boleh marah. Kamu boleh bilang tidak."
Dada Tari terasa penuh. Ia ingat betul bagaimana ia tersenyum gemas pada Radit saat itu, dan betapa ia tidak sedikit pun merasa terganggu. Tetapi Radit tidak tahu itu.
"Aku gak marah, Mas. Sungguh. Aku cuma kaget."
"Terima kasih sudah bilang." Radit menoleh kini, dan matanya jernih. "Tari, saya tidak bisa janji tidak akan pernah salah. Saya manusia, dan saya sering canggung. Tapi saya bisa janji satu hal. Saya tidak akan berbohong sama kamu."
Kalimat itu mendarat di dada Tari seperti batu yang dijatuhkan ke kolam.
Ia menatap air, melihat riak-riak yang membesar dan memudar. Kebohongan kecil kedua. Kebohongan pertama. Dua kali ia sudah menyembunyikan sesuatu dari orang yang baru saja berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama. Tidak ada kesempatan yang lebih baik daripada sekarang.
"Mas." Suaranya terdengar kecil. "Ada yang harus aku ceritakan."
"Saya tahu. Kamu bilang di pesan." Radit menegakkan punggung, memberi seluruh perhatiannya. "Saya dengarkan."
Tari membuka mulut.
Ponsel di saku Radit berdering nyaring, nada dering standar yang terlalu riang untuk suasana itu.
°°°°
Radit mengernyit, menarik ponselnya, dan membaca nama di layar. "Maaf, Tari. Ini Dewi. Dia tidak pernah menelepon hari Minggu kecuali..." Ia berdiri dan menjawab. "Assalamualaikum, Dewi. Ada apa?"
Tari mengamati wajah Radit berubah dari tenang menjadi serius. Alisnya menyatu, rahangnya mengeras. Ia mendengarkan lama, mengucapkan beberapa kali "iya", lalu "berapa banyak", lalu "tahan dulu, jangan kirim apa-apa ke Mas Akbar sebelum saya lihat."
Nama itu membuat bahu Tari menegang.
"Saya ke kantor sekarang," ucap Radit mengakhiri. Ia menurunkan ponsel dan menatap Tari dengan wajah menyesal. "Tari, maaf sekali. Ada toko yang mengembalikan stok batik dalam jumlah besar. Saya harus datang."
"Gak apa-apa, Mas. Pergilah."
"Saya benar-benar ingin mendengar ceritamu."
"Aku tahu." Tari memaksa senyum. "Lain kali."
Radit tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi ia hanya mengangguk, memanggil Danu yang sudah berdiri dengan wajah penasaran, dan berjalan cepat menuju parkiran.
Danu sempat berbalik dari tikungan dan melambai lebar. "Mbak Tari, maaf ya! Mas Radit kalau kerjaan darurat lupa dunia! Nanti aku suruh minta maaf lagi!"
Arif menghampiri bangku dengan cup lontong yang tinggal kuah. "Lho, Mas Radit ke mana? Kok pergi?"
"Kerja, Rif."
"Hari Minggu?"
"Ada yang darurat." Tari berdiri, meraih tasnya. "Ayo pulang."
Ia berjalan menuju motor dengan dada sesak. Setengah dirinya lega karena tidak jadi bicara, setengah lagi merasa jijik pada rasa lega itu.