Mencoba mengatur nafasnya agar energi yang sudah minim miliknya tidak terbuang terlalu banyak, gadis yang kini nampak pucat itu dengan kaki gemetaran berusaha menanjak buncahan batu besar yang ada di hadapannya. Dia sendiri terlihat kesusahan untuk menahan bobot tubuhnya yang harus berpegangan penuh pada kedua tangannya yang mencengkram pohon pohon besar tak jauh dari posisinya.
Kepalanya memberat, pandangannya semakin buram dan berkunang kunang. Ini bahkan sudah di tahap gadis itu sendiri tidak yakin apakah tubuhnya akan bertahan jika ia meneruskan perjalanan tanpa istirahat sama sekali. Jadi, dengan menimbang nimbang beberapa hal, Semi berakhir terduduk di bawah sebuah pohon besar di medan yang rata.
Hari sudah menggelap, jingga sudah menghilang dari pandangannya tadi. Semi tak tahu