"Alessa."
Suara ibunya adalah hal pertama yang ia dengar ketika pintu rumah terbuka. Satu kata. Satu nama. Namun cara Seraphina Wiranata mengucapkannya dengan nada yang pecah di tengah, seperti sesuatu di dalam dirinya ikut retak membuat Alessa berhenti melangkah tepat di ambang pintu.
Ibunya berdiri di sana, masih mengenakan kebaya krem yang tadi ia pakai di gedung pernikahan. Riasannya sudah tidak sempurna, matanya merah, namun ia berusaha berdiri tegak. Berusaha terlihat kuat untuk seseorang yang ia tahu tidak lagi punya kekuatan tersisa.
"Sayang…" ibunya melangkah cepat, tangan-tangannya langsung meraih wajah Alessa.
Alessa tidak bergerak. Ia berdiri diam, membiarkan tangan ibunya menyentuh pipinya yang dingin, membiarkan tatapan itu. Tatapan seorang ibu yang melihat anaknya hancur, membasuh dirinya.
Namun tidak ada yang terasa.
"Aku baik-baik saja, Ma," ucapnya.
Ibunya terdiam. Mereka berdua tahu itu bohong.
Rumah yang biasanya terasa hangat kini menyambut Alessa dengan keheningan yang berbeda. Lampu-lampu menyala, bunga-bunga yang dipesan untuk perayaan setelah resepsi masih tersusun rapi di sudut ruangan, pita-pita putih dan emas masih menghiasi beberapa bagian rumah. Dekorasi yang disiapkan untuk merayakan awal sebuah kehidupan baru.
Kini semua itu terasa seperti ejekan.
Ayahnya berdiri di dekat tangga, jas hitamnya masih terpasang rapi meski dasinya sudah dilonggarkan. Ketika pandangannya bertemu dengan Alessa, ada sesuatu yang bergerak di wajah Stefan Wiranata bukan kemarahan, bukan kekecewaan melainkan sesuatu yang jauh lebih berat dari keduanya.
Kesedihan seorang ayah.
"Pa," suara Alessa keluar begitu saja, kecil dan rapuh.
Ayahnya tidak berkata apa-apa. Ia hanya membuka tangannya.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, Alessa melangkah maju dan membiarkan dirinya jatuh ke dalam pelukan ayahnya. Tubuhnya bergetar. Napasnya tidak teratur.
"Dia menolakku, Pa," bisiknya ke bahu ayahnya. "Dia tidak mencintaiku."
Stefan Wiranata menggenggam putrinya erat, sangat erat, seperti seseorang yang berusaha menahan sesuatu yang sedang hancur berkeping-keping di tangannya.
"Papa tahu, sayang," ucapnya pelan. Suaranya berat. "Papa tahu."
Ray datang setengah jam kemudian, langsung dari rumah sakit ketika mendapat kabar. Ia masuk dengan langkah cepat, masih mengenakan jas putih dokternya, dengan napas yang sedikit tidak teratur seperti orang yang baru saja berlari.
Ia menemukan kakaknya duduk di sofa, menatap kosong ke arah dinding. Gaun pengantin masih melekat di tubuhnya, kini sedikit kusut di bagian bawah, sedikit kotor di ujungnya karena menyentuh aspal. Mahkota kecil di kepalanya miring ke satu sisi, tidak ada yang memperbaikinya.
"Kak." Ray berlutut di depan kakaknya, menatap wajah itu dari bawah.
Alessa tidak menjawab.
"Kak, lihat aku."
Perlahan, sangat perlahan, Alessa mengalihkan pandangannya ke arah adiknya. Dan Ray yang sudah bertahun-tahun bekerja di unit gawat darurat, yang sudah terbiasa melihat kondisi-kondisi kritis tanpa kehilangan ketenangan untuk sedetik kehilangan kata-kata karena mata kakaknya kosong.
Bukan kosong karena menangis. Bukan kosong karena kelelahan. Tapi kosong dengan cara yang berbeda cara yang membuat bulu tengkuk Ray berdiri.
"Kak," ulangnya, lebih pelan. "Kakak mau ganti baju dulu?"
Alessa menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. Tapi ia tidak bergerak.
Ibu Alessa yang akhirnya membantunya berdiri dan membawanya ke kamar. Gaun pengantin itu dilepas dengan tangan-tangan yang gemetar, dilipat dengan hati-hati meskipun keduanya tahu tidak ada gunanya lagi.
Seraphina memakaikan putrinya piyama yang lembut, menyisir rambutnya yang masih tertata separuh oleh salon tadi pagi, membersihkan sisa riasan dari wajahnya dengan kapas dan tangan yang sangat hati-hati.
Alessa membiarkan semua itu. Ia duduk diam seperti boneka yang dirawat oleh pemiliknya.
"Kamu mau makan?" tanya ibunya.
"Tidak lapar."
"Setidaknya minum air…."
"Ma." Alessa memotong, pelan. "Aku hanya ingin tidur."
Ibunya terdiam. Ia ingin berkata lebih banyak, ingin memastikan, ingin memperbaiki sesuatu yang ia tahu tidak bisa ia perbaiki malam ini. Namun ia mengangguk, mencium dahi putrinya sekali, lalu berdiri.
"Mama di luar kalau kamu butuh sesuatu," ucapnya di ambang pintu.
Alessa tidak menjawab. Matanya sudah menatap langit-langit kamar. Kamar itu gelap setelah pintu tertutup.
Alessa berbaring dengan mata terbuka, menatap titik yang tidak ada di atas kepalanya. Di luar jendela, suara kota berjalan normal.
Klakson sesekali, suara angin, suara kehidupan yang tidak berhenti hanya karena satu orang di dalamnya sedang tercabik.
“Aku tidak mencintaimu.”
Kalimat itu berputar.
“Aku belum benar-benar bisa melupakannya.”
Berputar lagi.
“Cinta tidak bisa dipaksa.”
Dan lagi.
Alessa menutup matanya. Namun di balik kelopak yang tertutup itu, ia melihat hal-hal yang lebih menyakitkan. Gaun pengantin yang menyapu aspal, pintu yang tertutup di belakangnya, wajah Xavier yang tenang dan jauh dan tidak menyimpan rasa bersalah yang cukup.
"Kenapa kamu baik padaku kalau memang tidak mencintaiku?" bisiknya ke kegelapan. Tidak ada yang menjawab.
Malam pertama berlalu dengan cara yang paling sunyi dan paling menyiksa.
Alessa tidak tidur. Ia hanya berbaring, membiarkan jam-jam merangkak satu per satu, membiarkan kegelapan kamarnya menelannya perlahan. Di sudut pikirannya, sesuatu mulai bergerak bukan kesedihan, bukan kemarahan melainkan sesuatu yang lebih gelap.
Sesuatu yang bisik-bisiknya tidak ia kenali sebagai suaranya sendiri.
“Untuk apa.”
Ia memejamkan mata lebih keras.
“Untuk apa semua ini.”
Ketika subuh akhirnya tiba dan cahaya pertama menyusup melalui celah gorden, Alessa masih di posisi yang sama. Tidak bergerak. Matanya kering karena air matanya sudah habis sejak berjam-jam yang lalu.
Ray mengetuk pintu pukul enam pagi. "Kak, sarapan sudah siap."
Tidak ada jawaban.
"Kak?"
Hening.
Ray membuka pintu perlahan. Ia menemukan kakaknya masih berbaring, menatap langit-langit, dengan ekspresi yang kemarin sudah mengkhawatirkannya dan kini semakin membuatnya waspada.
"Kakak tidak tidur sama sekali?"
"Tidak bisa tidur."
Hari-hari berikutnya berjalan seperti air yang terasa mengalir melalui jari, namun tidak bisa digenggam.
Alessa berhenti makan dengan teratur. Bukan karena ia memutuskan demikian, melainkan karena perutnya terasa seperti batu setiap kali makanan didekatkan padanya. Ibunya duduk di sisinya setiap jam makan, menawarkan ini dan itu, dan Alessa menelan beberapa suap hanya agar tatapan khawatir itu tidak semakin dalam.
Teman-temannya mengirim pesan. Hana menelepon berkali-kali. Alessa membaca semuanya, namun tidak membalas satu pun.
"Kamu tidak harus bicara kalau belum siap," kata Hana suatu sore, datang langsung ke rumah Alessa dengan mata sembab karena ikut menangis meski tidak ada yang memintanya. "Tapi aku di sini. Aku tidak kemana-mana."
Alessa menatap sahabatnya itu. Ia ingin berkata sesuatu. Ingin berterima kasih, setidaknya.
Namun yang keluar hanya. "Aku tahu."
Dan itu pun terasa menghabiskan terlalu banyak tenaga
Pada hari ketiga, Seraphina menemukan putrinya berdiri di depan cermin kamar mandi. Gaun pengantin itu yang seharusnya sudah dilipat dan disimpan tergeletak di lantai dekat kaki Alessa. Entah kapan ia mengeluarkannya lagi, entah mengapa.
"Alessa." Ibunya masuk dengan hati-hati. "Sayang, taruh itu…."
"Aku mengenalnya dari kebaikannya, Ma." Suara Alessa keluar tanpa infleksi, seperti seseorang yang berbicara dalam mimpi. "Dia menolong aku. Dia bahkan tidak minta apa-apa. Aku pikir itu berarti sesuatu."
Ibunya tidak bergerak.
"Ternyata itu hanya caranya bersikap baik pada orang asing," lanjut Alessa. "Aku tidak lebih dari itu baginya. Orang asing."
"Alessa, itu tidak benar…."
"Itu yang paling menyakitkan, Ma." Alessa akhirnya berbalik dan Seraphina melihat matanya kering, kosong, dengan lingkaran gelap yang semakin dalam. "Bukan penolakan itu sendiri. Tapi menyadari bahwa selama ini aku sendirian dalam semua perasaan ini. Sendirian."
Malam ketiga adalah malam yang paling sunyi. Ray berjaga hingga larut, duduk di luar kamar kakaknya dengan punggung bersandar pada dinding. Sesekali mengetuk pintu dan menunggu jawaban yang selalu datang singkat, pelan, namun cukup untuk memastikan kakaknya masih baik-baik saja.
Namun pada pukul dua dini hari, tidak ada jawaban. Ray berdiri. Mengetuk sekali lagi. Dua kali. Lalu ia membuka pintu dan dunianya berhenti sejenak.
"Mama!" suaranya memecah keheningan rumah itu. Keras, panik, dengan nada yang tidak pernah ia gunakan bahkan di unit gawat darurat sekalipun. "Mama, cepat!"
Malam itu, Alessandra Kayla Wiranata dilarikan ke rumah sakit. Di dalam ambulans yang melaju membelah malam kota J-City, tangan ibunya menggenggam erat tangannya sementara suara ayahnya bergetar saat berbicara dengan dokter. Alessa berbaring dengan mata setengah terbuka, sementara di atas kepalanya lampu ambulans berkedip tanpa henti.
Dan dalam kegelapan di balik kesadarannya yang tipis, satu-satunya yang bisa ia pikirkan adalah betapa anehnya bahwa pernikahan yang tidak pernah terjadi pun ternyata mampu membunuh seseorang perlahan-lahan. Atau setidaknya membuat seseorang ingin berhenti bertahan.