Aldo tidak menghubungiku lagi malam itu. Aku mencoba menjalani pagi seperti biasa, tetapi berkali-kali memeriksa ponsel. Tidak ada pesan. Aku tahu aku meminta dia memikirkan perkataanku, namun bagian diriku tetap menunggu jawaban.
Ibu melihatku menyimpan ponsel untuk ketiga kalinya. 'Kamu menunggu kabar?'
'Tidak juga.'
'Kalau begitu, kenapa layar ponselmu lebih sering kamu lihat daripada wajah Ibu?'
Aku tersipu. 'Alia cuma memastikan tidak ada pesan kerja.'
'Di hari libur?'
'Kadang-kadang ada.'
Ibu tersenyum tanpa membongkar kebohonganku. Kami melanjutkan menyiapkan makan siang. Aku memotong sayur, tetapi pikiranku kembali pada pertemuan kemarin.
'Bu, apa aku terlalu keras?' tanyaku.
'Tidak. Kamu menyampaikan batasmu. Kamu tidak menghina atau memaksanya.'
'Aku takut dia mengira aku tidak peduli kepada Rafi.'
'Kalau dia benar-benar mendengarkan, dia akan tahu kamu justru tidak ingin memberi janji palsu kepada anak itu.'
Selesai makan siang, ponselku bergetar. Pesan dari Aldo masuk.
'Saya sudah memikirkan yang kamu katakan. Saya ingin bicara lagi. Bisa sore ini?'
Aku membacanya sekali, lalu menunjukkan kepada Ibu.
'Kalau kamu ingin bertemu, atur di rumah saja,' kata Ibu.
Aku membalas bahwa ia boleh datang pukul empat. Kali ini aku tidak merasa perlu menunda dengan alasan merapikan kamar atau memilih pakaian paling bagus. Aku hanya ingin tahu apa yang ia putuskan.
Menjelang sore, aku berusaha mengalihkan perhatian dengan membantu Ibu menyiapkan teh. Beberapa kali aku mengecek jam, lalu menertawakan diri sendiri karena terlalu sadar pada setiap menit.
'Kalau kamu gugup, kita bisa duduk bersama,' kata Ibu.
'Aku mau bicara sendiri dulu. Tapi Ibu jangan jauh-jauh.'
'Ibu di rumah.'
Aku mengangguk. 'Aku tidak ingin beliau merasa semua orang mengawasinya.'
'Bagus. Bicaralah sebagai dua orang yang sedang mencoba saling memahami, bukan seperti sedang berdebat di ruang sidang.'
Nasihat Ibu membuatku tersenyum kecil. Aku menata gelas di meja, lalu kembali duduk. Aku sudah menyiapkan batas yang ingin kusampaikan, tetapi tidak menyiapkan jawaban untuk semua kemungkinan. Aku sadar percakapan yang jujur kadang tidak bisa direncanakan sampai ke kata terakhir.
Aldo datang tepat waktu. Ibu membukakan pintu, lalu mempersilakannya duduk. Bapak baru saja pulang dan berada di ruang tengah. Kehadiran mereka membuat suasana terasa lebih terbuka, meski aku dan Aldo tetap duduk berhadapan.
'Terima kasih sudah mau bertemu,' katanya.
'Aku ingin tahu apa yang sudah Mas pikirkan.'
'Saya tidak bisa berjanji bahwa saya akan jatuh cinta padamu.'
Aku merasakan bahuku menegang. 'Aku juga tidak meminta janji seperti itu.'
'Tapi saya sadar kemarin saya bicara seolah pernikahan ini hanya soal Rafi.'
'Karena itu yang Mas sampaikan.'
'Saya tahu. Saya ingin memperbaikinya.'
Bapak bergerak hendak berdiri. Aku menatapnya dan memberi isyarat bahwa aku ingin melanjutkan percakapan sendiri. Ia duduk kembali, tetapi tetap berada di ruangan.
Aldo mengusap telapak tangannya. 'Saya tidak memilih kamu hanya karena Ibu menyukaimu. Saya memperhatikanmu sejak beberapa kali kita bertemu. Kamu tidak berusaha mengambil perhatian saya. Kamu juga berani menegur ketika saya bersikap buruk.'
'Mas sering bersikap buruk.'
'Ya. Saya tidak akan menyangkalnya.'
Aku terdiam. Pengakuan itu hampir membuatku tersenyum, tetapi aku menahannya.
'Kalau begitu, apa yang Mas inginkan sekarang?' tanyaku.
'Saya ingin kamu mempertimbangkan menikah dengan saya. Tapi saya paham saya tidak bisa meminta jawaban sebelum kamu tahu siapa saya dan sebelum saya mengenalmu dengan benar.'
'Jadi Mas bersedia menjalani proses itu?'
'Saya bersedia mencoba.'
'Bukan hanya karena Rafi?'
Aldo menarik napas. 'Saya tidak akan berpura-pura bahwa Rafi tidak menjadi alasan. Dia bagian dari hidup saya. Tapi saya juga ingin tahu apakah kita bisa menjadi pasangan. Saya belum tahu apakah perasaan itu akan tumbuh.'
'Setidaknya itu lebih jujur daripada mengatakan aku hanya perlu menjadi ibu untuk anak Mas.'
'Iya.'
Aku memandangnya lama. 'Aku tidak mau janji bahwa semuanya akan mudah. Aku pernah kehilangan seseorang yang kucintai, dan aku tidak ingin masuk ke pernikahan tanpa dihargai.'
'Aku paham kamu pernah kehilangan suami,' katanya pelan.
'Jangan memakai kehilangan itu sebagai alasan bahwa aku pasti mau menerima siapa saja yang melamar.'
'Saya tidak bermaksud begitu.'
'Bagus. Karena aku bukan perempuan yang harus diselamatkan.'
Aldo mengangguk. 'Saya tahu.'
Ibu menyajikan teh. Ia tidak ikut bicara, hanya duduk di sisi Bapak. Aku merasa lebih tenang karena keluargaku ada di dekatku, tetapi pilihan tetap berada di tanganku.
'Aku punya satu syarat,' kataku.
'Apa?'
'Kalau Mas ingin aku mempertimbangkan pernikahan, kita harus saling mengenal dulu. Bukan dengan menetapkan aku akan tinggal di rumah Mas dan langsung mengurus Rafi. Kita bertemu, bicara, dan melihat apakah kita bisa menghormati satu sama lain.'
Aldo menatap cangkirnya. 'Saya bisa menerima itu.'
'Dan jangan meminta jawaban dalam satu atau dua hari.'
'Saya tidak akan.'
'Kalau Rafi belum nyaman denganku, kita tidak menyalahkannya.'
'Tentu.'
Aku tidak tahu apakah kata-katanya akan bertahan ketika keadaan menjadi sulit. Namun, setidaknya kali ini ia tidak memotong kalimatku atau menyebut kebutuhan rumah tangganya sebagai alasan untuk menekan.
'Mas masih ingin menikah denganku?' tanyaku.
'Saya masih ingin. Tapi saya tidak akan memaksamu.'
'Kalau begitu, aku belum menerima lamaran. Aku hanya bersedia mengenal Mas dengan lebih baik.'
'Baik. Saya menghargai itu.'
Sore itu tidak berakhir dengan jawaban yang mengubah segalanya. Aldo berpamitan setelah kami berbicara beberapa menit lagi tentang batas dan waktu. Saat ia melewati pintu, ia berkata akan menghubungiku untuk mengatur pertemuan berikutnya.
Aku menutup pintu dan kembali ke ruang tengah. Ibu menatapku dengan senyum tipis.
'Kamu sudah memutuskan?' tanyanya.
'Belum soal menikah, Bu. Tapi aku sudah tahu aku mau memberi kesempatan untuk saling mengenal.'
Bapak mengangguk. 'Itu keputusan yang kamu buat sendiri.'
Untuk pertama kalinya sejak lamaran itu datang, aku merasa tidak sedang didorong ke arah mana pun. Namun, aku juga tahu keputusan kecil itu baru membuka jalan menuju percakapan yang lebih sulit.