Sabtu pagi, aku mengirim pesan kepada Aldo bahwa aku sudah tiba di rumah malam sebelumnya. Ia membalas ucapan terima kasih dan bertanya apakah aku menikmati makan malam.
'Aku menikmati makanannya dan obrolannya. Aku senang semua orang memahami bahwa aku hanya datang sebagai tamu.'
'Saya juga senang. Tante bilang kamu boleh datang lagi kapan pun.'
Kalimat itu membuatku berhenti sejenak. Aku tahu ia bermaksud menyampaikan keramahan Tante, tetapi kata 'kapan pun' terasa seperti undangan yang bisa berubah menjadi harapan.
'Aku menghargai niat Tante. Tapi jangan menganggap aku akan sering datang dulu. Kita belum menentukan seberapa dekat hubungan ini.'
Beberapa menit berlalu tanpa balasan. Aku mulai bertanya-tanya apakah aku terdengar terlalu keras. Lalu Aldo menjawab.
'Kamu benar. Saya hanya meneruskan ucapan Ibu, bukan mengharapkan kamu datang. Maaf kalau terdengar seperti tekanan.'
'Aku tidak marah. Aku hanya ingin memastikan maksudnya.'
'Terima kasih sudah mengatakannya langsung.'
Hari itu berlalu tanpa percakapan panjang. Sore harinya Aldo mengirim pesan bahwa Rafi ingin menelepon untuk menceritakan pohon mangga kecil yang ditanamnya. Aku sedang bersama keluarga dan bertanya apakah telepon itu mendesak.
'Tidak. Kalau kamu sedang sibuk, bisa lain waktu,' jawabnya.
Aku menjelaskan kepada Alisha bahwa Rafi ingin bercerita. Alisha menyuruhku menerima jika memang punya waktu, tetapi tidak perlu meninggalkan acara keluarga.
'Aku bisa menelepon sebentar setelah makan,' kataku.
Setelah makan malam, aku menelepon. Aldo menjawab dan menyerahkan ponsel kepada Rafi.
'Kak Alia! Aku menanam biji mangga.'
'Kamu menanamnya di pot?'
'Iya. Ayah bantu masukin tanah. Aku yang menyiram.'
'Bagus. Kamu menyiram berapa banyak?'
'Sedikit. Ayah bilang jangan kebanyakan.'
'Ayahmu benar. Kalau terlalu banyak, bijinya bisa tidak tumbuh baik.'
Rafi bertanya kapan pohonnya akan besar. Aku menjawab bahwa tanaman perlu waktu dan ia bisa merawatnya sedikit demi sedikit.
'Kalau sudah besar, aku mau kasih mangga ke Kak Alia.'
Aku tersenyum, tetapi tidak ingin janji itu menjadi sesuatu yang harus ia pegang.
'Terima kasih. Kita lihat nanti pohonnya tumbuh bagaimana, ya. Yang penting kamu merawatnya dengan baik.'
Rafi tampak menerima jawaban itu. Ia bercerita bahwa ia ingin menaruh potnya di dekat jendela. Aldo membantu menjelaskan bahwa mereka akan mencari tempat yang mendapat cukup cahaya.
Setelah beberapa menit, Rafi menguap. Aldo meminta izin untuk menutup telepon karena sudah waktunya anak itu tidur.
'Terima kasih sudah bercerita, Rafi. Selamat malam.'
'Selamat malam, Kak.'
Aldo kembali ke telepon. 'Terima kasih sudah mengangkatnya. Saya tidak memberi tahu Rafi sebelum kamu setuju.'
'Aku tahu. Aku senang dia bisa cerita. Tapi aku tetap tidak ingin setiap percakapan berubah jadi janji untuk bertemu.'
'Saya mengerti.'
Aku kemudian bertanya apakah ia pernah merasa aku terlalu berhati-hati.
'Kadang saya ingin hubungan ini bergerak lebih cepat,' jawabnya. 'Tapi itu keinginan saya, bukan alasan untuk mendesakmu.'
'Terima kasih sudah jujur. Aku juga kadang khawatir terlalu menjaga jarak.'
'Kamu berhak menjaga jarak sampai merasa nyaman.'
Kami berbicara tentang kesalahpahaman kecil pagi tadi. Aku menjelaskan bahwa aku lebih suka Aldo menyampaikan maksudnya secara langsung. Ia berkata akan mencoba bertanya lebih dulu jika ragu bagaimana pesannya terdengar.
'Kita mungkin tetap salah paham,' kataku.
'Yang penting kita bisa membicarakannya tanpa menghukum satu sama lain.'
Aku setuju. Kami mengakhiri percakapan dengan tenang. Tidak ada pertengkaran besar, hanya koreksi sederhana yang perlu dilakukan sebelum kesalahpahaman berkembang.
Setelah menutup telepon, aku memikirkan pesan pagi tadi. Salah paham itu kecil, tetapi cara kami menyelesaikannya penting. Aku sudah menyampaikan maksudku tanpa menuduh, dan Aldo meminta maaf tanpa membalikkan kesalahan kepadaku.
Aku menuliskan kejadian itu di buku catatan. Bukan sebagai bukti bahwa semuanya berubah, melainkan satu contoh yang bisa kuingat ketika menilai sikapnya kelak. Konsistensi tidak terlihat dalam satu pesan; ia terlihat dari cara seseorang bertindak berulang kali.
Malamnya, aku berbicara dengan Ibu tentang panggilan Rafi.
'Apa kamu merasa terikat setelah ia bercerita tentang pohonnya?' tanya Ibu.
'Tidak. Aku senang mendengarnya, tapi aku tidak menjanjikan apa pun.'
'Bagus. Perhatian boleh diberikan tanpa membuat janji yang belum siap kamu tepati.'
Aku sepakat. Aku ingin tetap ramah kepada Rafi, tetapi tanggung jawab menjaga harapan anak itu ada pada orang dewasa, terutama ayahnya.
Malam itu aku juga memikirkan bagaimana keluarga Aldo memperlakukanku. Tante memberi ruang, Aldo bertanya sebelum mengubah rencana, dan Rafi bercerita tanpa diminta menjadikanku bagian dari masa depannya. Hal-hal itu membuatku merasa lebih aman, tetapi aku tidak ingin menganggapnya sebagai jaminan. Setiap orang bisa bersikap baik dalam waktu singkat; yang akan berarti adalah apakah sikap itu tetap ada saat terjadi perbedaan.
Aku akan memberi diriku waktu untuk mengamati. Aku juga akan tetap menyampaikan batas dengan jelas, bukan menguji Aldo diam-diam. Jika ia memahami, kami bisa melangkah sedikit demi sedikit. Jika ia tidak bisa menerima batas itu, aku perlu berani berhenti.
Aku tidak merasa harus menyelesaikan seluruh pertanyaan tentang cinta dan pernikahan sekarang. Untuk minggu depan, cukup datang makan siang, berbicara jujur, lalu pulang untuk menjalani hari seperti biasa. Jawaban besar bisa menunggu sampai aku benar-benar mengenal orang yang akan menjawabnya bersamaku.
Malam itu hujan turun sebelum aku sempat membantu Ibu mengangkat pakaian. Aku mengambil keranjang, sementara Alisha berdiri di dekat pintu sambil menunjukkan bagian jemuran yang belum terambil. Kami membawa pakaian ke ruang depan dan memisahkan yang masih lembap. Ponselku kutinggalkan di meja; Aldo tidak perlu menunggu kabar baru karena panggilan kami memang sudah selesai.
Bapak datang membawa dua kursi untuk menggantung handuk. Aku sempat ingin menaruh semua pakaian di kamarku, tetapi Ibu meminta agar jalan ke pintu tetap lapang. Kami menggeser satu kursi bersama dan menaruh keranjang di sisi dinding. Alisha mengambil lap untuk lantai yang terkena tetesan air. Ia menjatuhkan satu kaus yang baru saja disusun dan menatapku dengan cemas.
'Tidak apa-apa. Masukkan ke keranjang yang belum kering,' kataku. 'Jangan dicampur dengan yang tadi sudah rapi.'
Ia melakukan itu, lalu kembali membantu. Tidak ada yang memintanya membereskan seluruh ruang. Bapak menangani bagian yang tinggi, Ibu memeriksa pakaian, dan aku mengelap kursi sebelum dipakai. Pembagian sederhana itu selesai tanpa seseorang harus mengetahui semua kebutuhan orang lain sebelum diminta.
Setelah hujan mereda, kami duduk menikmati teh. Aku membuka pesan pagi dari Aldo dan membacanya satu kali lagi. Kini aku bisa melihat perbedaan antara undangan yang terlalu luas bunyinya dan tuntutan yang benar-benar harus kutolak. Aku belum perlu menganggap setiap kalimat sebagai pertanda masa depan. Jika tidak jelas, aku bisa bertanya, seperti ketika Ibu tadi menjelaskan di mana pakaian sebaiknya ditaruh.
Aku kemudian membantu Alisha menyiapkan buku untuk besok. Ia menanyakan apakah Rafi punya seragam seperti miliknya. Aku menjawab belum tahu dan memintanya menyelesaikan tas sendiri sebelum bertanya hal lain. Ia mengeluh kecil, tetapi memasukkan buku terakhir. Percakapan tentang Rafi boleh hadir di rumah kami tanpa membuat semua pekerjaan berhenti.
Sebelum masuk kamar, aku menyimpan kembali keranjang yang sudah kosong. Rumah ini tidak menjadi tenang karena semua orang selalu mengerti. Kami bertanya, menjawab, lalu melakukan bagiannya. Itulah kebiasaan yang ingin kubawa ketika kelak memilih tinggal dengan seseorang, bukan harapan bahwa satu orang akan mengurus semua hal sambil menebak kebutuhan yang tidak pernah dikatakan.