"Tunggu!"
Suaraku menggema di antara meja-meja restoran Jepang yang sore ini tak terlalu ramai. Beberapa pengunjung menoleh, tapi entah kenapa, aku sudah tak lagi peduli pada tatapan orang. Bukankah selama dua minggu terakhir hidupku memang dipenuhi tatapan semacam itu?
Lelaki bertubuh tinggi itu memutar tubuhnya dengan gerakan lambat. Dan benar. Wajah itu. Wajah yang tak pernah bisa kuhapus dari kepala sejak pagi si*l dua minggu lalu, ketika aku terbangun di sebuah kamar hotel dan mendapati hidupku sudah tak lagi utuh.
"Ada apa, ya?" tanyanya datar. Sedatar itu. Seolah aku hanyalah orang asing yang tersesat dan sedang menanyakan arah.
Ya Allah.
Sanggup sekali dia bersikap sebiasa itu di hadapan perempuan yang masa depannya telah dia renggut?
Selama dua minggu ini, ratusan kali aku membayangkan pertemuan seperti ini. Dalam bayanganku, aku selalu menjadi orang yang berteriak paling kencang, yang menuntut paling galak. Nyatanya, saat orangnya benar-benar berdiri di depan mata, yang lebih dulu datang justru rasa mual.
"Kamu … kamu benar-benar nggak ingat aku?" Suaraku bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena amarah yang selama ini kubendam, mendadak berebut mencari jalan keluar.
Sepasang matanya menyipit sejenak. Ada sesuatu yang berubah di sana. Hanya sekejap, secepat kedipan, sebelum wajahnya kembali beku seperti semula.
"Sepertinya Mbak salah orang."
"Salah orang?" Aku mendengkus. "Kamar hotel itu, dua minggu yang lalu. Apa perlu aku sebutkan lebih keras di sini?"
"Pelankan suaramu." Kalimat itu memotong ucapanku dengan cepat. Terlalu cepat untuk seseorang yang mengaku salah orang.
Nah!
Ketahuan sudah.
"Kenapa? Malu?" Aku maju selangkah, mengabaikan kedua kakiku yang sebenarnya gemetar hebat. "Aku yang kehilangan segalanya, tapi kamu yang malu?"
Rahangnya mengeras. Lelaki itu melirik ke arah pintu keluar, seperti sedang menghitung berapa langkah lagi yang dibutuhkan untuk lepas dariku.
Ingatan pagi itu kembali menyeruak tanpa permisi. Bagaimana aku terbangun dengan kepala berdenyut hebat, tanpa bisa mengingat satu pun kejadian setelah gelas terakhir yang kuteguk di restoran malam sebelumnya. Bagaimana aku menangis di kamar mandi hotel sampai suaraku habis, sementara di luar sana, sebuah foto sudah berjalan menuju tangan calon mertuaku.
"Pernikahanku batal gara-gara malam itu," ucapku dengan suara yang kutahan supaya tak pecah. "Adikku yang menikah dengan calon suamiku gara-gara malam itu. Keluargaku menganggap aku perempuan murahan gara-gara malam itu. Dan sekarang, aku cuma minta satu hal. Satu, saja. Penjelasan."
"Saya tidak punya penjelasan apa pun untuk Mbak."
"Foto itu!" Aku hampir berteriak. "Siapa yang mengambil foto kita di kamar itu, dan siapa yang mengirimkannya ke calon mertuaku?"
Untuk pertama kalinya sejak percakapan menyakitkan ini dimulai, lelaki di hadapanku terdiam agak lama.
"Foto apa?"
Dua kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dan anehnya, terdengar sungguhan.
Ah, tidak.
Jangan mudah tertipu, Indah. Bukankah lelaki serendah dia pasti pandai berakting?
"Jangan pura-pura bodoh!" sergahku. "Kamu pikir aku sebodoh itu? Dua orang nggak mungkin tiba-tiba ada di satu kamar tanpa ada yang mengatur, dan kamu tahu itu! Siapa yang menyuruhmu?"
Deg!
Aku bisa melihatnya. Sungguh, aku bisa melihatnya. Bahu lelaki itu menegang untuk satu detik yang amat singkat sebelum dia menguasai dirinya kembali.
"Tidak ada yang menyuruh saya."
"Bohong!"
"Ndah, sudah!"
Resti tiba-tiba sudah berada di sampingku, menarik lenganku ke belakang saat menyadari dua orang pelayan mulai berjalan mendekat ke arah kami dengan wajah gelisah.
"Lepas, Res, aku belum selesai!"
"Ini tempat umum, Indah!" desis Resti di telingaku.
Lelaki itu merapikan lengan kemejanya, lantas menatapku sekilas dengan tatapan yang sampai sekarang tak bisa kuartikan. Bukan tatapan menyesal. Bukan pula tatapan bangga.
"Satu hal saja," ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan. "Kalau Mbak memang merasa dijebak, coba ingat-ingat lagi, siapa yang membuat Mbak berada di tempat itu malam itu."
"Apa maksudmu?!"
Lelaki tak berhati itu tak menjawab. Dia hanya membalikkan badan dan berjalan keluar restoran, meninggalkan aku yang berdiri terpaku dengan napas naik-turun tak beraturan.
Astaghfirullah!
Aku ingin mengejarnya lagi. Sungguh. Namun, tenaga di kedua kakiku seperti diambil paksa oleh seseorang, sehingga yang mampu kulakukan hanyalah berdiri kaku sambil menatap punggung lelaki itu menghilang di balik pintu kaca.
"Duduk dulu," ujar Resti sambil mendorong pelan bahuku. "Kamu pucat banget, Ndah."
Aku menurut. Kembali ke meja kami, tempat semangkuk ramen yang bahkan belum habis separuh, kini sudah dingin dan menggumpal. Sama seperti hidupku belakangan ini.
Ya Allah, kenapa mencari kebenaran ternyata sesulit ini?
***
Resti tak mengantarku pulang sore itu. Sahabat baikku itu justru membelokkan mobilnya ke arah mall, dengan alasan aku butuh udara lain sebelum kembali ke rumah yang isinya cuma menambah luka.
Kami berjalan pelan menyusuri lantai dua, melewati deretan gerai yang lampunya baru saja dinyalakan, tanpa satu pun berniat membeli sesuatu.
"Ndah."
"Hmm."
"Namanya siapa?" tanya Resti tiba-tiba.
Aku menoleh. "Siapa?"
"Cowok tadi."
Aku terdiam.
Ya ampun.
Baru sekarang aku menyadari satu hal yang seharusnya kusadari sejak dua minggu lalu.
"Aku … nggak tahu, Res." Kalimatku terdengar bodoh bahkan di telingaku sendiri. "Aku bahkan nggak tahu siapa namanya. Aku nggak tahu dia kerja di mana, tinggal di mana, apa pun."
Resti menghentikan langkah. Kedua alisnya bertaut.
"Kamu nggak tahu namanya, tapi keluargamu udah memvonis kamu perempuan bayaran?"
Nyes!
Kalimat Resti barusan menohok tepat di titik yang paling nyeri. Ya, seperti itulah kenyataannya. Aku dihukum seumur hidup atas sesuatu yang bahkan pelakunya pun tak kukenal namanya.
Selama ini aku terlalu sibuk menangisi diri sendiri, terlalu sibuk memohon supaya keluargaku percaya, sampai lupa bahwa ada satu orang di luar sana yang menyimpan seluruh jawaban.
"Terus, tadi dia ngomong apa? Yang bisik-bisik di akhir itu," kejar Resti kemudian.
"Katanya … aku disuruh mengingat siapa yang bikin aku ada di tempat itu malam itu." Aku mendengkus kesal saat mengulang kalimat lelaki biadab tadi. "Basi banget, 'kan? Jelas-jelas dia cuma mau melempar tuduhan ke orang lain biar dirinya bersih."
Resti tak menyahut.
Aku menoleh, dan mendapati sahabatku itu justru berjalan semakin pelan dengan pandangan menerawang. Kutahu betul, ekspresi seperti itu hanya muncul kalau otak Resti sedang bekerja keras.
"Res?"
"Ndah, coba ceritain lagi," ucapnya tanpa menoleh padaku. "Malam itu, kenapa kamu bisa ada di restoran itu?"
"Ya … karena dijanjikan ketemuan, lah," jawabku singkat.
"Sama siapa?"
"Sama Alia. Ya kamu tahu, 'kan. Dia yang minta aku datang ke restoran sepupunya."
"Terus, dia datang?"
Aku menggeleng.
"Nggak. Dia bilang ada urusan mendadak."
Langkah Resti berhenti total. Sahabatku itu berbalik dan menatapku lurus-lurus dengan sorot mata yang membuat perutku mendadak dingin.
"Ndah, kamu nggak curiga sedikit pun sama Alia?"