Pagi selalu datang dengan cara yang sama di apartemenku: sunyi, lambat, dan tanpa kejutan. Tidak ada suara alarm yang memekakkan telinga, tidak ada dering telepon yang menuntut perhatian, dan tentu saja, tidak ada suara manusia lain. Aku terbangun tepat pada pukul enam pagi, sebuah kebiasaan yang tertanam secara biologis, bukan karena tuntutan pekerjaan.
Cahaya matahari pagi yang pucat menyusup melalui celah tirai vertikal berwarna abu-abu, melukis garis-garis asimetris di atas lantai kayu ek kamarku. Partikel debu menari-nari dalam sorot cahaya itu, bergerak lambat, seolah mengikuti ritme keheningan yang selalu kujaga dengan ketat.
Aku bangkit dari ranjang, menjejakkan kaki telanjangku di atas lantai yang terasa dingin, dan berjalan menuju dapur dengan langkah tanpa suara. Rutinitas pagiku adalah sebuah ritual suci. Tiga sendok biji kopi arabika, digiling manual selama tepat dua menit, diseduh dengan air bersuhu sembilan puluh derajat. Tidak ada gula, tidak ada s**u. Hanya ekstraksi hitam pekat yang rasanya sanggup mengusir sisa-sisa kantuk tanpa kompromi.
Sambil menunggu seduhan kopiku turun setetes demi setetes melalui penyaring kertas, aku bersandar di meja dapur berbahan marmer hitam. Pandanganku kosong menatap dinding putih di seberang ruangan.
Biasanya, pada menit-menit seperti ini, otakku akan mulai menyusun kerangka plot untuk naskah novel terbaruku. Sebagai seorang penulis fiksi misteri yang bekerja dari balik layar—tanpa pernah memunculkan wajah di media sosial atau acara peluncuran buku—pikiranku terbiasa berkelana di antara alur pembunuhan yang dingin, karakter-karakter yang penuh rahasia, dan teka-teki logika yang presisi.
Namun pagi ini, alih-alih memikirkan motif dari karakter pembunuh di bab tujuh naskahku, kepalaku justru disandera oleh memori yang sama sekali tidak logis.
"Matamu sangat berisik. Kau merekam semuanya, bukan?"
Suara itu. Suara Eliza yang berbalut hembusan angin malam dan rintik gerimis kembali bergema di telingaku, jernih seolah wanita itu sedang berdiri tepat di sebelahku. Aku memejamkan mata, menghela napas panjang hingga dadaku terasa sesak. Aroma kopi pekat di sekitarku mendadak tersaingi oleh ilusi aroma vanila manis yang tertinggal di indra penciumanku sejak semalam.
Sialan.
Aku membuka mata dan meraih cangkir kopiku dengan sedikit kasar, menenggak cairan panas itu lebih banyak dari biasanya. Rasa pahit yang membakar lidahku sedikit membantu mengembalikan kesadaranku pada realitas.
Fakta bahwa seorang wanita yang baru berinteraksi denganku selama kurang dari lima menit di bawah lampu jalanan mampu mengacaukan frekuensi pikiranku di pagi hari adalah sesuatu yang tidak bisa kuterima. Aku selalu memegang kendali atas apa yang masuk ke dalam pikiranku. Aku adalah penulisnya, aku yang menentukan siapa yang boleh berbicara dan siapa yang harus diam di dalam kepalaku. Tapi Eliza seolah mendobrak masuk tanpa perlu mengetuk pintu, menarik kursi, dan duduk tepat di tengah-tengah ruang kendaliku.
Aku membawa cangkir kopiku menuju ruang kerja, sebuah area kecil yang menghadap langsung ke jendela besar berbingkai aluminium hitam. Di luar sana, pemandangan kota mulai menggeliat. Kendaraan-kendaraan kecil berbaris seperti semut di jalan raya di bawah sana, orang-orang mulai berlarian mengejar kereta komuter, masing-masing sibuk dengan kebisingan hidup mereka sendiri. Aku menatap mereka dari lantai dua belas, terisolasi dengan aman di dalam kotak kedap suaraku.
Aku duduk di kursi kerjaku yang ergonomis, menyalakan layar laptop, dan membuka dokumen naskah yang terakhir kali kusentuh dua hari yang lalu.
Kursor hitam berkedip secara ritmis di layar putih yang menyilaukan. Kedip... kedip... kedip. Setiap kedipannya seolah mengejek kebuntuanku. Aku meletakkan jari-jariku di atas keyboard, mencoba memanggil kembali atmosfer dingin dan menegangkan yang kubutuhkan untuk menulis adegan interogasi tokoh utamaku.
Lima menit berlalu. Layar itu masih kosong.
Sepuluh menit berlalu. Kopi di cangkirku mulai mendingin.
Aku mendecak pelan, menarik tanganku dari keyboard dan memijat pangkal hidungku. Karakter-karakter di dalam naskahku pagi ini terasa sangat datar, fiktif, dan... mati. Mereka kehilangan nyawanya, kalah telak oleh proyeksi seorang kurator seni berambut kemerahan yang begitu hidup, berisik, dan meledak-ledak.
Kejadian semalam, saat ia menantang kepasifanku, membedah karakterku dengan akurasi yang mengerikan, menyisakan resonansi yang panjang. Aku terbiasa menjadi pihak yang mengamati, membedah orang lain untuk kujadikan referensi karakter di dalam bukuku. Aku adalah si Tuan Pengamat. Namun semalam, posisi itu dibalik dengan paksa. Eliza tidak hanya menyadari bahwa ia sedang diamati, ia justru menelanjangi motifku dan memojokkanku dengan fakta bahwa kepasifanku tidak bisa melindungiku dari tatapannya.
Aku menoleh ke arah jaket hitamku yang tersampir sembarangan di sandaran sofa di sudut ruangan. Masih ada bau tanah basah dari semalam di sana. Aku benci mengakuinya, tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ada sesuatu di dunia nyata yang jauh lebih menarik rasa penasaranku dibandingkan dunia fiksi yang kuciptakan sendiri.
Pertanyaannya sekarang, apakah aku bersedia keluar dari balik layarku untuk menyelidiki anomali bernama Eliza ini lebih jauh, atau aku harus segera memutus sisa-sisa ingatannya sebelum ia benar-benar menghancurkan zona nyamanku?
Aku menatap layar laptop yang masih kosong, lalu menatap cangkir kopiku yang kini menyisakan ampas hitam. Dalam hati kecilku, aku tahu bahwa pertahanan yang selama ini kubangun dengan susah payah telah mulai retak.
Dan Eliza, dengan segala energi dan tawanya yang menyilaukan, adalah palu godam yang menyebabkan keretakan itu.
Dengan satu embusan napas kasar yang memecah keheningan ruang kerjaku, aku akhirnya menyerah. Kutekan tombol kombinasi di keyboard untuk menyimpan naskah yang tak bertambah satu kata pun itu, lalu menutup jendelanya. Layar laptopku kini hanya menampilkan latar belakang desktop berwarna hitam polos—sebuah representasi akurat dari kekosongan otakku pagi ini.
Tapi tanganku tidak berhenti di sana. Jari-jariku, yang seolah memiliki kehendak bebasnya sendiri, bergerak membuka sebuah peramban web baru. Cahaya putih dari halaman pencarian seketika memantul di kacamata anti-radiasiku, memaksa mataku menyipit sejenak.
Kursor kembali berkedip di dalam kotak pencarian.
Sebagai seorang penulis misteri, meriset sesuatu atau seseorang secara digital adalah keahlian alamiku. Aku terbiasa melacak jejak digital pembunuh berantai dari artikel-artikel kriminal lama, mencari tahu denah sebuah gedung pemerintahan, atau mempelajari efek racun arsenik pada tubuh manusia. Mengumpulkan informasi dalam diam, dari balik bayang-bayang anonimitas internet, adalah zona amanku.
Namun pagi ini, kata kunci yang kuketik tidak ada hubungannya dengan naskah pembunuhan.
Eliza. Kurator Seni.
Aku menekan tombol Enter. Mesin pencari hanya butuh waktu sekian milidetik untuk menarik ribuan hasil dari hamparan data dunia maya. Dan di sanalah ia, meledak di layarku dalam bentuk puluhan tautan artikel, profil media sosial, dan galeri foto.
Aku mengklik tautan pertama, sebuah artikel dari majalah gaya hidup digital yang meliput pembukaan sebuah pameran seni kontemporer enam bulan lalu. Di bawah judul artikel yang dicetak tebal, terdapat sebuah foto besar.
Napas tertahan pelan di tenggorokanku.
Itu dia. Eliza sedang berdiri di tengah ruangan galeri yang benderang, mengenakan blazer merah marun yang mencolok, dikelilingi oleh sekelompok seniman dan kritikus seni yang tampak menatapnya dengan penuh kekaguman. Persis seperti semalam, ia sedang mencondongkan tubuhnya, tertawa lepas, tangannya bergerak merangkum udara saat ia menjelaskan sesuatu.
Ia adalah matahari di ruangan itu, dan semua orang di sekitarnya rela menjadi planet yang mengorbit pada gravitasinya.
Aku menggeser layar ke bawah, membaca artikel itu perlahan. Nama lengkapnya Eliza Maharani. Tiga puluh tahun. Lulusan sejarah seni dari sebuah universitas ternama, dan kini menjadi direktur utama di galerinya sendiri. Artikel itu mendeskripsikannya sebagai sosok yang "vibran, visioner, dan tidak pernah takut untuk mengutarakan pendapatnya di kancah seni yang didominasi oleh tokoh-tokoh konservatif."
Vibran. Tidak pernah takut mengutarakan pendapat.
Aku tersenyum sinis, sebuah senyum yang lebih ditujukan untuk menertawakan diriku sendiri. Deskripsi itu terlalu tepat. Pantas saja semalam ia dengan mudahnya ikut-ikutan menanggapi semua perdebatan di meja kafe. Itu bukan sekadar topeng sosial; itu adalah inti dari eksistensinya. Ia hidup untuk menyuarakan isi kepalanya, sementara aku hidup untuk menyembunyikan milikku di balik nama pena yang tak seorang pun tahu.
Jari telunjukku terus menggulir roda mouse, menelisik lebih jauh ke dalam profil media sosialnya yang dibiarkan terbuka untuk publik. Tidak ada privasi. Semuanya dipajang dengan penuh kebanggaan. Foto-fotonya saat liburan, ulasannya tentang sebuah buku, hingga pendapat-pendapat panjangnya mengenai isu sosial terbaru. Semua unggahannya dipenuhi oleh ratusan komentar dari orang-orang yang mengenalnya, atau setidaknya, merasa mengenalnya.
Satu jam berlalu tanpa kusadari. Kopi di cangkirku sudah benar-benar dingin dan tidak tersentuh.
Aku bersandar di kursi, menyilangkan lengan di depan d**a, dan menatap lekat-lekat pada satu foto close-up Eliza yang diunggahnya dua minggu lalu. Di foto itu, ia tidak sedang tersenyum lebar. Ia menatap lurus ke arah kamera dengan dagu sedikit terangkat dan seulas senyum asimetris yang sangat familier. Senyum yang sama persis dengan yang ia berikan padaku di bawah rintik hujan semalam.
Ada sebuah paradoks yang aneh di sini. Aku sedang duduk di dalam ruang kerjaku yang gelap, sepi, dan kedap suara, menatap seorang wanita yang mewakili segala bentuk kebisingan yang selalu kuhindari. Seharusnya aku merasa muak. Seharusnya aku merasa terganggu dan segera menutup halaman web ini untuk melindungi kedamaianku.
Tapi mataku tidak bisa lepas dari layar.
Menjelajahi jejak digitalnya memberiku sebuah ilusi kontrol. Di sini, di balik layar ini, aku kembali menjadi si Tuan Pengamat. Aku bisa membedah kehidupannya tanpa ia ketahui. Aku aman.
Namun, tepat ketika pikiran itu melintas, aku teringat kembali pada kalimatnya semalam.
"Mengamati dari jauh tidak akan pernah cukup memuaskan rasa penasaran."
Tiba-tiba, menatap foto-foto dua dimensinya di layar ini terasa sangat hambar. Fakta tentang prestasinya, daftar teman-temannya yang tak terhitung jumlahnya, semua itu hanyalah informasi dangkal. Itu bukan Eliza yang berdiri menantangku dalam balutan mantel basah. Itu bukan wanita yang menyadari kepasifanku dan justru melihatnya sebagai sebuah undangan, alih-alih penolakan.
Dengan gerakan cepat dan sedikit frustrasi, aku menutup semua tab peramban itu secara bersamaan. Layar laptopku kembali menjadi hitam polos. Tapi sudah terlambat. Ruang kerjaku yang tadinya steril dari pengaruh luar kini terasa penuh sesak oleh presensi seorang Eliza Maharani.
Aku memutar kursiku, menghadap ke arah jendela besar yang menampilkan lanskap kota yang sibuk. Di luar sana, dunia terus bergerak dengan segala keriuhannya. Dunia tempat Eliza berada.
Aku melirik ponsel pintarku yang tergeletak diam di atas meja. Layarnya gelap, tidak ada notifikasi, persis seperti yang selalu kuinginkan. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku yang serba pasif ini, aku membayangkan bagaimana rasanya jika benda persegi panjang itu tiba-tiba menyala, dan nama wanita itu muncul di sana.
Mungkin, hanya mungkin, zona nyamanku ini sebenarnya bukanlah sebuah tempat perlindungan. Melainkan sebuah penjara. Dan aku baru saja menemukan seseorang yang bersedia menjadi martil untuk menghancurkan dindingnya.
Pukul tiga sore. Langit di luar jendela masih menahan warna abu-abu yang pekat, menolak untuk memberikan setitik pun cahaya matahari pada lanskap kota. Naskah di layar laptopku masih belum bertambah satu huruf pun. Aku telah menghabiskan lima jam terakhir dengan duduk mematung, berperang melawan pikiranku sendiri, dan sayangnya, aku kalah telak.
Aku menghela napas panjang, sebuah kebiasaan baru yang sepertinya mulai sering kulakukan sejak semalam. Kututup layar laptopku dengan satu bantingan pelan. Suara klik dari engsel laptop memecah keheningan apartemen, terdengar seperti sebuah ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis bahwa aku tidak akan bisa menulis apa pun hari ini.
Aku bangkit berdiri. Kaki-kakiku melangkah mondar-mandir dari ruang kerja ke dapur, lalu ke ruang tengah, tanpa tujuan yang jelas. Ada semacam energi asing yang mendidih di bawah lapisan kulitku. Kegelisahan. Sesuatu yang sangat jarang kurasakan karena aku selalu memastikan hidupku berjalan dalam garis lurus yang dapat diprediksi.
Tanpa memberikan kesempatan pada otak rasionalku untuk menyela, aku menyambar kunci mobil di atas konter dapur dan mengenakan jaketku.
Aku hanya butuh udara segar. Aku butuh keluar dari kotak ini untuk mencari inspirasi naskah.
Itulah kebohongan yang kurangkai di dalam kepala saat aku melangkah masuk ke dalam lift yang meluncur turun ke lantai dasar. Aku terus mengulang mantra itu saat menyalakan mesin mobil, dan bahkan saat kemudiku berbelok tajam menuju kawasan pusat kota, menjauhi area taman yang biasa kudatangi jika sedang butuh ketenangan.
Empat puluh menit kemudian, mobilku menepi dan berhenti sempurna di sebuah pelataran parkir berlantai paving block yang rapi. Aku mematikan mesin, namun tanganku masih mencengkeram kemudi dengan erat. Melalui kaca depan, aku menatap lekat-lekat pada sebuah bangunan berarsitektur modern dengan fasad kaca yang menjulang tinggi. Di atas pintu utamanya, terpasang sebuah papan nama minimalis dari logam hitam: Galeri Nirwana.
Galeri milik Eliza Maharani.
Apa yang kulakukan di sini? Aku bertanya pada diriku sendiri. Datang ke tempat kerja seorang wanita yang baru kukenal semalam adalah tindakan seorang penguntit, atau lebih buruk lagi, seorang pria putus asa yang dimabuk kepayang. Dua hal itu sama sekali bukan representasi dari seorang Aris.
Aku hanya mengamati, bisik suara lain di kepalaku. Seperti biasa. Tidak ada salahnya melihat objek penelitian secara langsung di habitat aslinya.
Dengan sisa-sisa pembenaran diri yang rapuh itu, aku mendorong pintu mobil dan melangkah keluar. Udara sore terasa lembap, namun aroma hujan telah tergantikan oleh wangi kopi dari kafe kecil di sebelah galeri dan aroma cat gedung. Aku mendorong pintu kaca galeri yang tebal, disambut oleh embusan pendingin ruangan yang sejuk dan keheningan yang familiar.
Berbeda dengan keriuhan di kafe semalam, galeri ini menawarkan ketenangan yang elegan. Lantainya dilapisi marmer putih yang memantulkan cahaya lampu sorot di langit-langit. Dinding-dindingnya bersih, memajang deretan lukisan kontemporer yang tampak bisu namun penuh teka-teki. Ada beberapa pengunjung yang tersebar di berbagai sudut, berjalan lambat dengan suara langkah yang diredam.
Ini adalah tempat yang sempurna untuk seseorang yang pasif sepertiku. Sebuah tempat di mana mengamati adalah kegiatan yang diwajibkan.
Aku memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket, berjalan dengan langkah pelan menyusuri lorong sayap kiri. Mataku berpura-pura meneliti sapuan kuas pada sebuah lukisan abstrak, namun telingaku menangkap sesuatu yang lain. Sebuah suara yang sangat kukenal.
Di ujung lorong, di area pameran utama, sekelompok kecil pengunjung sedang berkumpul di depan sebuah instalasi seni berukuran besar. Dan di sanalah ia berada.
Eliza.
Hari ini ia mengenakan kemeja sutra berwarna krem yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana panjang hitam yang chic. Ia berdiri dengan postur tubuh yang begitu rileks namun memancarkan otoritas penuh. Seseorang dari kelompok itu melemparkan sebuah pertanyaan yang terdengar skeptis mengenai instalasi tersebut. Bukannya tersinggung, wajah Eliza justru berbinar.
Ia langsung ikut-ikutan menanggapi. Dengan cepat, ia mengambil alih panggung. Tangannya bergerak menunjuk pada detail-detail kecil karya seni itu, suaranya mengalun percaya diri menjelaskan filosofi di balik bentuk yang tidak beraturan tersebut. Energi meledak-ledak yang sama seperti semalam kembali menguar darinya, menyihir setiap pasang mata di dekatnya. Ia selalu menemukan cara untuk memecah keheningan dengan begitu indah.
Aku berhenti melangkah, menjaga jarak aman sekitar sepuluh meter darinya. Aku berdiri setengah tersembunyi di balik sebuah pilar putih, kembali masuk ke dalam mode default-ku: si pria pasif yang hanya menonton dari kegelapan.
Aku membiarkan mataku merekam setiap detailnya. Cara helaian rambut kemerahannya jatuh menutupi sisi wajahnya saat ia menunduk, cara ia tersenyum setiap kali berhasil mematahkan argumen pengunjung dengan cerdas, dan cara ia... berhenti tiba-tiba di tengah kalimatnya.
Jantungku berdegup satu ketukan lebih lambat.
Eliza terdiam. Matanya yang tadinya fokus pada pengunjung di hadapannya, tiba-tiba bergerak menyapu ruangan. Ia seperti merasakan perubahan tekanan udara di sekitarnya. Dan dalam hitungan detik, pandangannya melewati bahu para pengunjung, melewati pilar putih, dan langsung menabrak tepat ke arah mataku.
Di tengah keramaian kecil itu, jarak di antara kami seolah lenyap seketika.
Aku tertangkap basah. Lagi. Dan kali ini, di tempatnya. Di wilayah kekuasaannya.
Instingku berteriak untuk mundur, berbalik, dan berjalan keluar dari galeri seolah aku hanyalah pengunjung acak yang salah alamat. Namun kakiku menolak bergerak. Aku justru menegakkan punggung, membalas tatapannya dari seberang ruangan.
Eliza tidak terlihat terkejut. Tentu saja tidak. Senyum asimetris andalannya kembali terukir perlahan di bibirnya, memberikan pesan yang sangat jelas meski tak ada kata yang terucap.
Aku tahu kau akan datang, Tuan Pasif.
Dengan anggun, ia memutus kontak mata kami, mengucapkan permintaan maaf yang sopan pada kelompok pengunjungnya, lalu berbalik. Ia berjalan melangkah meninggalkankan kerumunan itu, dan yang membuat napasku nyaris berhenti adalah kenyataan bahwa ia melangkah lurus menuju ke arahku.
Setiap ketukan hak sepatunya di lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur menuju hancurnya dinding pertahananku. Ia mendekat, membawa seluruh energinya yang terang benderang untuk membakar sisa-sisa keheninganku sore ini.