Pagi itu Rania sangat terburu-buru. Dia dengan asal memakai kemeja putih dan celana panjang hitam serta menyisir rambutnya setelah diberi sedikit lotion rambut. "bisa-bisanya aku telat gara-gara mimpi itu lagi. Untung sudah ke setrika kemeja semalam sebelum tidur." gumam Rania. Segera dia duduk di tengah pintu kost lalu memakai sepatu sneakernya kemudian mengunci pintu kamar kostnya. ah... pelan-pelan sayang.. hmmh.. mmmuach.. ah..
terdengar desahan dari dalam kamar tetangga kostnya yang merupakan pengantin baru. desahan itu juga yang membuatnya begadang hingga kesiangan. Rania sangat berharap segera mendapatkan kost yang baru. Ia segera berlari ke depan gang menunggu ojeg. "lho neng, kok gak bawa motornya?" celetuk pak darmin si bapak kost saat melihat Rania berdiri di depan gang. "astaagaaa.." Rania tepuk jidat, segera dia balik ke kosannya mengambil motor di parkiran, nampak Mita dengan rambut acak-acakan dan beberapa jejak di lehernya sedang menjemur selimut di tali jemuran samping parkiran. "setidaknya tutupin dulu jejak suamimu baru keluar kamar Mita." celetuk Rania seraya memakai helm dan menghidupkan motornya. Mita yang kebingungan memeriksa dirinya. "gak ada kancing yang terbuka kok." ujar Mita. "makanya ngaca." sahut Rania. Mita segera mengalihkan pandangannya ke kaca spion salah satu motor di sana, lalu cengar cengir menutup lehernya. Rania yang melihat reaksi Mita hanya bergidik lalu melajukan motornya.
"Rania..!" bentak Bu Dita, kepala pelayan di restoran tempat Rania bekerja. "Sssst.. ntar tamu es kita kabur lagi." bisik Edo asisten Dita sambil menyikut lengan Dita."kamu beruntung karena hari ini hanya ada satu pelanggan. Pastikan bahwa ini adalah hari terakhir kamu telat." Ujar Bu Dita sambil sesekali melirik ke arah Randy yang terlihat cuek menanti pesanannya. "Ba Baik Bu Boss." sahut Rania. "ya sudah cepat temui chef Janu, jika pesanannya sudah siap, kau antarkan padanya. "aku?" tunjuk Rania pada wajahnya sendiri. "ya iya, masa' aku?" kata Edo. Rania menunduk lalu menuju ke dapur. "pesanannya Tuan.." kata Rania sembari menyajikan makanan di meja Randy. Mata Randy menyipit dan fokus pada kerah baju Rania yang terlepas kancingnya juga agak kusut. Rania menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan. "maaf Tuan, makananmu sudah siap. selamat menikmati." kata Rania. " Bagaimana kamu bisa meyakinkanku bahwa makanan yang kamu sajikan dimasak dengan baik dan benar?"
"maaf Tuan, restoran kami sudah lulus inspeksi, jika tuan bisa baca, pastilah tuan tidak meragukannya, karena di setiap meja terdapat print out sertifikat kami." "kau.." "saya permisi Tuan." Rania segera kabur sebelum Randy menimpalinya. "gadis aneh. padahal aku hanya mau mengingatkan agar kancing kerahnya dikunci saja. "Rania.. antarkan ke alamat ini pesanannya. awas jangan sampai tertukar. satu ini punya Pak Randy." titah Bu Dian seraya memberikan 2 kotak pizza yang dipesan lewat aplikasi hijau bergambar om ojek yang memakai jaket dan helm hijau. selain menjadi cleaning service, Rania yang juga anggota grab kadang di suruh mengantarkan paket ke tempat tujuan. Saat Rania hendak menghidupkan motor, Randy menghadangnya. "hei nona.." ucap Randy.
"Ma maaf Tuan?" Rania melepaskan kembali helm grab yang sudah dipakainya. "besok-besok kancing kerah itu di kunci saja atau pasang gembok sekalian. oh ya, dan pastikan kamu kalau setrika baju harus mengenai semua bagiannya, jangan cuma lengan dan badan baju saja. kerahnya kek kanebo yang habis diperas." cerocos Randy. "apa tuan sudah selesai bicara?"
"hm.." jawab Randy sambil menoleh ke arah lain. Tanpa basa-basi, Rania segeralah melajukan motornya. "Randy tersentak kaget lalu spontan menyingkir. Rania tersenyum senang melihat ekspresi Randy dari spion motornya. "dasar orang kaya sok perhatian. dia pikir aku akan jatuh hati apa " gumam Rania dalam hati. Randy geleng-geleng kepala melihat tingkah Rania. " apa dia tidak tahu siapa aku?" Randy pun masuk ke dalam mobilnya lalu menuju ke kantor. Dia melirik jam tangannya, 15 menit lagi rapat dengan klien di mulai. "semoga saja tidak macet." gumam Randy. Di tengah perjalanan ada kecelakaan yang menyebabkan macet. Randy menjadi cemas karena khawatir klien akan membatalkan pertemuan penting itu. sementara Rania sudah mengantarkan 1 paket pizza. "sisa 1 pizza lagi.. hm.. sepertinya macet..tapi motor bututku bisa lewat nih kayaknya" gumam Rania. dia lalu melajukan motornya. Randy yang melihat ke spion tepat saat Rania di belakang mobilnya segera turun dan menghalau Rania. kaki dan tangannya terbuka lebar demi menghentikan motor Rania. "apaan sih nih orang?" ujar Rania. Saat motor Rania berhenti, Randy dengan cepat menyambar tasnya yang berada di dalam mobil lalu naik ke motor Rania di bagian belakang. "hei Tuan.. mau apa kamu?" "ayo cepat jalan." bentak Randy. "kamu pikir aku tukang ojek?" celetuk Rania. "kali ini jadilah tukang ojek sementara." ujar Randy sambil menepuk pundak Rania. "oh ayolah turun aku harus segera mengantarkan pesanan." pinta Rania. "ke mana?" tanya Randy. "ke Ran Group." jawab Rania. "jalan aja, aku jugaau ke situ." "mobil kamu?" "bukan urusanmu." Rania membuang napas kasar. dia segera melajukan motornya. jalanan yang macet tak mampu membuat Rania hilang akal. dia menyerempet diantara kendaraan yang berdesakan. Randy secara spontan mengangkat kedua kakinya karena takut terkena kendaraan lain. setelah ada celah, Rania menambah kecepatan motornya. Randy yang kaget spontan memeluk erat tubuh Rania. mata Rania melotot karena kaget juga marah. motor terus melaju. "menepi dulu. telpon kamu berdering tuh." teriak Randy. "gak sempat." jawab Rania, dering ponselnya tak dia hiraukan. "awas kalau sampai tertukar." ucapan Bu Dian terngiang di kepalanya. Rania tidak mengenal siapa itu Pak Randy. yang dia dengar dari Edo, pak Randy adalah CEO yang galak dan dingin. Memberikan hukuman tanpa rasa kasihan. Pernah satu kali Edo telat mengantar pesanannya Pak Randy berupa 50 kotak Pizza favoritnya untuk menu lembur karyawannya. Saat tiba, Pak Randy menerima Pizzanya tapi tak bayar sama sekali, sebagai hukuman Edo yang tidak disiplin, maka Edo yang membayarnya. "oh tuhan selamatkan aku dari gadis gila ini." ujar Randy yang menenggelamkan wajahnya di pundak Rania, kedua tangan memeluk Rania dengan erat. saking takutnya sampai mereka menjadi tontonan karyawan sebab Randy tidak menyadari bahwa mereka sudah tiba di tempat tujuan. "Khem.." Rania menyadarkan Randy. Randy mengangkat kepalanya, para karyawan segera bubar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Randy lalu turun lalu mengetuk helm yang masih terpasang di kepala Rania. "lain kali kalau hampir sampai, beritahu jangan diam aja." ucap Randy. "lain kali? emang kamu mau lagi dibonceng sama aku?" Randy gelagapan "ti tidak aku tidak bilang begitu kok." kilah Randy berusaha memasang wajah datarnya. " bilang aja kalau masih mau peluk aku." ujar Rania segera turun dari motor membawa pizza yang dipesan. Randy sudah masuk duluan ke kantornya. Rania berlari agak bisa naik lift namun sesampainya di depan lift, dengan lutut yang masih gemetaran Randy segera menutup pintunya. Rania tak putus asa. Segera dia menanyakan sekuriti di mana tangga darurat berada. "lantai 4? it's OK." Rania dengan semangat namun ngos-ngosan menaiki satu per satu anak tangga. Sampailah dia di lantai tempat ruang kerja Randy berada. Sesampainya di depan ruangan bertuliskan Ran's CEO itu, Rania mengetuk pintu. "silakan masuk." terdengar suara wanita yang diduga adalah sekretaris Pak Randy. Rania lalu masuk. "Maaf Bu, saya Rania dari restoran Dapse mau mengantarkan pesanan Pizza atas nama Pak Randy." Tutur Rania dengan sopan. "Duduklah sebentar." Kata wanita yang nametag-nya Susi. Dia meraih gagang telepon dan menekan satu tombol. "Maaf Pak, pesanan Pizza anda sudah datang."...." Baik Pak.."
"Silakan masuk ke kamar Dek Rania."sahut Bu Susi. "Baik Bu."
Rania memasuki ruang kerja Randy. Dilihatnya seseorang duduk di kursi besar membelakangi meja. "Pak, ini pesanan Pizza anda." ujar Rania. "sudah kamu pastikan gak salah?"
"iya Pak"
Randy berbalik menghadap Rania. Rania yang kaget, matanya langsung membola. "Kamu lagi?" tanya Rania. "cek Pizzanya. oh bukan, cek nama di bungkusannya. saya tidak mau pizza itu terkontaminasi."
Wajah Rania berubah pucat. "bagaimana anda bisa seyakin itu?" tanya Rania. "saya baca saat kamu lagi balap tadi." ujar Randy sambil menggoyang kursinya ke kanan dan kiri. Rania menunduk malu. "Maaf.." Kata Rania.
"Hahaha.. Tidak semudah itu Nona." Randy merencanakan sesuatu untuk Rania. "Akan ku bayar pizza itu " sahut Rania yang masih menunduk. "oh itu tak perlu karena sudah aku bayar tadi" kata Randy. "Lalu apa mau kamu?" Tanya Rania. "Kembali ke tempat kerjamu. Klienku sedang menunggu, aku akan berurusan denganmu nanti." Ujar Randy. Rania lalu meninggalkan ruangannya. Tak lupa dia pamitan dengan Bu Susi. Di luar gedung Ran Group, Rania duduk di atas motornya sambil menatap papan iklan bertuliskan nama perusahaan itu. "semoga saja aku tidak kehilangan pekerjaanku gara-gara salah alamat ngirim Pizzanya." Gumam Rania. Randy yang menatap Rania dari jendela ruang kerjanya bergumam "harus kuapakan kamu, Rania? Kenapa aku merasa tak tega memberi sanksi padamu?"
"Nia..kamu sudah balik ya, gimana pengantarannya? Aku harap kamu tidak buat masalah." Edo menghampiri Rania yang sedang duduk menikmati nutrisari dinginnya di dapur. "Aman.. " Jawab Rania singkat. "Baguslah kalau begitu. ini tip buatmu, titipan dari Bu Dian." Edo menyerahkan 2 lembar uang seratus ribuan. Rania menerimanya dengan senyum lebar. "Makasih sobat." ucap Rania. "Sama-sama." Edo tersenyum bangga dengan Rania. Dia orang pertama yang sukses membuat Pak Randy terdiam saat mengkritiknya pagi tadi. Juga berhasil mengantarkan pesanan ke Ran Group dengan aman setelah menceramahi pemiliknya. Gak taunya Rania juga salah kirim.