"Mama mana, Pa?"
Mas Indra bertanya sambil menurunkan koper dari bagasi, matanya mencari-cari di antara kerumunan orang di depan pintu keberangkatan. Papa berdiri di dekat tiang dengan topi pet dan tas kecil di bahu, seperti orang yang baru turun dari mobil kantor.
"Mamamu pusing," jawab papa singkat. "Semalam tidak bisa tidur, jadi tidak jadi ikut mengantar."
"Pusing?" Mas Indra mengernyit. "Baru kemarin sore Mama masih sehat, ngecek koper kita."
"Kadang-kadang pusingnya datang tiba-tiba." Papa menepuk pundaknya. "Sudah, jangan dipikirkan. Papa yang antar sampai pintu."
Aku mendorong troli dengan dua koper dan satu tas jinjing. Pagi itu langit bandara cerah. Di sekeliling kami rombongan jamaah dengan seragam batik berwarna hijau lumut berkumpul, sebagian menangis sambil dipeluk keluarga, sebagian sibuk menghitung koper. Mataku sendiri terasa hangat sejak turun dari mobil, tapi aku menahannya karena takut kalau menangis sekarang, aku tidak akan berhenti sampai Madinah.
Ponsel Mas Indra berbunyi tepat ketika kami hendak masuk antrean. Ia melirik layarnya dan wajahnya mengendur sekaligus menegang.
"Mama," katanya.
"Angkat, Mas."
Ia menjauh beberapa langkah dan mengangkat telepon. Aku tidak bermaksud menguping, tetapi suaranya jelas terdengar, dan suara mama di seberang yang nyaring pun ikut menyusup lewat pengeras suara kecil.
"Ndra, sudah di bandara?"
"Sudah, Ma. Mama sehat? Papa bilang Mama pusing."
"Sedikit, tidak apa-apa. Dengar, Mama mau titip pesan. Kamu telepon Mama tiap malam. Tiap malam, Ndra. Jangan lewat satu hari pun."
"Tiap malam, Ma? Di sana beda jam..."
"Jam berapa pun Mama menunggu. Nanti Mama atur supaya hape Mama dekat tempat tidur." Ada jeda, lalu suaranya turun. "Ndra, Mama tidak ada kamu di rumah, rasanya sepi. Kamu tahu kan Mama cuma punya kamu."
"Iya, Ma. Indra tahu."
"Kalau lewat sehari saja, Mama akan kepikiran terus. Kamu mau Mama sakit?"
"Tidak, Ma. Indra telepon. Janji."
Telepon itu berlangsung sepuluh menit, dan sepuluh menit itu cukup untuk membuat koper kami terlalu lama berdiri di antrean. Ketika Mas Indra kembali, pelipisnya sedikit basah, padahal pendingin ruangan di situ lumayan kencang.
"Maaf, dek."
"Tidak apa-apa, Mas."
Papa memandang kami berdua, lalu menepuk bahu anaknya sekali lagi, kali ini lebih lama. "Kalian berangkat dulu. Jangan beban pikiran di sana. Tanah Suci itu tempat untuk melepas, bukan membawa."
Kalimat itu sederhana, tetapi aku melihat bagaimana mata papa melirik ke ponsel di tangan Mas Indra sebelum kembali ke wajah kami. Kendali yang sama, kataku dalam hati, sampai ke tempat yang paling jauh pun.
***
Perjalanan memakan waktu belasan jam dengan satu kali transit. Di pesawat, Mas Indra tertidur dengan kepala bersandar di jendela, dan aku mengintip dari kursiku ke langit yang makin gelap, mengulang-ulang doa yang sudah kuhafal.
Kami mendarat di Madinah ketika matahari hampir terbit. Bus jemputan melaju di jalan yang lengang, melewati hamparan kebun kurma yang masih biru dalam cahaya subuh. Sesaat kemudian sebuah menara muncul di antara bangunan-bangunan, dan pembimbing rombongan berseru dari depan bus, "Bapak-Ibu, itu Masjid Nabawi!"
Aku mendekatkan wajah ke kaca. Di antara menara-menara putih tinggi itu ada satu kubah berwarna hijau, yang tadinya cuma kulihat di foto-foto, di dinding rumah tetangga, di kalender yang menggantung di kamar Bapak.
Napasku tersangkut. Mataku langsung buram.
"Dek." Mas Indra menggenggam tanganku, matanya sendiri sudah basah. "Lihat. Kita sampai."
"Adek lihat, Mas." Suaraku pecah. "Adek lihat."
Seorang ibu tua di bangku seberang ikut menangis, dan sebentar saja separuh bus terisak pelan sambil melantunkan selawat. Aku tidak malu menangis di depan puluhan orang asing, karena tidak seorang pun di sana yang mengira air mata itu berlebihan.
***
Sore harinya, setelah istirahat dan salat Ashar di masjid, tiba giliran jamaah perempuan masuk ke Raudhah. Jadwalnya dipisah: laki-laki pagi dan malam, perempuan siang hingga sore. Mas Indra mengantarku sampai pintu khusus, menyerahkan kartu izin masuk yang sudah disiapkan pembimbing.
"Pelan-pelan, dek. Jangan berdesakan kalau kuat."
"Mas juga. Nanti kita ketemu di tempat tadi ya."
Ia mengangguk, dan di keramaian itu ia sempat mengusap ujung kerudungku sekali, tindakan kecil yang membuat dadaku penuh.
Di dalam, ruangan dipenuhi karpet hijau muda dan perempuan dari berbagai negara yang bersujud dalam jarak sejengkal satu sama lain. Petugas berseragam mengatur dengan suara lembut, "Sabar, sabar, giliran kita masing-masing". Aku mendapat tempat sempit di sudut, di antara seorang perempuan Turki yang menangis tanpa suara dan seorang gadis berkulit gelap yang membaca dengan mata terpejam.
Aku menunaikan salat dua rakaat dan bersujud. Dahiku menyentuh karpet, dan semua kata-kata yang kusimpan seminggu terakhir tumpah di dalam dada. Aku berdoa untuk Bapak dan Mama, untuk Rafi, untuk papa yang diam-diam mengingat janjinya. Aku berdoa untuk mama mertua, dan itu paling sulit. Lalu, dengan jari yang gemetar, aku mengambil daftar doa tulisan tangan yang kulipat di saku, dan aku membacanya pelan, satu baris demi satu baris, termasuk baris kelima.
Selesai membaca, aku melipat kertas itu lagi. Aku menunggu perasaan apa pun, dan yang datang hanya satu: Ya Allah, aku tidak mau doa itu jadi ancaman. Aku mau doa itu jadi harapan.
Dan sesudah itu, dalam sujud yang paling lama, aku memohon sesuatu yang tidak ada di kertas mana pun. Doa itu singkat. Jaga hati kami berdua, apa pun yang terjadi.
***
Malam itu kami makan nasi kebuli di kamar hotel, bersila di lantai, berbagi satu piring besar sambil tertawa mengingat betapa konyolnya wajah Mas Indra tadi waktu salah mengira sepatu orang lain miliknya sendiri.
Pukul sembilan tepat, Mas Indra menekan satu nomor di ponselnya. Ia sudah menyetel alarm sejak sore, dan bunyinya tadi sempat membuatku menoleh.
"Assalamualaikum, Ma. Iya, sudah sampai. Alhamdulillah... Aisyah sehat. Iya, tadi sudah masuk Raudhah... Belum, Ma, Aisyah baru keluar. Iya. Iya, nanti Indra bilangkan." Ia memandangku dan menggeleng halus seperti meminta maaf. "Tiap malam, Ma. Pasti. Assalamualaikum."
Ia menutup telepon dan meletakkannya di karpet dengan layar menghadap ke bawah.
"Mama tanya sudah salat, sudah makan, sudah minum vitamin," katanya sambil mengusap tengkuk.
"Mas tidak capek?"
"Capek apa?"
"Dikejar-kejar begitu."
"Mama cuma sayang, dek." Ia menarik sepotong daging dari piring dan menaruhnya di sisi nasi bagianku. "Sudahlah. Kita di sini untuk beribadah. Eh, dek."
"Hm?"
"Tadi di Raudhah adek lama sekali sujudnya. Mas nunggu di luar sampai kaki pegal. Adek doain apa sih?"
Aku menggigit daging kebuli, menelan perlahan, dan memandang matanya yang sungguh-sungguh ingin tahu. Di saku gamis di gantungan pintu, ada selembar kertas dengan tulisan tangan miring, dan di dalam kepalaku ada bisikan yang belum kuceritakan.
"Rahasia," kataku akhirnya.
"Rahasia?" Ia pura-pura tersinggung. "Istri macam apa menyembunyikan doa dari suaminya?"
"Istri yang mau Allah saja yang tahu dulu." Aku tersenyum. "Nanti, Mas."
Ia tertawa, mengacak kerudungku yang kulepas separuh, dan tidak bertanya lagi. Di luar jendela, kubah hijau bersinar lembut di bawah lampu malam. Tiga hari lagi rombongan akan bertolak ke Makkah.