"Sudah, Ma," jawabku, terlalu cepat. "Yang Siang diminum tadi, sebelum Mas Indra berangkat."
Mama berhenti di depan sofa. Ia memandang botol di meja, lalu memandangku. "Kamu pucat."
"Kurang tidur saja, Ma."
"Kurang tidur atau ada kabar?" Matanya turun ke perutku, lalu naik lagi, dan jantungku berdentum di telinga.
"Kurang tidur, Ma. Mas Indra mengorok."
Mama tertawa pendek dan menepuk pipiku. Ia percaya, mungkin karena yang ia cari bukan kabar itu melainkan kolom centang di pintu kulkas. Ia mencoret kolom malam dengan pulpen, menanyakan rasa pahit jamunya, menanyakan apakah tidurku nyenyak, dan aku menjawab semuanya dengan senyum yang rasanya dipaku di wajah. Begitu pintu menutup di belakangnya, lututku baru boleh lemas.
***
Lima hari sesudah itu aku baru berani membeli sesuatu. Kemarin, sepulang dari pasar, aku mampir ke apotek dan menyembunyikan kantong kecilnya di dasar tas sayur, di bawah seikat bayam. Ketika Mas Indra bertanya kenapa aku lama, aku bilang antre tukang tahu.
Sehabis subuh, aku duduk di tepi bak mandi dengan alat kecil itu di tangan dan jam dinding di depanku, menunggu tiga menit yang rasanya lebih panjang dari sembilan hari di Tanah Suci.
Tiga menit lewat. Aku menunduk.
Satu garis tegas. Dan di sebelahnya, nyaris tak kelihatan, satu garis lain, begitu pucat sampai aku harus memiringkan alatnya ke arah lampu.
"Ya Allah," bisikku. "Itu ada, kan? Itu bukan bayangan?"
Aku membandingkannya dengan gambar di kotak. Garis keduanya samar, tetapi ada. Aku menutup mulut dengan punggung tangan dan duduk lama di sana, bahuku bergetar, dan aku tidak tahu apakah aku sedang tertawa atau menangis.
"Dek?" Ketukan di pintu. "Kamu lama sekali, dek. Sakit perut?"
"Sebentar, Mas!"
"Mas buatkan teh, ya?"
"Jangan, Mas, sebentar!"
Aku mencuci tangan, menyembunyikan alat itu di saku gamis, dan membuka pintu. Mas Indra berdiri dengan handuk di bahu, rambutnya acak, dan begitu melihat wajahku, senyumnya hilang.
"Dek, ada apa? Kenapa mukanya begitu?"
Aku mengeluarkan alat itu dari saku dan menyodorkannya tanpa berkata apa-apa.
Ia memandangnya lama sekali. Matanya pelan-pelan bergerak dari garis pertama ke garis kedua, lalu kembali lagi, dan lagi.
"Ini..." Suaranya pecah. "Dek, ini dua?"
"Samar sekali, Mas. Mungkin belum tentu. Adek mau tunggu beberapa hari lagi, mau periksa ke..."
"Boleh Mas peluk?"
Aku mengangguk, dan ia mengangkatku sampai kakiku tidak lagi menyentuh lantai, berputar setengah lingkaran di lorong sempit itu sambil tertawa-tawa seperti orang kehilangan akal.
"Mas! Pelan-pelan, nanti jatuh!"
"Mas akan jadi bapak!"
"Belum tentu, Mas, garisnya saja samar!"
"Samar tapi ada!" Ia menurunkanku, memegang kedua pipiku, dan matanya basah. "Dek, terima kasih. Terima kasih, terima kasih."
"Mas belum boleh berterima kasih. Belum tentu."
"Mas boleh. Mas sudah memutuskan." Ia menempelkan dahinya ke dahiku. "Hari ini Mas tidak ke kantor. Mas mau di sini, menyuapi kamu sarapan, mengantar kamu ke mana pun."
"Ke kamar mandi pun?"
"Sampai depan pintu."
Aku mencubit lengannya dan ia menjerit pura-pura sakit.
Aku tertawa sambil menyeka air mataku, dan di tengah tawa itu aku tidak lagi memikirkan bisikan, kunci, atau kamar bayi. Hanya ada dia dan aku.
Lalu ia mengambil ponselnya dari saku celana.
"Mas, jangan dulu..."
Terlambat. Ia sudah menempelkan layar ke telinganya. "Ma? Ma, Indra mau kasih kabar... Iya, Ma, pagi ini... Aisyah... Iya, Ma! Dua garis!"
Aku merebut ponselnya dengan setengah panik, tetapi hanya sempat mendengar jeritan di seberang, jeritan yang begitu melengking sampai Mas Indra menjauhkan layarnya dari telinga.
"Mas, masih samar! Belum periksa dokter!"
"Mama senang sekali, dek," katanya, nyengir, matanya masih berkaca-kaca. "Mama sampai nangis."
***
Sisa hari itu Mas Indra mengikutiku ke mana-mana. Ketika aku hendak mengangkat ember cucian, ia merebutnya. Ketika aku menuruni dua anak tangga, ia berjalan mundur di depanku sambil merentangkan kedua tangan, dan aku harus menahan tawa karena langkahnya seperti penjaga gawang. Ia menyalin nomor dokter kandungan dari ponselnya ke secarik kertas, lalu menempelkannya di kulkas di bawah jadwal jamu mama, dan tidak lama kemudian ia menatap dua kertas itu berdampingan sambil mengerutkan dahi, seperti sedang membandingkan dua hal yang tak bisa disatukan.
Mama dan papa datang sore itu juga. Aku sedang berbaring di sofa karena Mas Indra memaksa, dengan bantal di punggung dan selimut di kaki, ketika bunyi klik kunci terdengar dan mama masuk setengah berlari.
"Mana dia? Mana menantu Mama?"
Ia berlutut di depan sofa dan menggenggam kedua tanganku. Matanya merah dan basah, riasannya sedikit luntur. Aku tidak pernah melihat ia seperti itu, tanpa topeng, tanpa senyum yang dipasang.
"Alhamdulillah," katanya. Suaranya bergetar. "Alhamdulillah, ya Allah. Mama sudah lama sekali menunggu kabar seperti ini, Aisyah. Lama sekali. Mama sampai takut tidak akan pernah mendengarnya."
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Tangannya hangat dan gemetar, dan sesaat aku lupa siapa dia.
"Ma, masih terlalu dini," kata papa pelan dari ambang pintu. Ia membawa kantong plastik berisi buah-buahan. "Garisnya masih samar kata Indra. Sebaiknya periksa dulu."
"Pa, Mama tahu." Mama mengusap matanya. "Tapi Mama sudah dengar kabarnya, biarkan Mama senang dulu."
"Senang boleh. Tapi jangan lupa kita belum tahu pasti."
Mama menoleh pada papa dan tersenyum, senyum yang benar-benar tulus. Papa tidak menjawab, hanya meletakkan buah di meja dengan hati-hati, seperti menaruh sesuatu yang mudah pecah.
Satu jam kemudian, ketika mama sibuk di dapur memeriksa isi kulkasku dan menggerutu soal sayur yang kurang, papa datang membawa gelas kosong dan berdiri di sampingku di dekat wastafel.
"Nak," katanya, hampir tanpa suara. "Apa pun hasilnya nanti, kamu jangan merasa harus menanggungnya sendiri. Nomor Papa masih kamu simpan?"
"Masih, Pa."
"Bagus." Ia mengisi gelasnya dengan air keran dan tidak meminumnya. "Mamamu itu sedang sangat bahagia. Papa tidak mau merusaknya, tapi Papa juga tidak mau kamu jatuh terlalu keras kalau ternyata belum."
Aku tidak sempat menjawab karena mama memanggil dari dapur, menanyakan di mana aku menyimpan panci yang besar.
"Aisyah," kata mama, kembali menghadapku. Suaranya turun menjadi perintah. "Mulai sekarang istirahat total. Tidak boleh naik tangga, tidak boleh mengangkat apa pun, tidak boleh memasak. Jamu diteruskan, tapi yang Malam Mama ganti."
"Ma, Aisyah masih bisa mengerjakan..."
"Tidak ada yang bisa kamu kerjakan. Kamu sedang mengandung cucu Mama." Ia mengatakannya begitu yakin sehingga aku hampir percaya. "Indra, kamu angkat semua belanjaan mulai besok. Dan jangan biarkan dia sendirian terlalu lama."
"Iya, Ma."
Mas Indra duduk di sisiku dan menggenggam tanganku yang lain. Mama di satu sisi, suamiku di sisi lain, dan di kejauhan papa menatapku dengan mata yang sulit kutebak. Aku tersenyum kepada semuanya, dan di dalam dadaku sebuah suara kecil terus berbisik: jangan terlalu senang, belum tentu, jangan terlalu senang.
Malam itu aku tidur nyenyak, lebih nyenyak daripada sejak pulang dari Makkah, dengan tangan Mas Indra melingkar di perutku. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menaruh telapak tangannya di sana dan tidak mau memindahkannya.
***
Perutku nyeri sekitar pukul tiga dini hari, perih pelan seperti dicubit dari dalam. Aku terbangun, menyingkirkan tangan Mas Indra dengan hati-hati, dan berjalan ke kamar mandi sambil memegang dinding.
Lampu menyala. Aku menunduk.
Ada bercak darah di kain putihku, tidak banyak, tetapi merah dan nyata.
Di balik pintu, napas Mas Indra masih teratur. Ia belum tahu.