Kami duduk berdampingan di kursi rotan di depan meja Dokter Hanifah, dan aku baru sadar tanganku sudah berkeringat ketika Mas Indra menyelipkan jemarinya ke sela jemariku.
Dokter membuka map berwarna krem. Ia membaca sebentar, lembar demi lembar, dan wajahnya tetap tenang seperti lima hari lalu. Itu membuatku sedikit lebih berani.
"Baik. Saya langsung sampaikan saja, ya." Ia menatapku, bukan map itu. "Hasil darah dan pemeriksaan Ibu Aisyah baik. Tidak ada gangguan yang perlu dikhawatirkan. Ibu sehat, dan dari semua tanda yang saya lihat, Ibu subur."
Napasku keluar dengan suara yang tidak kusengaja. Mas Indra meremas tanganku.
"Alhamdulillah," bisikku. "Jadi tidak ada yang salah dengan Aisyah, Dok?"
"Tidak ada." Dokter melipat tangannya di atas meja. "Dan ada satu hal lagi yang ingin saya bicarakan, karena Ibu menceritakannya kepada saya waktu itu. Garis samar yang Ibu lihat dua minggu lalu, lalu bercak dan haid keesokan harinya. Itu bukan salah tes, dan bukan khayalan."
Aku menahan napas.
"Itu kemungkinan besar kehamilan yang sangat dini dan tidak berlanjut. Terjadi pada banyak perempuan, sering tanpa disadari, dan biasanya tidak ada yang bisa dicegah." Suaranya turun satu tingkat, lebih lembut. "Bukan karena umrah, bukan karena kelelahan, bukan karena Ibu lupa meminum ramuan apa pun. Saya sampaikan ini supaya Ibu tidak terus bertanya pada diri sendiri."
Mataku memanas. Ada yang sempat tumbuh, walau hanya beberapa hari, walau hanya selembar garis pucat. Aku memejamkan mata dan membiarkan satu air mata jatuh.
"Dan itu kabar baik juga," lanjut dokter. "Artinya tubuh Ibu bisa hamil. Hanya saja, supaya gambarnya lengkap, saya sarankan Bapak ikut diperiksa. Pemeriksaan kesuburan pria, sederhana saja, cukup di laboratorium."
Genggaman Mas Indra mengencang sampai buku-buku jariku terasa nyeri.
"Maksud Dokter, saya?"
"Ini rutin untuk pasangan yang sedang berusaha, Pak. Bukan karena ada dugaan apa-apa. Hanya supaya kami tahu kondisi dari kedua sisi."
"Berapa lama hasilnya?"
"Biasanya beberapa hari."
"Saya bisa periksa di laboratorium langganan kantor saja, Dokter?"
"Tentu boleh, asal laboratoriumnya terpercaya, dan hasilnya Bapak bawa kemari supaya bisa saya baca."
"Baik." Mas Indra tersenyum. Senyum yang rapi dan tipis, yang kutahu bukan senyumnya. "Terima kasih, Dokter."
Ia pamit lebih dulu ke kasir untuk mengurus pembayaran. Ketika pintu menutup, dokter menahan lenganku sebentar, sebelum aku sempat berdiri.
"Ibu Aisyah."
"Ya, Dokter?"
"Kadang kabar seperti tadi lebih berat bagi suami daripada bagi istri, meskipun mereka jarang menunjukkannya." Matanya lembut tetapi tidak berbasa-basi. "Kalau nanti Bapak diam, jangan buru-buru mengartikan. Beri dia ruang, tetapi jangan biarkan dia sendirian terlalu lama."
Aku mengangguk dan berterima kasih. Di pintu aku menoleh sekali lagi, dan dokter masih berdiri memandang pintu yang baru tertutup itu, seperti seseorang yang tahu lebih banyak daripada yang boleh ia katakan.
***
Di dalam mobil, ia tidak menyalakan mesin. Pelataran parkir klinik itu sepi, hanya ada seorang tukang kebun yang menyiram pot melati dengan selang. Mas Indra memegang setir, menatap kaca depan, dan tidak mengatakan apa-apa selama hampir semenit.
"Mas?"
"Hm."
"Dokter bilang adek sehat. Mas tidak senang?"
"Senang." Jawabannya terlalu cepat. "Mas senang sekali, dek. Alhamdulillah."
"Tapi wajah Mas..."
"Mas cuma lelah." Ia menghela napas dan menoleh. Aku melihat bahwa matanya sedang mengerjakan sesuatu yang berat. "Dek, Mas minta tolong satu hal."
"Apa, Mas?"
"Hasil kamu hari ini. Dan soal periksa Mas nanti. Jangan bilang ke Mama dulu."
Aku mengerutkan dahi. "Tapi kenapa? Mama sudah menunggu kabar."
"Justru karena itu." Ia menggenggam kedua tanganku. "Kalau Mama dengar kamu sehat tapi belum hamil, dia akan cari-cari apa lagi yang kurang. Dia bisa menyuruh kita ganti dokter, tambah jamu, tambah ini dan itu. Kalau dengar Mas harus periksa, Mama akan panik dan semuanya jadi lebih ribut." Suaranya merendah. "Biar Mas yang bicara kalau waktunya. Mas yang akan bilang. Kamu cukup tenang."
"Mas yakin?"
"Yakin."
"Mas tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari adek, kan?"
Pertanyaan itu keluar dari mulutku sebelum sempat kutahan. Mas Indra membeku sepersekian detik, lalu tersenyum lagi, kali ini lebih lebar.
"Mas tidak punya rahasia dari kamu," katanya. "Mas cuma ingin melindungi kamu dari ributnya Mama. Percaya Mas, ya?"
Aku memandangi wajahnya yang kupercayai sejak hari pertama, dan hatiku bergerak ke dua arah sekaligus. Ia suamiku. Ia mencintaiku. Itu sebabnya aku mengangguk.
"Baik, Mas. Adek tidak akan bilang."
"Terima kasih, dek." Ia mengecup punggung tanganku. "Mas yang bicara."
Kami pulang dengan jendela setengah terbuka. Di lampu merah, aku sadar bahwa itu bukan rahasia pertama yang kusimpan, dan hitungan bulan yang dibisikkan mama masih menunggu di ujung lidahku. Dua rahasia, satu di tanganku dan satu lagi di tangan Mas Indra, dan keduanya ditutup rapat dengan alasan yang sama.
***
Sore harinya Mas Indra pergi ke pabrik, katanya hanya sebentar. Aku menggoreng tempe, mencuci beras, lalu naik ke lantai atas membawa keranjang jemuran. Pintu kamar di ujung lorong terbuka separuh, seperti biasa. Ranjang bayi itu berdiri di sana, sabar, dengan kasur mungil yang masih berbungkus plastik.
Dokter bilang aku subur. Aku bisa hamil. Hanya satu garis pucat yang belum sempat tumbuh. Kuulang kalimat itu beberapa kali sambil menatap ranjang kayu cokelat itu, dan kali ini ranjang itu tidak terasa seperti tuduhan. Ia hanya perabot. Aku menutup pintunya dengan pelan, bukan membantingnya, lalu membawa keranjang ke balkon.
Malam harinya ponselku bergetar saat aku sedang melipat handuk di kamar. Layarnya menampilkan satu nama yang tidak perlu kubaca dua kali. Mas Indra sedang mandi, dan aku mengangkatnya dengan telapak tangan yang tiba-tiba basah.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam. Hasilnya sudah keluar, Aisyah? Indra tadi pagi bilang kalian ke dokter."
Aku memejamkan mata sebentar.
"Belum, Ma. Katanya masih harus menunggu."
"Menunggu apa lagi? Dua minggu lebih."
"Ada pemeriksaan tambahan, Ma. Dokter minta hasilnya lengkap dulu."
Jeda di seberang terasa begitu panjang. Aku bisa membayangkan jarinya mengetuk-ngetuk meja rias, pelan, tanpa irama. Aku menggigit bibir dan menunggu dengan kebohongan itu menggantung di antara kami.
"Baiklah," kata mama akhirnya. Nadanya datar, tetapi tidak sedatar biasanya. "Mama tidak mau mendesak. Dokter yang mana?"
"Klinik di belakang pasar, Ma. Dokter perempuan."
"Hm. Baik." Suara mama berubah, seolah ia sedang menutup buku. "Mama telepon bukan hanya soal itu. Minggu siang Bu Ratih mampir ke rumah Mama. Kalian menginap, sesuai janji weekend. Mama tidak mau dengar alasan."
"Tapi, Ma, Aisyah belum..."
"Sesuai janji, Aisyah. Indra yang janji."
Telepon ditutup sebelum aku sempat menjawab.
Aku menatap layar yang gelap itu. Dari kamar mandi terdengar air mengalir dan suara Mas Indra bersenandung kecil, lagu yang tidak kukenal.