Tiga hari sudah mama tinggal di rumah kami, dan "besok masak yang lain" ternyata berarti tiap pagi ada komentar baru soal masakanku. Selasa pagi itu, dua tangan melingkar di pinggangku dari belakang ketika aku sedang mengaduk bubur di panci, dan sebuah dagu mendarat di bahuku dengan bobot yang kukenal betul.
"Pagi, istriku."
"Mas! Nanti buburnya gosong!"
"Biar gosong." Mas Indra menghirup rambutku dalam-dalam. "Mas kangen. Sudah berhari-hari pelukan kita cuma lima detik, itu pun di depan Mama."
Aku tertawa, dan tawa itu keluar lebih lepas daripada yang kuduga, karena hari-hari ini aku sudah lupa bagaimana rasanya tertawa di dapurku sendiri. Aku memutar badan dalam pelukannya dan meletakkan telapak tanganku di dadanya.
"Boleh Mas peluk sebentar lagi, dek?"
"Boleh, Mas."
Ia mempererat pelukannya, dan aku menutup mata. Pelukan itu hangat dan penuh, seperti pelukan di depan Ka'bah dulu, ketika dunia tidak punya tempat lain untuk dilihat. Aku hampir lupa pada ranjang bayi, pada kunci, pada kalender saku yang kulihat Sabtu lalu.
Lalu dari belakang kami terdengar suara berdehem, kering dan sengaja.
"Hm."
Mas Indra melepas pelukannya sedikit, tetapi tidak sepenuhnya. Mama berdiri di ambang dapur dengan mukena yang belum dilepas, tasbih di tangan, dan wajahnya sedatar papan.
"Pagi-pagi sudah begini," katanya. "Bubur Mama jangan sampai gosong, Aisyah."
"Tidak, Ma. Sebentar lagi matang."
"Sarapan Mama di meja makan, ya. Bukan di dapur." Ia berbalik dan berjalan pergi, tasbihnya berdetak satu per satu. "Kalian ini kayak anak SMA."
Mas Indra menahan tawa di leherku. "Mama cemburu."
"Mas!"
"Sungguh." Ia mengecup pipiku cepat-cepat sebelum aku sempat protes. "Mas ke kantor dulu. Pulang makan siang, mau ambil berkas."
Sarapan berlangsung dengan jadwal jamu di kulkas yang sudah mama centang sendiri untuk dua hari terakhir, tanda silang di kolom Malam kemarin, dan satu botol baru bertuliskan Pagi yang berdiri di depan piringku seperti tamu yang menunggu dijamu.
"Yang itu lebih pahit," kata mama. "Tapi lebih manjur. Minum sampai habis."
Aku meminumnya, dan mama menghitung tegukan demi tegukan dengan bibir yang bergerak sendiri tanpa suara.
***
Pukul dua belas lewat, bel pintu tidak berbunyi tetapi pagar berderit, dan Mas Indra masuk membawa tas kerjanya sambil melonggarkan dasi. Aku sedang melipat handuk di ruang tengah dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Cepat sekali, Mas."
"Berkasnya ketinggalan di meja kerja. Mas ambil dulu, lalu balik lagi." Ia tampak senang, hampir bersemangat. "Dek masak apa siang ini?"
"Sop ayam. Nanti malam adek buatkan sop brokoli."
"Wah." Ia mengerling. "Sampai Mas habiskan?"
"Kalau Mas mau."
"Mas mau."
Ia baru saja menaruh tasnya ketika pintu kamar tamu terbuka, dan mama melongok keluar.
"Ndra. Sini sebentar."
"Ada apa, Ma?"
"Mama mau bicara. Berdua saja."
Ia melirikku sekilas, mengangkat bahu kecil seperti anak yang dipanggil guru, lalu masuk. Pintu kamar itu menutup, tetapi tidak rapat. Ada celah selebar dua jari di antara daun pintu dan kusennya.
Aku kembali melipat handuk. Satu, dua, tiga. Dari ruang tengah ke dapur, jalannya melewati lorong sempit yang menyusuri kamar tamu. Aku harus lewat di sana untuk mengecek sop yang kutinggalkan di kompor.
Aku berdiri, meletakkan handuk di sofa, dan melangkah.
"...Ndra." Suara mama, pelan tetapi jelas, jauh lebih jelas karena lorong itu sempit. "Mama mau tanya sesuatu, dan jangan jawab kalau kamu tidak mau. Tapi kamu anak Mama."
"Iya, Ma."
"Kenapa sampai sekarang kalian belum punya momongan? Apa ada masalah dengan Aisyah, atau kalian menunda?"
Langkahku berhenti. Mungkin hanya sepersekian detik, tetapi di dalam kepalaku sepersekian detik itu membentang seperti lorong yang sangat panjang.
Aku berada tepat di depan celah pintu. Lewat celah itu aku melihat sepotong ruangan: ujung ranjang, sebagian lemari, dan Mas Indra yang berdiri membelakangi cahaya jendela. Ia menoleh. Bukan ke arah mama, melainkan ke arah pintu, ke arahku, seolah ia merasakan ada orang yang lewat.
Mata kami bertemu lewat celah dua jari itu.
Aku menunggu. Aku menunggu ia menjawab. Aku menunggu satu kalimat saja: tidak ada masalah dengan Aisyah, Ma. Atau: itu urusan kami, Ma. Atau: Mama jangan tanya begitu.
Tetapi Mas Indra tidak mengatakan apa-apa. Rahangnya mengeras, bibirnya mengatup, dan matanya, yang tadi pagi menatapku dengan cahaya, mendadak menjadi permukaan kaca yang tidak bisa kutembus.
"Ndra?" desak mama.
Ia masih diam.
Aku memaksa kakiku bergerak. Aku melangkah melewati celah itu, ke dapur, mengangkat tutup panci sop yang sudah mendidih tanpa pernah kuingat menyalakan kompor, dan menatap uapnya naik ke langit-langit sampai pandanganku mengabur.
Bibi masuk membawa keranjang cucian dan menaruhnya di sudut tanpa suara. Ia berdiri sebentar di sampingku. Ia tidak bertanya aku mendengar apa. Ia hanya menyentuh punggungku dengan telapak tangannya yang kasar, satu kali, lalu keluar lagi ke halaman belakang.
Sesudah itu aku mulai memasak makan malam, lebih awal daripada yang perlu, supaya tanganku punya pekerjaan. Aku mengiris brokoli sampai potongannya seragam, merebus kaldu sampai jernih, dan mengulang dalam hati bahwa mungkin Mas Indra hanya terkejut. Mungkin ia sedang mencari kalimat yang tepat. Mungkin ia akan menjawab nanti, di depan mama, dengan suara yang pantas didengar.
***
Mas Indra pulang malam itu pukul delapan. Ia mencium tanganku seperti biasa dan mengucap salam seperti biasa, tetapi matanya menempel di lantai dan tidak naik. Mama sudah duduk di kursi kepala meja, wajahnya puas seperti kucing selesai minum susu.
Sop brokoli yang kubuat tadi sore ada di tengah meja, uapnya masih mengepul, hijaunya cerah. Aku menyendokkan nasi untuknya.
"Silakan, Mas."
"Terima kasih."
Ia menerima piringnya. Tetapi ia hanya mengambil tempe dan sedikit sambal. Mangkuk sop itu tidak ia sentuh. Sendok sayurnya masih bersandar di pinggir mangkuk dengan kuah yang mulai membentuk lapisan tipis.
"Mas tidak mau sop-nya?" tanyaku pelan.
"Sudah kenyang, dek."
"Mas bahkan belum..."
"Mas sudah kenyang."
"Biarkan saja suamimu, Aisyah," kata mama lembut, dengan nada yang nyaris penuh kasih. "Dia lelah bekerja. Tidak semua orang bisa makan kalau pikirannya penuh."
Jawaban tadi masih menggantung, datar dan tegas, seperti pintu yang ditutup dari dalam. Aku menoleh kepada mama, dan mama sudah kembali menunduk ke piringnya sambil tersenyum tipis.
Mas Indra menghabiskan nasi tanpa menoleh sedikit pun kepadaku. Ketika ia berdiri, kursinya bergeser lebih keras daripada seharusnya.
"Dek."
"Ya, Mas?"
"Mas tidur di ruang kerja ya, banyak laporan."