Jumat malam itu Mas Indra pulang pukul sembilan. Ia memang tidak lembur seperti janjinya, tetapi sorenya sudah dikosongkan, persis kata perempuan berkerudung krem di lift. Aku menunggunya di ruang makan dengan telur dadar bawang merah yang sudah dua kali kupanaskan.
"Mas makan dulu," kataku. "Habis itu adek temani di ruang kerja, ya? Duduk di sofa saja, tidak akan ganggu."
Ia menatap piring, lalu menatapku. Senyumnya lembut, dan itu yang paling menyakitkan. "Besok ya, dek. Malam ini Mas cuma mau diam."
"Tadi sore Mas dari mana?"
"Keperluan." Ia menyendok telur itu sekali, dua kali, lalu menaruh sendoknya pelan. "Enak. Terima kasih, dek."
Ia membawa piringnya sendiri ke wastafel dan masuk ke ruang kerja. Aku memutuskan tidak bertanya lagi sampai ia sendiri yang membuka mulut. Ia tidak membuka mulut, esoknya juga tidak, dan hari-hari berikutnya berjalan dengan cara itu sampai tibalah Kamis, hari pengajian.
Dua puluh gelas teh disusun mama sendiri di atas nampan, dua puluh pisang goreng di piring kecil, dan dua puluh lipatan kain kerudung di punggung sofa, karena menurut mama ibu-ibu pengajian selalu datang membawa kerudung cadangan untuk dipamerkan.
"Jangan di situ, Aisyah. Piringnya di tengah, biar yang duduk di belakang bisa mengambil." Mama menunjuk dengan telunjuk berhias cincin batu. "Dan Bibi, kalau ada yang bertanya, bilang Bibi memang kerja di sini sejak lama. Jangan bilang ikut Mama pindah."
"Baik, Bu."
"Rumah ini rumah Indra. Tapi yang mereka lihat nanti rumah Mama juga." Ia merapikan kerudungnya di depan cermin lorong, menarik ujung kerudungnya sekali, lalu tersenyum kepada bayangannya. "Mama itu tuan rumah yang baik."
Aku tidak menjawab. Sejak pagi tidak ada lagi yang bisa kujawab dengan jujur.
Pukul tiga lewat, rumah kami penuh. Ibu-ibu RT datang berombongan dengan mukena di bawah ketiak dan senyum yang sudah dipoles sebelum masuk pagar. Bu Ratna di barisan depan melambaikan tangan, wajah bulatnya merah karena panas. Seorang ibu bertubuh besar berkerudung ungu langsung duduk di kursi paling nyaman tanpa ditanya, dan mulai menilai rumah kami dari langit-langit hingga lantai.
"Rumahnya adem ya, Bu Aisyah. Tapi kok sepi? Belum ada suara anak-anak?"
"Belum, Bu."
"Oh. Insya Allah segera."
Pengajian dimulai dengan Yasin. Aku duduk di dekat pintu dapur, membaca bersama mereka dengan suara yang kujaga supaya tidak bergetar. Mama membuka acara dengan salam yang fasih, mengucapkan terima kasih kepada semua yang hadir, dan memuji Bu Ratna yang mengadakan giliran dengan sangat tertib. Semua tersenyum. Semua mengangguk. Mama memang pandai membuat orang merasa dirinya penting.
Menjelang doa penutup, ustazah muda yang memimpin pengajian bertanya, "Ada yang ingin didoakan secara khusus hari ini, Ibu-Ibu?"
Mama mengangkat tangan sebelum aku sempat menunduk.
"Ada, Ustazah." Suaranya hangat, pelan, penuh cinta. Ia menoleh kepadaku dengan mata yang berkilat. "Doakan menantu saya. Sudah umrah, sudah berdoa di depan Ka'bah, tapi belum juga isi. Kasihan, Ustazah. Saya sudah tidak sabar ingin menimang cucu."
Ruangan itu mendadak sunyi, lalu terdengar gumam di sana-sini: "Aduh." "Kasihan." "Sabar ya, Nak." Ibu berkerudung ungu menggeleng prihatin, dan di sampingnya seorang ibu berkacamata mencondongkan badan.
"Sudah coba kunyit asam, Mbak? Anak saya dulu begitu, minum jamu kunyit asam setahun langsung jadi."
"Itu belum seberapa. Saya malah dulu urut ke dukun beranak di Garut..."
"Kalau suaminya yang bermasalah, ya, jangan salahkan perempuan terus."
"Husy!" Beberapa kepala menoleh ke ibu yang barusan bicara. Mama mengibaskan tangan, tertawa halus.
"Ah, Indra anak saya sehat, Bu. Bukan dia. Mungkin Aisyah-nya yang terlalu kurus."
Wajahku terasa panas. Aku tersenyum. Aku tersenyum sampai otot pipiku sakit, sambil merasakan dua puluh pasang mata tertuju padaku. Ustazah itu berdeham lembut, lalu membimbing doa, dan namaku disebut dalam doa itu beberapa kali, dengan kata-kata yang terdengar seperti sedekah untuk orang malang.
***
Aku lari ke dapur begitu doa selesai dan ibu-ibu beralih ke pisang goreng. Kuambil nampan kosong dan kuhadapkan punggungku ke pintu supaya tidak ada yang melihat mataku. Sebentar saja. Aku hanya butuh sebentar saja.
Pintu dapur berderit.
"Mba Aisyah."
Bu Ratna masuk membawa piring-piring kotor yang tidak perlu ia bawa. Ia meletakkannya di bak cuci dan, tanpa bicara, membuka keran supaya suara air menutupi isak yang tidak kusadari sudah keluar.
"Saya tidak apa-apa, Bu."
"Saya tahu." Ia mengambil serbet dan mengelap tangannya perlahan. "Mba, boleh saya cerita? Saya lima tahun menunggu."
Aku menoleh.
"Lima tahun. Sebelum anak pertama lahir, sebelum yang lain-lainnya." Lesung pipitnya muncul, tetapi matanya berair. "Selama itu saya sudah minum segala macam jamu, sudah ke dokter, sudah ke ustaz, sudah dipijat sampai memar. Semua orang punya saran. Mertua saya, tetangga, bahkan tukang sayur."
"Lalu?"
"Lalu saya sadar, Mba, yang melukai saya bukan menunggunya." Ia meremas bahuku sekali, hangat dan mantap. "Yang melukai itu pertanyaan orang. 'Sudah isi belum?' Sepuluh kali sehari, dari orang yang sebenarnya tidak berhak tahu. Menunggu itu urusan saya dan Allah. Pertanyaan itu urusan mereka, dan mereka tidak tahu betapa berat."
"Ibu mertua saya..."
"Saya dengar tadi." Ia menggeleng pelan. "Beliau tidak jahat, Mba. Tapi beliau menjadikan luka Mba tontonan. Itu salah. Kalau Mba perlu menangis, menangis saja di sini. Dapur ini tidak pernah cerita ke siapa pun."
Aku menangis. Dua menit, mungkin tiga. Bu Ratna tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menepuk-nepuk lenganku dan menyodorkan serbet.
***
Ibu-ibu pamit satu per satu menjelang Maghrib. Aku berdiri di teras menyalami mereka, mengucapkan terima kasih yang sudah kupelajari di luar kepala, menahan wajahku supaya tidak jatuh. Bu Ratna terakhir pamit dan menggenggam tanganku sebentar lebih lama dari yang diperlukan.
Mobil Mas Indra memasuki pagar tepat ketika ibu-ibu terakhir berjalan keluar.
"Eh, Pak Indra!" Ibu berkerudung ungu itu berhenti di sisi mobil sambil tersenyum lebar. "Pas sekali! Tadi kami semua doakan supaya segera dapat momongan, ya. Semoga cepat, Pak!"
Mas Indra turun dari mobil. Aku melihat bagaimana kata-kata itu menabraknya, bagaimana rahangnya mengeras, bagaimana matanya mencari mama di serambi dan menemukan senyum puas itu di sana.
"Aamiin, Bu," katanya, dan suaranya nyaris tidak keluar.
Ia berbalik dan menatapku. Aku tahu mataku masih merah, hidungku masih berair, dan sisa-sisa tangis tidak bisa disembunyikan dari orang yang pernah menghafal setiap detail wajahku. Ia membuka mulut. Satu detik. Dua detik. Kali ini aku tidak menunggu apa-apa; malam-malam sebelumnya sudah mengajariku bahwa menunggu hanya menambah tinggi pintu itu.
Dan memang yang keluar dari mulutnya hanya napas yang panjang dan berat.
Ia berjalan melewatiku masuk rumah. Aku mendengar langkahnya di lorong, mendengar gagang pintu ruang kerja turun, dan pintu itu menutup dengan dentuman keras sampai bingkai di dinding ruang tengah bergetar. Tetapi aku sempat melihat tangannya sebelum ia hilang di balik kayu: gemetar, seperti tangan orang yang berusaha menahan sesuatu yang jauh lebih besar daripada pintu.
Aku kembali ke dapur tanpa menyalakan lampu. Aku berdiri di tengah ubin yang dingin, menunggu pintu di ujung lorong terbuka, dan tetap berdiri di sana sampai larut, bahkan ketika dari serambi terdengar mama menepuk tangan sekali.
"Acaranya sukses," katanya kepada Bibi. "Cucikan gelas-gelasnya."