Singapura menyambut Alana dengan langit kelabu dan gerimis tipis yang membasahi kaca taksi sepanjang perjalanan dari Changi ke kawasan keuangan di Raffles Place. Ia datang dengan alasan resmi—pertemuan dengan bank ketiga untuk merampungkan restrukturisasi utang—tapi tujuan sebenarnya tersembunyi di balik itu.
Reza menunggunya di sebuah kantor kecil di lantai dua belas sebuah gedung tua, kantor seorang akuntan forensik bernama Pak Tanaka yang pernah membantu Alana semasa ia bekerja sebagai konsultan restrukturisasi dulu. Orang yang ahli membongkar lapisan perusahaan cangkang—dan, yang lebih penting, bisa dipercaya.
"Sentra Abadi," kata Pak Tanaka, membentangkan diagram di meja kaca. Garis-garis dan kotak-kotak yang saling terhubung seperti akar pohon yang rumit. "Perusahaan Anda di Jakarta hanya ujung yang terlihat. Di belakangnya ada tujuh lapisan. Sentra Abadi dimiliki oleh sebuah perusahaan di British Virgin Islands. Yang itu dimiliki oleh trust di Singapura. Trust itu dikelola atas nama nominee—orang bayaran yang meminjamkan namanya. Dirancang agar pemilik sebenarnya tidak pernah muncul di dokumen mana pun."
"Tapi Anda menembusnya," kata Alana.
Pak Tanaka tersenyum tipis. "Dengan informasi dari flash disk yang Anda kirim, ya. Catatan Hendra Salim memberi kami nomor rekening kunci. Dari sana, kami menarik benang." Ia menunjuk ke kotak paling dalam di diagram. "Pemilik manfaat akhir dari seluruh struktur ini—orang yang menerima dividen, yang menandatangani perintah investasi besar, yang namanya tersembunyi di balik tujuh lapisan—adalah satu orang. Surya Danuatmaja."
Alana memandang nama itu, tercetak hitam di atas putih, di puncak struktur yang dirancang untuk menyembunyikannya. Bukti tak terbantahkan bahwa Surya-lah pengendali Sentra Abadi. Bukan dugaan. Bukan kesaksian yang bisa disangkal. Dokumen.
"Dan ini," kata Reza, mengeluarkan lembar lain, "ini yang Bu Alana cari sebenarnya."
Lembar itu menunjukkan aliran dana keluar dari salah satu rekening trust. Pembayaran rutin, bulanan, selama hampir setahun terakhir. Penerima: Garda Prima. Dan satu pembayaran lain, lebih kecil, ke rekening pribadi atas nama Yanti Mariani.
Perawat itu. Yang menyiapkan obat ayahnya. Dibayar langsung dari rekening yang dikendalikan Surya.
Alana menatap angka-angka itu dan merasa ruangan menyempit lagi, seperti malam ia menemukan kotak obat di laci. Tapi kali ini, di samping kemarahan, ada sesuatu yang lebih dingin dan lebih berguna. Kepastian. Rantai itu lengkap sekarang, dari Surya, ke rekening Singapura, ke Garda Prima, ke perawat yang menanam digoxin di rumah ayahnya.
"Pak Tanaka," kata Alana pelan. "Saya butuh ini dalam bentuk yang bisa dipakai. Laporan resmi, dengan jejak audit yang sah, yang bisa diserahkan ke penegak hukum dan diterima di pengadilan. Bukan hasil bobolan. Saya butuh jalur yang bersih untuk sampai ke sini."
Pak Tanaka mengangguk. "Sebagian besar dari ini bisa diperoleh secara sah lewat permintaan keterbukaan informasi dan kerja sama lintas yurisdiksi—sekarang setelah kami tahu persis di mana harus mencari. Itu butuh waktu. Berminggu-minggu, mungkin lebih. Tapi bisa dilakukan."
"Lakukan." Alana mengumpulkan dokumen-dokumen itu, tangannya stabil. "Mulai sekarang."
Di luar jendela, gerimis Singapura berubah jadi hujan deras, mengaburkan menara-menara kaca di seberang teluk. Alana memandangnya, dan untuk pertama kali sejak ayahnya meninggal, ia merasa bukan lagi yang diburu.
Ia teringat senyum Surya di RUPS, bisikannya tentang mengawasi setiap napas ayahnya sampai napas terakhir. Lelaki itu yakin ia memegang semua kartu. Yakin tiga puluh tahun kesabaran dan tujuh lapisan kerahasiaan membuatnya tak tersentuh.
Tapi ia salah dalam satu hal. Ia mengira Bramantyo yang menjebaknya. Ia tidak tahu bahwa orang yang sebenarnya merampas hidupnya tiga puluh tahun lalu kini duduk di seberang meja Alana, siap bersaksi melawannya. Aliansi Surya berdiri di atas sebuah kebohongan—dan Alana kini memegang kuncinya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Sekar.
Bu, Surya minta bertemu. Empat mata. Katanya dia punya tawaran yang tidak bisa Anda tolak.
Alana memandang layar, lalu ke luar, ke hujan. Ia mengetik balasan dengan tenang.
Atur. Aku akan datang.
Permainan, pikirnya, baru memasuki babak yang sebenarnya. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, ia yang melangkah maju lebih dulu.