Dave
“Maksudnya? Bisa tolong dijelasin?” dengan nada datar kuajukan pertanyaan pada wanita bertopi itu. Dia mengalihkan tatapan matanya ke arahku.
Entah kenapa aku tidak ingin menggunakan nada sinis seperti yang tadi kugunakan ketika berbicara dengan wanita yang menuduhku. Mataku mengamati sosok wanita bertopi itu. Aura ketenangan dan kekaleman menguar dari dirinya.
Meskipun berada di bawah sorotan kerumunan dan cengkeraman tangan wanita yang mengaku dilecehkan olehku, dia terlihat begitu bersahaja dan secara naluriah membuatku merasa enggan untuk menaikkan nada suaraku.
“Lebih gampang kalo aku tunjukin aja. Kalian berdua bisa kembali ke posisi awal kalian?” permintaannya membuatku heran. Tapi aku tetap memenuhi keinginannya.
Wanita yang sebelumnya begitu berapi-api menuduhku sekarang bergerak dengan enggan. Dia kembali berada di hadapanku dengan jarak yang sama persis seperti sebelumnya.
“Apa lagi sekarang?” ujar wanita itu ketus. Alisku terangkat. Mau tak mau pandangan menghakimiku terarah padanya.
“Kali ini kamu bisa liat sendiri gimana dia nyentuh kamu tadi. Karena sekarang kamu menghadap ke dia, jadi yang akan dia sentuh sekarang adalah tubuh depanmu,” kesiap dan pekikan sahut menyahut mendengar ucapan kalem wanita bertopi itu.
“Apaan sih? Kamu ini mau bantuin ato apa? Kenapa malah nyuruh cowok ini ngelecehin aku?” semburan kesal wanita itu sepertinya sejalan dengan apa yang kurasakan. Meskipun dengan alasan yang berbeda.
Wanita bertopi itu tidak menggubris omongan wanita di hadapanku. Dia malah menatapku dengan penuh ketenangan.
“Pegang kantong belanjaan itu dengan tangan kirimu seperti sebelumnya,” kuikuti perkataannya. “Sekarang pegang handphonemu dengan tangan kanan, persis kayak tadi,” lagi-lagi aku mengikuti instruksinya.
“Apa lagi?” tanyaku dengan nada datar.
“Sekarang kamu bergerak persis kayak tadi waktu kamu lagi telepon,” saat alisku terangkat naik, wanita bertopi itu memahami isyarat ketidaktahuanku. “Kamu tadi ngarahin badanmu ke kanan dan ke kiri sambil ngamati keadaan sekitar. Ya kan?” sambungnya sambil mulai memperagakan tindakanku. Kepalaku mengangguk paham.
Begitu aku mengikuti petunjuk darinya dan memalingkan tubuhku ke kanan, kantong belanjaanku mengusap dan menggeser tubuh depan wanita itu. Saat aku menggembalikan posisiku ke tempat semula pun, kantong belanjaan itu kembali menyentuh tepat di tubuh wanita itu. Seringaiku terukir perlahan. Kenyataan yang sebenarnya telah terkuak.
“Udah tau kan? Jadi sebenarnya dia memang nyentuh kamu. Sori, lebih tepatnya, kantong belanjaannya yang nyentuh kamu. Bukan tangannya yang ngusap tubuhmu,” ucap wanita bertopi itu sambil mengedikkan bahu.
“Sekarang, karena semua udah jelas, bisa nggak kita mulai antri dan bayar kayak biasa? Antrian udah mengular banget,” pintanya kalem sambil mulai menggeser kakinya. Masuk kembali ke dalam antrian pembayaran di kasir.
Dengungan ucapan dan gumaman terdengar begitu wanita bertopi itu menunjukkan kesaksiannya. Tempat para konsumen berkerumun tadi, sekarang mulai melonggar begitu wanita itu meminta dengan tenang agar semuanya kembali mengantri seperti semula. Bahkan wanita yang tadi menuduhku dengan berapi-api sekarang terlihat tidak nyaman dengan sikapnya tadi. Pandangan kami bertemu.
Kami berdua berjabat tangan dan saling mengutarakan permintaan maaf atas kesalahpahaman tadi. Aku tidak ingin memperpanjang dan memperumit urusan. Jadi begitu permintaan maaf telah terlontar dan pembayaran belanjaan telah selesai, tanpa membuang waktu lagi, lekas aku menyalakan mesin mobil dan melajukan kendaraanku untuk menemui Sophia.
Menelepon Paul di sela-sela aku mengendarai kendaraan hanya untuk menyuruh Paul meminta salinan rekaman di kasir supermarket. Dengan begitu, bila ada berita apapun yang muncul mengenai diriku, aku sudah memiliki bukti yang menunjukkan peristiwa yang sebenarnya.
Selain itu, entah bagaimana caranya, aku ingin mengetahui siapa wanita bertopi itu. Wanita yang tanpa perlu bersusah payah berhasil menarik perhatianku. Wanita yang ketenangannya begitu mudah menular.
Memberikan belanjaan pada Sophia dan segera bergegas menuju rumah produksi tempat Mike bekerja, ternyata tidak semulus rencanaku. Kemacetan jalan membuat laju kendaraanku melambat. Hingga ketika mesin kendaraan kumatikan dan kakiku melangkah keluar dari mobil, aku telah terlambat hampir satu jam.
Tentu saja reading sudah dimulai. Semua talent yang berperan duduk mengelilingi satu meja besar. Mike, sutradara film yang kudanai, penulis skenario serta dua orang yang sedang mendokumentasikan proses reading berada di ruangan ini. Aku tidak terlalu diperlukan di sini, memang. Hanya saja, aku ingin menyaksikan secara aktif proses dari produksi film ini.
Kututup pintu di balik punggung dengan perlahan. Enggan menarik perhatian dan mengganggu konsentrasi para talent. Saat seorang lelaki mendekatiku, yang ternyata adalah astrada dua, dan menawariku sebuah kursi, langsung saja aku menerima tawarannya. Kuletakkan panggulku dan mataku beredar ke seluruh penjuru ruangan. Dialog demi dialog terdengar.
“Maaf, Nak… Maaf,” sebuah suara yang familiar, membuatku menoleh dengan cepat untuk mencari asal suara. Mataku terbelalak saat menyadari siapa yang melantunkan suara tersebut.
“Ibu mesti biarin kamu pergi sama mereka. Ibu...ibu nggak mampu besarin kamu sendirian. Ibu nggak sanggup,” suara wanita itu bergetar saat mengucapkan dialognya.
Mataku bersinar cerah. Keingintahuanku memuncak. Tak sekalipun aku mengalihkan pandanganku dari wanita yang saat ini telah melepaskan topi dan masker yang tadi dipakainya. Wanita yang tadi pagi memberikan kesaksiannya di supermarket. Wanita yang dengan mudah berhasil menarik perhatianku.
“Ibu mau kamu seneng. Aman. Jadi anak yang ceria. Jadi wanita yang bahagia. Ibu...takut, Nak,” suaranya yang lirih namun penuh dengan emosi membuatku terkesima. Hilang sudah wanita tenang yang tadi kutemui di supermarket. Berganti dengan seorang ibu yang ketakutan dan putus asa.
“Ibu takut kalo kamu nggak akan jadi semua itu kalo nuruti keegoisan ibu. Kalo ibu masih menahanmu di sini hanya karena ibu begitu cinta sama kamu. Ibu takut ngerampas masa depan kamu yang cerah kalo biarin kamu hidup sama ibu…” aku mengikuti pandangan mata wanita itu yang sekarang diarahkannya pada salah satu talent.
Giselle. Ya, aku ingat beberapa kali melihat dirinya di berbagai kesempatan sosial. Saat ini wanita yang menarik perhatianku sedang memandang Giselle dengan sekilas titik emosional. Emosi yang lagi-lagi membuatku tidak dapat menyeret pandanganku dari dirinya. Hanya tertuju pada dirinya.
“Tolong...kumohon. Jaga anakku baik-baik. Tolong bahagiakan dia. Aku…” suaranya yang tercekat membuat hatiku seolah teremas. Namun secepat rasa itu muncul, secepat itu pula seringai di bibirku mengembang.
Reading. Meskipun merupakan proses penting dalam tahapan produksi film untuk mendalami karakter masing-masing peran, namun aku yakin para talent tidak perlu mencurahkan seluruh kemampuan dan emosinya sewaktu proses reading. Bila itu yang terjadi saat ini, aku yakin saat wanita itu melakukan syuting yang sebenarnya, maka emosinya tak perlu diragukan lagi.
Bahkan dengan selintas saja emosi yang menguar dari dirinya, aku dapat merasakan bagaimana kekalutan, keputusasaan seorang wanita, seorang ibu yang merelakan anaknya untuk pergi. Benakku berputar. Menggali ingatan dan kemampuan berpikirku.
Sudah sepuluh tahun aku memulai perusahaan media dari bawah. Selama sepuluh tahun itu aku bertemu dengan berbagai macam orang. Dari posisi yang paling sepele hingga pemegang keputusan tertinggi. Dari seluruh orang yang bekerja di dunia showbiz dan entertainment hingga para politikus dan pejabat.
Dengan ingatanku yang kuat, aku yakin sekali akan bisa mengenali wanita itu bila pernah bertemu langsung dengannya. Namun tidak. Aku yakin sekali tidak pernah berkenalan dan berbicara empat mata dengannya. Kuambil tabletku dan kuperiksa kembali dokumen untuk produksi film ini. Mataku membaca satu per satu nama orang-orang yang bergabung dalam produksi. Hingga satu nama berdering cukup kuat. Seringaiku mengembang. Kepalaku mengangguk paham.
Clare Willow. Dia. Tentu saja. Aktris papan atas yang berawal dari dunia model. Seorang prodigy di bidang film. Memiliki bakat yang luar biasa alamiah, berani mengambil karakter beragam dan tidak biasa. Dan secara fenomenal berhasil membuat hampir seluruh film yang dibintanginya meledak di pasaran.
Ringisan kecut bercampur dengan senyuman kecil terulas di bibirku. Sayang sekali, Clare Willow begitu tertutup dan menjaga privasinya dengan baik. Jarang sekali, atau bahkan tidak pernah dia bergabung di pesta-pesta kalangan sosialita dan selebriti. Karpet merah yang dihadiri Clare pun hanya premier film yang dibintanginya dan acara penghargaan di bidang perfilman.
Jadi, melihat dirinya di sini, bertemu secara langsung dengannya, adalah sebuah keberuntungan untukku. Anugerah bisa kubilang begitu. Tidak masalah bila itu terdengar berlebihan. Toh dia telah berhasil menarik perhatianku bahkan ketika aku belum mengetahui apapun tentang dirinya. Bagiku dia hanyalah wanita bertopi yang tadi membantuku dengan membersihkan namaku. Wanita yang dengan ketenangannya berhasil menular dan merasuki batinku saat itu.
Patah demi kata terlepas sahut menyahut. Suasana reading entah bagaimana menjadi lebih serius. Tidak ada perubahan dalam gestur tubuh Clare. Raut mukanya pun masih datar. Dia masih duduk dengan ketenangan yang sama seperti sebelumnya. Namun, intonasi, pelafalan dan emosi pada setiap patah kata yang diucapkannya begitu pekat terasa.
Seiring waktu berjalan, cerminan adegan demi adegan yang ada dalam naskah terlihat. Gambaran film mulai tercetak jelas di dalam benakku. Perasaan bahwa film ini akan berhasil dan meledak begitu kuat kurasakan. Aku terkesima. Takjub.
Begitu Mike menyatakan reading hari ini telah selesai dan akan melanjutkannya untuk empat hari kedepan, serentak erangan lega dan tepukan seluruh talent terdengar. Senyumku terulas melihat semangat yang menguar dari para talent.
“Oya sebelum itu, saya harap temen-temen semua bisa datang lagi kemari besok sampe empat hari ke depan. Reading masih belum tuntas maksimal. Sekalian juga buat proses fitting dengan tim wardrobe. Karena kita juga mesti diskusi sama penata artistik. Biar wardrobenya sesuai sama color palette yang mau ditampilin di film. Bisa ya, Temen-temen?” aku tersenyum saat mengamati para talent yang menyahut instruksi Mike dengan antusiasme tinggi.
“Untuk jadwal rehearsalnya, akan segera kami kabari. Secepatnya yang pasti. Sebisa mungkin dalam satu ato dua minggu ke depan. Mendekati proses syuting,” tukas Mike. “Kalo gitu, ayo kumpul dulu yuk. Kita ambil dokumentasi dulu,” lanjut Mike sambil bergeser.
Aku menegakkan tubuh dan membiarkan talent lain mendekati sisi Mike. Dengan astrada dan beberapa kru berada di sampingku, aku membiarkan diriku mengikuti pembicaraan mereka. Hanya astrada itu saja yang mengetahui peranku di sini sedangkan kru lainnya buta akan hal itu. Tapi dengan begitu aku semakin menikmati obrolan kami dengan bebas. Hingga Mike mendatangiku.
Dia memperkenalkan penulis skenario dan beberapa talent. Kepalaku mengangguk. Mengulaskan senyum ramah dan profesionalku kepada mereka semua. Berbincang ramah meskipun entah bagaimana mataku tidak pernah lepas dari Clare yang sedang mengobrol pelan dengan satu wanita lainnya.
Mataku mengerjap saat menyadari Clare berjalan ke tempatku, Mike dan beberapa orang lain berdiri. Clare menyapa Mike dan berpamitan padanya. Menganggukkan kepalanya dan mengulaskan senyum kecil pada para talent dan penulis skenario. Mengabaikanku sepenuhnya. Satu tindakan yang tidak pernah kualami sebelumnya. Hal itu benar-benar mengusikku.
Saat Clare hendak melangkah melewatiku, tanganku terulur tanpa sadar. Dengan mudah tanganku meraih tangannya dan menyentuhnya sekilas. Aku tidak biasa seperti ini. Jarang sekali aku memulai kontak fisik dengan orang lain selain jabat tangan atau sikap profesional lainnya. Kali ini, tidak ada setitikpun profesionalisme yang kurasakan terhadap Clare.
“Tunggu. Tadi pagi kamu pergi terlalu cepat ninggalin aku. Aku belum sempet ngomong apa-apa,” tukasku begitu langkah Clare terhenti. Seringaiku terulas saat menyadari Clare menoleh dan memandangku. Ketika matanya sedikit membelalak begitu pengenalan terlintas di benaknya, senyumku semakin melebar.