19
Pagi-pagi sekali, ketika sekolah masih baru buka, Nara sudah berada di ruang Broadway. Kembali berkutat mengedit video pesanan yang nyaris selesai. Rencananya hari ini juga Nara serahkan ke guru Kimianya meskipun waktu pengerjaan masih sisa empat hari lagi. Sebelum ke ruangan ekskul, Nara lebih dulu mendatangi penjaga sekolah untuk meminta kunci ruangan.
Ruang Broadway ukurannya ama seperti ruangan-ruangan yang lain. Ada sekat setinggi setengah ruangan untuk memisahkan meja panjang yang difungsikan sebagai meja diskusi dan bagian penyimpanan properti seperti kamera, lensa, hardisk eksternal. Ada fasilitas seperti standard AC, TV plasma dan kipas angin. Kemudian di sisi tembok, ada dua meja berisi seperangkat komputer yang bisa menyala ketika nomor induk siswa diinput dalam kolom password. Salah satu meja itu Nara gunakan untuk mengedit.
Karena berangkat kelewat pagi ketimbang biasanya Nara belum sarapan. Untung Mami sigap membawakannya bekal. Meski hanya dua tangkup roti, biskuit energi dan sekotak s**u Nara sudah siap mengedit video hingga bel masuk nanti.
"Lembur lo, Na?"
"Yoi." Nara menoleh ke orang yang menyapanya. Ada Zura memasuki ruangan dengan laptop. "Ngedit poster lo?"
"Kok tau?"
"Itu, di papan, nama lo kejadwal ngedit poster bulan bahasa."
Papan yang Nara maksud adalah whiteboard yang ditulisi jadwal anak-anak Broadway dalam dua bulan kedepan. Untuk jadwal Nara, dia kebagian memfoto behind the scene hari-hari menjelang festival dan dokumentasi video selama festival bulan bahasa sekaligus mengeditnya untuk kemudian di upload di yutub sekolah. Itu masih sebulan lagi dan Nara punya banyak waktu santai dulu. Berbeda dengan Zura yang punya deadline desain dan anak-anak Broadway lain yang akan sibuk sesuai jadwal masing-masing.
"Yoi. Anak OSIS cerewet banget nyuruh segera benerin. Yang temen lo itu, si Deru, gitu-gitu ternyata dia cerewet banget."
"Anak kelas gue nggak ada yang nggak cerewet. Gue tebak dia pasti nyuruh lo bikin desain yang banyak item-nya."
"Nah, iya. Kok lo tahu aja sih?"
"Iyalah, gue sendiri yang gambar."
"Tahu gitu. Tuker tempat yok, Na. Gue mau dah jadi wartawan festival gantiin elo."
"Kalau itu, sih jelas nggak bisa karena wartawan festival nggak boleh nggak cowok."
"Ah, malesin." Ada satu peraturan di ekskul Broadway bahwa tugas meliput dalam artian dokumentasi foto dan video hanya dilakukan anggota ekskul cowok karena tugas itu dinilai berat. Cowok bisa fleksibel dan dinilai gampang ramah. Berbeda dengan anggota cewek yang dinilai terlalu pemalu.
Zura melirik ke Nara. Perhatiannya tersita oleh biskuit energi punya Nara. "Itu biskuit energi varian baru? Kok lo punya sih."
"Lo lupa Mami gue punya toserba?"
"Lah?" Zura nyengir sambil menengadah tangannya menangkap lemparan biskuit Nara. "Mulai amnesia nih gue. Nirwana, kan? Gue jadi kedengaran kurang ajar karena lupa Mami lo sering ngasih gue promo kalau belanja kesana. Btw, gue denger Kak Neyshan mau nikah?"
"Iya. Bokap gue udah mulai nyebar berita."
"Terus, nyebar undangan yang beneran kapan?"
"Katanya Akhir tahun."
"Wiiih, ikut seneng, Na buat Kak Ney. Ah, gue kangen dia."
Nara mengangguk. Dalam silsilah keluarga, Zura masih satu kakek buyut dengan Nara. Jadi keduanya bisa dibilang saudara sepupu. Sebenarnya sejak SMP keduanya sudah satu sekolah. Tapi Zura jarang bertemu apalagi ngobrol dengan Nara begitupula sebaliknya karena keduanya tidak pernah berada di kelas yang sama sejak SMP. Keduanya dekat ketika SMA karena sama-sama masuk ekskul Broadway.
"Nara."
"Apaan?"
"Itu, temen lo yang namanya Rasen udah gue denger-denger udah punya calon bini. Emang bener, Na? Kapan tunangannya emang?"
"Bener. Acara lamarannya tertutup. Dua bulan lalu katanya."
"Oh."
"Kenapa emang? Jangan bilang lo sempet naksir Ran?"
Zura ketawa sampai lesung pipinya nampak. "Lah, emang." Katanya.
"Anjirun pisan. Kenapa nggak ngomong ke gua?"
"Kagak, ah. Lo cepuan."
"Yailah. Tapi emang apa sih yang lo suka dari Ran?"
"Jujur ya, Na. Gue nggak cuma suka sama Ran. Gue juga suka Affa."
"Lah, maruk."
"Ketika lo bisa suka ke lebih dari satu lawan jenis. Kenapa enggak?"
"Yailah."
"Lagian, gue bukan suka. Tapi kagum."
"Kagum apa kagum, tuh. Eh tapi, sebelum janur kuning melengkung, si Ran masih bisa dipepet, Ra."
"Kayak nggak ada cowok laen aja. Gue nggak mau ngerusuhin hubungan orang laen yang on the way resmi."
"Ea."
Zura dan Nara saling tatap, sebelum keduanya tertawa-tawa sendiri.
Proses editing memakan waktu lebih cepat ketimbang yang Nara perkirakan. Cowok itu tengah menunggu pemindahan file video yang sudah jadi ke flashdisk sambil makan bekalnya.
"Udah bel, Na."
"Sana ke kelas."
"Lo kagak ke kelas?"
"Jam pertama gue Bu Hanum. Orangnya kan baik hati. Gue telat dikit kayaknya nggak masalah. Tinggal pindahin terus kasih ke Bu Ningrum."
"Yaudah. Tolong kuncinya lo gantungin ada jangan lo bawa karena nanti habis istirahat kakak kelas mau pinjam ruangan buat rapat."
"Yoi."
Tepat sepeninggal Zura, pemindahan file selesai. Nara bergegas menghabiskan bekalnya ketika pintu ruangan terbuka dari luar. Cowok itu sempat terlonjak kaget.
"Bu Ningrum?" Sosok ibu-ibu gendut —Nara tidak berusaha untuk mengejek, dia hanya mengatakan fakta—muncul.
"Saya mau pinjam proyektor buat rapat guru mapel."
"Saya ambilkan, Bu."
"Oh iya, Narayan. Apa itu video pembelajaran pesanan saya?"
"Iya, Bu." Jawab Nara tanpa menoleh karena dia tengah berkutat membuka lemari untuk mengeluarkan proyektor.
Nara kemudian mendekati Bu Ningrum sekaligus dengan flashdisk.
"Saya sudah pindah video-nya disini, Bu." Ujarnya.
"Boleh puterin videonya."
"Bisa, Bu." Nara beralih ke komputer nya lagi. Cowok itu menyambungkan komputer dengan TV plasma yang ada di sana.
Video yang Nara buat adalah video pembelajaran kimia singkat. Isi video sesuai script yang Bu Ningrum beri padanya. Video mengenai atom yang menyangkut bahan tersusunnya yakni proton, neutron, dan elektron. Kemudian juga ada materi unsur dan senyawa. Meski bukan anak IPA, Nara nggak kagok untuk memahami materi-materi itu dan memindahnya jadi video materi yang edukatif dan menarik.
"Bagus. Ini lebih dari ekspektasi saya. Cakep. Kamu emang berbakat." Dia akhir kalimatnya, ibu guru jurusan sebelah itu memancungkan jempol sambil tersenyum.
"Makasih, Bu."
"Buat payment-nya nanti agak siangan."
"Santai aja, Bu." Potong Nara cepat. "Saya senang ibu puas sama hasilnya."
"Ohya Nara. Kamu apa nggak mau punya aplikasi penyedia jasa yang ngehubungin kamu sama klien."
"Aplikasi penyedia jasa?"
"Iya, cari aja. Aplikasi yang bisa menghubungkan kamu sama klien-klien yang berpotensi perlu tenaga kamu, dan nantinya, mereka bayar kamu sesuai hasil kerja kamu." jelas Bu Ningrum. "Bakat foto, editing video, lain-lain yang kamu punya bisa kamu salurkan kesana. Lumayan, hasilnya bisa buat beli cilok."
"Kayaknya menarik, Bu. Saya mau cari-cari info kalau gitu."
"Bagus. Ikutan katak gitu bisa bikin kreatifitas kamu bertambah, terus dapet duit lagi."
"Iya, Bu. Makasih banyak buat sarannya."
Sepeninggal Bu Ningrum, Nara dibuat diam. Dia mulai membayangkan seperti apa itu aplikasi penyedia jasa yang Bu Ningrum sebut. Dan bagaimana nanti dia bisa mengenalkan karyanya lebih luas lagi.
Kayaknya lebih dari asik. Nara pengen mencoba.