Jauh dalam hati, meski membenci kakek karena sikapnya yang sering timpang dalam hal apapun antara cucu dari dengan cucu lainnya. Nara masihlah menyimpan banyak stok kagum dan hormat pada sosoknya. Kakek adalah representasi dari berjuang. Perjalanan hidupnya mungkin bisa dibaca di buku-buku biografi yang beredar dipasaran. Namun ada satu yang jarang dikatakan buku-buku itu tentang kakek bahwa sosoknya lebih mengagumkan dari yang mereka ceritakan.
Indurasmi tidak serta merta tumbuh besar sendirian. Ada banyak penyokong dan pemimpin yang mampu mengarahkan. Kakek adalah orangnya.
Sejak muda, Kakek adalah pengelana. Keluarganya miskin, dia memiliki banyak saudara yang semuanya membutuhkan makan. Ayah Kakek hanyalah tukang pukul besi di pabrik. Ibunya pedagang di pasar. Mereka berdua hanya mampu mencukupi kebutuhan utama anak-anaknya yakni makan. Dan oleh karenanya, Kakek perlu bekerja untuk mendapatkan uang tambahan. Agar apabila dia ingin jajan, dirinya tidak perlu merepotkan orang tuanya yang sudah susah.
Kakek lalu mencoba segala macam pengalaman yang membuatnya penasaran. Dari petualangannya, kakek kemudian berhenti di sebuah gelanggang kapal. Awalnya hanya buruh angkut. Namun karena kerja yang dia lakukan selalu baik ditambah sifatnya yang tidak mudah puas juga selalu ingin belajar, kakek pindah oleh boss-nya menjadi juru tulis. Kala itu, kakek tidak pernah bermimpi akan memiliki dua galangan kapal di negeri ini yang tiap tahun membuat kapal-kapal feri sesuai kebutuhan pemerintah.
Indurasmi tidak hanya itu. Sayapnya melebar ketika kakek berani mengiyakan tawaran seorang teman untuk membuka pabrik perakitan alat berat. Ketika usahanya berhasil, kakek tertantang untuk membuka pabrik perakitan kendaraan-kendaraan besar. Kemudian, ketika apa yang semua dia usahakan selama Bertahun-tahun berbuah baik, kakek berani mengakuisisi perusahaan besi baja.
Sesungguhnya cerita-cerita itu tidak sesingkat yang ditulis. Kakek juga mengalami banyak kegagalan. Ditipu teman sendiri hingga nyaris dipenjara. Hidup dalam kebangkrutan ketika usahanya tidak berjalan sesuai rencana. Life is still going on. Ketika mencoba sesuatu, selalu ingat bahwa gagal dan berhasil masih sepaket dengan kata mencoba. Hidup terus bergerak maju. Buang waktu dan tenaga saja bila hanya meratapi kegagalan atau beruforia dengan kesuksesan. Itu nasehat yang pernah iseng Nara baca dadi sebuah buku biografi yang mengulik kisah hebat kakek.
Sosoknya selalu hebat. Sekalipun sikapnya kadang Nara pertanyakan. Yah, kemudian Nara sadar bahwa sempurna tidak dimiliki manusia. Kakek hebat dalam perjalanan hidupnya. Dari miskin ke kaya. Kecil ke besar. Tapi tetap saja, Nara tidak menyukai sikap kakek yang timpang sebelah dalam memperlakukan cucu-cucunya.
Sejak kecil, Nara selalu mendapat hadiah Natal dari Kakek. Hanya dia dan Mas Utha yang dapat. Sedangkan para kakak perempuan dan Gala sama sekali tidak. Awalnya Nara tidak ambil pusing karena Papa—yang sangat berjasa membuat keadilan bagi anak-anaknya—sengaja memberikan hadiah dari kakek secara sembunyi-sembunyi atau kadang membagi hadiah itu secara sama rata untuk semua anak-anaknya. Namun satu malam, ketika Nara masih kelas 5 SD, Nara mendengar obrolan Bunda dan Papa tentang hadiah natal dari kakek.
Nara awalnya tidak percaya. Namun kemudian otaknya menghubung-hubungkan segala informasi yang dia miliki dengan hal ini. Kakek memang peduli padanya. Tapi Nara tidak pernah melihat Kakek menyapa dan memberikan perhatian khusus sama sepertinya ke para kakak perempuan atau pada Gala. Atau justru tidak pernah sama sekali. Kakek hanya fokus padanya dan Mas Utha.
Nara tidak suka itu. Nara benci itu.
"Makasih, Kek. Aku bakal ingat." Jawab Nara. Meski mengucapkan hal barusan dengan sedikit main-main. Dalam hati, Nara bersungguh-sungguh.
Entah bagaimana nanti, Nara sudah mengunci tujuannya yakni menjadi pegawai Indurasmi. Sekalipun setelahnya dia akan keluar dan menekuni hobi. Seperti tujuan awal.
***
"Na, kenapa akhir-akhir ini lo jadi pendiam sie?" Tanya Ochoh suatu siang waktu kelas mereka jam kosong.
"Diem gimana?" Tanya Nara balik. Cowok itu ngulet sebentar sebelum kembali merebahkan kepala ke antara lipatan tangannya di meja.
"Ya, lo jarang bolos lagi. Jarang aneh-aneh juga."
"Oh, itu. Gue lagi mencoba untuk dewasa."
"Ceilah."
"Serius."
"Kata Affa, lo les privat ya makanya jarang mau join main."
"Hooh. Jadwal gue padat tiap hari."
"Kayak orang penting aja."
"Gue emang orang penting buat orang-orang yang sayang gue."
"Hasek."
Memutar kembali ucapan Ochoh tentang dirinya yang jadi pendiam di otaknya, diam-diam Nara setuju. Akhir-akhir ini, mungkin terhitung dua bulan sejak dirinya mau les privat, Nara jadi ogah bolos dan bisa bersikap lebih 'waras' di sekolah.
Kemarin sewaktu ujian akhir semester, Nara merasakan perubahan ketika dirinya mulai serius. Tidak hanya nilai sosiologinya, nyaris semua nilai kecuali bahasa Inggris miliknya mengalami kenaikan yang baik. Nara juga tidak menyangka ini. Apalagi Bunda yang kebetulan tidak sedang bertugas mengajar pramugari di negara orang seperti pekerjaannya selama ini, bisa mengambilkan raport Nara.
"Nilai kamu naik semua, Na." Ujar Bunda. Wanita itu membolak-balik halaman raport sang anak. Nara yang berada di sampingnya ketawa sombong.
Iya juga ya, kalau kita udah serius tuh, ada aja kemajuan yang terjadi. Dengan begini, Nara jadi tergugah buat pengen terus serius. Kalau dia terus menerus bisa serius. Kemajuan macam apa yang bakal dia capai, ya? Nara jadi penasaran.
"Kalau gini, artinya kamu bisa dapat hadiah."
"Serius Bund?"
Gita mengangguk dengan yakin. "Coba, Narayan yang udah mulai dewasa ini mau apa?"
"Mau sweater, Bund. Mau aku pakai waktu nge-band natalan nanti."
"Siap. Nanti kita beli."
Untuk soal Band Gereja yang Nara ikuti tidak ada banyak perubahan selain latihan dua Minggu sekali. Namun dalam dua bulan belakangan, mengingat natal semakin dekat. Latihan di ditambah jadi seminggu sekali. Nara sempat bolos sekali karena capek. Tapi karena itu dia malah ketinggalan banyak sama yang lain, Nara jadi nggak pernah bolos latihan lagi. Kini, seminggu sebelum hari natal. Yang artinya seminggu sebelum pertunjukan, Nara udah heboh telpon-telponan sama saudara-saudaranya dan Divi. Bertanya apa mereka bisa pulang untuk merayakan natal, dan untuk melihatnya manggung untuk kali pertama.
Sayangnya, hanya kak Ney yang bisa. Divi tiba-tiba berkata tidak bisa pulang dan memilih merayakan natal di Semarang. Kak Naz baru akan pulang tanggal 27. Para Abang tidak bisa pulang sama sekali dan milih merayakan hari raya Natal di KBRI.
Meski sedih karena itu, Nara tetap senang karena dia memakai sweater pemberian Bunda di hari spesialnya. Sepatu pemberian Mami. Dan tatanan rambut oleh Papa.
Mendadak, Nara berasa jadi artis karena waktu ngaca dia ngerasa ganteng banget hari ini.
Ibadah hari itu berlangsung lancar. Karena band Gereja adalah penampilan hiburan, Nara dan tim-nya kebagian tampil waktu akhir saat ibadah sudah selesai. Dalam satu tim, ada 4 orang. Nara kebagian keyboardist. Memang, nggak banyak yang tahu dan Nara sendiri juga tidak mengumumkan ke teman-temannya kalau dia pintar main piano. Papa suka dentingan piano dan kadang ketika luang memainkan piano yang ada di rumah. Dari sana, ketertarikan Nara dengan piano tumbuh. Hingga kini, Nara merasa lebih jago main keyboard yang masih mirip-mirip dengan piano.
Lagu yang mereka bawakan tidak banyak. Hanya dua lagu. Yang pertama Joy to the World. All I Want for Christmas is You miliknya Mariah Carey.
Ketika seluruh pasang mata ke arahnya saat intro lagu Joy dimulai, Nara menunduk. Berupaya fokus pada jari-jemarinya diatas tuts keyboard. Merasa malu entah kenapa ketika dirinya jadi pusat perhatian.
Lagu Joy yang familiar membuat orang-orang ikutan bernyanyi. Nara juga tanpa sadar menggumamkan lirik. Lagu pertama selesai dengan cukup memuaskan. Banyak dari para tamu tepuk tangan menghargai.
"Lagu kedua punya lirik yang cukup bikin galau. Tapi saya mohon jangan galau di hari yang penuh kebahag dan semangat ini." Edgar, si vokalis berujar. "Lagu ini diperuntukkan untuk orang-orang tersayang kita, keluarga, teman yang di hari raya tahun ini belum bisa merayakan natal bersama kita. Kita doakan, semoga Tuhan memberkati mereka."
Nara memulai aksinya. Ada intro lagu sekitar 30 detik yang hanya diisi oleh ketukan jari ke keyboard. Bisa dibilang solo stage Nara.
Dulu ketika lagu punya Mariah Carey ini dipilih, Nara langsung setuju karena liriknya menggambarkan Abang dan Divi yang mau sekolah jauh. Ada kemungkinan mereka tidak akan bisa pulang saat Natal dan, itulah yang terjadi. Tapi semakin kesini, ketimbang bernyanyi untuk mereka, Nara lebih ingin kehadiran mereka masing-masing secara riil di depannya.
Ketika dipertengahan lagu, Nara sengaja mengangkat kepala. Dia memandangi Mami, Papa, Bunda yang duduk berderet. Ketiganya nampak bahagia. Papa mengacungkan handycam sama seperti tadi. Merekamnya dengan senyum lebar.
Nara ikutan tersenyum. Pandangannya kemudian beralih pada bangku deretan tengah. Dimana orang tua Divi dan Chio berada. Sesaat, Nara dibuat mematung kala Chip mengacungkan layar hape. Meski penglihatan Nara nggak sebaik itu. Nara juga tidak rabun untuk tahu layar hape itu adalah penghubungnya dengan Divi melalui panggilan video call.
Divi melihatnya meski dari jarak yang jauh.