28
Nara melirik Mami. Perempuan yang ikut merawatnya dari bayi itu nampak terharu melihat mertua, anak dan suaminya berjalan perlahan menuju tempat duduk yang disediakan di depan sana. Nara tahu, kehadiran Kakek yang sangat mengejutkan membuatnya terkejut sekaligus senang. Karena barang kali bisa Nara tidak salah, ini kali pertama Kakek dekat dengan keluarganya terlebih anak-anaknya.
Respon Bunda lain lagi. Perempuan yang melahirkan Nara itu sempat memasang ekspresi julid ke arah Kakek. Bunda bukan tidak senang Kakek berada disini. Bunda mungkin bertanya-tanya ada gerangan macam apa atau kepala Kakek mungkin sudah terbentur sesuatu hingga laki-laki itu kemari dan ikut acara ini. Memang, Nara akui kehadiran Kakek sangat mengejutkan meski sudah undanga. Tetap saja, saking lamanya perang dingin antara Atmaditya dan Kartorarso, atmosfer bisa begitu berbeda ketika dua pasangan anak-ayah itu berada dalam ruangan yang sama dengan jarak yang cukup dekat.
Kakek ikut duduk di kursi yang disediakan di didepan sana. Tepat di tengah-tengah antara Ney dan Dimas. Sedangkan Papa duduk di meja tempat isteri-isterinya. Acara kemudian berlanjut dengan penyerahan seserahan. Untuk itu, Nara dan saudara-saudaranya yang lain mengikuti prosesi. Ketika berfoto, Kakek ikutan berdiri. Meski posisinya agak jauh dari Nara. Nara bisa melihat Kakek tersenyum lebar. Kemudian acara dilanjutkan dengan maksud kedatangan calon pengantin pria dan dilanjutkan dengan jawaban dari calon pengantin wanita. Baru setelahnya acara tukar cincin. Kakek masih tetap disana duduk di antara para orang tua pihak laki-laki dan perempuan. Mami nampak terharu, Bunda juga. Apalagi Papa yang berkali-kali mengusak hidungnya. Segalanya Nara simpan dengan rapi dalam kamera yang dia bawa.
Prosesi seterusnya adalah Permohonan restu antara Ney dan Dimas ke orang tua masing-masing. Dimulai dari memohon restu dari Kakek.
Lagi-lagi Nara dibuat cengoh ketika Kakek merengkuh punggungnya dalam dekapan sayang. Kakek benar-benar berbeda hari ini. Apa Kakek sudah berdamai dengan egonya?
Apapun itu, Nara tidak tinggal diam untuk mengabadikan momen itu.
Nara laku kembali ke meja tempatnya duduk. Tidak lama ada meja berisi 5 orang termasuk dirinya itu sedikit berisik ketika suara ponsel bersahutan. Sadar kalau notifikasi muncul dari ponselnya, Utha segera memeriksa ponselnya. Nara memperhatikan saudara kandungnya itu.
"Kenapa, Mas?"
"Saham Indurasmi naik. Sampai 14 sekian persen."
Mendengar itu, Aditya tertawa.
"Lo kenapa, Om?" Tanya Gala.
"Tadi pagi saham Indurasmi sempet turun di minus 1,57%. Ternyata bisa secepat itu naik lagi." Aditya melirik ke arah Utha. Kedua pria yang terbilang senior di meja ini pun saling terkekeh kemudian.
Nara yang tidak paham apa yang terjadi mencoba bertanya pada Naz. Tapi malah dijawab dengan omelan.
"Lo bisa anteng gak sih. Tuh liat di depan lo ada acara sakral harusnya lo diam."
Lalu, Nara pindah bertanya ke Gala. Ditanya begitu, Gala ikutan membuka aplikasi sekuritas miliknya. Cowok itu tidak perlu mencari lagi karena naiknya harga saham Indurasmi menjadi highlight berita dari aplikasi tersebut.
"Gue cuma punya tiga slot saham di Indurasmi. Tapi segitu doang kalau gue jual sekarang di bursa saham, gue untung banyak." Ujar Gala.
"Lo ngomong apasih gue nggak ngerti, bang."
"Ada suntikan dana masuk ke Indurasmi. Itu bikin saham Indurasmi tinggi. Buat pemegang saham, ini bakalan jadi momen menguntungkan karena bursa saham hari ini dimulai tepat setelah acara ini dimulai, bakalan ada jual beli besar-besaran. Indurasmi bisa jadi dapat investor, suntikan dana tambahan, keuntungan lain berkali-kali lipat dari jual-beli saham di hari biasanya dari jual beli di bursa saham nanti. You know what I mean. Termasuk dengan hadirnya kakek disini, mungkin berperan serta dalam naiknya saham Indurasmi."
Dari penjelasan panjang lebar Gala itu, Nara hanya menangkap satu hal.
"Maksud lo kakek kesini karena ada iming-iming?"
Gala mengendikkan bahu.
Tidak mendapatkan jawaban pasti dari Gala, Nara menoleh ke Utah yang sibuk dengan ponselnya. Nara kemudian berpindah pada Aditya. Aditya awalnya sempat gagal paham sesaat karena mengira Nara kenapa menatapnya dengan pandangan bertanya.
"Segalanya bisa terjadi dan punya banyak arti. If you think ego can be lowered easily, you get wrong. Your Grandpa still relates the blood relationship between your Mami and him as a business event."
"Om-om tuh, dipanggil Om Pras." Naz menyela. Bikin obrolan Nara dan Aditya terhenti di tengah-tengah.
Nara kemudian melihat ke arah depan. Ada tiga bersaudara Kartorarso berdiri hendak berfoto. Ada Kakek juga diantara mereka. Nara tidak melepaskan pandangannya pada Kakek yang kini tengah berdiri bersama calon besan Papa. Ada Papa juga disana. Wajah Papa nampak memerah entah karena apa. Tapi senyumnya tidak luntur ketika menatap orang-orang.
Apa benar kedatangan Kakek kemari karena alasan paling masuk akal yakni karena uang?
***
Tiga sejak acara pertunangan Ney, hari-hari Nara disibukkan membantu Mami dan Bunda mempersiapkan pernikahan kakak tertua selain sekolah dan les privat.
Pernikahan Kak Ney dilaksanakan seminggu sejak hari pertunangan. Karena itu Bunda dan Mami lumayan repot meski banyak yang membantu. Nara juga tidak pernah menghadapi kerepotan yang seperti itu jadi gampang lelah karena tugasnya adalah selalu ada apabila dibutuhkan. Pernah malam-malam, Nara ikut Mami menemui seorang penjual bunga segaryang katanya baru pulang dari luar kota. Makanya karena banyak sekali hal-hal yang tidak terduga, Nara stop dulu magang ke Indurasmi.
Tapi enaknya, rumah jadi ramai. Para nenek menginap di rumah. Saudara-saudaranya berkumpul. Sesuai ide Utha dan Gala, kelima bersaudara Atmaditya kembali melakukan kenakalan-kenakalan masa kecil mereka seperti main air di kolam tiup sambil mencuci mobil, membuat rujak buah seember kemudian dibagi-bagikan ke satpam komplek dan tetangga sekitar. Menggelar konser kecil-kecilan dengan vokal utama Nazneen dan Utha diiringi genjerengan gitar Gala. Nara ikut heboh saja sambil tidak lupa memastikan konsumsi berupa chiki-chikian aman.
Kemudian, di hari-hari terakhir menjelang pernikahan Ney, adalah hari dimana kesedihan semakin bikin sesak.
Mami mulai sensitif karena hal-hal kecil. Bunda lebih sering ngomel-ngomel pada sesuatu yang dia rasa tidak cocok dengannya. Para nenek semakin gencar membuka sesi kotbah tentang bagaimana kehidupan setelah menikah sampai-sampai mewejangi Nara yang bahkan tidak berfikir akan menikah di masa depan.
"Mas Utha tuh harusnya udah mulai memikirkan jodoh." Ujar Nara waktu mereka berlima berkumpul dengan para nenek. "Ya kan, Mayang?"
"Iya. Kerjaan udah dapet. Udah lulus kuliah. Tinggal cari siapa yang bisa saling bikin bahagia aja."
"Tuuuuhhh, Mas dengerin Mayang!"
"Kayaknya Naz aja dulu." Ujar Utha. Cowok rambut gondrong yang kini dikuncir itu menunjuk Naz dengan keripik singkong di tangannya. "Dia udah punya calon!"
"Ngawur!"
"Terus yang waktu tunangannya Kak Ney kemaren. Yang cowok tinggi itu siapa?"
"Kenalan. Dia dokter universitasnya kak Ney. Ya kan, Kak?"
"Lo berdua cocok, kok." Komen Naz.
"Wiiiiiiiiiihhhhh." Seru Nara dan Gala berbarengan.
"Kak Naz intuisinya nggak pernah salah."
"Bener." Nara menimpali ucapan Gala.
"Bener-bener aja, lo. Eyang! Belain aku, dong." Adu Ney.
"Apa yang mesti dibela. Dikit lagi juga kamu, Utha, Gala, Nara bakalan nikah. Tinggal nunggu giliran aja." Ujar Eyang kalem.
Hari itu Nara merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Masih ingat dengan jelas di ingatan Nara sewaktu Kak Ney sering mengantarnya pakai sepeda ke TK karena SD Kak Ney berdekatan. Kebaikan-kebaikan kecil Ney padanya. Termasuk membiarkan Nara tidur di kamarnya. Nara semakin ikutan pengen nangis waktu mengingatnya.
Ternyata nostalgia gini aja bikin Nara meleyot. Nara jadi nyesel waktu ngatain Bunda nangis-nangis kemarin malam.
"Siapapun ibu didunia ini, kalau anaknya mau nikah, pasti nangis. Terharu karena anak yang selama ini selalu bergantung sama dia udah siap buat mandiri." Ujar Bunda sewaktu Nara datang ke kamarnya sehabis ngumpul di ruang tengah bareng saudara-saudaranya dan para nenek. "Dulu, Ney selalu jadi pusat perhatian semua orang karena dia anak pertama, cucu pertama juga. Segala yang berhubungan dengan Ney selalu terbaik." Kenang Bunda sambil melipat baju yang sengaja di keluarkan untuk di tata kembali. "Dulu Bunda selalu mastiin dia nggak kekurangan. Nggak cuma Bunda, tapi juga keluarga besar. Eyang sempat marah sama Mami karena buat Eyang, Kak Ney dulu masih orang lain. Tapi lihat, manusia bisa luluh karena kasih sayang. Mami nggak berhenti buat selalu sayang anak-anak Papamu. Dan Eyang, ngelihat kasih sayang Bunda, jadi luluh sendiri. Kamu lihat sendiri,l kan Na, sekarang Eyang sayang banget sama Ney, Naz dan Gala."
Nara diam-diam mengangguk. Teringat Eyang malam-malam membuatkan Ney s**u hangat karena Ney begadang. Membuatkan sweeter rajut untuk Naz karena Naz sering kedinginan. Dan selalu memasakkan makanan kesukaan Gala, seperti tadi waktu makan malam Eyang secara khusus membuat brengkes hati ayam untuk Gala.
"Perasaan haru Bunda nggak ada apa-apanya sama perasaan haru Mami. Apalagi Papa. Kamu tahu, Na. Papa dulu pernah bilang kalau dia nggak bakal menikahkan anak perempuannya karena takut anak perempuannya nggak bisa bahagia."
"Ngaco banget si Papa."
"Papa bilang gitu karena sayang."
"Kalau anak perempuan yang nikah, satu keluarga sedih. Kalau anak laki-laki apa bakal sedih juga, Bunda?"
"Nggak dong. Suasananya bakalan mencekam."
"Mencekam kayak gimana?"
"Nanti kalau udah waktunya kamu bakal ngerasain sendiri."
"Ah, Bunda nggak asik."
Nara bangkit dari posisi rebahannya. Pemuda itu keluar kamar Bunda kembali ke kamarnya sendiri. Ketika masuk, Nara disambut suara Utha yang tengah melakukan video call.
"Mas minggir gue mau tidur."
"Sana lo di kasurnya Gala. Gue lagi posisi wenak ini."
"Abang kemana sih?"
"Bikin jamu beras kencur sama Eyang."
Melihat Utha tidak bergerak untuk pindah dari kasurnya, Nara keluar kamar. Niatnya mau ikutan bikin jamu tapi kakinya malah belok ke balkon.
Seperti biasan, ada Papa dengan lembaran koran, wedang jahe, dan kacamata baca.
"Ngapain, Pa?"
"Kamu nggak lihat. Papa lagi baca."
"Dih, baca apaan tadi Papa ngelamun." Nara mendekati pembatas balkon. Pemuda itu melongok ke bawah dimana halaman penuh dengan karangan bunga ucapan selamat dan beberapa mobil tambahan terparkir.
"Papa beli mobil lagi?"
"Itu Creta produk kemarin."
"Hyundai Creta yang kemarin? Kok wanrnanya biru metalik gitu bukan merah. Pasti tipe baru, ya. Cakep, Pa. Boleh buat aku aja nggak?"
"Nggak."
Nara mencibir pelan.
"Kamu nggak tidur, besok gladi bersih pernikahan kakakmu."
"Belom ngantuk. Kasurku disabotase Mas Utha." Nara menoleh ke Papa. Bertepatan dengan Papa tengah mengusap kedua matanya. "Nangis, Pa?"
"Nggak tuh. Ini mata Papa keringatan aja."
"Yah siapa tahu Papa nangis gara-gara Kak Ney mau nikah."
"Ngapain nangis. Harusnya bahagia dong."
"Nangis mah nangis aja kali, Pa. Kata Bunda, wajar nangis karena terharu anaknya udah bisa mandiri."
"Itu berlaku buat Mami sama Bunda Kamu. Papa pantang nangis. Papa bahkan nggak bakal nangis waktu nganterin Kak Ney ke altar nanti."
Nara sih nggak percaya ya. Karena nyatanya meski nggak nangis waktu mengantarkan Kak Ney ke Altar untuk mengucapkan janji suci, Papa tetap nangis waktu Kak Ney pergi dengan mobil pengantinnya bersama sang suami. Nara sempat merekam momen itu.
Hari bahagia Kak Ney, Nara cukup bahagia karena momen-momen yang seharusnya diabadikan berhasil dia abadikan dengan kameranya sendiri.
Termasuk juga mengabadikan momen dimana Kakek datang ke acara pernikahan hingga Kakek pulang.
Dan juga, momen dimana ternyata pria paruh baya yang mobilnya sempat Nara tabrak turut hadir di acara pernikahan Kak Ney. Mungkin waktu itu paruh baya itu juga datang di acara pertunangan Kak Ney tapi Nara nggak sadar.
Kalau gini Nara jadi sungkan karena seminggu belakangan terlalu sibuk membantu persiapan pernikahan Kak Ney hingga belum menelpon Om yang mengenalkan diri sebagai Armada Panunggul itu untuk tanggung jawab atas baret di mobilnya.
Untuk ini, tolong ingatkan Nara karena Nara ogah meninggalkan hutang.