Usai berhasil mengacak-acak hatinya beberapa hari terakhir, Divi memutuskan untuk berdamai dengan hatinya. Nggak ada guna juga marahan lama-lama. Divi sadar tindakannya kemarin mendiamkan Nara itu lumayan childish karena harusnya alih-alih mendiamkannya, memang betul mereka kudu ngobrol dari hati ke hati biar semuanya jelas. Dan kesempatan itu datang ketika dia dan Nara semobil bersama.
"Lo cantik pake kebaya." Puji Nara.
"Lo ganteng pakai batik."
Buset. Nara nggak siap dapet attack berbalut pujian begini.
"Soal jambore Chio, lo jadi beli tongkat sama tali?"
"Jadi. Lo mau nganterin?"
"Oke."
"Soal confess gue kemarin. Itu… gue nggak main-main sama omongan gue."
"Iya, tau."
"Boleh gue tau perasaan lo ke gue kayak gimana?"
Divi menoleh ke Nara yang tengah menyetir. "Perasaan gue a