Distrik 1.
Malam itu salju tipis masih bertahan di udara. Di bawah naungan langit yang gelap, hawa dingin itu semakin kuat. Para perwira militer yang setiap waktu berkeliaran di Distrik 1 sejenak menghentikan aktivitasnya kala udara menjadi tidak bersahabat. Hanya ada beberapa perwira militer yang tampa berpatroli.
Malam itu menjadi malam yang terlalu hening bagi Distrik 1. Namun hal itu membuat Hwang Kihyeon bisa sedikit bernapas di tengah hawa dingin yang menyergap.
Dalam kegelapan yang tak mungkin mendapatkan cahaya dalam waktu dekat, Kihyeon melangkahkan kakinya menyusuri jalan setapak di antara rumah para warga yang terlihat sedikit kumuh. Masih dengan senapan yang kini berpindah ke balik punggungnya dan juga seragam militer milik Kolonel Kim Dae Shik yang masih berada di tangan kirinya, pemuda itu kembali berkeliaran di Distrik 1. Mengahadapi semua kemungkinan terburuk jika keberadaannya diketahui oleh pihak militer.
Langkah Kihyeon sempat terhenti ketika ia mendengar adanya pergerakan di sekitarnya. Bersikap waswas, Kihyeon menaikkan kain yang menutupi sebagian wajahnya dan mengambil sebuah pistol dari balik punggungnya.
Berjalan dengan lebih berhati-hati, Kihyeon mengintai area sekitarnya dan baru bisa bernapas lega ketika yang ia dapati hanyalah seekor tikus. Kembali ke arah sebelumnya, Kihyeon melanjutkan langkahnya.
Menghadapi persimpangan, Kihyeon memilih berbelok ke kiri. Melewati tempat yang lebih gelap dan tentunya jarang dilewati oleh perwira militer. Dari mana Kihyeon tahu? Pemuda itu telah mengintai Distrik 1 selama kurang lebih dua bulan lamanya. Tak heran jika dia sudah hafal setiap area di distrik itu.
Kihyeon sesekali menengok untuk memastikan keadaan di balik punggungnya. Namun ketika ia berbalik ke depan, saat itu sebuah balok kayu menghantam wajah Kihyeon dengan cukup keras. Kihyeon yang terkejut pun kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke belakang.
Tak cukup sampai di situ. Tepat saat punggung Kihyeon menghantam tanah, seorang bocah muncul dari kegelapan dan segera menikam bahu Kihyeon menggunakan pisau.
Kihyeon mengatup rapatkan mulutnya, berusaha untuk tidak berteriak ketika rasa sakit itu dengan cepat menjalar ke tubuhnya saat bocah asing itu menikam bahunya dengan cukup dalam.
Sembari menahan sakit, Kihyeon menahan tangan bocah itu. Namun bocah itu justru menarik pisau tersebut. Bukan mencabutnya, namun membuat garis yang mengarah pada d**a Kihyeon. Hal itu tentunya membuat Kihyeon tak lagi bisa menahan diri lagi.
Kihyeon mendorong pemuda itu hingga terlempar dan menabrak tumpukan kayu.
"Kak Hyeon Jin," pekik bocah lainnya yang muncul dari kegelapan dan menghampiri bocah yang meringkuk di tanah itu.
Kihyeon menahan bahunya yang terluka dan sempat memandang kedua bocah itu.
"Kak Hyeon Jin ... Kak Hyeon Jin bangun. Jangan mati ... kau bilang kau akan membunuh mereka semua. Kak Hyeon Jin ..." Bocah ke dua itu menangisi bocah pertama.
Sementara Kihyeon membaringkan dirinya dan menghadap langit dengan napas berat yang tampak tersenggal. Sementara tangan yang menahan bahunya telah bersimbah darah.
"Apa ... yang sedang kalian lakukan, anak-anak?" gumam Kihyeon yang sepertinya hanya bisa ia dengar sendiri.
Setelah itu Kihyeon mencoba untuk bangkit dan pandangannya langsung terjatuh pada kedua bocah di hadapannya. Kihyeon tak menyangka bahwa seorang bocah bisa menikamnya hingga seperti itu.
Mengambil pistolnya yang sempat terlempar. Kihyeon menghampiri kedua bocah itu untuk memastikan keadaan bocah pertama. Namun hal itu berhasil menakuti bocah ke dua.
Sembari menahan rasa sakit, Kihyeon berucap, "tenanglah, aku bukan orang jahat."
"Kau bukan seorang perwira militer?" tanya bocah ke dua yang tampak menahan tangis.
"Bukan, aku sama seperti kalian."
"Ya ampun ... udaranya dingin sekali," sebuah suara terdengar samar-samar.
Batin Kihyeon tersentak, refleks ia membungkam mulut bocah ke dua dan memberikan isyarat agar bocah itu tidak membuat suara.
"Ikuti aku," bisik Kihyeon dan bocah ke dua itu hanya mengangguk.
Kihyeon mengangkat bocah pertama dan membawanya pergi, sementara bocah ke dua berjalan di belakangnya. Bocah itu melihat pakaian Kihyeon yang tertinggal dan membawanya. Karena keadaan cukup gelap, bocah itu tidak menyadari bahwa pakaian yang ia bawa saat ini adalah seragam militer.
Kihyeon membawa ke dua bocah itu ke tempat yang lebih aman. Meski hal itu cukup menyulitkannya karena luka di bahunya yang masih terus mengeluarkan darah. Hingga pada akhirnya mereka berada di bangunan yang tidak ditinggali. Namun aliran listrik di tempat itu belum terputus.
Di bawah cahaya remang-remang, Kihyeon duduk di dekat pintu dan merawat lukanya sendiri. Pemuda itu menggunakan kain yang melingkar di lehernya untuk mengikat bagian lukanya yang terbuka. Akibat dari luka itu, Kihyeon mengalami pendarahan yang cukup serius. Namun sekarang darah yang keluar tak sebanyak sebelumnya.
Sementara di sudut lain, tepat berhadapan dengan Kihyeon. Kedua bocah berusia sekitar dua belas tahun itu duduk meringkuk dan saling berpegangan tangan. Bocah pertama yang menyerang Kihyeon tampak waswas, sementara bocah ke dua yang terlihat lebih kecil itu tampak ketakutan.
Selesai menghentikan pendarahannya, Kihyeon menempelkan bagian belakang kepalanya dengan dinding kayu dan sejenak mengambil napas dalam. Mencoba beradaptasi dengan luka barunya. Kedua mata itu lantas terpejam untuk beberapa saat.
Bocah ke dua semakin mendekatkan diri pada bocah pertama yang sebelumnya dipanggil dengan nama Hyeon Jin tersebut.
"Kak Hyeon Jin ... apakah dia akan membunuh kita?"
"Diamlah, aku akan melindungimu," sahut bocah bernama Hyeon Jin.
"Aku takut ... kapan kita bisa pulang?"
Hyeon Jin menjawab dengan sedikit kesal, "aku bilang aku akan melindungimu. Kita tidak akan mati di sini."
Hyeon Jin memandang Kihyeon dan berucap dengan yakin, "aku ... akan membunuh orang itu. Jadi kau tenang saja, dia tidak akan bisa menyakiti kita."
Kihyeon tersenyum tak percaya ketika mendengar pembicaraan kedua bocah itu. Hingga saat ini, Kihyeon tidak tahu alasan dari kedua bocah itu menyerangnya.
Dan setelah mulai terbiasa dengan rasa sakitnya, Kihyeon mengarahkan pandangannya pada kedua bocah itu yang tentunya membuat mereka merasa terancam.
"Siapa nama kalian?" tegur Kihyeon dengan cukup ramah, namun bukan berarti dia harus tersenyum manis kepada pelaku penikamannya.
"Cha Jeongin," jawab bocah ke dua dengan takut-takut.
Hyeon Jin langsung memberikan pukulan peringatan kepada Jeongin.
"Kenapa kau menjawabnya? Jangan berbicara dengannya."
Jeongin hanya mengangguk patuh.
Kihyeon kembali bertanya, "berapa umur kalian?"
"Sebelas tahun."
Lagi-lagi jawaban itu keluar dari mulut Jeongin dan tentu saja hal itu membuat Hyeon Jin geram.
"Ya! Kau tidak mendengarkan aku?"
Jeongin hanya menunduk.
Seulas senyum tipis terlihat di wajah Kihyeon. Ia pun kembali berbicara dengan lebih santai sembari membenahi pakaiannya karena hawa dingin mulai menemukan keberadaannya.
"Cha Jeongin sebelas tahun. Cha Hyeon Jin ... kau pasti kakak dari anak itu."
"Namaku bukan Cha Hyeon Jin, dan dia bukan adikku," ucap Hyeon Jin tak terima.
"Kalau begitu siapa nama belakangmu?" sahut Kihyeon masih dengan cara yang santai.
"Song Hyeon Jin," celetuk Jeongin yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Hyeon Jin.
Kihyeon menahan senyumnya ketika ia mendengar jawaban lugu dari Jongin. Kihyeon kemudian kembali berbicara,
"Kalian masih sangat kecil untuk melakukan tindak kriminal seperti ini, kenapa kalian menyerangku?"
"Jangan dijawab," ujar Hyeon Jin memberikan peringatan kepada Jong In. Dan bocah itu hanya mengangguk.
Keduanya memandang Kihyeon dan tak menjawab meski Kihyeon bertanya. Namun sikap kasar Hyeon Jin justru membuatnya tertarik.
Kihyeon kembali berbicara, "kalian menyerangku karena berpikir bahwa aku adalah perwira militer, bukankah begitu?"
Tak ada jawaban. Meski Jeongin ingin menjawab, namun bocah itu merasa takut dengan Hyeon Jin.
"Dengarkan baik-baik, Anak-anak. Kalian sudah salah orang, aku ... bukan orang pemerintahan, aku sama seperti kalian."
"Lalu ini?" Jeongin memberanikan diri sembari menunjuk seragam militer yang sebelumnya ia bawa dan saat ini berada di dekat kakinya.
"Namaku adalah Hwang Kihyeon, sedangkan seragam itu milik Kim Dae Shik. Kalian bisa memeriksanya jika tidak percaya."
Jeongin bergerak dengan waswas dan memeriksa nama yang ada pada seragam militer itu. Dan setelah menemukan nama yang disebutkan oleh Kihyeon, Jeongin menunjukkannya pada Hyeon Jin sebelum kembali ke tempat sebelumnya.
Seketika pandangan kedua bocah itu pada Kihyeon berubah. Namun bocah bernama Song Hyeon Jin itu belum menyerah dengan kecurigaannya.
Kihyeon kemudian menegur, "kenapa kalian ingin membunuh perwira militer?"
Jeongin memandang Hyeon Jin. Dia ingin menjawab, namun tidak berani.
Kihyeon kembali menegur, "mereka sudah menyakiti keluarga kalian?"
"Mereka pantas untuk mati," celetuk Hyeon Jin.
"Benar sekali, karena itulah aku datang untuk membunuh mereka," sahut Kihyeon.
Kedua bocah itu tertegun. Hyeon Jin sejenak melirik seragam militer di samping kaki Jeongin.
"Aku membunuhnya," celetuk Kihyeon seakan bisa membaca pikiran Hyeon Jin saat ini.
Hyeon Jin kembali memandang Kihyeon dan bertanya dengan ragu, "kenapa kau membunuhnya."
"Karena tiga tahun yang lalu dia membunuh kakak laki-lakiku."
Kedua bocah itu tampak terkejut, dan Kihyeon tak merasa bersalah telah mengatakan hal semacam itu pada anak di bawah umur.
Kihyeon kemudian berucap, "begini ... sebelum kalian ingin membunuh seseorang, kalian harus memiliki alasan yang kuat terlebih dulu untuk melakukannya. Tiga tahun yang lalu aku masih terlalu muda untuk melakukannya, itulah alasan kenapa aku baru datang sekarang. Kalian mengerti apa maksudku?"
Jeongin menggeleng, sementara Hyeon Jin tak merespon.
"Jika kalian ingin membunuh seseorang, lakukanlah paling tidak sepuluh tahun lagi. Kalian tidak bisa membunuh orang-orang pemerintahan itu hanya menggunakan balok kayu ataupun pisau. Kalian membutuhkan yang lebih dari itu. Tapi masalahnya ... kalian masih terlalu muda. Akan lebih mudah bagi kalian untuk melarikan diri pada usia ini, karena jika kalian tetap bertahan seperti ini ... kalian justru akan menghancurkan semuanya.
Kihyeon kemudian beranjak berdiri dengan cukup bersusah payah sembari menahan bahunya. Pemuda itu lantas berjalan mendekati kedua bocah itu.
Kihyeon lantas menjatuhkan satu lututnya di hadapan kedua bocah itu. Dan saat itu pandangan Hyeon Jin terjatuh pada punggung tangan Kihyeon yang bersimbah darah.
"Kenapa kau tidak mati?" gumam Hyeon Jin, menatap tepat pada manik Kihyeon.
"Sudah aku katakan, kau tidak bisa membunuh seseorang hanya dengan menggunakan pisau dapur. Aku tidak akan mati hanya karena luka sekecil ini, tidak untuk saat ini."
"Kau akan membunuh mereka semua?"
"Tergantung pada mereka. Jika mereka memanggil namaku ... maka aku akan datang untuk membunuh mereka semuanya."
"Siapa ... namamu?"
"Hwang Kihyeon," Kihyeon tersenyum di akhir kalimat.
"Larilah, Anak-anak. Bersembunyi lah hingga sepuluh tahun lagi, dengan begitu kalian bisa tetap hidup."
Kihyeon meraih seragam militer milik Kim Dae Shik dan beranjak berdiri. Untuk kali terakhir memandang kedua bocah itu. Dan saat ini padangan Hyeon Jin kepadanya benar-benar telah berubah. Tak lagi ada kecurigaan, Hyeon Jin justru menunjukkan kekaguman terhadap orang asing yang saat ini berdiri di hadapannya.
Kihyeon lantas mengucapkan kalimat perpisahan, "Cha Jeongin, Song Hyeon Jin ... pulanglah dan tumbuh dengan baik. Maka semua akan baik-baik saja. Namaku ... jangan katakan itu pada siapapun.
Kihyeon berbalik dan berjalan menuju pintu keluar dengan bahu yang tampak turun karena luka yang baru saja ia dapatkan. Meraih senapan miliknya, Kihyeon lantas meninggalkan tempat itu. Menyisakan kedua bocah yang masih terpaku memandang pintu yang telah tertutup.
"Hwang Kihyeon?" gumam Hyeon Jin.
"Apakah kakak itu adalah orang baik?" sahut Jeongin.
"Ini adalah rahasia."
Kedua pemuda itu saling bertukar pandang dan Hyeon Jin kembali berbicara, "nama orang itu ... jangan pernah menyebutnya mulai detik ini. Kau janji?"
Jeongin mengangguk tanpa syarat seakan apapun yang diucapkan oleh Hyeon Jin merupakan kebenaran yang harus ia percaya. Dan di malam beku yang masih berlanjut, Kihyeon kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Membiarkan udara dingin di sekitarnya membekukan darahnya yang kembali menetes melalui jemarinya.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL