"Bukanlah nuklir atau amunisi. Ketika seseorang di penuhi oleh kebencian, maka dia bisa menghancurkan apapun meski tanpa nuklir atau amunisi sekalipun!" District 9 : Flower Of Evil
Agustus, 1974.
Dalam kegelapan malam, sebuah siluet hitam tampak bergerak dengan hati-hati dan sesekali merapatkan diri ke tembok yang terlihat sangat usang ketika menyadari kehadiran beberapa orang yang kemudian melewati tempat persembunyiaannya begitu saja. Padahal jika mereka berhenti sebentar saja, mungkin keduanya akan menemui ajal mereka saat itu juga, karena ujung mata pisau yang mengkilap saat terkena cahaya lampu yang begitu temaram di beberapa sudut bangunan.
Terlihat haus darah ketika tuannya yang begitu waspada akan keadaan di sekitarnya yang membuatnya jauh lebih sensitif dan tidak akan segan-segan untuk menghabisi siapapun yang menyadari keberadaanya. Terkecuali mereka hanyalah warga sipil.
Si penyusup itu kembali melangkahkan kakinya dengan hati-hati dan berhasil menjangkau pintu besi di mana kedua orang yang sempat melewatinya, keluar dari ruangan di balik pintu besi tersebut.
Bergerak dengan sangat berhati-hati namun tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada. Pada akhirnya si penyusup berhasil menerobos pintu besi tersebut dengan selamat.
Menemukan sebuah lorong dengan penerangan yang lebih sempurna. Sosok misterius itu mulai melangkah dengan hati-hati dan sempat berhenti di beberapa persimpangan yang ia lewati guna memeriksa keadaan.
Berjalan semakin ke dalam, pada akhirnya sosok misterius itu berjalan di antara ruangan kaca di mana terdapat beberapa ranjang yang di huni oleh para laki-laki yang menyerupai pasien.
Pemuda misterius itu lantas membuka pintu kaca dan memasuki ruangan yang cukup luas itu. Setidaknya terhitung sekitar sepuluh orang yang terbaring di ranjang dalam ruangan itu dan hanya bersekat tirai berwarna putih.
Pemuda itu berjalan dengan tenang mendekati orang-orang yang tampaknya tengah tidur tersebut. Namun pemuda itu mulai menyadari ada yang salah di sana.
Pemuda itu lantas menghentikan langkahnya, mendekati salah satu laki-laki yang terbaring di atas ranjang. Wajah laki-laki terlihat pucat dan tampak kurus.
Pemuda misterius itu menurunkan kain yang sedari tadi menutupi sebagian wajahnya dan benar-benar menunjukkan identitasnya yang sesungguhnya.
Dia lah Hwang Kihyeon, orang paling berbahaya di Distrik 9. Tepat setelah ia menurunkan kain penutup wajahnya, pandangannya menemukan sebuah berkas yang terdapat pada meja tepat di samping ranjang.
Kihyeon mengambil berkas itu dan membukanya. Dahi pemuda itu mengernyit ketika tak bisa memahami apa yang ia lihat saat ini, mengingat dia adalah mahasiswa semester dua yang belum memiliki cukup pengalaman. Terlebih proses belajarnya juga sempat terganggu karena rencana balas dendamnya.
Merasa ada kejanggalan yang besar di sana, Kihyeon kemudian memasukkan berkas di tangannya ke dalam ransel dan mengembalikan ransel tersebut ke punggungnya.
Kihyeon lantas kembali memperhatikan dengan seksama sosok yang saat ini tengah terlelap di hadapannya. Sebuah kalimat tanya muncul dalam benak Kihyeon, apakah semua orang yang berada di sana tengah mendapatkan perawatan karena suatu penyakit. Namun Kihyeon berpikir bahwa jumlah mereka terlalu banyak, kecuali telah terjadi wabah di beberapa daerah.
Tangan pemuda itu kemudian terangkat, meraih pergelangan tangan laki-laki di hadapannya. Namun anehnya Kihyeon tidak merasakan denyut nadi laki-laki itu. Kihyeon lantas mengarahkan dua jarinya untuk memeriksa denyut nadi di bagian leher laki-laki itu. Dan kali ini Kihyeon bisa merasakannya. Namun kejadian selanjutnya sempat mengejutkan Kihyeon.
Kelopak mata laki-laki itu perlahan terbuka dan menemukan sosok Kihyeon. Kihyeon yang menyadari hal itu lantas berinisiatif menarik tangannya, namun laki-laki itu justru menahannya.
"Siapa kau?" teguran lemah itu datang dari laki-laki yang terbaring itu.
Kihyeon terlihat bingung untuk menjawab. Meski dia berhadapan dengan orang asing, namun pemuda itu tidak merasa bahwa laki-laki di hadapannya adalah orang yang berbahaya.
Tak mendapatkan respon, laki-laki itu kembali menegur, "kau warga sipil?"
Kali Kihyeon memberikan respon dengan cara mengangguk.
"Kau tidak seharusnya berada di sini, bagaimana kau bisa tahu tempat ini?"
Kihyeon kemudian bersedia untuk berbicara, "apa yang terjadi di sini? Apakah telah terjadi wabah?"
"Pergilah ... cepat lari sebelum mereka datang. Jika mereka menangkapmu ... kau akan berakhir seperti kami."
Dahi Kihyeon mengernyit. Pemuda itu lantas bertanya dengan hati-hati, "apa ... yang sudah mereka lakukan pada kalian?"
"Sesuatu yang lebih buruk dari apa yang kau bayangkan. Dari manapun asalmu, cepatlah kembali. Jangan sampai tertangkap."
"Namamu ... tolong sebutkan nama yang kau miliki."
"Nama?" gumam laki-laki itu dengan tatapan sayu yang berpaling dari Kihyeon.
"Siapa namamu dan di mana keluargamu?" ulang Kihyeon.
Laki-laki itu kembali bergumam, "satu, tiga, sembilan."
Kihyeon menatap penuh tanya, "apa maksudmu?"
Laki-laki itu kembali memandang dan berucap, "itulah nama yang diberikan padaku. Satu, tiga, sembilan ... mereka memanggilku seperti itu."
"Aku menanyakan nama aslimu, nama yang diberikan oleh keluargamu ketika kau lahir." Pertanyaan Kihyeon terdengar lebih menuntut.
Laki-laki itu menarik Kihyeon, mengisyaratkan agar pemuda itu mendekat. Kihyeon refleks mencondongkan tubuhnya dan mensejajarkan wajahnya dengan laki-laki itu.
Laki-laki itu lantas membisikkan sesuatu pada Kihyeon, dan setelahnya Kihyeon memandang laki-laki itu dalam jarak sedekat itu.
"Pergilah. Jika kau berhasil selamat dari sini ... jangan pernah kembali," ucap laki-laki itu. Dan Kihyeon melihat harapan besar dalam tatapan sayu laki-laki itu.
Kihyeon kemudian menegakkan tubuhnya dan berucap, "Hwang Kihyeon dari Distrik 9. Kapanpun kau keluar dari sini, kau bisa mencariku di sana."
Setelah mengatakan hal itu, Kihyeon meninggalkan laki-laki itu. Namun bukannya segera pergi, Kihyeon justru beralih ke ranjang lainnya yang juga berpenghuni dan mengambil berkas-berkas yang ada di sana dengan terburu-buru namun tetap bersikap tenang.
Sementara laki-laki itu hanya memperhatikan Kihyeon dari tempatnya, seakan tubuhnya yang tidak bisa beranjak dari ranjang.
Kihyeon tidak tahu apakah berkas-berkas itu akan berguna jika dia membawa berkas-berkas itu. Pemuda itu hanya melakukan apa yang perlu ia lakukan tanpa harus melewati pertimbangan yang panjang.
Selesai mengambil semua berkas yang ada di ruangan itu, Kihyeon bergegas menuju pintu keluar. Dan langkah itu sempat terhenti di depan pintu hanya untuk melihat laki-laki yang sebelumnya berbicara dengannya.
"Aku akan kembali setelah mengetahui apa yang terjadi di sini," batin Kihyeon yang lantas benar-benar pergi.
"Jangan pergi ke sana," gumam laki-laki itu begitu Kihyeon pergi.
Namun tak lama setelah Kihyeon pergi, alarm gedung berbunyi. Memberitahukan pada para penghuni bangunan itu bahwa ada penyusup yang memasuki area mereka.
Kihyeon berbalik, tak menyadari jika dia telah membuat alarm keamanan gedung berbunyi.
"Ada penyusup! Ada penyusup!" suara teriakan dari ujung lorong.
Kihyeon menaikkan kembali kain untuk menutupi wajahnya dan segera melarikan diri.
"Terdapat penyusup di Distrik 7. Bagaimanapun caranya, kita harus mendapatkan kembali berkas yang sudah dia curi sebelum berkas itu tersebar ke publik!"
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
CATATAN DISTRIK.
"Hari itu adalah kali pertama aku memasuki area terlarang Distrik 7, dan apa yang aku temukan di sana bukanlah sesuatu yang bisa aku dapatkan jawabannya hanya dengan berpikir beberapa menit. Ada banyak pasien dan juga orang-orang berseragam dokter di sana. Sepertinya telah terjadi wabah yang membuat orang-orang itu dirawat di sana. Tapi ... tidak ada daerah yang sedang terjangkit wabah. Aku yakin dan aku sudah memastikan. Laki-laki itu ... dia menyebutkan angka ketika aku menanyakan siapa namanya. Dan itulah faktanya, semua pasien di sana hanya diberi nama dengan menggunakan angka ... aku berpikir bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi di tempat itu. Tapi apakah itu? Kenapa mereka di rawat dan kenapa mereka tidak memiliki identitas? Haruskah aku memastikannya sekali lagi? Apa yang mereka lakukan di tempat itu?" Ketua Aktivis Distrik 9, Hwang Kihyeon.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL