Setelah kepergian Chang Kyun dan juga Hoseok, Kihyeon memutuskan untuk menetap di sana sembari menunggu pakaian milik Chang Kyun kering.
Teringat akan sesuatu yang penting, Kihyeon meraih ranselnya. Mengambil salah satu berkas yang ia ambil dari Distrik 7 semalam. Kihyeon membuka berkas itu dan menemukan angka yang berbeda dengan berkas yang ia lihat semalam.
Kihyeon membaca bagian yang menunjukkan identitas seseorang, "seratus enam lima? Satu, enam lima? Sembilan belas tahun."
Garis wajah Kihyeon terlihat kaku ketika ia tampak mempertimbangkan sesuatu. Kihyeon lantas membuka halaman ke dua dari berkas itu, dan saat itu ia sedikit tertegun.
Kihyeon melihat nama beberapa komponen yang digunakan dalam dunia kedokteran. Jika berkas yang ia lihat semalam tak ia mengerti sama sekali, namun kali ini Kihyeon mendapatkan titik terang.
"Apa ini?" gumam Kihyeon.
Pemuda itu kembali membalik halaman dengan lebih cepat dan setelah sampai di halaman terakhir, Kihyeon tersenyum tak percaya.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan dengan orang-orang ini?" Kihyeon kembali bergumam.
Pandangan Kihyeon lantas menemukan sebuah logo beserta keterangan di bawahnya yang berada di pojok bawah berkas tersebut.
Kihyeon menyentuh tulisan itu dan bergumam, "Laboratorium Penelitian, Distrik 7. Laboratorium Penelitian?"
Kihyeon mempertimbangkan ucapannya. Jika orang-orang itu memang sedang sakit, kenapa mereka dibawa ke Laboratorium Penelitian. Hingga ia teringat akan sesuatu yang sempat ia lewatkan.
Kihyeon segera kembali ke halaman dua dan kembali membaca berkas itu dengan seksama. Kali ini Kihyeon menyadari bahwa setiap halaman adalah laporan yang ditulis di hari yang berbeda. Terdapat tanggal dan jam kapan laporan itu dibuat. Dan Kihyeon benar-benar menyadari sekarang bahwa berkas yang berada di tangannya saat ini adalah laporan kondisi pasien setiap harinya.
Kihyeon terperangah. Meski ia belum yakin dengan apa yang dia pikirkan, namun ia tidak bisa membuang jauh-jauh pikirannya itu.
Netra Kihyeon melebar ketika ia mendengar ranting kayu yang patah seperti terinjak di area tepi sungai. Kihyeon segera menoleh dan saat itu ia tertegun ketika mendapati seorang wanita muda berdiri mematung di tepi sungai.
Wanita muda itu tertegun sebelum pada akhirnya dia tersadar. "Ya Tuhan!" pekik wanita itu yang langsung berbalik memunggungi Kihyeon.
Sedangkan Kihyeon yang tersadar lantas menjatuhkan berkas di tangannya ke sungai dan memeluk dirinya sendiri. Namun begitu ia sadar bahwa berkas di tangannya hanyut, pemuda itu segera melompat ke air untuk mengambilnya.
"Tidak. Tunggu dulu!" pekik Kihyeon yang mencoba untuk meraih berkas itu.
Namun aliran sungai yang cukup deras pagi itu membuat berkas itu tersebar dan hanyut tanpa bisa diselamatkan. Kedua tangan Kihyeon memegangi kepala bagian belakangnya, terlihat sedikit frustasi.
Sedangkan wanita yang sebelumnya telah mengejutkan Kihyeon, diam-diam mencuri pandang pada Kihyeon. Namun ia segera memandang ke arah lain begitu Kihyeon melihatnya.
Kihyeon menghela napas dan kembali naik ke atas batu. Tanpa mempedulikan wanita muda itu, Kihyeon berjalan ke tepi untuk mengambil pakaian milik Chang Kyun. Baru saja selesai memakai kaos tersebut, perhatian Kihyeon teralihkan oleh suara sesuatu yang berat jatuh ke dalam air.
Kihyeon menoleh dengan dahi yang mengernyit. Mendapati wanita yang sebelumnya ia lihat sudah terduduk di dalam aliran sungai yang tidak terlalu dalam.
Wanita muda itu terlihat kesakitan dan kesulitan untuk bangkit. Sebelumnya ia ingin pergi, namun kakinya tiba-tiba terpeleset. Sedangkan Kihyeon yang melihat itu pun berjalan ke tempat wanita itu sembari sekilas menggaruk keningnya.
"Kau baik-baik, Nona?" tegur Kihyeon yang datang bersama uluran tangannya.
Wanita muda itu mendongak. Merasa sedikit malu akan pertemuan tak terduga itu.
Wanita muda itu lantas menjawab dengan canggung, "tidak apa-apa? Aku baik-baik saja."
Mengabaikan uluran tangan Kihyeon, wanita muda itu berusaha bangkit dengan usahanya sendiri. Namun hal itu tentunya membutuhkan sedikit usaha yang keras karena pinggangnya masih terasa sakit.
"Izinkan aku membantumu," tegur Kihyeon.
Sempat terdiam beberapa detik, wanita muda itu lantas menerima uluran tangan Kihyeon yang kemudian membantunya berdiri.
"Kau yakin baik-baik saja?" Kihyeon sekali lagi memastikan.
Wanita itu mengangguk dengan ragu. Sementara Kihyeon memperhatikan pakaian wanita itu yang basah kuyup. Dan setelahnya Kihyeon membantu wanita muda itu untuk keluar dari aliran sungai. Bukannya menepi, Kihyeon justru membawa wanita itu ke batu yang sebelumnya ia duduki.
"Duduklah di sini sebentar sampai pakaianmu mengering."
Wanita muda itu tak menyahut. Sementara Kihyeon hendak menutup ranselnya, namun saat itu ia tidak sengaja menjatuhkan salah satu berkas di atas batu. Dan tentunya wanita muda itu juga melihat berkas tersebut. Namun wanita muda itu terlihat sedikit terkejut.
Kihyeon kemudian berbalik menghadap wanita itu dan menegur, "aku tidak pernah melihat Nona sebelumnya. Apakah Nona baru saja pindah ke Distrik 9?"
Wanita muda itu menjawab dengan sedikit gugup, "tidak, sebenarnya aku baru saja pindah ke Distrik 7."
Dahi Kihyeon mengernyit. "Distrik 7?"
Wanita muda itu mengangguk. "Aku belum terlalu hafal dengan tempat ini, jadi aku tersesat."
Kihyeon merasa ada yang janggal di sana. "Distrik 7 cukup jauh dari sini, bagaimana Nona bisa sampai berada di sini?"
Wanita itu tersenyum canggung. "Itulah yang tidak aku tahu. Aku menaiki kereta api menuju Distrik 8, tapi aku justru turun di Distrik 9."
"Apa yang Nona lakukan di Distrik 7?" pertanyaan itu terdengar lebih menyelidik.
"Aku ditugaskan untuk mengajar di sekolah dasar."
"Ah ... kau seorang guru?"
Wanita muda itu mengangguk.
"Hwang Kihyeon," Kihyeon tiba-tiba memperkenalkan diri dan membuat wanita muda itu sedikit terkejut.
"Jika tidak keberatan, boleh aku mengetahui siapa mana Nona?"
"Hyun Jeong, Kim Hyun Jeong," balas wanita muda itu dan tersenyum, namun kali ini senyuman itu tak lagi terlihat canggung.
"Nona memiliki uang untuk kembali ke Distrik 7?"
"Sebenarnya ... itulah masalahnya. Aku kehilangan tasku saat di stasiun."
"Seseorang mungkin saja mengambilnya tanpa sepengetahuan Nona. Jika tidak keberatan, aku akan memberikan sedikit bantuan kepada Nona."
Wanita muda bernama Kim Hyun Jeong itu tertegun. Tatapan canggung wanita itu terlihat melembut. Dan pada akhirnya dia pun menerima tawaran dari Kihyeon.
Kihyeon membawa Hyun Jeong pulang bersamanya. Berniat untuk mengantarkan wanita muda itu kembali ke Distrik 7. Jangan heran kenapa Kihyeon melakukannya, karena putra dari Ketua Distrik 9 itu adalah pemuda baik hati yang bertanggungjawab terlepas dari apa yang pernah ia buat di masa lalu.
Sedikit pembicaraan menyertai langkah mereka hingga keduanya menjangkau pemukiman.
"Jadi inikah Distrik 9 itu?" cuman Hyun Jeong.
"Benar. Seperti inilah tempat tinggal kami."
"Aku menyukainya," celetuk Hyun Jeong yang berhasil mendapatkan perhatian dari Kihyeon.
Hyun Jeong kembali berucap, "dibandingkan dengan Distrik 7, tempat ini terasa lebih tenang."
"Begitu, kah?" Kihyeon tersenyum tipis.
"Orabeoni," teguran dari suara dingin itu lantas berhasil menghentikan langkah keduanya.
Garis senyum di wajah Kihyeon menghilang ketika ia menemukan Seo Hye berdiri tidak begitu jauh di hadapannya. Menyadari tatapan Seo Hye, Kihyeon memandang kedua wanita di sekitarnya itu secara bergantian.
"Tunggulah di sini sebentar," ucap Kihyeon pada Hyun Jeong dan kemudian meninggalkan wanita itu.
"Kau dari mana?" tegur Kihyeon begitu sampai di hadapan Seo Hye.
"Apa yang sedang Orabeoni lakukan di sini?" masih dengan nada yang sama Seo Hye balik bertanya.
Kihyeon tersenyum. "Kau tidak salah paham, kan?"
Kihyeon meraih telapak tangan Seo Hye, namun gadis itu langsung menepisnya dan benar-benar terlihat bahwa ia tengah salah paham terhadap keberadaan Kihyeon bersama wanita lain.
"Aku sibuk," ucap Seo Hye yang langsung meninggalkan Kihyeon begitu saja.
Kihyeon tersenyum tak percaya. "Agassi," pekik Kihyeon namun terabaikan.
Saat itu Min Hyeok datang dari arah samping dan menegur, "ada apa? Kalian bertengkar?"
"Tidak, hanya ada sedikit kesalahpahaman." Kihyeon tersenyum seperti tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Kesalahpahaman macam apa?"
Kihyeon mengarahkan pandangannya pada Hyun Jeong, di mana wanita itu tampak memperhatikan sekeliling. Berpura-pura tak melihat kedua pemuda itu.
Min Hyeok mengikuti arah pandang Kihyeon dan dahinya mengernyit ketika mendapati wanita asing di sana.
"Siapa?"
"Aku ingin meminta bantuanmu?"
Min Hyeok kembali memandang Kihyeon. "Bantuan apa?"
"Nona itu, tolong antarkan dia ke Distrik 7."
Dahi Min Hyeok semakin mengernyit. "Kau mengenalnya?"
"Hanya tidak sengaja bertemu. Aku akan menjelaskannya nanti, sekarang ambillah mobilku di rumah."
Meski merasa ada yang janggal, Min Hyeok tetap memberikan bantuan pada Kihyeon. Dia bergegas menuju rumah Kihyeon untuk mengambil mobil Kihyeon, sedangkan Kihyeon sendiri kembali menghampiri Hyun Jeong.
Selama beberapa saat, keduanya tetap berdiri di sana sampai Min Hyeok datang. Dan mengantarkan wanita asing itu ke tempat tujuan sesuai dengan permintaan Kihyeon. Sementara Kihyeon pun bergegas pulang.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Menjelang siang hari, Kihyeon menapakkan kakinya di halaman rumahnya. Namun ketika hendak masuk ke dalam rumahnya, perhatiannya teralihkan oleh Seo Hye yang saat itu tengah menjemur pakaian di samping rumah gadis itu sendiri.
Memutuskan untuk menunda kepulangannya, Kihyeon lebih memilih menghampiri gadis itu terlebih dulu mengingat bahwa Seo Hye sepertinya telah salah paham terhadapnya.
Seo Hye yang saat itu dalam posisi membelakangi Kihyeon tampaknya tak sadar akan kedatangan pemuda itu dan alhasil gadis itu terkejut ketika berbalik dan mendapati Kihyeon sudah ada di sana.
"Orabeoni!" sedikit kekesalan terlihat di wajah Seo Hye.
"Kau sedang apa?" tegur Kihyeon dengan seulas senyum lebar.
"Aku sedang menjemur pakaian," acuh Seo Hye yang kemudian hendak meninggalkan Kihyeon.
Kihyeon kemudian menyusul Seo Hye dan meraih pergelangan tangan gadis itu, membuat keduanya kembali saling berhadapan.
"Kau marah padaku?" tegur Kihyeon.
"Kenapa aku harus marah padamu," sahut Seo Hye namun dengan cara yang dingin.
Kihyeon tersenyum tipis. "Itu tidak seperti yang kau bayangkan. Wanita tadi adalah guru sekolah dasar di Distrik 7, dia tersesat dan aku hanya menawarkan bantuan."
"Apakah aku menanyakan hal itu?"
Kihyeon tertegun. "Haruskah aku tidak mengatakan hal itu?"
Seo Hye lantas langsung memukul lengan Kihyeon dengan kesal, sementara Kihyeon sedikit menghindar sembari tertawa ringan.
"Kau dari mana saja? Apa kau tidak pulang?"
"Kenapa? Kenapa? Kenapa?" Kihyeon membalas pertanyaan Seo Hye yang seperti tengah menuntutnya.
"Paman Hwang mencarimu sejak pagi."
"Benarkah?"
Seo Hye mengangguk dan setelahnya gadis itu menangkap kegusaran di wajah Kihyeon.
"Kau bertengkar dengan paman?"
"Tidak, kenapa aku harus bertengkar dengannya?" Kihyeon tersenyum, namun terlihat sedikit memaksakan senyumnya.
"Ya sudah, aku pulang dulu," lanjut Kihyeon.
Seo Hye kembali mengangguk. Namun bukannya segera pergi, Kihyeon justru mendekati Seo Hye dengan pandangan yang mengawasi sekitar dan tentunya hal itu membuat Seo Hye menatapnya dengan heran.
"Apa yang sedang kau cari?"
Kihyeon mengembalikan pandangannya pada Seo Hye dan tersenyum lebar.
"Tidak ada."
Kihyeon lantas menarik bagian belakang kepala Seo Hye lalu mendaratkan kecupan singkat pada kening gadis itu sebelum melepasnya kembali.
"Jika ada apa-apa, panggil aku. Dan jangan memikirkan wanita itu lagi."
Kihyeon berbalik, namun saat itu langkahnya segera terhenti ketika pandangannya menangkap sosok sang ayah tengah berdiri di ambang pintu rumah mereka. Dan setelahnya sang ayah masuk ke dalam rumah. Kihyeon pun segera berjalan menuju rumahnya sendiri sembari mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang mungkin akan ia dapatkan dari sang ayah.
"Aku pulang ..." ucap Kihyeon tidak terlalu lantang ketika ia memasuki rumahnya.
Pandangan Kihyeon mengarah ke sekeliling dan tidak menemukan ayahnya berada di ruang tamu. Dia pun bergegas menuju dapur guna mendapatkan segelas air putih sebelum menemui ayahnya. Namun begitu ia sampai di dapur, sang ayah ternyata telah berdiri di samping meja makan seakan tengah menunggu kedatangannya.
"Ayah mencariku?" tegur Kihyeon yang berjalan mendekat. Ia menaruh ranselnya di lantai dan menuangkan air putih ke dalam gelas kosong di atas meja seakan tidak mempedulikan pandangan sang ayah yang tertuju padanya.
"Dari mana saja kau?" Sejin berucap dengan nada bicara yang tenang namun begitu tegas.
"Aku menginap di rumah paman Son." Kihyeon beralasan, menolak memberi tahu tentang kebenaran yang ada. Dia lantas duduk dan mengarahkan pandangannya kepada sang ayah.
"Ada masalah apa?" tanya Kihyeon kemudian.
"Berhenti bermain-main, sudah saatnya kau bersikap lebih dewasa."
Netra Kihyeon sejenak memicing penuh kecurigaan, merasa ada maksud lain dari perkataan sang ayah.
"Apa maksud Ayah?" Dia lantas meminum air putih di dalam gelas yang ia genggam.
"Mulai besok, jangan meninggalkan distrik dan persiapkan pernikahanmu seminggu lagi."
Kihyeon tersedak, dia terbatuk sembari tangannya yang mengembalikan gelas ke atas meja. Dia sempat menepuk dadanya beberapa kali sebelum batuknya reda dan langsung mengarahkan tatapan terkejutnya pada sang ayah.
"Menikah? Kenapa? Kenapa mendadak sekali?"
"Jangan banyak bertanya, seminggu lagi kau akan menikah dengan Seo Hye dan mengambil alih distrik setelahnya."
Mulut Kihyeon sedikit terbuka, menunjukkan ketertegunannya akan perkataan sang ayah. Menikah? Seminggu lagi? Mengambil alih distrik? Ketiga hal itu berputar-putar dalam otaknya hingga memicu sebuah pemberontakan dari batinnya.
"Kenapa harus tiba-tiba? Apa telah terjadi sesuatu?" Kihyeon menuntut.
"Cukup lakukan tugasmu tanpa menuntut."
"Ayah, aku masih terlalu muda untuk mengambil alih distrik. Dan aku belum siap untuk menikah."
"Kau kira ayahmu ini mengambil alih distrik karena sebuah kesiapan? Seorang pemimpin tidak harus memiliki kesiapan untuk menjalankan tanggung jawabnya."
"T-tapi ... Kenapa? Ada apa sebenarnya?" Mulai terlihat frustasi, Kihyeon masih mencoba mengubah keputusan sang ayah.
"Tidak ada penolakan, seminggu lagi kau akan menikah dengan Seo Hye dan mengambil alih distrik setelahnya."
"Ayah ..."
Tidak memberikan kesempatan bagi sang putra untuk kembali melakukan protes, Sejin pergi begitu saja dan menyisakan helaan frustasi Kihyeon di belakang punggungnya.
Kihyeon menyandarkan punggungnya dengan raut wajah yang terlihat gelisah. Bukannya dia tidak ingin menikahi Seo Hye, tapi dia berpikir bahwa dia masih terlalu muda untuk mengambil jalan ini. Terlebih konflik distrik dengan militer semakin memanas. Bisakah sebuah pernikahan dilakukan dalam keadaan seperti ini?
Tidak mampu berpikir dengan tenang, Kihyeon pun beranjak dari duduknya. Meraih ranselnya dan segera meninggalkan dapur.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL