Pintu kamar terbuka dari luar, Chang Kyun yang tengah duduk menghadap meja belajar lantas mengarahkan pandangannya pada pintu di mana sosok Min Hyeok muncul dari sana.
Min Hyeok masuk, menutup pintu terlebih dulu sebelum menghampiri Chang Kyun. Kedatangan Min Hyeok ke sana adalah untuk memastikan satu kali lagi apakah Chang Kyun benar-benar akan tinggal. Karena sebelumnya Chang Kyun menentang rencana rekan-rekannya yang ingin pergi ke Distrik 1.
Min Hyeok menarik sebuah kursi dan mendudukinya berhadapan dengan Chang Kyun. Min Hyeok lantas berbicara dengan cara yang lebih lembut.
"Biar aku tanyakan sekali lagi. Apa yang membuatmu tidak ingin pergi ke Distrik 1?"
"Sebelum itu, aku ingin mendengar jawaban dari Kak Han," Chang Kyun justru menawarkan kesepakatan.
"Kalau begitu katakan jawaban apa yang ingin kau dengar dariku."
"Kenapa Kak Han berpikir jika saat ini Kak Hwang berada di Distrik 1?"
Min Hyeok sejenak mengalihkan pandangannya, merasa cukup ragu untuk mengatakan pada Chang Kyun tentang pengakuan Kihyeon waktu itu.
Min Hyeok kemudian berucap, "saat pergi ke Distrik 1, dia sempat terlibat masalah dengan anggota militer."
Min Hyeok kembali memandang Chang Kyun, berusaha agar tak dicurigai karena ia tidak bisa mengungkapkan rahasia Kihyeon pada Chang Kyun. Min Hyeok pikir bahwa akan lebih baik jika Chang Kyun mendengar hal itu langsung dari Kihyeon sendiri.
"Kau sudah mendapatakan jawaban yang kau inginkan, sekarang giliranmu memberikan jawaban."
Chang Kyun menjatuhkan pandangannya dan berucap, "aku berpikir bahwa Kak Hwang mungkin saja sedang berada di tempat lain."
"Di mana?"
Chang Kyun terdiam dan tentu saja hal itu cukup mencurigakan di mata Min Hyeok.
Min Hyeok kemudian menegur, "apa Kihyeon melakukan sesuatu yang berbahaya tanpa sepengetahuan kami?"
"Distrik 7," Chang Kyun memberikan jawaban sembari kembali memandang Min Hyeok.
Dahi Min Hyeok mengernyit. "Ada apa dengan Distrik 7?"
"Sebelumnya Kak Hwang mengambil sesuatu yang cukup penting dari sana."
"Kantor Kepala Distrik?"
"Bukan," Chang Kyun menggeleng.
"Lalu tempat apa yang kau maksud?"
Chang Kyun kembali menggeleng, menolak untuk melanjutkan kejujurannya yang mungkin saja bisa berakibat fatal untuk rekan-rekannya kelak.
"Kihyeon tidak mengataknnya padamu?"
"Kang Hwang tidak ingin sampai kita datang ke tempat itu, itulah sebabnya Kak Hwang tidak mengatakan hal itu pada kita."
"Jadi kau berpikir bahwa sekarang Kihyeon diculik karena dia ketahuan sudah mengambil sesuatu dari Distrik 7?"
Chang Kyun mengangguk.
"Lalu di mana barang itu sekarang? Di mana Kihyeon menyimpannya?"
"Tidak ada."
"Apa?" dahi Min Hyeok kembali mengernyit.
"Kak Hwang sudah membakar semuanya."
Min Hyeok terperangah, cukup terkejut atas ucapan Chang Kyun. "Dia membakar semuanya?"
"Aku berpikir tidak akan ketahuan jika membakarnya, jadi aku menyarankan hal itu pada Kak Hwang."
"Tunggu Sebentar," Min Hyeok merasa telah melewatkan sesuatu. Dia kemudian bertanya dengan nada bicara menyelidik, "barang apa yang sebenarnya diambil oleh Kihyeon dari Distrik 7?"
"Aku tidak tahu." Chang Kyun memalingkan wajahnya, namun saat itu Min Hyeok menahan kedua bahu pemuda itu. Memaksa keduanya untuk kembali saling bertukar pandang.
"Kau tau sesuatu, cepat katakan yang sebenarnya. Jika Kihyeon berada dalam bahaya, kita tidak boleh membiarkan hal itu sampai terjadi."
"Aku tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu. Tolong jangan memaksaku lagi." Chang Kyun menolak bekerja sama. Entah itu untuk melindungi rahasia Kihyeon atau sekedar untuk melindungi dirinya sendiri.
"Shin Chang Kyun—"
"Kak Hwang melarang kita untuk memasuki area Distrik 7," Chang Kyun menyela, "pernahkah Kak Han bertanya-tanya apa alasannya? Kita tidak boleh memasuki area itu karena mungkin saja di tempat itu ada hal yang tidak bisa kita tanggung jika kita pergi ke sana. Meski aku sangat yakin bahwa saat ini Kak Hwang berada di Distrik 7, bukan berarti aku akan langsung pergi ke tempat itu."
"Ada apa denganmu, Shin Chang Kyun?"
"Kak Hwang mungkin sudah mempertaruhkan segalanya untuk melindungi kita."
"Jadi maksudmu kita tidak harus mencarinya dan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padanya? Dengarkan baik-baik ... kau mengatakan bahwa kita mungkin tidak bisa menaggungnya. Lalu bagaimana dengan Kihyeon? Jika kita berenam tidak mampu untuk menanggungnya, lalu bagaimana dengan Kihyeon yang hanya sendirian?"
"Kak Han tidak mengerti."
"Apa yang tidak aku mengerti? Jika kau berpikir bahwa aku sudah melewatkan hal terpentingnya, maka jelaskan padaku ... tidak peduli sebesar apa bahaya yang akan kita hadapi nanti, kita harus tetap membawa Kihyeon pulang karena hanya kita yang dimiliki oleh orang itu. Teman, kerabat, kakak, adik, keluarga ... kita bisa menjadi apapun bagi Kihyeon."
Perhatian keduanya teralihkan oleh pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Di sana Hoseok berdiri dengan raut wajah yang sulit untuk dijelaskan.
"Kalian keluarlah," ucap Hoseok dan segera menghilang dari pandangan keduanya.
Min Hyeok kembali memandang Chang Kyun. "Kita lanjutkan nanti."
Min Hyeok beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar. Kedua pemuda itu bergabung bersama rekan-rekan mereka yang terlihat gusar.
"Ada apa?" tegur Min Hyeok.
Hyeon Woo menyodorkan selembar kertas di atas meja ke arah Min Hyeok sembari berucap, "seseorang mengirimkan ini."
"Apa ini?" Min Hyeok meraih kertas tersebut dan membaca kalimat yang tertulis di sana.
"Aku sudah menyiapkan tiket yang kau minta. Kau harus pergi menggunakan penerbangan pertama besok, jadi segera tinggalkan Distrik 9. Kita akan bertemu di bandara besok pagi."
Pandangan Min Hyeok mengarah pada bagian bawah di pojok kanan yang bertuliskan, "untuk saudaraku, Hwang Kihyeon di Distrik 9."
Netra Min Hyeok bergetar, tampak tak bisa mempercayai apa yang baru saja dihadapkan padanya.
"Apa maksudnya ini?"
Chang Kyun mengambil alih kertas tersebut, dan reaksi yang hampir sama juga ditunjukkan oleh Chang Kyun.
"Siapa yang mengirim surat ini?" tanya Min Hyeok kembali.
"Petugas kantor pos, tapi tidak ada nama pengirim," sahut Hoseok.
Joo Heon menyahut, "jika apa yang tertulis di situ memang benar, itu berarti Kak Hwang tidak menghilang karena terjadi sesuatu yang buruk. Melainkan dia yang ingin pergi tanpa sepengetahuan kita."
"Dia tidak memiliki motif untuk melakukan hal itu," sahut Hyeon Woo yang masih berada di pihak Kihyeon.
Joo Heon menentang dengan tegas, "tentu saja ada, dia memiliki motif yang kuat. Bahkan dia sempat bersembunyi selama dua bulan di Distrik 9. Apa yang tidak bisa dia lakukan?"
"Jika benar, apakah dia mencoba untuk memalsukan penculikannya sendiri?" celetuk Hoseok.
"Kak Hwang bukanlah orang yang akan melakukan hal semacam itu," Hyung Won turut menimpali, merasa bahwa tak lagi bisa berdiam diri.
"Lalu bagaimana dengan surat ini?" tanya Hoseok.
"Siapapun yang menulisnya, sepertinya dia cukup dekat dengan Kihyeon." Nada bicara Hyeon Woo menyiratkan perasaan kecewa.
"Mari kita tunggu," celetuk Min Hyeok dan menarik seluruh perhatian tertuju padanya, "mari kita tunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jika memang terjadi hal yang buruk pada Kihyeon, maka orang ini akan kembali mengirimkan surat jika Kihyeon tidak datang menemuinya."
"Lalu bagaimana jika tidak ada yang mengirim surat?" sahut Joo Heon.
Min Hyeok menjawab dengan berat hati, "itu berarti Kihyeon benar-benar pergi atas kemauannya sendiri."
Semua orang saling bertukar pandang kecuali Chang Kyun. Pemuda itu menggenggam kuat surat di tangannya sebelum menjatuhkannya ke lantai ketika ia bergegas pergi meninggalkan rumah dan mengejutkan semua orang.
"Shin Chang Kyun, kau ingin pergi ke mana?" lantang Joo Heon, namun diabaikan oleh Chang Kyun.
Chang Kyun meninggalkan rumah dengan langkah yang terburu-buru, meninggalkan rekan-rekannya tanpa penjelasan di saat ia tak bisa mempercayai bahwa Kihyeon benar-benar pergi atas kemauan pemuda itu sendiri.
Meninggalkan pemukiman, Chang Kyun memasuki hutan terlarang. Dan dengan begitu sudah jelas ke manakah tujuan pemuda itu saat ini. Dengan cepat Chang Kyun menjangkau gubuk tempat persembunyian Kihyeon.
Chang Kyun memasuki gubuk dan segera menuju ruang bawah tanah. Tanpa ragu Chang Kyun mendekati sebuah peti kayu yang terlarang untuk dibuka baginya. Namun ketika Kihyeon kembali meninggalkannya, Chang Kyun tak lagi menganggap semua peringatan yang ditujukan padanya.
Tanpa ragu Chang Kyun langsung membuka peti kayu tersebut dan saat itu juga pemuda itu terperangah. Mundur satu langkah, mata Chang Kyun mengerjap tak percaya ketika ia mendapati beberapa senapan di dalam peti kayu itu.
Chang Kyun kemudian beralih ke peti lain dengan ukuran yang berbeda, namun yang ia dapati juga tak berbeda jauh. Semua peti itu berisikan senjata api dan peledak. Dan semua itu lah yang disembunyikan oleh Kihyeon dari Chang Kyun selama ini.
Alih-alih hanya sebagai tempat persembunyian. Ruang bawah tanah itu telah dijadikan sebagai gudang senjata oleh Kihyeon.
Chang Kyun masih belum bisa menghadapi kenyataan. Pemuda itu jatuh terduduk di lantai dengan punggung yang menyentuh sebuah peti kayu. Alih-alih merasa kecewa karena telah dibohongi, Chang Kyun lebih merasa bahwa ia belum cukup mengenal Kihyeon meski sudah hidup bersama selama beberapa tahun.
"Apa ... yang sebenarnya sedang kau lakukan, Kak Hwang?"
Pandangan Chang Kyun mengarah pada lantai. Bagaimana ia bisa menghadapi rekan-rekannya setelah ini ketika ia menemukan satu rahasia besar yang telah disembunyikan oleh Kihyeon dari mereka. Bisakah Chang Kyun menghadapi rekan-rekannya dan berpura-pura tidak melihat apapun di dalam gubuk itu.
Tapi, siapakah orang yang sudah mengirim surat itu ke Distrik 9?
Benarkah Hwang Kihyeon berencana untuk pergi ke tempat yang sangat jauh tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Chang Kyun maupun Seo Hye?
Semua jawaban atas keraguan mereka akan segera mereka temui pada esok hari. Akankah seseorang kembali mengirimkan surat karena Kihyeon tak bisa memenuhi janjinya. Atau tak akan ada yang datang dan semuanya terbukti, Hwang Kihyeon memalsukan penculikannya sendiri untuk bisa meninggalkan Distrik 9 tanpa sepengetahuan orang lain.
Akankah Chang Kyun mempercayai hal itu dan berhenti menaruh kepercayaan terhadap Hwang Kihyeon?
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL