Langit yang perlahan mulai kehilangan cahaya. Kegelapan semakin merambah, menciptakan kesunyian yang tak pernah dijamah oleh kehangatan. Sangat dingin dan menakutkan. Ketika rembulan kembali ke langit, semua orang hampir terlelap.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Han Min Hyeok. Hingga waktu hampir tengah malam, pemuda itu masih terjaga. Duduk membaca buku di ruang tamu rumah Kihyeon.
Tepatnya sejak sore tadi Min Hyeok berada di sana. ia ingin memastikan keadaan Chang Kyun. Karena sejak pertemuan mereka pagi tadi, Min Hyeok belum melihat Chang Kyun hingga detik ini. Orang-orang di kampus yang ia temui mengatakan bahwa benar jika Chang Kyun datang ke kampus. Namun hingga kembali ke Distrik 9, tak ada yang melihat Chang Kyun.
Setelah cukup lama bertahan dalam keheningan, perhatian Min Hyeok teraliihkan oleh suara ketukan pintu yang terdengar cukup pelan. Min Hyeok tentunya merasa heran, siapakah yang bertamu tengah malam itu.
Menutup buku di tangannya dan menaruhnya ke atas meja, Min Hyeok bergegas berjalan menuju pintu. Tanpa memiliki kekhawatiran, Min Hyeok langsung membuka pintu di hadapannya dan sedikit terkejut ketika ia melihat siapakah orang yang bertamu ke rumah Kihyeon malam itu.
"Kak Son?"
"Kau masih di sini?"
Hyeon Woo sama bingungnya dengan Min Hyeok. Dia bertemu dengan Min Hyeok sore tadi dan saat itu Min Hyeok mengatakan akan pergi ke rumah Chang Kyun. Tapi Hyeon Woo sama sekali tak menyangka jika Min Hyeok masih berada di tempat itu.
"Masuklah," Min Hyeok mempersilahkan.
Keduanya lantas duduk berhadapan di ruang tamu. Dan Hyeon Woo menjadi orang pertama yang memulai pembicaraan.
"Aku pikir kau sudah pulang?"
"Kenapa Kak Son datang kemari?"
"Aku tidak bisa tidur karena memikirkan Chang Kyun. Mobil Kihyeon tidak ada di halaman, apa berarti anak itu belum pulang?"
Min Hyeok mengangguk. "Dia tidak bertingkah aneh saat bertemu tadi pagi, tapi kenapa dia tidak juga kembali atau memberi kabar?"
"Dia semakin bersikap dingin sejak Kihyeon pergi."
"Itulah yang membuatku khawatir. Dia tidak pernah mengatakan apa yang sedang dia pikirkan. Meski terlihat acuh, aku pikir dia masih mencari tahu keberadaan Kihyeon."
"Dia tidak percaya jika Kihyeon pergi begitu saja?"
"Apa Kak Son juga percaya jika orang itu melarikan diri?" Min Hyeok mengembalikan pertanyaan.
Hyeon Woo menggeleng dengan ragu. Dan dengan pandangan yang mengarah pada meja, pemuda itu berucap, "berapa kalipun aku memikirkannya, Kihyeon tidak akan pernah mengambil jalan ini. Tapi ... kenapa aku tidak berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi? Aku pikir aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan."
"Kak Son juga memikirkannya?"
Hyeon Woo kembali memandang Min Hyeok. "Apa yang kau bicarakan?"
"Menghilangnya KIhyeon kali ini melibatkan pihak militer."
Hyeon Woo sejenak memalingkan wajahnya dan berujar dengan cemas, "jika bisa, aku ingin menyangkalnya. Tapi ini terlalu mencurigakan saat ayahku sendiri bahkan tidak peduli ke mana Khyeon pergi."
"Paman Geun Woo mengatakan sesuatu tentang Kihyeon?"
Hyeon Woo memandang Min Hyeok dan menyahut tanpa minat, "dia melarangku terlibat dengan urusan Kihyeon. Tapi saat mendengar hal itu ... aku berpikir keras tentang apa yang sudah dilakukan oleh Kihyeon selama ini."
"Dia membunuh seseorang," celetuk Min Hyeok yang langsung membuat Hyeon Woo tertegun.
"Apa ... apa yang baru saja kau katakan?"
"Kihyeon sudah membunuh seseorang. Tidak ... tapi lebih dari satu. Dia melakukannya di belakang kita."
Hyeon Woo tampak tak percaya. "Apa yang baru saja dikatakan oleh Min Hyeok sangat mengejutkan dan sulit untuk dipercaya.
"Apa kau mendengarnya dari Kihyeon sendiri?"
Min Hyeok mengangguk. "Aku mendengarnya langsung dari Kihyeon setelah upacara pemakaman orang tuanya. Aku pikir aku ingin menahannya agar Kihyeon sendiri yang mengatakan hal itu ada kalian. Tapi aku merasa kesulitan sekarang ... karena Kak Son sudah medengarnya, aku serahkan semuanya pada Kak Son. Memberitahu mereka tentang apa yang sudah dilakukan oleh Kihyeon atau biarkan mereka tidak tahu apa-apa."
"Tapi ... siapakah yang sudah dia bunuh?" Hyeon Woo terlihat lebih berhati-hati.
Min Hyeok menatap ragu. Lebih sulit mengatakan siapa korbannya dibandingkan dengan mengatakan bahwa Kihyeon telah membunuh seseorang.
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Hyeon Woo kembali menegur, "kenapa kau tidak menjawab?"
Min Hyeok kemudian menjawab dengan ragu, "kita semua sudah mengetahuinya, itu sempat menjadi kasus yang besar."
Dahi Hyeon Woo mengernyit. "Kasus apa yang kau maksud?"
"Satu tahun yang lalu ... musim dingin di area pembangunan 49, Distrik 1."
Netra Hyeon Woo membulat, menemukan apa yang dimaksud oleh Min Hyeok. Dan tentunya hal itu menjadi berita yang sangat mengejutkan.
"Kim Dae Shik," gumam Hyeon Woo tak percaya.
Min Hyeok hanya mampu memberikan anggukan singkat.
"Tapi kenapa? Apa alasannya?"
"Kim Dae Shik lah orang yang telah membunuh Kak Kijeon."
"Apa?" dahi Hyeon Woo semakin berkerut, "tunggu sebentar ... dari mana Kihyeon mengetahui semua itu?"
"Dia tahu, bahkan sebelum dia meninggalkan Distrik 9 setelah kematian Kak Kijeon. Dia tahu bahwa kematian Kak Kijeon memang sudah direncanakan sejak awal oleh pihak militer."
Hyeon Woo menyandarkan punggungnya. Cukup tercengang dengan apa yang baru saja dia dengar dari Min Hyeok.
"Kau sudah mengetahuinya sejak lama?" pertanyaan yang lebih menuntut membuat Min Hyeok terlihat serba salah.
"Aku minta maaf."
"Tidak ... kenapa, bagaimana kau bisa menyembunyikan hal ini pada kami? Bertahun-tahun kami mencari alasan yang tepat kenapa Kihyeon tiba-tiba pergi. Dan kau hanya diam saja meski kau sudah mengetahui hal itu."
"Aku tidak memiliki pilihan lain. Bagaimanapun juga lawan kita adalah pihak militer ... kita masih terlalu muda saat itu. Kihyeon pun tahu tentang hal itu ... itulah sebabnya dia memutuskan untuk pergi."
"Jadi menurutmu, menghilangnya Kihyeon saat ini ada hubungannya dengan pihak militer Distrik 1?"
Min Hyeok menjatuhkan pandangannya dan berucap degan ragu, "aku tidak begitu yakin dengan hal itu."
"Kenapa?"
Min Hyeok kembali memandang Hyeon Woo. "Chang Kyun mengatakan bahwa baru-baru ini Kihyeon mengambil sesuatu yang penting dari Distrik 7."
Hyeon Woo tersenyum tak percaya. "Ini benar-benar gila."
Tak mampu mengendalikan diri, tanpa sadar Hyeon Woo memukul meja menggunakan tangannya yang terkepal dan berucap penuh dengan penekanan,
"sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan di belakang kita selama ini?!"
Min Hyeok terdiam. Karena jika Hyeon Woo sudah bersikap kasar seperti itu, maka situasi yang mereka hadapi saat ini benar-benar buruk.
"Bagaimana dia bisa melakukan hal ini di belakang kita?"
"Tenangkan dirimu, Kak Son. Seseorang mungkin akan segera datang jika kita membuat keributan di tempat ini."
Hyeon Woo menyangga keningnya menggunakan kedua telapak tangannya yang saling bertautan. Alih-alih marah, Hyeon Woo lebih merasa khawatir. Bagaimana mungkin teman yang selalu berada di samping mereka hidup dengan menyimpan rahasia sebesar itu.
Dan ucapan Min Hyeok sebelumnya menjadi kenyataan. Pintu rumah terbuka dari luar dan tentu saja menarik perhatian keduanya. Keduanya sempat terkejut, namun setelah melihat siapakah yang datang, keterkejutan itu lantas berpindah.
Langkah Chang Kyun terhenti di depan pintu tepat setelah ia menutup pintu dari dalam. Pemuda itu tertegun ketika melihat dua orang berada di dalam rumahnya saat tengah malam.
Sebenarnya itu bukan masalah besar asal Chang Kyun pulang dengan tangan kosong. Namun semua akan menjadi buruk hanya karena benda yang saat ini berada di tangan kirinya.
"Kau sudah pulang?" tegur Hyeon Woo ketika belum menemukan sesuatu yang janggal di sana. Namun MIn Hyeok lebih dulu menyadari hal itu
"Shin Chang Kyun, apa yang berada di tanganmu?" Min Hyeok segera berdiri.
Hyeon Woo yang juga menyadari hal itu lantas turut berdiri. Dan tentunya kepulangan Chang Kyun tengah malam itu cukup mengejutkan bagi kedua pemuda yang lebih tua di sana.
Chang Kyun sekilas memandang senapan di tangan kirinya. Dan karena sudah tertangkap basah, pemuda itu pun bersikap acuh.
"Ini sudah tengah malam, tidak seharusnya kalian masih berada di sini."
Chang Kyun hendak berjalan menuju kamar. Namun saat melewati Min Hyeok, pemuda itu menahan tangannya. Dan pandangan keduanya pun lantas bertemu.
"Apa maksudnya ini? Dari mana kau mendapatkan benda ini?"
"Aku tidak mencurinya." Chang Kyun menepis pelan tangan Min Hyeok.
"Apa yang akan kau lakukan dengan benda itu?" kali ini pertanyaan itu datang dari Hyeon Woo.
Chang Kyun hanya sekilas memandang. Tak memiliki niatan untuk menjawab, Chang Kyun melanjutkan langkahnya.
"Shin Chang Kyun!" Min Hyeok menegur dengan sedikit lebih keras.
Langkah Chang Kyun terhenti tepat saat tangannya telah membuka pintu kamar.
Pemuda itu berucap, "aku tidak akan membunuh orang," lantas memasuki kamar dan menghilang dari pandangan kedua tamunya.
Hyeon Woo dan Min Hyeok, keduanya terlihat khawatir. Dan mau tidak mau, malam itu mereka harus berbicara dengan Chang Kyun untuk memastikan bahwa pemuda itu tidak sedang merencanakan sesuatu yang buruk.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL
Kihyeon duduk bersandar pada dinding dengan kedua mata yang terpejam. Setelah beberapa menit tak lagi mendengarkan suara kehidupan di sekitarnya, kedua netra terbuka.
Sedikit mendongak, Kihyeon tak lagi menemukan cahaya yang biasanya ia lihat dari lubang-lubang kecil di sana, dan hal itu menunjukkan bahwa hari sudah malam.
Kihyeon tak tahu jam berapa kala itu, dia hanya mengikuti nalurinya. Dan nalurinya mengatakan bahwa waktu sudah tengah malam. Beranjak berdiri, tubuh lemah Kihyeon mencoba menguatkan pijakannya dan berjalan menuju pintu sel tahanan.
Seperti yang tertulis pada surat yang diberikan oleh Hyun Jeong pagi tadi, Kihyeon melakukan apa yang tertulis di sana meski ia tidak yakin apakah hal itu dapat dipercaya atau justru itu merupakan jebakan lain untuknya.
Mempertaruhkan hidupnya pada secarik kertas yang tidak ia ketahui asal-usulnya, Kihyeon menggunakan kunci yang ia terima untuk membuka gembok pintu sel tahanan. Dan ternyata kunci yang berada di tangannya saat ini merupakan kunci yang asli.
Pintu sel tahanan terbuka. Kihyeon keluar dan bergegas meninggalkan tempat itu dengan langkah lemah yang terkadang membuatnya harus mencari pegangan agar tak terjatuh.
Keluar dari sebuah pintu, Kihyeon menemukan sebuah tangga menuju ke atas yang Kihyeon yakini sebagai jalan keluar. Dengan hati-hati kaki kotor Kihyeon yang tak mengenakan apapun itu berjalan menyusuri anak tangga hingga ia temukan sebuah lorong yang panjang dan kosong.
Kihyeon melihat denah yang sedari tadi berada di tangan kirinya. Dan setelah mengetahui harus pergi ke mana, Kihyeon bergegas pergi dari sana.
Berjalan cukup jauh, pendengaran Kihyeon mendengar suara langkah kaki di sekitarnya. Kihyeon kemudian bersembunyi. Dan ketika tak lagi terdengar apapun, ia kembali melanjutkan langkahnya. Berjalan cukup jauh hingga ia temui pintu terakhir yang harus ia masuki.
Tangan lemah Kihyeon yang sedikit gemetar itu membuka pintu di hadapannya. Dan tanpa memiliki keraguan di dalam hatinya, Kihyeon memasuki ruangan itu. Namun bukanlah sebuah ruangan yang ia dapati setelah menutup pintu, melainkan sebuah terowongan yang tampak seperti jalan rahasia dan hanya diterangi oleh beberapa lilin yang menempel pada tembok.
Dilihat dari seberapa banyak bagian lilin yang terbakar, Kihyeon mengetahui bahwa seseorang pasti belum lama meninggalkan tempat itu.
Entah kematian atau hal buruk lainnya yang akan ia hadapi di ujung terowongan itu, Kihyeon tak lagi peduli. Pemuda itu melangkahkan kakinya yang semakin kehilangan daya untuk menahan tubuhnya sendiri. Dan hanya berjalan beberapa meter, kedua lutut Kihyeon bertemu dengan lantai, namun tangannya berhasil berpegangan pada dinding.
Kihyeon mencoba untuk bangkit dan kembali berjalan sembari berpegangan pada tembok. Dengan tangan yang semakin gemetar, Kihyeon mencoba untuk bertahan sedikit lebih lama hingga ia berhasil menemukan apa yang berada di ujung jalan yang ia lewati saat ini.
Hingga pada akhirnya, kedua lutut Kihyeon kembali terjatuh tepat di bawah anak tangga yang menjadi ujung dari jalan yang ia tempuh.
Tangan Kihyeon menggapai anak tangga, berusaha untuk naik meski ia harus merangkak. Terkutuklah orang-orang yang sudah menyiksanya selama ini. Bahkan Kihyeon tidak tahu cairan apa saja yang mereka masukkan ke dalam tubuhnya hingga dia sampai berakhir seperti itu.
Perlahan, sedikit demi sedikit. Atas perjuangannya, Kihyeon berhasil keluar dari terowongan bawah tanah dan mengantarkannya untuk melihat langit gelap malam di lahan kosong yang cukup jauh dari pemukiman penduduk.
Kihyeon tersenyum lebar, namun dalam waktu bersamaan juga menangis setelah berhasil meninggalkan tempat terkutuk itu. Namun sayangnya satu kaki Kihyeon tak lagi bisa digerakkan, tak juga terasa sakit. Namun meski begitu, harapan Kihyeon masih terlalu besar untuk menyerah.
Kihyeon mencoba untuk bangkit dengan susah payah dan berusaha untuk meninggalkan tempat itu. Dia berharap setidaknya akan bertemu dengan warga sipil yang bersedia untuk membantunya. Namun sayangnya harapannya terputus ketik ia tumbang.
Kihyeon merasa bahwa jantungnya berdetak lebih cepat di atas normal, namun napasnya justru semakin memendek. Terbaring menghadap langit, Kihyeon terbaring tak berdaya ketika sepasang kaki menghampirinya.
Ketika Kihyeon berada di ambang batas kesadarannya, pandangannya menemukan sosok yang tak begitu asing dalam ingatannya.
"Kim Hyun Jeong?" satu nama yang hanya bisa diungkapkan oleh hatinya ketika lisannya tak lagi berguna.
Dan di ujung pelarian Hwang Kihyeon malam itu. Kim Hyun Jeong, wanita yang menyeretnya datang ke tempat itu lah yang justru menemukannya.
Apakah kiranya yang tengah direncanakan oleh wanita muda itu terhadap pemuda malang yang kini terbaring tak sadarkan diri di hadapannya.
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL