Malam itu Kihyeon duduk di ruang tamu rumah Hyun Jeong. Garis wajah pemuda itu terlihat lebih serius ketika ia menantikan kepulangan Hyun Jeong malam itu.
Selama tinggal di sana, Kihyeon kerap mendapati Hyun Jeong pulang ataupun pergi tengah malam. Kihyeon sempat bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang membuat Hyun Jeong seperti itu. Awalnya Kihyeon merasa bahwa dialah penyebabnya, namun setelah dipikirkan kembali, Kihyeon tak yakin bahwa keberadaannya di sanalah yang membuat Hyun Jeong jarang berada di rumah. Kihyeon ingin tahu apa saja yang dilakukan oleh wanita yang ia ketahui bekerja sebagai seorang pengajar itu saat keluar di malam hari. Namun Kihyeon bukanlah pria kurang ajar yang akan menanyakan hal itu secara langsung.
Pendengaran Kihyeon menangkap pergerakan seseorang di luar rumah. Pemuda itu mengarahkan pandangannya ke pintu, menantikan seseorang yang akan membuka pintu tersebut dari luar. Namun Kihyeon salah. Bukannya pintu segera terbuka, suara ketukan pintu lah yang terdengar setelah itu.
Netra Kihyeon memicing. Selama tinggal di sana, baru kali ini ada yang bertamu ke rumah Hyun Jeong.
"Profesor Kim, kau ada di rumah?"
Samar-samar Kihyeon mendengar suara seorang pria dari luar rumah. Kihyeon kemudian beranjak berdiri dan berjalan mendekati pintu. Berdiri di dekat pintu, pendengaran Kihyeon menangkap samar-samar dua orang yang terlibat pembicaraan sebelum suara ketukan pintu kembali terdengar.
"Profesor Kim Hyun Jeong, tolong buka pintunya."
"Sepertinya dia tidak berada di rumah. Mungkin dia pulang ke Gwangju."
"Tapi kenapa lampu rumahnya menyala."
"Apa yang salah dengan hal itu. Sebaiknya kita kembali besok saja, Profesor Shin juga tidak mengatakan bahwa ini mendesak."
Dahi Kihyeon mengernyit ketika dua orang asing itu menyebutkan nama yang asing. Dan setelah terdengar suara langkah kaki yang menjauh, Kihyeon merapat ke jendela. Membuat sedikit celah agar mampu melihat kedua orang yang meninggalkan halaman rumah Hyun Jeong.
Namun hal itu sama sekali tak memberikan keuntungan bagi Kihyeon ketika ia tak mengenali kedua pria itu. Kihyeon kembali ke tempat semula. Sembari menunggu kepulangan Hyun Jeong, dia kembali berpikir langkah apa yang akan ia ambil setelah ini. Bisakah ia mejalani kehidupan yang normal saat kembali ke Distrik 9 setelah apa yang ia lakukan di masa lalu tak hanya menjadi sebuah rahasia bagi dirinya sendiri.
Menjelang tengah malam, Hyun Jeong baru tiba di rumahnya. Dan langkah Hyun Jeong sempat terhenti di dekat pintu ketika ia menemukan keberadaan Kihyeon di ruang tamu. Di mana tatapan dingin pria itu menjadi hal pertama yang menyambutnya.
Kihyeon lantas berdiri. "Nona sudah pulang?"
Hyun Jeong mengangguk dan tampak waswas. "Kau belum tidur? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku sedang menunggu Nona, bisa kita bicara sebentar?"
Hyun Jeong terlihat ragu, namun ia tidak memiliki alasan untuk menolak permintaan Kihyeon. Keduanya pun lantas duduk berhadapan di ruang tamu dengan perasaan canggung yang hanya dimiliki oleh Hyun Jeong.
Kihyeon memulai pembicaraan. "Tadi ada dua orang laki-laki yang datang bertamu."
Batin Hyun Jeong tersentak. Sebuah keterkejutan berhasil di tangkap oleh pandangan Kihyeon.
"Kau bertemu dengan mereka?" Hyun Jeong bertanya dengan hati-hati.
"Aku tidak memiliki hak untuk membukakan pintu kepada tamu Nona, aku membiarkan mereka pergi begitu saja."
Jawaban Kihyeon membuat Hyun Jeong merasa lega. Namun setiap perubahan kecil pada garis wajah wanita itu tak pernah lepas dari perhatian Kihyeon.
Kihyeon lantas kembali pada tujuan awalnya. "Ada hal yang ingin aku tanyakan pada Nona. Mungkin ini tidak terlalu penting bagi Nona, tapi aku membutuhkan jawaban dari Nona."
"Apa yang ingin kau tanyakan?" Hyun Jeong berusaha untuk bersikap tenang.
"Selama aku tinggal di sini, kenapa Nona tidak pernah bertanya padaku?"
Hyun Jeong sempat tertegun. "Memangnya apa yang harus aku tanyakan?"
"Kenapa aku tinggal di sini? Kapan aku akan pergi? Dan juga ... apa yang aku lakukan di Distrik 7."
Hyun Jeong terdiam dengan raut wajah yang tak menjelaskan apapun. Wanita itu tidak pernah berpikir bahwa Kihyeon akan memikirkan hal kecil semacam itu.
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Kihyeon pun menegur. "Kenapa Nona diam saja?"
"Tidak, ini hanya sedikit ..." Hyun Jeong tersenyum canggung. "Aku tidak tahu bahwa kau akan terganggu dengan hal itu. Aku hanya ingin membuatmu merasa lebih nyaman, itulah kenapa aku tidak bertanya apapun padamu ... meski aku tidak yakin bahwa kau tidak melakukan sesuatu yang buruk di Distrik 7."
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Hyun Jeong berhasil mengalihkan perhatian Kihyeon. Dan kini saatnya wanita itu mengamankan posisinya.
"Apa yang ingin Nona katakan?"
"Kau tidak ingin pergi ke kantor polisi?"
"Kenapa aku harus pergi ke sana?"
"Kau tidak membutuhkannya?"
Kihyeon terdiam, merasa telah dipermainkan oleh ucapan Hyun Jeong. Entah bagaimana caranya, kali ini Kihyeon memandang Hyun Jeong sebagai karakter yang lebih kuat.
"Nona ingin membantuku pergi ke kantor polisi?"
"Kau ingin menyerahkan diri?"
Sebelah alis Kihyeon terangkat.
Hyun Jeong berucap, "aku mendengarnya. Kepolisian Distrik 7 sedang mencari pemuda Distrik 9 yang melarikan diri saat tertangkap setelah ketahuan mencuri."
"Mencuri?"
Hyun Jeong mengangguk, meyakinkan Kihyeon agar pemuda itu mempercayai sedikit kebohongan yang ia ambil dari sebuah fakta. Memang benar bahwa kepolisian Distrik 7 tengah mencari keberadaan Kihyeon, namun pencarian itu dilakukan secara diam-diam sehingga warga sipil tidak mengetahui hal itu.
"Aku tidak yakin dengan apa yang aku lakukan saat ini. Aku tidak ingin memberikan tuduhan kepada siapapun, tapi ... pada kenyataannya hanya kau lah satu-satunya orang dari Distrik 9 yang aku kenal."
"Lalu kenapa Nona justru melindungiku?" Kihyeon menatap penuh selidik.
"Kau pernah melakukannya padaku. Kau adalah orang yang baik dipertemuan pertama kita. Tapi dengan kondisimu pada pertemuan ke dua kita, kau pikir aku akan percaya jika kau merupakan seorang tersangka?"
Kihyeon tak menyahut. Tanpa sadar ia telah terjebak dalam ucapan Hyun Jeong yang terlihat cukup meyakinkan.
Hyun Jeong kembali berbicara. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau lakukan di tempat ini. Tapi apapun itu ... aku berharap bahwa kau tidak melakukan hal yang buruk."
"Nona tahu siapa aku?"
"Hwang Kihyeon, putra dari mendiang Ketua Distrik 9, Hwang Sejin. Aku sangat terkejut, tapi pada akhirnya aku bersyukur." Hyun Jeong tersenyum.
"Apa yang membuat Nona bersyukur?"
"Hwang Kihyeon tidak semenakutkan yang orang-orang bicarakan."
"Apa yang mereka bicarakan tentang aku?"
Garis senyum di wajah Hyun Jeong memudar. Wanita itu berucap, "Hwang Kihyeon adalah orang yang sangat berbahaya. Bahkan militer Distrik 1 pun menginginkan kepala pemuda itu."
Terdengar serius, Kihyeon tak merasa terkejut meski ia juga tak menduga bahwa apa yang ia lakukan pada musim dingin awal tahun lalu akan memberikan pengaruh yang cukup besar pada masa yang kini ia jalani.
"Nona tidak takut padaku?"
"Aku merasa takut, sangat takut."
Garis senyum itu, Kihyeon kembali menemukannya di wajah Hyun Jeong. Seulas senyum yang tak bisa ia pahami maksudnya namun juga tak mampu menenangkan batinnya. Karena satu-satunya wanita yang bisa menenangkan hati Hwang Kihyeon hanyalah Kim Seo Hye.
Kihyeon berpaling, tak ingin terlalu larut dalam perasaan yang membuatnya berada dalam kesulitan.
Di bagian akhir pembicaraan mereka malam itu, Kihyeon mengambil sebuah keputusan.
"Aku akan kembali ke Distrik 9 ... sekarang."
DISTRICT 9 : FLOWER OF EVIL