Selepas dari bandara Erkan pun langsung menuju ke lokasi perkampungan yang ingin ia bangun rumah untuk tempat tinggalnya nanti.
Sesampainya di lokasi, Erkan menyapa para pekerja yang sudah mulai membangun rumah itu.
"Selamat siang, Bapak-bapak!" sapa Erkan dengan para buruh itu yang berjumlah 10 orang yang usia mereka sekitaran 45 tahunan ke atas. Meski sudah berumur, namun stamina mereka masih kuat.
"Bagaimana, Bos. Apa sesuai dengan yang Anda ingin kan?" tanya Doni ke Erkan, dengan hasil pekerjaan yang dilakukan para buruh bangunan itu.
"Hm, lumayan. Saya harap hasilnya memuaskan, sesuai yang saya ingin kan." Sahut Erkan antusias sambil ia mengawasi para pekerja itu bekerja.
Di seberang rumah yang ingin Erkan bangun ada sebuah warung. Tepatnya di pinggir jalan. Warung yang menjual berbagai macam gorengan. Suasana warung itu saat siang hari pasti ramai dengan para pembeli. Termasuk ibu-ibu yang suntuk di rumah. Dan mereka memilih nongkrong di warung tersebut. Salah satunya Ibu Jihan Mama dari Amara.
Bu Jihan yang sedang duduk di warung itu memperhatikan gerak gerik dari Erkan dan beliau pun mempertanyakan keberadaan Erkan dengan Acil Ati pemilik warung tersebut.
"Apa pria itu yang sudah membeli tanah milik Bu Farida, Cil?" tanya Bu Jihan ke Acil warung.
"Iya, itu kan, Nak Erkan yang 3 bulan lalu pernah ke sini. Ternyata jadi juga ia membeli tanahnya."
"Erkan, jadi itu Erkan?" tanya Bu Jihan antusias.
Namun, setelah Bu Jihan mengingat kejadian tadi malam, beliau kembali nampak sedih.
"Ada apa Bu Jihan? kok tiba-tiba sedih?" tanya Acil warung.
"Nggak apa-apa?"
Bu Jihan kembali asyik mengobrol dengan Acil warung. Tanpa beliau sadari ada pria yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Doni," panggil Erkan yang sudah ingin melangkah ke arah warung Acil.
"Ya, Bos." Sahut si Asisten. Dan mendekati pria itu.
"Ada yang Bos ingin kan?" tanya si Asisten kembali.
"Tidak ada. Cuma Saya hendak mampir ke warung Acil. Saya ingin menyapa ibu-ibu yang ada di sana." Tunjuk Erkan ke arah warung Acil yang ternyata warung itu bertambah ramai dengan ibu-ibu yang baru datang untuk bergosip.
"Silakan, Bos. Kebetulan mereka kangen dengan Anda. Pertama kali saya datang ke sini. Mereka menanyakan keberadaan, Anda!" ujar Doni yang mengatakan perihal ibu-ibu itu yang sering menanyakan tentang Bos-nya.
"Hm, aku juga merindukan mereka," ucap Erkan dan mulai melangkah ke arah warung dan meninggalkan Doni di lokasi proyek.
Sesampainya Erkan di warung itu. Ia langsung menyapa para wanita yang sudah berumur dan sudah bersuami yang sedang mengobrol di situ.
"Assalamualaikum, ibu-ibu." Sapa Erkan dengan begitu ramahnya.
"Waalaikum salam, Nak Erkan." Sahut mereka serempak.
Erkan setengah kaget karena para wanita itu masih mengingat dengan nama dirinya.
"Ayo, Nak Erkan duduk dulu di sini!" suruh salah satu ibu yang berbadan agak sedikit gemuk tinggi. Yang memerintahkan Erkan duduk di tengah-tengah mereka.
"Nggak usah, Bu. Saya duduk di sini saja," tolak Erkan secara halus. Dan ia mendudukkan kursi kosong disebelah Ibu Jihan.
"Nak Erkan mau minum?" tanya Acil warung.
Erkan pun menoleh ke Acil dan mengangguk. Kemudian melirik Ibu Jihan dan bertanya. "Ibu sudah minum?"
"Eh," Ibu Jihan terkejut dengan suara Erkan. Ternyata beliau tidak menyadari ada pergerakkan dari seseorang di dekat meja beliau.
"Ibu kok ngelamun. Masih ingat nggak sama saya?" tanya Erkan lagi.
Ibu Jihan pun tersenyum dan menepuk-nepuk pundak pria itu. "Ya iyalah, Ibu masih ingat kok." Sahut beliau dengan wajah senang.
"Ibu sudah minum?" tanya Erkan lagi. Karena Erkan melirik di atas meja tidak ada gelas bekas seseorang minum.
"Sudah." Ucap Beliau.
"Kapan datangnya dari Jakarta. Ibu kira kamu nggak jadi membeli tanah itu?" tanya Bu Jihan menunjuk ke arah bangunan rumah Erkan yang masih belum selesai pembangunannya.
"Jadilah, Bu. Saya kan sudah jatuh cinta sama tempat ini." Jawab Erkan senang.
"Gimana kabar, Ibu. Sehat kan?" tanya Erkan kembali.
"Alhamdulillah, sehat." jawab beliau.
"Tapi, saya lihat Ibu nampak sedih?"
"Iya, Ibu sedih sebentar lagi anak gadis Ibu menikah."
"Menikah. Maksud Ibu ... anak gadis Ibu yang masih SMA itu akan menikah?" tanya Erkan terkejut. Pasalnya Bu Jihan pernah menawarkan Erkan untuk berkenalan dengan Amara anak beliau tiga bulan lalu, namun sayangnya Amara maupun Erkan tidak sempat berkenalan.
Tiga bulan lalu.
"Jadi, Tuan ini mau membeli tanah yang di depan itu," tunjuk Ibu Jihan ke arah tanah di seberang warung Acil.
"Iya, Bu. InsyaAllah kalau rezeki. Saya berniat pengen membangun rumah di daerah sini. Karena lingkungannya asri dan tenang," ucap Erkan sambil mengedarkan pandangannya keseluruh lingkungan itu.
"Tapi sayangnya si pemilik tanah belum sepakat. Karena tanah itu ingin beliau bangun untuk kos-kosan. Padahal saya sudah membeli dengan harga mahal," ungkap Erkan yang bercerita ke Bu Jihan dengan perasaan sedih.
"Memangnya Anda datang darimana?"
"Saya dari Jakarta, Bu. Oh iya perkenalkan nama saya Erkan, Bu. Siapa tahu saya kembali lagi ke sini dan sudah ada ibu yang kenal dengan saya," ucap Erkan dengan tersenyum manis.
"Nama Ibu, Jihan. Tapi biasa orang-orang memanggil Ibu dengan panggilan Mama Amara,"
"Kok, bisa? Bu Jihan ke Mama Amara?" tanya Erkan bingung.
"Amara nama anak Ibu. Masih gadis dan umurnya beranjak 18 tahun. Dan masih kelas XII. Tapi sebentar lagi lulus." Jawab beliau antusias. Secara tidak langsung beliau ingin mempromosikan Amara untuk Erkan. Namun Erkan tidak tertarik bertanya tentang Amara.
"Nak Erkan sudah menikah?" tanya beliau kemudian.
"Sudah, Bu." Jawab Erkan dengan nada yang sedikit tidak bersemangat dan nampak dari wajah Erkan, ia terlihat seperti tertekan.
"Sudah punya anak berapa?"
"Belum ada, Bu?" Jawab Erkan dengan wajah sedikit sendu.
"Nak Erkan kapan pulang ke Jakartanya?"
"Mungkin lusa, Bu. Memangnya kenapa, Bu?"
"Kalau berkenan mampir ke rumah Ibu. Itu rumah Ibu yang ada di ujung gang." Tunjuk Ibu Jihan tepat di ujung gang dan jaraknya dari tanah yang hendak Erkan beli tidak terlalu jauh.
"Jika tanah itu jadi kamu beli dan kamu bangun rumah. Maka rumah ibu nggak terlihat lagi dari sini. Karena tertutup oleh rumah kamu." Ujar Ibu Jihan tersenyum.
"Ibu benar," balas Erkan dengan tersenyum juga.
"Mampir, ya, ke rumah Ibu. Biar Ibu kenalin sama Amara anak gadis ibu. Siapa tahu kamu suka sama anak, Ibu." Ujar Beliau yang meminta Erkan kembali untuk berkunjung ke rumah janda itu.
"InsyaAllah, Bu. Tapi ... kenapa Ibu kok antusias sekali ingin memperkenalkan saya sama anak ibu?" tanya Erkan bingung.
"Siapa tahu kamu mau nambah istri? Anak Ibu mau kok jadi istri kedua kamu," ucap beliau dengan suara pelan agar tidak di dengar oleh Acil warung.
"Ibu bisa aja," sahut Erkan dengan kekehannya.
"Ish, kamu ini!" Ibu Jihan memukul tangan Erkan seakan mereka sudah kenal lama, padahal baru beberapa menit saling kenal.
"Tapi, Ibu serius dan asal kamu tahu, anak Ibu itu cantik. Banyak pemuda yang naksir dan datang melamar. Tetapi selalu ia tolak. Nah siapa tahu dengan Nak Erkan, Amara tertarik." Gumam beliau dengan suara kembali pelan.
Erkan pun ikut berbicara dengan suara yang di pelankan. "Tapi umur Erkan sudah tua, Bu. Nggak pantas menikah dengan anak Ibu yang usianya masih muda." Ujar Erkan.
"Memangnya umur kamu berapa?" tanya Bu Jihan dengan suara kembali normal, tidak seperti tadi yang berbicara berbisik-bisik.
"27 tahun, Bu."
"Tapi nampak muda. Nggak terlihat tua. Dan masih ganteng." Ucap Bu Jihan dengan menampilkan senyuman.
'Apa coba maksud Ibu ini. Ingin menjodohkan anaknya dengan aku. Jelas-jelas anaknya masih kecil. Ya mana aku mau,' gumam Erkan di dalam hati.
"Terima kasih, Bu. Atas pujiannya."
Hampir kurang satu jam obrolan Erkan dan Ibu Jihan berlangsung, hingga Doni sang asisten datang.
Erkan pun berpamitan dengan Bu Jihan.
"Senang bertemu dengan, Ibu. Semoga lain kali kita bertemu lagi dan benar-benar menjadi tetangga." Ucap Erkan serius.
"Sama-sama, Nak Erkan. Berkunjunglah ke rumah Ibu." Pinta beliau sekali lagi.
"InsyaAllah," sahut Erkan.
Erkan pun masuk ke dalam mobilnya, setelahnya mobil itu melaju ke arah jalan raya.
Flashback off.
"Maaf kan, Saya, Bu. Waktu itu nggak sempat mampir ke rumah, Ibu. Kebetulan ada urusan mendadak dan mengharuskan saya kembali ke Jakarta malam itu juga. Ibu pasti marah kan sama saya." Erkan agak sedikit berbohong. Yang sebenarnya Erkan malas untuk berkunjung ke rumah Bu Jihan karena tidak tertarik dengan cerita Bu Jihan tentang anak gadisnya.
"Nggak apa-apa, Nak Erkan. Ibu yang bodoh, nggak tahu malu meminta anak gadisnya dinikahi pria yang sudah beristri," ucap Bu Jihan menyesal.
"Jadi, yang dikatakan Bu Farida benar, Bu Jihan. Kalau Farid akan menikah dengan Amara. Kok bisa?" tanya Ibu yang berbadan gemuk yang selalu kepo dengan urusan orang lain.
"Iya, Ibu-ibu. InsyaAllah setelah Amara lulus, dan itu terhitung tiga bulan lagi," ucap Ibu Jihan. Dan beliau sudah bangkit dari duduknya. "Acil, berapa semuanya?" tanya Bu Jihan yang menanyakan kue yang sudah beliau beli.
"Ibu mau kemana?" tanya Erkan yang ikutan bangkit dari duduknya.
"Ibu mau pulang dulu, Nak. Kebetulan Ibu belum memasak dan sebentar lagi dua anak Ibu pulang dari sekolah. Kasihan di rumah belum ada apa-apa? Ibu permisi dulu." Ujar beliau dan berpamitan dengan para ibu yang duduk di situ.
"Mari semuanya, saya pulang duluan." Pamit beliau.
"Ya!!!" sahut beberapa ibu serentak.
Erkan pun duduk kembali dengan wajah yang nampak bingung atas perubahan sikap Bu Jihan. "Ada apa dengan beliau? Apa beliau kecewa dengan aku? Karena tidak jadi datang ke rumah beliau waktu itu?" gumam Erkan dalam hati dengan rasa penasarannya.
"Sepertinya Bu Jihan terpaksa menerima lamaran dari Bu Farida." Cerita ibu yang berbadan gemuk.
"Iya, pasti Bu Farida sudah mengancam mereka. Tiga bulan lalu kan Bu Farida menagih utang ke Bu Jihan yang sebesar 20 juta itu, utang untuk biaya pengobatan Ayah Amara yang sakit. Tapi bukannya sembuh malah beliau akhirnya meninggal." Terang Acil warung.
Perbincangan mereka itu pun tak luput dari pendengaran Erkan.
'Tiga bulan lalu. Apakah itu alasan Ibu Jihan meminta aku menikah dengan anaknya. Agar aku bisa membayar utang mereka ke Bu Farida. Bu Farida kan pemilik tanah yang sudah aku beli,' gumam Erkan dalam hati.
"Yang aku tahu, jaminan utang itu kan rumah yang mereka tempati." Ucap ibu yang lainnya.
"Iya benar. Rasanya nggak mungkin Amara mau menikah dengan Farid. Farid kan terkenal dengan pemuda urakan yang suka minuman dan berjudi. Nggak ada kerjaan, sukanya menghabiskan uang orang tuanya saja." Salah satu Ibu yang lainnya berbicara.
"Kasihan Amara. Harus mendapatkan suami seperti Farid. Padahal Amara cantik, baik dan pintar. Andai aku punya anak laki-laki yang sudah bekerja, aku pasti lebih dulu yang akan melamar Amara untuk anakku." Ujar Ibu yang gendut.
"Tapi selama ini kan Amara tidak pernah menerima lamaran pria yang sudah datang ke rumah Bu Jihan. Bu Jihan selalu menolak mereka karena Amara ingin melanjutkan kuliah ke Jakarta. Karena kecerdasan gadis itu. Pasti lamaran ini ada sangkut pautnya sama rumah itu." Ujar Acil yang curiga dengan diterimanya lamaran Bu Farida untuk Amara.
'Apa mungkin alasan Bu Jihan karena itu. Karena anaknya yang ingin berkuliah di Jakarta. Agar aku bisa mengajak anaknya ke Jakarta,' gumam Erkan dalam hati dan kembali penasaran.
"Ya kita sebagai tetangga mendoakan saja semoga pernikahan Amara baik-baik saja. Dan Farid akan berubah dengan sifatnya itu dan bertanggung jawab juga." Ujar Acil warung mengakhiri perbincangan mereka tentang pernikahan Amara.
Erkan pun hanya diam sambil ia mendengarkan perbincangan para ibu-ibu tukang gosip itu.
Dan tersadar ketika ponselnya berdering dan menampilkan nama Tantri di layar benda pipih itu.