Sekarangpun Erkan mendapatkan karmanya. Atas perbuatan masa lalunya pria itu mendapatkan hukuman. Dan kenyataan kini untuk kedua kalinya pria itu menikah. Pernikahannya pun di ambang perceraian.
Wanita yang sudah ia nikahi karena terpaksa, berselingkuh di belakangnya. Meski Erkan tidak memiliki bukti, tapi ia begitu yakin dari kehamilan istri keduanya itu.
***
Erkan yang sudah tersadar dari ingatan dari masa lalunya kini hanya bisa menyesal. Menyesal karena sudah mengabaikan nasihat sang Ayah dan sahabatnya, Raka.
"Berhentilah mengkonsumsi barang-barang haram ini, Er." Pinta Raka saat itu.
Pemuda itu merasa iba dengan kondisi sang sahabat. Hidup Erkan sudah tidak terkendali saat itu, pecandu narkoba dan minuman keras.
"Kumohon berhentilah. Ini demi kesehatan kamu. Aku sebagai sahabat tidak ingin melihat kamu hancur. Kamu tahu barang-barang haram ini, sedikit demi sedikit akan menggerogoti organ-organ di dalam tubuh kamu." Ujar Raka menasihati Erkan saat itu. Erkan yang dalam keadaan sakau mengindahkan ucapan Raka. Dan meminta pemuda itu untuk pergi dari Apartemennya dan jangan pernah kembali lagi. Hingga akhirnya mereka lulus dan Erkan pun tidak pernah lagi bertemu dengan Raka.
Saat mereka lulus SMA, Raka melanjutkan studinya keluar negeri sesuai mimpinya. Sebelum Raka pergi, pemuda itu sempat menanyakan keinginan Erkan yang berkuliah di Harvard sesuai mimpi mereka. Tapi hanya lewat panggilan telepon saja.
"Halo, Er. Ini aku Raka. Sebelumnya aku meminta maaf ke kamu. Karena keinginan kamu waktu itu, aku benar-benar tidak muncul dihadapan kamu. Sebenarnya aku kecewa sama kamu. Namun aku sadar diri. Bagi kamu aku bukan siapa-siapa. Sedangkan Bella wanita yang sangat kamu cintai. Tapi aku berharap kamu lekas sadar. Jika Bella itu wanita yang tidak baik."
"Tolong, Ka! Jangan pernah mengatai Bella lagi! Wanita yang kamu bicarakan itu, sebentar lagi akan menjadi istriku!" bentak Erkan di seberang sana.
"Sebenarnya kamu meneleponku ada hal apa? Apa untuk meminta maaf? Atau hanya ingin menghina istriku saja, hah!?" masih dengan nada amarah Erkan terdengar di seberang sana.
"Tujuanku bukan itu. Aku hanya menyampaikan saja. Karena selama kamu bersama Bella, dirimu sudah berubah. Tapi ... sudahlah itu hidup kamu. Yang menjalankannya kamu sendiri. Aku sebagai sahabat hanya mendoakan yang terbaik saja. Aku cuma ingin pamit ke kamu. Jika, hari ini aku akan berangkat ke Amerika. Kamu tidak lupakan dengan impian kita. Memimpikan ingin kuliah di Harvard. Apakah sekarang mimpi kamu itu masih berlaku. Jika, kamu bersedia, aku akan menunggumu sekarang. Kita berangkat bersama." Ajak Raka kala itu.
Namun kembali Erkan menolak ajakan sang sahabat.
Jika mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Sungguh Erkan merasa malu. Malu karena mengabaikan nasihat sang sahabat. Tapi Erkan sekarang merasa bersyukur. Ternyata sang sahabat tidak pernah meninggalkan dirinya dan masih menyayangi pria itu.
Terbukti di saat pria itu terpuruk Raka lah orang pertama yang memberi dukungan semangat kepadanya. Dan hanya kepada Rakalah, Erkan menceritakan tentang penyakitnya itu.
Saat Erkan bercerai dengan Bella. Pria itu menceritakan penyebab perceraiannya. Dan Erkan berkata dengan jujur kepada Raka. Jika ia mandul.
"Memangnya kamu tahu darimana? Jika anak yang dikandung Bella itu. Bukan anak kamu?" tanya Raka saat Erkan menghubungi dirinya, kala itu.
Saat itu Raka masih berada di Amerika. Masih menyelesaikan studinya yang tersisa 6 bulan lagi.
Erkan merasa begitu beruntung. Meski selama 4 tahun kepergian Raka, ternyata nomor ponsel sang sahabat masih aktif.
Saat pria itu menghubungi Raka. Ternyata pria itu merasa senang, dan tidak menduganya. Jika sang sahabat kembali menghubungi dirinya setelah beberapa tahun terlewat.
Dengan tidak tahu malunya Erkan saat itu langsung menceritakan kondisi rumah tangganya bersama Bella. Dan Erkan bersyukur ternyata sang sahabat tidak membencinya dan sudah memaafkan kesalahannya.
"Kita manusia, pasti tidak akan pernah luput dari kesalahan," ucap Raka di seberang sana.
Raka tidak mencemooh keadaan rumah tangga Erkan yang gagal. Pria itu sudah memaafkan kesalahpahaman yang sudah terjadi dengan dirinya dan Erkan.
Erkan pun menceritakan kondisinya kepada sang sahabat.
"Aku ... mandul, Ka." Benar yang kamu katakan. Barang haram itu sudah merusak organ dalam tubuhku. Yaitu bagian reproduksi ku. Cairan milikku tidak bisa membuahkan hasil." Ungkap Erkan dengan suara yang terdengar begitu lemah di seberang sana.
"Kamu sudah konsultasi ke dokter?"
"Sudah. Dan hasilnya aku yang mandul. Pantas saja selama 1 tahun menikah Bella tidak ada tanda-tanda hamil. Aku pikir wanita itu masih mengkonsumsi obat KB. Tapi ternyata akulah yang bermasalah."
"Apa kamu sudah mengatakannya ke Bella?"
"Belum. Sebenarnya aku ingin jujur. Tapi ternyata aku mendapatkan kabar yang menyakitkan. Bella hamil dengan kenyataan aku yang sudah mandul."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah mengetahui perselingkuhannya?" tanya Raka kembali
"Aku akan menceraikan wanita itu. Maafkan semua kesalahan aku, Ka. Dulu aku sudah mengabaikan nasihatmu tentang wanita itu dan mengabaikan semua ucapan kamu." Erkan dengan begitu menyesali atas perlakuannya dulu.
"Aku sudah memaafkan kamu dari jauh-jauh hari. Sebelum aku terbang ke Amerika. Saat aku mengajak kamu pergi bersamaku."
"Terima kasih, Ka. Kamu memang sahabat terbaik aku. Aku tunggu kedatangan kamu di Indonesia. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama, kamu dan Aslan."
"Tunggu 6 bulan lagi. Aku akan menyelesaikan studi. Dan benar-benar akan menjadi seorang dokter." Ucap Raka di seberang sana dengan wajah yang terlihat bahagia. Bahagia karena cita-cita yang ia impikan akan menjadi kenyataan.
"Aku akan menunggumu. Ada kejutan yang akan aku perlihatkan ke kamu. Aku harap kamu senang dengan kejutan itu."
"Kejutan apa?" tanya Raka dengan rasa penasaran.
"Tunggu kamu datang ke sini, baru kamu bakalan tahu. Kejutannya apa? Kalau kuberitahu sekarang itu namanya bukan kejutan lagi." Seloroh Erkan. Yang membuat Raka mendengus sebal. "Terserah kamu!"
Perbincangan dua sahabat itu pun berakhir. Karena Erkan sudah merasa lelah dengan rutinitas yang ia kerjakan.
***
Ternyata kejutan yang diberikan Erkan ke sahabatnya adalah sebuah klinik bersalin. Mengingat sang sahabat yang bermimpi ingin menjadi dokter kandungan dan ingin memiliki klinik bersalin sendiri.
Erkan sengaja menghadiahkan klinik itu karena keberhasilan dari Raka yang sudah memiliki gelar dokter. Selain itu karena rasa bersalah Erkan kepada Raka.
Dengan sukarela ia memberikan klinik tersebut. Hingga sekarang sudah hampir dua tahun lebih klinik itu berjalan. Klinik yang Raka khususkan untuk wanita melahirkan yang dari keluarga kurang mampu.
Selain mengelola klinik. Raka pun bekerja di rumah sakit terbesar di kota Jakarta.
Karena merasa lelah, Erkan pun tidak sengaja tertidur di sofa panjang di ruang kerjanya. Di saat ia terlelap bayangan masa lalu itupun akan terngiang di benaknya lagi, dan membuat pria itu bersedih.
Lelah dengan kesedihannya, pria itu pun akhirnya tertidur dengan begitu nyenyak, hingga matahari pagi menerpa wajah tampannya melalui dinding kaca di ruang kerjanya.
Sepanjang malam dinding kaca itu tidak tertutup dengan tirai. Sepulang dari perusahaan miliknya Erkan berlalu membersihkan diri, dan pergi ke ruang kerja untuk mengecek kembali beberapa email laporan dari pekerja lapangan yang sudah ia tugaskan.
Setelah selesai bekerja ia yang kelelahan tertidur di sofa dan lupa menutup tirai dinding kaca tersebut. Sehingga matahari pagi menembus dinding kaca itu.
Karena diterpa silaunya matahari, Erkan pun terbangun. Menggerak-gerakkan mata elangnya dan menyesuaikan kembali penglihatannya.
Setelah terbuka lebar pria itu baru menyadari jika ia sudah tertidur di ruang kerjanya tanpa adanya bantal dan selimut.
"Astaga!! Aku ketiduran di sini ternyata. Pantesan badanku terasa dingin tadi malam. Ternyata tidak ada selimut." Gumamnya yang sudah duduk kembali.
Erkan pun meregangkan otot-otot badannya. Sambil bersuara "Semangat Erkan. Hadapi hari ini, esok dan seterusnya dengan senyuman dan yakinlah suatu saat nanti kamu akan kembali mendapatkan kebahagian." Ucapnya dengan menyemangati diri sendiri.
Erkan pun bangkit dari duduknya. Menggerakkan tubuhnya melakukan gerakan senam yang ringan saja.
Sebelum ia memulai rutinitas selanjutnya dan pergi ke perusahaan, menyiapkan diri untuk segera berangkat ke Palangkaraya.
Mengambil ponselnya yang berada di meja kerja dan membuka layar ponsel itu. Mengecek siapa saja yang ada menghubungi dirinya. Dan saat ia buka ternyata nama Tantri lah yang terlihat banyak melakukan panggilan. Selain itu ada pesan dari sang sahabat yang menanyakan kondisi lambungnya.
[Gimana dengan keadaan lambung kamu? Apa sudah membaik? Jika masih perih datang saja ke rumah sakit. Di cek ulang. Aku takut lambung kamu mengalami kerusakan] Perintah Raka yang begitu mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Ck. Pagi-pagi buta sudah menanyai kabar aku. Benar kata Aslan. Andai kamu perempuan. Kamu pantas jadi istri aku," gumam Erkan sendiri sambil tersenyum membaca pesan dari Raka.
"Sayangnya kamu laki-laki," ucapnya. Sambil mengetik isi pesan yang akan ia kirim ke sahabatnya itu.
[Kondisiku sudah membaik. Terima kasih atas perhatian kamu, Sayang. Benar kata Aslan kamu itu pantasnya jadi istriku saja.] Kelakar Erkan yang kembali tertawa sendiri dengan isi pesan yang ia balas untuk Raka.
[Sialan kalian berdua. Memangnya aku guy. Sampai aku harus merangkap menjadi istri kamu.] Isi pesan Raka yang mengumpat Erkan.
Bukannya marah, Erkan malah tertawa terbahak-bahak dengan umpatan sang sahabat.
[Jangan-jangan selama ini kamu memang benar menyukai aku. Hanya saja kamu malu mengungkapkannya.] Seloroh Erkan lagi.
[Gila kamu, Er. Jangan-jangan ... Kamu lagi yang sudah menyimpang. Dua kali menikah, dua kali cerai. Membuat kamu frustrasi. Dan ingin mencari pengalaman yang baru. Iyakan?]
[Kalau kamu lawannya, it's oke. No problem. Kamu mau? Biar kita coba.] Erkan membalas pesan itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Pagi hari bukannya bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Raka yang berada di seberang sana malah membuat sang sahabat seperti orang gila.
Sedari menerima chat dari Raka. Erkan tidak berhenti-berhentinya tertawa.
Sedangkan Raka yang sedari tadi membalas chat dari Erkan terlihat sama, tertawa terbahak-bahak sehingga membuat sang istri keheranan.
Pagi ini Raka dan istrinya berada di meja makan sedang sarapan pagi. Berbeda dengan Erkan yang belum melakukan apa-apa. Untuk membersihkan diri pun pria itu belum sama sekali.
Sesaat ia melupakan rasa gundahnya yang ingin memiliki anak untuk jadi penerus perusahaannya kelak. Seperti dirinya yang di pertanggung jawabkan untuk memegang perusahaan milik keluarganya sekarang.
[Otak kamu memang benar-benar sudah menggeser, Er. Aku jijik sama kamu. Mulai hari ini aku nggak akan menemui kamu lagi. Aku takut kamu goda dan kamu perkosa.] Seloroh Raka lagi.
[Jangan begitu, Honey. Aku bakalan kangen lho nantinya.] Balas Erkan yang sudah ngelantur. Tapi hanya candaan dirinya saja. Raka di sana pun membalas chat itu hanya sekedar bercanda.
"Siapa, sih, Mas? Yang chatan sama kamu, perasaan dari tadi kamu ketawa terus. Sampai sarapan kamu aja belum disentuh." Tanya sang istri Raka yang tampak bingung dengan tingkah sang suami.
"Hm," mendongak menatap sang istri. "Oh, ini. Berkirim pesan dengan Erkan. Kasihan pria itu. Rupanya bercerai dengan istrinya membuat ia gila." Ujar Raka sambil tertawa di hadapan istrinya.
"Cerai. Memangnya, Mas Erkan, mau cerai lagi?" tanya sang istri penasaran.
"Hampir cerai. Tapi pengadilan tidak menyetujuinya."
"Kenapa cerai? Dan kenapa hakim tidak menyetujui perceraian itu?" tanya sang istri penasaran.
"Tantri hamil dan anak itu bukan anak Erkan. Tantri berselingkuh. Tapi Hakim tidak menyetujui gugatan cerai Erkan, karena Erkan tidak ada bukti. Dan perceraiannya di tunda selama 1 tahun. Setelah Tantri melahirkan. Erkan ingin mencocokan DNA anak itu. Apakah benar anak Erkan atau anak dari selingkuhan Tantri?" terang Raka ke istrinya.
[Honey ... Kamu marah, ya? kok chat aku nggak dibalas.] Rupanya Erkan mengirimi chat untuk Raka lagi.
[Er sudah, ya. Aku capek dari tadi tertawa terus dengan tingkah gila kamu. Sampai ditegur istriku. Aku mau lanjut sarapan dulu.] Raka pun menyudahi chatnya dengan Erkan dan kembali menghabiskan sarapan karena pelototan sang istri.
Istrinya bukan marah karena Raka asyik berkirim chat dengan Erkan. Namun sang istri marah karena Raka belum sama sekali menyentuh sarapannya. Sedangkan waktu berjalan cepat, waktunya ia berangkat ke rumah sakit.
"Cepat habiskan sarapan kamu. Kita nggak bisa santai, Mas. Kita bukan Erkan yang seorang bos. Yang bekerja sesuai keinginannya. Nanti setelah kamu tiba di rumah sakit. Kalian bisa lanjutkan kembali kegilaan kalian berdua itu." Seloroh sang istri sambil menggeleng-gelengkan kepala, mengingat tingkah laku sang suami dan sahabatnya itu.
Raka bersyukur memiliki istri seperti Dinda. Yang bisa memahami kelakuan sang suami dan dua sahabatnya Erkan dan Aslan yang sama-sama gila.
Seorang sahabat akan selalu ada di saat suka dan duka. Sahabat sejati akan selalu mengingatkan kita jika kita melakukan kesalahan. Bukan malah pergi saat kita terpuruk dan tanpa tujuan.
Tidak ada kata terlambat untuk mengakui kesalahan. Karena rasa penyesalan datangnya belakangan.