Nama gue Jason, anak Teknik Mesin semester akhir, “Hey Sayang,” sapanya. Ini kenalin ini pacar gue namanya Rose Darius panggil aja Rose. Cewek-cewek gini, dia anak Teknik Mesin. Rose langsung duduk di sebelah gue dan meluk pinggang gue dengan erat, kangen kayanya.
“Sayang!” Gue jawab pake deheman. Dia meluk lengan gue manja. “Aaa...” dia ngebuka mulutnya sambil natep batagor yang ada di depan gue. gue langsung suapin Rose batagor pake sendok baru ke mulutnya.
"Udah?" Tanya gue santai.
Rose cuman ngangguk dan melingkarkan tangannya di lengan gue dan nyenderin kepalanya di pundak gue, "kamu ada kelas?" Tanyanya sambil natep muka gue.
"Iya ada. Kenapa?" Gue sebenernya capek, pengen tidur agak lama. Gue kuliah di kampus paling mengutamakan olahraga. Yah, setara dengan beberapa kampus Ivy League yang ada di Amerika sana.
"Wey! Bucin mulu kalian berdua!" Samuel langsung duduk di sebelah George yang lagi ngerjain tugasnya sambil ngedengerin podcast. Samuel dan George adalah temen-temen gue satu SMA. Ya! SMA Karang Taruna II yang ada di ibu kota. Samuel dan gue adalah anak teknik, sedangkan George adalah anak fakultas Ilmu Politik dan Hukum di tahun akhir.
"Mengapa cerite Indonesia begitu seram?" Gumam George.
Samuel langsung ngelap tangannya di baju terus tarok salah satu Air Pod-nya George di telinga. "Ya seremlah, lo denger podcast ginian!" Timpal Samuel. Soal asmara, Samuel masih single, sementara George dan gue udah punya pacar. Ya gimana gak single terus orang incerannya itu kating yang lagi magang di Puskesmas sekitaran sini.
"Apaan sih lo!" George langsung merebut Airpods miliknya. Ya, inilah ke seharian kita.
"Jason..." kita berempat langsung noleh ke arah suara dan ngehembusin napas gue kasar. "Aku..." gue langsung berdiri dan di ikuti oleh Samuel dan Rose.
"Jas, Pak Jay udah dateng!" Ucap Samuel sambil ngeliat chat dari hapenya.
Gue natep mantan gue di depan, dan gue hanya tersenyum. "Maaf Jen," ucap gue lirih. "Aku gak bisa balikan sama kamu. Aku udah punya pacar, dan aku gak bisa kalo gak ada restu dari orang tua. Kalo mereka gak setuju, yaudah." Ucap gue. Kita putus karena gue bukan dari kalangan orang berada.
"Jas..." Dia tahan tangan gue.
Gue ngehembusin napas gue kasasr dan tetep berusaha senyum. "Jen, aku ada kelas. Aku gak mau bikin masalah sama tunagan kamu," gue langsung lepasin cengkraman tangannya di tangan gue dan senyum ke Rose.
Rose masih gelayutan manja dan gak mau lepas. "Aku duluan ya? Pak Jay galak loh!" Canda gue. Rose cuman cekikikan dan ngelepasin tangannya.
"Aku pulang dulu ya? Aku ada kerja kelompok," ucapnya. Gue cuman nganggukin kepala dan tersenyum.
"Yaudah, hati-hati." Ucap gue santai.
Gue langsung berlari kecil menghampiri Samuel yang lagi jalan santai nungguin gue. Gue ini anak beasiswa dari olah raga basket dan nilai. Para dekan dan petinggi di kampus ini ngasih gue beasiswa full sampe gue lulus. Yah, sebisa mungkin gue harus bisa ngejaga beasiswa ini. Golden Oak Academy adalah salah satu kompleks akademi yang bisa di bilang sangatlah elit.
Dari playgroup sampai kampus di Golden Oak Academy isinya adalah orang-orang yang berada. Dan hanya 2,5% adalah anak kek gue yang bisa masuk dengan beasiswa. Yang pernah gue denger dari Golden Oak Academy ini dari SD sampe Univeristas sering ngadain beasiswa full sampe lulus, fasilitasnya juga memadai. Banyak alumni dari sini yang berhasil kerja di perusahaan besar di kancah nasional maupun internasional.
Di setiap kampus, pasti ada orang yang nyebelin pake banget. Yap, benar. Bullies. Larry dan gengnya udah berdiri di depan gue dan natep gue tajem. "Lo kalo gue liat sama Jenny lagi, Jas. Gue bakalan cabut beasiswa lo!" Ancamnya.
Gue cuman ngehembusin napas gue kasar dari mulut. Gue mau tonjok mukanya saat ini juga, tapi dia adalah donatur terbesar di Golden Oak Academy. Emang harus mikir otak dulu kalo ngehadepin dia. "Dia yang samperin gue, posesif. Saksinya banyak kok," gue langsung ngerangkul pundaknya dan dia langsung nepis kasar tangan gue.
"Gue gak sudi di sentuh sama orang miskin kek lo!" Hardiknya sambil natep gue sinis.
Sabar Jas, cobaan dari Tuhan. Gue langsung nepuk bahunya dan senyum. "Dah ya? Lo bukannya ada kelas juga? Ntar lo di marahin loh sama bokap lo," ucap gue agak mengejek. Gue dan Samuel langsung jalan ke kelas dan udah ada Pak Jay yang juga baru masuk ke kelas gue.
Gue dan Samuel langsung ambil bangku tengah dan pelajaran pun di buka sesudah salam.
.
.
.
.
.
.
Kelas Pak Jay di tutup dengan ia memberikan sebuah quiz yang untuk di selesaikan berkelompok. Sekarang saatnya untuk melakukan kegiatan di luar jam kampus. Karena gue adalah atlet basket, jadi gue gabung tim basket. Golden Oak Academy ini mempunyai tim cabang olahraga lain kaya lacrosse, baseball, kayaking, regu tembak, polo, dan anggar.
Tim basketnya aja bahkan pernah masuk NBA pada tahun 2008 dan jadi runner-up di NBA International College Team Championship setelah mengalahkan salah satu dari tim Ivy League. Gue sekarang sudah ada di lapangan basket dan di sambut sama Coach Aiden yang lagi ngehampirin gue.
Coach Aiden langsung nepuk bahu gue dan ngehembusin napasnya. "Jas, kumpul dulu bentar ya? Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Ucap Coach Aiden.
Coach Aiden ini masih muda dan single. Banyak asdos dan dosen cewek serta mahasiswi yang masih single pengen jadi orang yang berdiri di samping dia, tapi sayangnya Coach Aiden masih belum bisa buka hatinya. Banyak rumor yang bilang kalo Coach Aiden ini udah nikah, tapi cerai gegara dia cuman guru doang. Namanya rumor, mana bisa di buktikan kalo orangnya gak konfirmasi langsung.
"Ekhm..." seluruh pasang mata menatap Coach Aiden dan suara yang terdengar rame langsung berhenti. "Jadi, saya mengumpulkan..." omongan coach terhenti karena si anak manja dateng terlambat. Dia langsung di berhentikan sama Coach Aiden karena ketahuan mau nyelip.
Coach Aiden yang kesel hanya bisa ngehembusin napasnya kasar dan natep tajem orang yang lagi ambil napas. "Sebelum saya menyampaikan sesuatu..." gue cuman bisa ngehela napas panjang "...teman kalian bernama Larry Suatmodjo Putra, sudah terlambat 3 menit. Ingat perjanjian di awal? Sekarang kalian Triple Combo masing-masing sebanyak 30 kali! Ada yang berhenti, semua ulang dari awal." Perintah Coach Author.
Kita semua langsung buka baju dan ganti jersey basket Golden Oak Academy dan menyisakan jelana jeans dan sepatu skets yang kami pake. Triple Combo dari Coach Aiden adalah Push Up, Pull Up, dan Lari Zig-Zag. Coach Aiden mendrible bola basket lalu ia melakkukan shooting selagi kita melakukan Push Up.
"Larry sialan!" Umpat Kelvin.
"Kok gue sih!? Gue cuman telat 3 menit!" Larry langsung berhenti dan seluruh tim langsung ngedesah kesal. Gimana gak kesel, tangan gue udah capek dan gemeter.
Kelvin yang kesal langsung ngehampirin Larry dan ngedorong bahunya. Suara peluit pendek namun keras terdengar di telinga kami. Coach Aiden langsung menghampiri dan menatap tajam kami semua dengan bergantian. "Cuman tiga menit!? Oke, kalo gitu kalian semua lari ngelilingi lapangan 30 kali. Khusus Larry yang bilang cuman 30 menjadi... 180 kali!" Perintah Coach Aiden. Seluruh tim mulai lari dan kita masih pake celana jeans.
Larry cuman diem dan natep Coach Aiden takut. Gimana gak takut, 180 kali lari! Sering telat sih! Entah apa yang coach bilang ke dia, Larry langsung mulai Triple Combo.
.
.
.
.
.
.
Selesai latihan basket dan mendengarkan pengumuman dari Coach Aiden, gue memutuskan buat rehat sejenak sama pemain lain. "Jas," gue dehem. "Denger-denger pacar lo itu mata-mata ya?" Tanya Kelvin, lalu ia meminum air minumnya. Hah!? Apa? Mata-mata?
"Gue bilang kan jangan di sebarin dulu, Kelv!" Timpal Keith.
"Lah, kan gue tanya, jerapah kurus! Lagian bini lo noh yang juga nyebarin!" Bela Kelvin. Hah!? Masa?
"Udah Jas! Jangan di percaya omongan si cungkring. Dia kadang kalo capek ya... kaya gini." ucapan Keith mendapat tendangan di punggungnya dan ia jatuh tersungkur.
"Anjir lo ya!" Keith langsung menendang balik Kelvin dan mereka berdua masih adu mulut. Hah! Tapi masa yang di bilang sama Kelvin itu bener? Pacar gue, Rose itu adalah mata-mata? Ketika gue pengen tanya ke Keith dan Kelvin, tapi gue urungin niat karena mereka masih adu mulut.
Mungkin gue tanya mereka besok aja deh. Gue segera melerai kedua orang yang tadi lagi berkelahi. "Udah, udah! Rose kan pacar gue masa kalian yang repot?" Gue ngehela napas panjang. Keknya gue harus tanya Rose deh tentang kebeneran rumor ini.
TBC