Asep bangun pagi-pagi sekali, badannya pegal-pegal semua. Carrier yang dia bawa kemarin ternyata lebih berat dari yang dia kira, apalagi di bagian bahu kanan yang sampai sekarang masih terasa nyeri. Dia duduk di pinggir kasur, ambil hp di meja samping, dan iseng-iseng lihat ke sekeliling kamarnya yang terbuat dari papan. Matanya menangkap sesuatu yang bergerak dari balik sela-sela papan di dinding sebelahnya.
"Oo, ada kamar di sebelah sini," pikir Asep.
Sebelum Asep kembali ke hp-nya, bayangan itu lewat lagi. Kali ini lebih jelas, seorang gadis. Tapi karena celah papannya sempit banget, Asep nggak bisa lihat jelas mukanya.
"Kayaknya Harumi," bisiknya dalam hati.
Tapi saat Asep mau balik lagi ke hp-nya, gadis itu berhenti di depan cermin dan ternyata... dia nggak pakai baju sama sekali.
"Lagi ngapain sih cewek itu?" Asep jadi penasaran. Karena celahnya sempit, dia pun berdiri dan cari-cari celah lain yang lebih lebar di dinding kayu itu. Setelah beberapa saat mencari, dia menemukan celah yang lumayan besar, cukup buat satu matanya.
Asep menempelkan mata di sana dan langsung terpana. Di depan matanya adalah tubuh gadis itu yang sempurna. Kulitnya putih cerah, pantatnya montok dan bulat, buah dadanya sempurna dengan ceri pink yang keràs dan sedikit naik ke atas.
"Bukan Harumi. Siapa ini? Lebih bagus dari Harumi," pikir Asep.
Pagi di Dusun Bidari emang dingin banget, dan kayaknya efeknya langsung terasa ke Asep. Terong 22 cm itu langsung berdiri tegak, ditambah lagi pemandangan di depan mata sekarang, jadi makin keras.
Asep makin nggak bisa lepas ngelihatin saat gadis itu pelan-pelan elus buah ceri. Asep makin jelas liat tangan gadis itu muter Ceri dengan lembut, sambil matanya sedikit merem dan kadang nggigit bibir bawah. Asep sampai lupa diri, sekitar lima menit dia cuma bisa ngeliatin itu. Dari cahaya matahari yang masuk, Asep liat ada cairan bening yang ngalir dari paha bagian dalam gadis itu sampe ke betis.
"Gila, banjirnya cepet banget. Baru pertama kali liat yang segini cepetnya," pikir Asep.
Tapi karena badan Asep yang gede, tinggi 180 cm dan berat, ranjang kayu yang dia tumpangi jadi sedikit bunyi.
"Kreeeak..."
Gadis itu langsung nengok ke arah suara. Mata mereka langsung bertemu lewat celah itu.
"Mati aku!" spontan Asep menghindar. Karena panik, gerakannya jadi kacau dan malah bikin ranjang dan papan makin berisik.
"Kreeeak... kreeeak... krek... krek..." "BUGK!" Kakinya yang turun dari ranjang malah bikin suara gaduh.
"Mampus aku!" Asep panik total. Dia langsung buru-buru keluar kamar, nggak berani lihat ke belakang.
Beberapa saat kemudian, Asep sudah duduk santai di teras rumah kepala dusun, coba-coba bikin dirinya kelihatan biasa aja. Dia pura-pura lagi ngamatin orang-orang yang lalu lalang di halaman, tapi sebenernya jantungnya masih deg-degan. Dia takut-takut kalau gadis tadi bakal teriak dan bilang ke semua orang kalau ada dokter m***m yang ngintip.
Baru sekitar sepuluh menit dia duduk, dari dalam rumah muncul sosok yang membuat Asep ngelak. Gadis itu. Gadis dari tadi pagi.
Dia jalan pelan ke arah Asep sambil membawa nampan kecil yang ada secangkir kopi di atasnya. Asep bisa liat jelas sekarang. Wajahnya cantik, matanya coklat Hampir seperti amber muda yang menangkap cahaya matahari pagi.
dan dia kelihatan pemalu. Dia pakai baju adat Dusun Bidari dengan model kebaya tapi tidak di lilit melingkari kaki, hanya dengan di ikatkan darj samping pinggang membuat satu kaki gadis itu dari samping nampak jelas dari betis sampai paha atas dan atasan model Kemben yang warnanya cerah, sehingga tampak buah cerinya terbentuk di balik Kemben.
"Pak, Saya si suruh Abah anter kopi Kepala," katanya dengan suara pelan, nggak berani nengok langsung ke Asep.
"Maaf, tadi tidak sengaja" kecepolosan karena Asep yang masih panik, dan coba jawab sebiasa lagi. "Oh, iya, terima kasih."
Gadis itu menaruh kopi di meja kecil di samping Asep. Saat mau balik badan, sebentar aja dia nengok ke Asep. Matanya mereka bertemu lagi. Tapi kali ini nggak ada keterkejutan atau marah. Pandangannya cuma sebentar, tapi Asep bisa ngerasain ada rasa malu dan sesuatu di situ. akhirnya dia balik badan dan masuk ke dalam rumah.
Asep ngehela napas. Dia baru ingat. Tadi malam kepala dusun pernah cerita kalau dia punya dua anak perempuan. Yang satu lagi Arumni.
"Jadi itu mungkin Arumni," guma Asep sambil ngeliat kopi di depannya. "Kakaknya Harumi."
Dia ngambil kopi itu, tangannya masih sedikit gemetar. Dia minum sedikit, coba menenangkan diri. Tapi pikirannya tetap balik lagi ke pemandangan pagi tadi dan tatapan mata Arumni barusan.
Asep kembali menatap ke jalan, Semua perempuan Bidari yang dia temui sejauh ini memang punya warna mata coklat muda khas. Tapi perempuan yang baru lewat tadi terasa sedikit berbeda. Ada keseimbangan aneh di proporsi wajah, postur, bahkan cara dia bergerak yang membuat teori kecil tentang genetik yang sejak kemarin menggantung di kepala Asep mulai terasa semakin menarik.
“Sudah bangun rupanya.”
Suara kepala dusun membuat Asep menoleh dari lamunannya. Pria itu keluar ke teras sambil membawa gelas kopi hitam besar di tangannya, lalu duduk santai di bangku kayu seolah udara sedingin itu sama sekali tidak punya efek apa-apa buat tubuhnya.
Asep mengangkat cangkirnya sedikit sebagai salam.
“Dokter boleh telat makan, Pak,” katanya sambil meniup pelan kopi panas di tangannya, “tapi kalau telat kopi, risiko medisnya mulai susah diprediksi.”
Kepala dusun terkekeh pendek lalu menyandarkan bahunya ke tiang rumah.
“Bagus berarti. Orang sini juga hidupnya gak jauh dari kopi.”
Asep mengangguk kecil sebelum kembali melirik ke arah jalan tempat perempuan tadi menghilang.
“Pak, saya mau tanya sesuatu,” katanya santai sambil memutar pelan cangkir hangat di tangannya. “Yang barusan antar kopi… siapa?”
Kepala dusun mengikuti arah pandangnya sebentar sebelum menjawab.
“Yang antar kopi?”
“Iya.”
“Itu Arumni.”
Asep menoleh sedikit.
“Anak bapak juga?”
Kepala dusun mengangguk santai sambil mengambil satu tegukan kopinya.
“Kakaknya Narumi.”
“Oh…”
“Kenapa oh?” tanyanya cepat sambil menyipitkan mata geli.
Asep langsung tertawa kecil.
“Gak apa-apa, Pak. Saya cuma mulai punya teori kecil soal dusun bapak.”
“Teori apa?”
“Bahwa genetik di dusun ini punya pola.”
Kepala dusun langsung ketawa pendek mendengar itu.
“Kamu memang dokter. Baru sehari datang, yang dipikirkan tetap genetik.”
“Profesionalisme.”
“Atau alasan supaya bebas mengamati orang?”
Asep menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos berlebihan.
“Pak… pagi-pagi begini saya sudah difitnah.”
“Jawab dulu.”
Asep akhirnya menyerah sambil tertawa.
“Oke. Sedikit mengamati.”
“Nah, jujur kan.” Kepala dusun meletakkan gelasnya pelan di lantai teras. “Arumni itu pemalu. Kelihatannya tenang, jarang ngomong… tapi kalau sudah penasaran satu hal, selesai. Bisa muter terus di kepalanya.”
“Maksudnya tipe yang diam-diam kepo?”
“Persis.” Kepala dusun menunjuk samar ke halaman depan. “Dulu ada pedagang bawa radio dari bawah. Dia lihat sebentar doang. Tiga hari setelah itu saya ditanya terus. Orang di dalam kotak itu makannya kapan, tidurnya di mana, kenapa suaranya gak habis-habis.”
Asep langsung ketawa.
“Oke… saya suka logikanya.
“Kamu jangan suka dulu.” Kepala dusun melirik HP satelit yang sedikit keluar dari saku jaket Asep. “Kalau dia tahu benda kecil di sakumu itu bisa buat lihat orang bergerak… habislah kamu.
Asep otomatis ikut melihat HP satelitnya sendiri sebelum menggeleng sambil tertawa kecil.
“Wah. Berarti saya harus siap buka kelas teknologi dadakan.”
"Oo iya, Maaf Pak, tempat yang bisa di gunakan peraktek saya dimana ya" tanya asep penasaran.
"nanti siang kita kesana,, tukang juga sudah siap, bantu merapihkan tempatnya.