Wicaksono tiba di kantor BIN dia langsung masuk ke dalam ruangan direktur utama BIN. Dia membanting pintu dengan keras dan berjalan cepat mendekati meja kerja direktur utama itu. Tangannya di letakkan di atas meja tepat di hadapan direktur utama BIN dan matanya menatap nyalang.
“Sepertinya kau sedang sangat bersantai saat ini!” Sapa Wicaksono geram.
“Maafkan atas kecerobohan saya, Pak! Seharusnya saya langsung menghabisi dua orang itu saat di Zurich.”
“Seharusnya ya? Jika berbicara seperti itu, seharusnya kau saja yang mati!” Bentak Wicaksono. Satu tangannya langsung mencengkram kerah baju direktur BIN itu.
Entah di mana harga dirinya saat ini. Wibawanya pun tidak tampak sama sekali saat ini. dia seperti pesakitan yang akan menuruti semua perkataan Wicaksono. sungguh sangat ironis. Ora