Pagi menjelang siang, langit seakan ragu-ragu menurunkan kuasa-Nya. Atas sana tak terlihat cerah tak juga terlihat mendung. Namun pancaran hangatnya sedikit terasa di kulit yang berwarna kuning langsat itu.
Dengan tanpa melepas kaus kaki yang menutupi aurat kakinya, ia melangkah menuju ke sebuah warung kecil yang tak jauh dari rumahnya. Banyak yang akan dibeli. Sayur mayur dan beberapa bumbu yang habis di antaranya.
“Mau beli apa Mbak?” tanya penjual yang siap melayani. Tangannya sibuk membereskan barang dagangan yang berantakan karena hampir penutupan.
“Apa ya teh, saya pilih dulu ya, Teh?”
“Makanya kalau belanja itu pagi mbak, kalau pagi masih banyak. Kalau siang gini mah tinggal sisa,” ujar si penjual sayur yang bernama Yati tersebut. Salwa hanya menanggapi dengan senyum dari balik cadarnya. Tapi masih dapat terlihat dari matanya yang menyipit.
Justru ini tujuan Salwa. Menghindari berkerumun dengan orang-orang di sekitar yang selalu membuatnya kurang nyaman. Tak jarang, nyinyiran dari orang-orang yang tidak menyukainya membuat dinding pertahanannya runtuh.
“Kalau cuma ke warung mah nggak usah pakai cadar sama kaus kaki atuh, Mbak. Kan dekat.”
Tak ingin dianggap seolah manusia yang paling benar, Salwa hanya menanggapi teteh warung itu dengan senyuman lagi. Pandangan dan pendapat orang selalu berbeda-beda, dia bukan siapa-siapa dan bukan ranahnya untuk menjelaskan.
Semua yang dibeli sudah terkumpul, Salwa memanggil teh Yati untuk menghitung belanjaan sayur mayurnya.
“Sudah Teh, tinggal berhitung.”
“Oh iya sebentar,” dengan cekatan Yati menghitung awang-awang tanpa kesalahan. Sudah seperti manusia kalkulator saja pikir Salwa. “Total lima puluh empat ribu.”
Salwa mengeluarkan beberapa lembaran uang dari dompet kecilnya.
“Widih, uangnya banyak tuh Wa, dapet dari mana tuh? Halal nggak?” celetuk salah satu tetangga yang baru saja datang. Dengan tujuan sama untuk membeli sayuran.
“Astaghfirullahaladzim, ati-ati dong ngomongnya, Bu!” Teh Yati berusaha membelanya.
“Semua orang di kampung ini juga tau dia siapa teh.”
Salwa buru-buru meraih kantong plastik berisi sayuran yang sudah ia bayar. “Teh Yati, belanjaannya kan udah, saya langsung pulang ya.”
“Jangan diambil hati mbak Salwa, makasih ya.”
“Iya sama-sama.”
Membuatnya mau tak mau ia harus menelan bulat-bulat cibiran-cibiran orang di sekitarnya. Menanggapi cibiran dari orang lain, hanya akan membuatnya lelah lahir dan batin. Membuang waktu untuk hal yang tidak berguna.
Sabar. Itu kalimat yang selalu terucap untuk dirinya sendiri. Mencoba meminta kekuatan dan petunjuk dari Tuhan. Yang membuat hatinya jauh terasa lebih lega.
Setelah sampai di rumah, Salwa langsung meracik masakan. Rencananya, ia akan memasak makanan kesukaan Zikra. Yaitu sayur sup dengan potongan-potongan bakso kecil-kecil serta diberi taburan bawang goreng di atasnya. Demi menekan pengeluaran, ia tak perlu menambah lauk pauk lainnya.
Beberapa puluh menit berlalu, masakan pun terhidang di meja. Salwa mengajak anak semata wayangnya untuk makan siang. Senyumnya tercetak lebar. Saat melihat Zikra makan dengan lahap masakannya.
“Nanti sore, anterin lagi Zikra ngaji ya?” pinta Zikra antusias. “Zikra mau setor hafalan surat Alfatihah sama Pak Ustaz.”
“Iya sayang, nanti sore Mama anterin lagi Zikra ngaji. Tapi habiskan makanannya ya.”
“Iya Ma,” jawab Zikra. “Mobil-mobilannya, udah bisa beli apa belum, Ma?”
Salwa mendekat guna memberikan pengertian, “Sayang, bukannya Mama nggak mau beliin.
Tapi, uang Mama belum cukup buat beli mobil-mobilan itu, Nak. Harganya mahal. Nggak harus sekarang ‘kan?”
Raut wajah Zikra terlihat sedikit murung. Namun, sedetik kemudian, senyum Zikra kembali terbit ketika seseorang datang mengucap salam.
“Waaah! Pak Ustaz?” pekik Zikra langsung berlari mengulurkan tangannya untuk salim.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Salwa. “Silahkan masuk Pak Ustaz …”
Dengan raut wajah khawatir, ustaz Adam duduk dengan hati-hati di kursi kayu yang sudah terlihat tak lagi layak itu.
Salwa terlebih dahulu mengambil air minum untuk tamunya. Sementara Zikra sibuk berceloteh dengan guru ngajinya, sesekali diselingi oleh tawa keduanya.
“Maaf, ada perlu apa, ya?”
“Begini mbak Salwa, saya hanya ini ada bantuan dari hamba Allah. Mohon untuk digunakan dengan sebaik-baiknya.”
Bukan hanya untuk Salwa seorang. Bantuan semacam ini memang sudah biasa dibagi-bagikan untuk anak-anak yatim dan orang-orang yang kurang mampu. Hasil dari sumbangan warga setempat.
“Tapi Pak Ustaz, masih banyak yang lebih membutuhkan daripada saya,” tolak Salwa halus.
Meskipun ia hidup dalam kekurangan, tapi tidak ada keinginannya untuk hidup dengan tangan di bawah. Ia tak ingin menjadi belas kasihan orang lain.
“Saya hanya menyampaikan amanah Mbak Salwa. Saya berdosa jika saya tak menyampaikannya.”
“Mungkin, mbak Salwa merasa cukup, tapi Mbak Salwa bisa simpan ini untuk kebutuhan anak mbak Salwa. Yaitu Zikra,” sambung orang itu lagi.
Antara iya atau tidak, manik mata itu masih melihat amplop berwarna putih yang ustaz letakkan di atas meja.
“Kalau begitu saya pamit dulu mbak Salwa, masih ada urusan di tempat lain.”
Ustaz Adam beranjak berdiri dari duduknya. Namun, sebelum beliau benar-benar pergi, langkahnya sempat tertahan saat mendengar Salwa membuka suara.
“Emm, syukron Pak Ustaz.”
“Afwan, mbak Salwa.”
***
“Zikra udah hafal bacaan al fatihahnya?” tanya Salwa.
“Udah Ma, tapi nanti Pak Ustaz yang benerin bacaannya.”
“Oke kalau begitu.”
Seperti kemarin, Salwa mengantarkan anaknya mengaji ke masjid An Nur. Kelas satu sebentar lagi akan mulai. Sengaja datang tepat waktu agar tak menunggu Zikra terlalu lama.
Zikra berucap lembut, “Mama tunggu disini ya, jangan pulang ya,”
“Ramah banget sih anak mama,” Salwa mencubit pipi Zikra dengan gemas. “Mama tunggu disini. “Yang pinter ngajinya ya, Nak.”
Zikra mengangkat jempolnya penuh dengan semangat.
Kebanggaan menyeruak di hatinya pada saat melihat Zikra dari kaca bening samping masjid. Memperlihatkan betapa percaya dirinya Zikra dengan hafalan Alfatihah yang bagus, dan yang paling baik di antara yang lainnya.
“Allahumma arinal haqqa haqqan warzuknat tibaa’aahu. Wa arinal baathila baa-thilan warzuqnat tinaabahu.”
Doa serentak setelah selesai mengaji, pertanda mengaji telah selesai berganti dengan kelas yang lain.
“Mama, udaaaahh!” Zikra berlari dan memeluk mamanya. Diikuti oleh Ustaz Adam di belakangnya.
“Hafalan Zikra paling baik diantara yang lain,” pujinya dengan menatap anak muridnya.
Salwa tersenyum bangga, “Zikra memang rajin menghafalnya.”
“Zikra pulang dulu ya, Pak Ustaz,” Zikra menyalami guru ngajinya.
Salwa menundukkan kepalanya, “Pamit dulu pak ustaz assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Baru beberapa langkah perjalanan, langkahnya sempat terhenti pada saat seorang perempuan berdiri menghadang di depannya.
“Nganter-nganterin anaknya ngaji, modus aja, taunya emang kamu yang lagi kegatelan sama suami saya. Munafik!”
Plak!
“Akhh!” jerit Salwa.
Satu tamparan berhasil membuat pipi Salwa memanas. Yang membuat Zikra langsung berteriak. “Mamaaaa!”
Manik mata Salwa mengembun. Kenapa Zikra harus melihat kejadian ini? Tidak bisakah dia membicarakannya baik-baik?
Kejadian ini sontak mengundang perhatian dari orang-orang. Dan ia baru menyadari bahwa kedatangan ustaz ke rumahnya siang tadi telah berhasil mengundang fitnah.
“Jangan pukul mama, Tante!” Zikra memeluk erat mamanya yang juga ikut berkaca-kaca. Zikra adalah sosok kecil yang paling terluka jika melihat Salwa menangis.
“Saya dapat laporan siang tadi suami saya mampir ke rumah kamu, ngapain? Apa yang dikasih suami saya ke kamu!?”
“Tante jahat!” Seru Zikra.
“Dasar p*****r!” umpat wanita yang berstatus istri ustaz tersebut. “p*****r akan tetap jadi p*****r yang bisanya menghancurkan rumah tangga orang lain!”
“Mama .…”
“Kembalikan uang saya yang udah masuk kantong kamu, sini!”
“Oh pantesan uang kamu tadi pagi banyak banget, ternyata hasil dari ...” sahut ibu-ibu yang tadi pagi menjumpainya di warung. “Godain ustaz,” sambungnya lagi.
“Emm gitu ya Bu-Ibu.”
“Ayo kita pulang, Nak,” ajak Salwa meraih tangan putranya. “Uangnya ada di rumah, nanti saya kembalikan Mbak. Uang itu bukan uang apa-apa. Uang itu hanya uang sumbangan dari hamba Allah seperti yang suami Mbak bilang. Tadinya, saya sudah menolak, tapi beliau tetap meletakkannya di meja.”
“Mama jangan nangis.”
“Enggak sayang, ayo kita pulang.”
Dia kembali mengatakan sesuatu sebelum akhirnya keduanya pergi. “Saya nggak pakai uang itu kok, masih utuh mbak. Nanti saya kembalikan, saya janji.”
Sesampainya di rumah, ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Membiarkan air mata merembat di kedua pipinya.
Bolehkah ia marah kepada takdir?
Selama ini, dia tak pernah mengeluh diberi nasib seperti apa pun setelah ia meninggalkan dunia gelapnya. Ia sudah teramat menyesalinya dan selalu berusaha memperbaiki. Tapi apa sebegitu besarnya kesalahan yang ia perbuat, sehingga hukuman seperti tak henti-hentinya ia terima? Tidakkah Allah terima Taubat nasuhah yang sudah ia lakukan?
Ada penyebab dan dorongan yang kuat sehingga ia melakukan semua itu.
Masih dengan posisi tadi, ia mengingat beberapa pertanyaan Zikra yang belum bisa dijawab.
“Ma, haram itu apa?"
“Ma, apa benar katanya teman-teman Zikra ngga punya Papa?"
“Emangnya papanya Zikra ada dimana ma, kok papa nggak pulang-pulang?”
“Kalau ada papa kan, mama nggak usah kerja. Kita bisa punya rumah yang bagus.”
“Zikra bisa minta beli mainan yang banyaaaakkk sekali.”
“Zikra juga nggak akan dinakalin lagi sama teman-teman.”
Salwa menggeleng kuat bersamaan dengan buliran-buliran yang terjatuh. Kamu nggak boleh berputus asa Salwa! Ada Zikra yang bergantung hidup padamu. Jangan bersikap seolah-olah masalahmu yang paling terberat didunia ini. Masih banyak hidup manusia yang mungkin di luaran sana nasibnya lebih menyedihkan. Hanya saja mereka tak banya mengeluh. Ujarnya menyemangati diri.